
Kinno pun kembali lagi berkerja di luar kota karena sudah ada panggilan untuk berkerja kembali, sekarang aku sendiri di rumah sambil menunggu panggilan kerja sesekali teman sekolah juga sering ke rumah untuk bermain atau sekedar curhat.
Hingga pada suatu hari Lusy memperkenalkan temannya kepadaku namanya Nia, dia tipe orang cepat sekali akrab dengan orang lain dan juga ibuku kadang dia juga suka bermalam di rumahku ibuku sudah menganggap Nia seperti anaknya sendiri karena dia pintar sekali mengambil hati ibuku. Setiap Nia ke rumah dia tidak lupa selalu membawakan buah tangan untuk aku dan ibu.
"Lan aku nginep di rumah mu yah" ucap Nia.
"Ya udah kalau mau nginep, nginep aja" sahutku kepadanya.
"Ia Nia lagian udah malam, takutnya kenapa-kenapa anak cewe pulang malam-malam" ucap ibuku
"Ia bu Nia nginep tempat ibu" ucap Nia.
"Temenin Ulan juga di rumah sendirian besok ibukan kerja" ucap ibuku.
Tapi anehnya setiap Nia nginep di rumah ku dia selalu di ganggu dan di hantui penghuni rumahku beda dengan Eka dan Lusy yang tidak pernah di hantui oleh mereka.
Pagi harinya Nia bercerita.
"Lan setiap aku nginap di rumahmu kok aku mimpi seram yah" ucapnya
"Ah masa sih kebetulan aja kali" sahutku kepada Nia.
"Ia beneran Lan, ya udah lah mungkin cuma mimpi kebetulan aku pulang yah Lan"
"Kamu gak sarapan sama ibu dan aku juga" ucapku.
"Gak Lain waktu aja Lan, ada kuliah pagi bajuku di rumah Lan"
"Ya sudah kalau gitu, ibumu gak marah kamu suka nginep di rumahku" ucapku.
"Tenang aman ibuku percaya kok sama aku, aku pulang dulu bu Nia pulang ya" ucap Nia sambil berpamitan kepada ibu
"Ia nak hati-hati kamu gak sarapan dulu."
"Enggak bu Nia ada kelas hari ini jadi Nia mau kuliah baju masih di rumah" ucap Nia
Setelah Nia pergi ibu dengan panik memanggilku dari kamar.
"Lan kamu ada ngambil uang ibu yang ibu simpan di lemari gak" ucap ibuku
"Gak ada Lan gak ada ngambil uang ibu di lemari emangnya kenapa bu" ucapku
__ADS_1
"Uang ibu hilang nak 300 ribu!!" ucap ibu sambil bersedih
"Ah masa bu emang semuanya uangnya ada berapa bu??? ucapku
"Ibu simpan di lemari 500 ribu nak sisa 200 ribu, mana buat bayar listrik sama air bulan ini!! ucap ibu
"Ibu gak lupa naruh segitu"
"Gak Lan ibu masih inget kok, itu uang ibu simpan buat bayar air dan listrik hari ini rencananya"
"Ya udah ya bu sabar, mudahan ada rejekinya nanti Lan belum di pangil-pangil kerja bu.
"Ya udah Nak gak usah di pikirin Lan, ibu berangkat kerja dulu yah Lan hati-hati di rumah ini ada uang buat kamu jajan"
"Ia bu makasih yah"
Entah kenapa akhir-akhir ini uang ibu dan uangku sering hilang aku binggung aku mencoba menanyakan kepada Dion dan sanjaya.
"Dion kenapa akhir-akhir ini uang ibu dan uangku sering ilang yah," ucapku kepada Dion.
"Nanti kamu juga tau Lan siapa pelakunya" ucap Dion.
"Kamu tau siapa pelakunya!!" ucapku dengan tegas.
"Kamu tau sanjaya siapa pelakunya" ucapku yang penasaran.
"Coba Lan kamu liat dengan batinmu kamu kan bisa" ucap sanjaya.
Aku mulai terdiam mendengar ucapan sanjaya aku mulia memejamkan mata dan mulai memfokuskan pikiranku, Lalu aku melihat ada seseorang yang masuk ke kamar ibu disaat ibu dan aku sedang tertidur pada tubuhnya seperti wanita tapi wajahnya tidak terlalu jelas, laku aku membuka mataku.
"Apa yang kamu liat" ucap sanjaya
"Aku melihat seorang wanita tubuhnya seperti Nia tapi wajahnya tidak jelas" ucapku yang sedikit ragu.
"Kamu sudah melihatnya Lan, yah dia adalah teman mu sendri" ucap sanjaya.
"Aku tidak yakin Nia berbuat seperti itu kepada aku dan ibu" ucapku.
"Coba nanti kamu jebak dia disaat dia menginap di rumah" ucap Dion.
Aku mulai berfikir apakah benar Nia setega itu dengan aku dan ibu padahal aku dan ibu sudah mengngapnya seperti saudara sendri.
__ADS_1
Hingga suatu saat Nia kembali menginap di rumahku lagi, di saat Nia menginap biasanya aku tidur di kamar kosong tempat almarhum Kakekku dulu.
"Lan aku nginep tempat mu yah Lan?"
"Ia nginep aja" sahutku.
Hatiku mulai was-was dia menginap di tempatku dan bertanya-tanya apakah Nia setega itu kepada kami. Akhirnya malam mulai larut aku mulai terlelap tidur Nia pun juga seperti itu sudah tertidur dengan lelap. Hingga pertengahan malam aku mulai terbangun aku liat Nia tidak di sampingku aku mulai mencari dia secara perlahan-lahan kebetulan disaat sedang tidur semua lampu itu pasti dimatikan kecuali lampu kamar mandi dan dapur, aku mulai mengendap-endap ke kamar ibu kebetulan pintu kamar ibu juga akhir-akhir ini tidak bisa di tutup karena rusak termakan oleh usia ibu juga belum punya uang untuk membenarkannya jadi hanya korden saja yang sebagi penutupnya lagi pula kita tidak pernah berfikir negatif kepada orang lain.
Aku melihat Nia di balik korden dia sedang di kamar ibu dan membuka perlahan-lahan lemari ibu yang tidak ada kuncinya lagi aku mulai yakin dia pelakunya.
Akhirnya setelah dia mencari sesuatu di lemari ibu dia mendapatkannya, uang ibu di ambilnya beberapa lembar, aku melihat perbuatannya Nia membuat aku menjadi benci kepadanya dan sakit hatiku melihat perbuatanya itu. setelah selesai melihat Nia aku mulai kembali ke kamar untuk tidur kembali agar Nia tidak curiga kepadaku. Nia mulai membuka pintu secara perlahan-lahan agar tidak mengeluarkan suara decitan pintu dan mulai tidur di sampingku kembali.
Keesokan pagi seperti biasa Nia selalu pulang lebih awal sebelum ibu berangkat berkerja alasan yang sama yang di pakai Nia dosen ada dan baju kuliah ada di rumah.
"Lan aku pulang dulu yah" ucap Nia
"Ia hati-hati" ucapku yang menahan rasa benci kepadanya.
Setelah Nia pergi ibu kembali berteriak dari kamarnya dan panik.
"Lan uang ibu ilang kembali Lan" ucap ibu dengan panik.
"Ia Lan dah tau pelakunya siapa bu" sahutku kepada ibuku.
"Kamu tau nak siapa pelakunya??" sahut ibu yang mulai penasaran.
"Ya pelakunya Nia bu!!"
"Kamu jangan suuzon nak, tidak mungkin Nia seperti itu lagi pula dia golongan orang berada nak tidak mungkin dia seperti itu" ucap ibu yang tidak percaya.
"Ya udah kalau ibu tidak percaya, saran Lan ibu jangan simpan-simpan uang di rumah lagi biar gak hilang" ucapku dengan kesal.
"Ya sudah ibu yang salah nak masih saja menyimpan uang di kamar ibu tidak akan menyimpan uang di rumah lagi nak, ya sudah ibu berangkat dulu yah Lan dah mau kesiangan" ucap ibu sambil bersiap-siap.
Setelah ibu pergi aku mulai kesal kepada Nia ibu tidak percaya dia pelakunya aku mulai gelap mata karna sakit hatiku kepadanya mulai lah pikiran jahat menghantuiku, aku mulai ingin menyantet Nia. Dion tahu pikiran jelekku tapi di sini aku tidak memperdulikan ucapan Dion lagi.
Aku mulai mencari informasi tentang Nia dari Lusy karena Nia teman Kuliah Lusy, aku mulai mencari nama bapak kandungnya, tanggal lahir Nia, foto dan wetonnya. Akhirnya semua yang aku cari sudah aku dapatkan tingal aku menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakannya.
BERSAMBUNG
Di tunggu yah kelanjutan kisahnya 😊🥰
__ADS_1
jangan lupa di like👇terimakasih