Persahabatan Dunia Lain

Persahabatan Dunia Lain
Pacar baru kak Lia


__ADS_3

Setelah pindah kosan kak Lia sekarang lebih ceria dan dekat dengan seorang pria. Saat sedang istirahat kak Lia mendatangi aku dan biasa curhat.


"Lan kamu kan bisa meramal nih, ramalin aku dong Lan sama pacar baruku aku sudah jalan sebulan sih sama dia, dan dia bilangnya serius sama aku, kalau menurutmu gimana?"


ucap kak Lia yang penasaran menunggu jawabanku.


"Jalanin aja dulu kak!"


"Aku pengen tahu dari kamu sikapnya sama aku dia serius enggak."


"Ya udah siapa namanya?"


"Namanya Roy!"


"Nama panjangnya kak, ulan enggak bisa liat kalau pake nama panggilan?"


"Roy Pratama, Lan!"


"Kakak serius mau denger nih?"


"Ia Lan aku penasaran?"


"Orangnya gak serius kak, dia cuma main-main aja sama kakak."


Mendengar ucapanku kak Lia berubah dari wajah yang senang dan ceria berubah menjadi raut wajah yang kecewa.


"Masa sih Lan, aku gak percaya aku sudah di kenalin sama keluarganya lewat telepon, dia juga sama kaya aku pendatang di sini, dan berkerja sebagi manager hotel Lan."


"Yah itu terserah kakak lagi, itu pendapat ulan seperti itu kembali sama kakak."


"Tapi aku yakin dia serius denganku." ucap kak Lia yang menyakini aku.


"Ya sudah Lan, aku mau kembali ke mejaku dulu."


Aku pun mulai kembali ke mejaku dan berkerja kembali, Dion mulai usil denganku.


"Lan....Lann...Lann..."


"Apa sih Dion ganggu dah" ucapku yang tidak sadar sambil mengetik data.


Semua orang pada melihat ke arahku di saat aku tidak sadar berbicara dan aku pura-pura tidak tahu mereka melihat aku.


"Tuh.... kan semuanya pada ngeliatin aku" ucapku di dalam hati sambil mengetik.


"Hahahah..... maaf Lan, abis kamu di pangil-pangil enggak nyahutin sih!"


"Emangnya kenapa sih, aku lagi kerja ini." ucapku di dalam hati.


"Bentar aja aku mau ngomong."

__ADS_1


"Ya mau ngomong apa??"


"Lia tuh aneh yah, minta pendapat kamu habis itu enggak mau dengerin ucapan kamu."


"Udah biarin enggak usah ngurusin orang namanya juga orang lagi jatuh cinta di nasehatin pasti marah yang ada nanti kita malah berantem!" ucapku yang menjelaskan kepada Dion.


"Ia Lan entar kalau terbukti nagis-nagis tempat kami enggak usah di pedulikan Lan" ucap Dion dengan kesal.


"Jagan lah biar gitu-gitu dia temanku, udah ah enggak usah ngurusin orang."


"Ia...ia..." ucap Dion.


"Aku mau lanjutin kerja dulu jangan ganggu entar yang ada enggak kelar-kelar .


"Oke Lan selamat berkerja, aku mau ke alamku dulu."


Tidak terasa hari sudah menjelang sore dan waktunya untuk pulang.


"Nunggu siapa kak? Kakak enggak bawa motor bareng sama ulan yuk?" ajakku ke pada kak Lia.


"Enggak Lan tadi aku di antar pacarku. ini lagi nunggu dia jemput aku."


"Ya sudah Lan duluan yah" ucapku kepada Kak Lia."


Tiba-tiba beberapa menit saat aku meninggalkan kak Lia, pacar pun datang dengan mengendarai mobil, dan berpakaian rapi layaknya bos, kak Lia pun masuk ke mobil tersebut.


"Lan aku duluan yah" tegur kak Lia kepadaku di dalam mobil.


Akhirnya aku sampai rumah, hari ini hari yang sangat melelahkan bagiku karena banyak perkerjaan yang harus aku kerjaan hari ini, aku mulai menuju kamar mandi untuk mandi setelah mandi ibu menawarkan aku makan.


"Lan makan dulu ini, ibu masak makan ke sukaanmu sop ayam dan ayam goreng."


"Wih dengarnya Lan jadi lapar bu."


"Ya sudah makan sini bareng ibu" ucap ibuku


Aku dan ibu akhirnya makan bersama dan sehabis makan aku menghabiskan waktu di ruang tengah menonton tv dengan ibu.


Empat bulan sudah berlalu kak Lia sekarang tidak seperti dulu lagi, dia tidak terlalu akrab lagi denganku dia sibuk dengan pacarnya di saat istirahat yang bisanya kami suka mengobrol sekarang dia malah sering berteleponan dengan pacarnya, yah mungkin kata-kataku disaat itu yang juga membuat kak Lia jadi menjauh kepadaku.


Hingga suatu hari aku merasakan ke anehan ke pada kak Lia.


Dia sering enggak masuk dan sering pusing dan mual dan aku menghampirinya di saat dia tidak kunjung keluar dari toilet.


"Kakak kenapa?? kakak sakit" ucapku dengan cemas.


"Enggak papa Lan, mungkin cuma masuk angin aja" ucap kak Lia.


"Lan kerokin yah?"

__ADS_1


"Enggak usah Lan, nanti aku ijin aja pulang aku mau nelepon Roy dulu minta jemput."


"Ya sudah Lan duluan yah, tadi Lan kuatir kakak kenapa-kenapa mangkanya Lan samperin."


"Ya Lan enggak papa."


Sebelum aku keluar dari toilet kakak Lia menelepon pacarnya dan aku tidak sengaja mendengar ucapan mereka yang berkelahi dan kak Lia mematikan teleponnya dan menangis melihat kak Lia seperti itu aku pun mencoba untuk menghampirinya kembali.


"Kakak berantem dengan Roy" ucapku sambil mengelus-elus pundaknya berusaha untuk menenangkannya.


Kak Lia memelukku dan menangis histeris.


"Maafin aku Lan, aku tidak mendengarkan ucapanmu, Roy benar-benar lelaki bejad."


"Emangnya kenapa kak?" ucapku yang binggung.


"Aku hamil Lan tadi dia mengantarkan aku, aku bilang aku hamil minta pertanggung jawabannya ternyata dia marah alasannya macem-macem memutuskan hubungan denganku, lalu aku di turunin di jalan tadi, aku kesini naik ojek."


"Terus kak." ucapku yang penasaran.


"Tadi aku hubungi dia, dia marah jangan menganggu dia lagi dan tadi dia bilang kalau dia sudah tidak berada di sini lagi, dia sudah pindah kerja di luar pulau."


Aku hanya terdiam mendengar cerita kak Lia aku binggung harus gimana untuk membantunya.


"Kakak sudah periksa ke dokter??"


"Sudah Lan waktu aku enggak masuk kerja."


"Terus apa kata Dokter?"


"Aku hamil sudah lebih dari 3 bulan mau memasuki usia 4 bulan."


"Kenapa di saat itu kakak enggak bilang sama Roy di usia kandungan kakak masih mudah!


"Sudah Lan dia, hanya janji-janji saja malah selalu membawa aku ke hotel untuk bercinta dengannya."


"Ya ampun kakak Lan enggak bisa ngomong apa-apa lagi."


"Aku mau gugurin anak ini Lan, kamu bisa bantu aku??"


"Jangan kak kasian anak ini, dia tidak tau apa-apa."


"Terus aku harus gimana kamu tau sendiri kan. Aku harus jadi tulang punggung keluargaku, dan kalau teman-teman tahu aku hamil apa lagi keluargaku, aku malu Lan, aku gak sanggup Lan. andai saat itu aku mendengarkan ucapanmu mungkin tidak akan seperti ini."


"Ya sudah lah kak, semua sudah terjadi kak harus bisa melewati ini semua.


"Bantu aku gugurin anak ini Lan, aku mohon sama kamu" ucap kak Lia sambil menangis dan memohon.


Aku terdiam melihat kak Lia apa yang harus aku lalukan di sisi lain aku tau posisi kak Lia yang menjadi tulang punggung keluarga, tapi di sisi lain ini kesalahannya yang harus di pertanggung jawabkan.

__ADS_1


Bersambung.


Apakah Wulan mau membantu kak Lia atau sebaliknya nantikan kisah selanjutnya, dukungan kalian saya harapkan jangan lupa, like, like, komen dan vote terimakasih 🥰🥰👇


__ADS_2