
Setelah melanjutkan perjalan yang sangat lumayan lelah akhirnya aku sampai juga di rumahku.
"Mba udah sampai" kata pak sopir.
"Ia pak makasih, Dimas aku duluan," kataku sambil keluar dari mobil.
"Lan nasibku kaya gimana ini, kalo mamah dan papah tau mukaku yang memar ini," ucap Dimas.
"Pake aja masker sampai kamu masuk kamar Dimas enggak usah di buka, selamat berjuang yah"
"Huft....dasar ini perbuatan mu enggak tanggung jawab."
"Udah pak cepat antar dia pulang," ucapku kepada pak sopir.
Pak sopir mulai menjalankan mobilnya kembali mengantar Dimas pulang rasa khawatir Dimas rasakan ketika ia ingin pulang karena ia takut mamah dan papahnya bahal tau luka memar yang ada di wajahnya.
Sesampainya di rumah yang sangat megah dan mewah.
Ibunya Dimas menyambut Dimas.
"Sudah pulang anak mamah yang paling ganteng, mamah kangen sama Dimas peluk dan cium mamah sayang,"
"Apa'an sih mah Dimas baru 2 hari enggak pulang,"
"Pahh...pahh anak kita Dimas sudah pulang,"
"Ia mah" kata papah Dimas.
"Buka dong ganteng maskernya" kata mamahnya.
"Jangan Mah Dimas lagi flu entar mamah ketularan.!"
"Apa lagi flu, pah cepat telpon dokter Dimas sakit pah," ucap mamahnya yang panik,!
"Ia...ia mah sebentar," kata papah Dimas.
"Apaan sih kalian berdua, Dimas mau ke kamar dulu yah, mah dan pah Dimas cape, bi ijah mana tolong bawain tas Dimas ke kamar,"
Bi ijah datang membawa tas Dimas sedangkan Dimas sudah berada di kamarnya.
"Akhirnya aku tidur di rumah juga di kasurku yang empuk," celoteh Dimas di atas kasur.
"Tokkk....tokk...den Dimas ini bi ijah!"
"Ia bi masuk enggak di kunci,"
Bi ijah mulai masuk dan menaruh barang-barang Dimas.
"Den tasnya saya taruh di sini yah,"
"Ia bi, ooo iya bi Dimas bisa minta tolong bibi!"
"Tolong telpon dokter sidik bi, bilang buat ngilangin bekas luka memar obatnya apa, ingat obatnya yang baguss bi yang besok bisa sembuh,"
"Buat apa tuan," kata bi ijah yang binggung.
Dimas membuka maskernya.
"Ya Allah Aden, den Dimas kenapa di pukul siapa penjahat atau gimana," Bi ijah yang melihat memar di wajah Dimas
"Ya udah bi, ceritanya panjang, nanti bibi yang ambil obatan nya yah, Dimas tunggu di kamar aja bahaya nanti kalau ketahuan mah dan pah, dan jangan bilang sama mereka yah bi,"
"Baik Den."
__ADS_1
Bi ijah melakukan semua perintah yang di perintahkan Dimas, Sebenarnya keturunan jepang bernama Akiyama dan ibunya keturunan jawa bernama kahiyang ayah Dimas sendiri adalah yang mempunyai perusahaan tempat Wulan dan Dimas kerja sedangkan pak teguh itu hanya sebatas manajer mereka, ayahnya ingin Dimas menjadi mandiri dan tahu cara-cara kerja di perusahaannya maka dari itu ayahnya menyusur ia kerja di sana sebagi penuh karena memang dari kecil Dimas suka dengan menulis cerita baik itu novel, cerpen dan lain-lain.
Tapi yah ibunya tidak terlalu suka Dimas berkerja sebagi itu, dan selalu memanjakan Dimas karena Dimas anak satu-satunya yang mereka miliki. sedangkan nama kepanjangan Dimas sendiri adalah Dimas akiyama.
Kembali ke Bi ijah, bi ijah yah telah selesai melaksanakan perintah Dimas kembali ke kamar Dimas.
"Den ni bi ijah mau ngasih obat,"
"Masuk bi?"
"Ini bi obat sama Air minumnya, bi taruh di meja yah den,"
"Ini obatnya yang paling bagus kan bi?"
"Ya den kata dokter sidik itu yang paling bagus besok paling hilang den ada dua den Diminum sama di oles'in ke memarnya jadi menyembuhkan dari dalam dan luar kata dokter sidik,"
"Yah bi makasih yah,"
Setelah bi ijah keluar kamar Dimas, baru Dimas meminum obatnya atas petunjuk dari bi ijah tadi setelah itu baru Dimas istirahat.
Keesokan paginya Dimas bagun dari tempat tidurnya ia langsung menuju cermin melihat wajahnya yang memar bekas di tonjok ulan, begitu kagetnya ia wajahnya kembali seperti semua luka memarnya hilang sama sekali.
"Ampuh juga nih obat, sembuh dalam waktu semalam,"
Tokk...Tok..Tok..
"Den Dimas sudah bagun nyonya sama tuan sudah nunggu buat sarapan den,"
"Ia Bi sebentar nanti Dimas turun,"
Dimas keluar dari rumah menuju kamar mandi dan setelah itu makan bersama ibu dan ayahnya.
"Pagi mah and pap?" mencium kedua pipi mereka
"Dimana sayang kamu masih sakit, kalau masih enggak usah ke kantor dulu mamah telpon dokter yah," memegang jidat dimas mengetahui suhu badan Dimas panas atau tidaknya.
"Udah sehat mah tenang saja," kata Dimas.
"Pah kenapa Dimas enggak di tempatkan sebagi atasan aja sih pah?" komentar ibunya Dimas tidak mau anaknya seperti itu.
"Udah lah mah biar Dimas belajar dulu di kantor papah,"
"Ia mah Dimas enggak papa lagi pula dimas menikmati pekerjaan itu kok," sahut Dimas.
"Nah liat sendiri anaknya juga suka dengan pekerjaan itu,"
"Papah ingin Dimas mandiri tahu cara memimpin prusahan dan membaur kepada karyawan yang lain mangkanya papah tidak pernah bilang dengan mereka status Dimas anak papah termasuk kepada manajer teguh,"
"Dan papah juga ingin tahu cara kerja mereka dari Dimas?"
"Ohhh jadi Dimas jadi mata-mata juga nih pah!" celetuk Dimas.
"Yah seperti itu lah," sahut ayah Dimas
"Papah mu ini keterlaluan anak di suruh jadi mata-mata."
"Udah mah pah enggak usah berantem yah, Dimas berangkat duluan,"
"Ia sayang hati-hati," sahut ibu Dimas.
Dimas sampai di kantor semua crew cewe di kantor dan stap-stap cewe yang lain sangat mengidolakan Dimas apa lagi Dita rupanya Ia sudah jatuh hati pandangan pertama kepada Dimas, selalu menanyakan Dimas kepadaku, terkadang aku membantu Dita untuk dekat dengan Dimas tapi hasilnya nihil Dimas yang sikapnya cuek dan dingin di kantor membuat Dita agak susah mendekati Dimas hingga terjadi kesalah pahaman saat itu.
Kringg....kring...(suara telpon berbunyi).
__ADS_1
Aku mengangkat telepon itu dan trnyata itu dari Dimas.
"Lan, habis pulang kantor kamu ke ruangan ku yah mumpung semua orang pada pulang nanti,"
"Mau ngapain??"
"Udah kamu kesini aja,!"
Setelah semua orang sudah pada pulang aku mendatangi Dimas ke ruangannya dan ternyata Dita melihat gelagatku yang aneh dan ia mengikuti aku dari belakang.
Sesampainya aku masuk ke ruangan Dimas.
"Mau ngapain sih mas??" tanya aku yang mulai penasaran.
"Bentar aku kunci dulu pintunya,"
"Jangan macem-macem,"
"Udah tenang aja,"
Setelah Dimas menutup pintu dia mulai mendekatiku,
"Bentar aku buka dulu yah,"
"Mau ngapain aku enggak mau,"
Dimas mulai memaksa aku, dan mulai memaksakan sesuatu yang ia punya kepadaku.
Aku kaget tidak bisa berbuat apa-apa untuk melepasnya.
"Auuu sakit mas,"
"Bentar lagi,"
Tanpa pikir panjang aku merebut kunci itu dari Dimas dan keluar dengan muka yang sedih dan mata yang berkaca-kaca dan Di saat itu Dita mendengar dan melihat wajahku yang sedih aku pun pergi meninggalkan itu semua,
Rasa sakit di hati dita timbul ia berfikir teman baiknya malah menikung ia dari belakang Dita pun pergi meninggalkan kantor itu menaiki sepedanya motor motornya dan menangis di jalan.
Bruukkkk(kecelakaan terjadi kepada Dita)
Bersambung
visual Dimas.
Nama: Dimas Akiyama, Berdarah jepang dan jawa anak satu-satunya dari keluarga Akhiyama
Hobi: Menulis cerita horor walau penakut dan banyak yang tidak suka karyanya.
Moto: Maju dulu urusan kalah belakangan 🤣
Hal Di sukai: Dekat dengan mamahnya dan bermanja-manja dengan mamah.
Hal tidak di sukai: Melihat penampakan atau hantu karena dia penakut.
Motifasi: Ananta wa nani ga okotte mo, Akiramerubekide wa arimasen. Watashi wa, anata ga orite kuru noda shite anata ni nanai ga okotte mo sore o tsukaubekidesu
yang Artinya:
Kamu seharusnya tidak menyerah terhadap apapun yang terjadi padamu, maksudku, kamu seharusnya menggunakan apapun yang terjadi padamu sebagi alat naik bukan turun 😉
Terimakasih jangan di lupakan dukungan buat author yah 😁😁
__ADS_1