Persahabatan Dunia Lain

Persahabatan Dunia Lain
PENEMUAN SUMUR TUA


__ADS_3

Halo apa kabar kalian semua, mohon maaf ya sebesar-besarnya jika aku sangat sangat lama tidak update lagi di karenakan suatu hal, dan aku juga sedang fokus menulis di tempat lain 😀


Terima kasih untuk kalian yang sudah mendukung author sampai saat ini 🤗🤗


***


"Lan ini sumurnya?" tanya Dimas.


"Iya kayaknya itu sumurnya," sahutku.


"Lan jangan gegabah deketin sumur itu kita nggak tahu apa yang akan terjadi," ucap Lucy.


Aku dan yang lainnya bergerak perlahan mendekati sumur itu, saat sampai suasana terasa berbeda rasa dingin dan merinding aku rasakan, hembusan angin kencang tiba-tiba datang kami bertiga merapat dan tidak berani saling berjauhan.


sesekali terdengar suara wanita sedang tertawa serta suara dedaunan kering yang di injak oleh seseorang seakan ada orang yang datang, kami tetap waspada.


Aku mencoba membuka penutup sumur tersebut, ternyata sumur itu di gembok dan diikat dengan rantai yang sudah usang berkarat.


Dimas mengambil batu besar dan memukulkannya kearah gembok itu dengan sekuat tenaga, karena rantai dan gembok sudah sangat berkarat maka tidak perlu banyak usaha untuk merusaknya.


"Lan kita angkat tutupnya sama-sama," ucap Lucy.


"Ya udah ayo kita angkat!" sahutku.


kami bertiga dengan perlahan mengangkat penutup yang terbuat dari besi itu, rupanya penutup itu sangat berat butuh banyak energi untuk mengangkatnya.


"Kita tarik aja pakai tali," ucap Lucy.


"Ya sudah kita coba aja," sahut Dimas.


Lucy membuat simpul sederhana namun kuat agar saat kami menarik tutup itu ikatan di talinya tidak terlepas.


"Oke kita tarik sama-sama, satu dua tiga!" ucap Dimas sambil menarik tali itu.


Bersama-sama kami menarik tali itu, rupanya ide Lucy itu berhasil penutup sumur itu bergerak sedikit demi sedikit hingga akhirnya penutup itu jatuh ke tanah.


Lucy dengan cepat mengambil senter yang dibawanya, menyoroti bagian dalam sumur saat tengah serius melihat bagian dalam sumur itu tiba-tiba saja Lucy tertarim masuk hingga sebagian tubuh Lucy masuk ke dalam sumur itu.


"Lucy!" pekik Dimas.


Dengan cepat Dimas menangkap kaki Lucy, agar Lucy tidak terjatuh ke dalam sumur itu namun anehnya seakan ada yang sedang menariknya Lucy terus terbawa masuk ke dalam sumur itu.


Aku dengan cepat ikut menarik Lucy hingga akhirnya Lucy bisa ditarik keluar dari sumur itu. Saat keluar wajah Lucy pucat dan tegang membuat aku dan Dimas khawatir.


“Kamu kok bisa masuk kesitu?” ucap Dimas.


“Dia narik tangan aku,” ucap Lucy datar.

__ADS_1


“Dia? Dia siapa?” tanyaku.


“Dia yang ada didalam sumur itu Lan!” ucap Lucy.


“Tangan kamu berdarah!” Dimas terkejut.


Darah segar menetes ditangan Lucy seperti bekas cakaran yang dalam hal itu membuatku lemas karena begitu banyak darah yang keluar.


“Dimas ambilkan minyak kayu putih sama air di ranselku!” perintah Lucy.


Dengan segera Dimas membuka tas yang ada di punggung Lucy untuk mengambil sebotol air dan minyak kayu putih.


Dimas pun memberikannya kepada Lucy, dengan cepat Lucy menyiram lukanya dengan air hingga bersih lalu menyiramkan sebotol minyak kayu putih ke luka yang ada di tangannya.


Lucy mengerutkan dahinya sembari menahan rasa perih yang hebat sesekali dia mengerang dan menghentak-hentakkan kakinya karena kesakitan.


Aku yang melihat hal itu merasa ngilu, rasanya seperti aku merasakan perihnya luka Lucy.


“Aarrggghhh... Perih!” erang Lucy.


“Sudah Lucy lebih baik di siram air lagi,” ucapku.


“Jangan! Biarin aja ini Cuma sebentar kok,” ucap Lucy.


“Kita hentikan ini sekarang! Lebih baik kita pulang sekarang!” ucap Dimas.


“Ya nanggung Dimas kita udah sampai sini!” protes Lucy.


“Ini cuma luka masih jauh dari jantung udah tenang aja, lagian darahnya juga udah berhenti,” tutur Lucy.


Aku dan Dimas pun sepakat untuk melanjutkan, kali ini Dimas yang menyoroti dalam sumur.


Rupanya sumur itu tidak terlalu dalam dan kering kami bisa melihat dengan jelas ada sesuatu didalamnya.


“Lan itu baju kan?” tanya Dimas.


Saat dilihat dengan teliti lagi kami melihat ada tulang belulang manusia di dalamnya hal itu membuat kami semua terkejut.


“Kita harus lapor polisi sekarang!” ucap Dimas.


“Lalu jika kita ditanya kita mau jawab apa? Apa mereka percaya aku bisa melihat masa lalu? Nggak akan Dimas,” ucapku.


“Udah tenang aja masalah itu serahkan sama aku,” ucap Lucy.


Dimas dengan cepat mengeluarkan HP-nya untuk menghubungi Polisi untuk memberitahukan jika kami menemukan kerangka manusia di dalam sumur tersebut.


Usai menjelaskan panjang lebar dan memberi tahu di mana lokasi kami berada Dimas mengakhiri telponnya.

__ADS_1


“Siapa kalian?” seseorang tiba-tiba muncul dari belakang kami.


Kami bertiga terkejut mendengar suara itu, saat kami berbalik terlihat beberapa orang berjalan menghampiri kami.


“Siapa kalian? Apa yang kalian lakukan terhadap sumur itu?” bentak salah satu dari mereka.


“Kami tersesat Pak dan saya terluka, kami mau mencari air jadi kami berusaha membuka sumur itu,” tutur Lucy dengan bersandiwara sambil berjalan menyeret kakinya.


“Benar Pak, bolehkah kami meminta air karena kami sangat kehausan kami sudah dua hari tersesat di tempat ini setiap kami berjalan kami selalu sampai di dekat sumur ini,” sambungku.


Terlihat Dimas bersembunyi di belakangku sembari mematikan nada dering HP nya agar tidak ketahuan. Aku memiliki firasat buruk tentang mereka, mereka seakan sangat marah mengetahui sumur itu terbuka.


“Kalian! Tutup lagi sumur itu!” ucapnya kepada beberapa orang yang ada di belakangnya.


“Kamu! Antar mereka sampai keluar hutan,” perintahnya.


“Baik juragan.”


“Awasi mereka jika ada yang mencurigakan bawa kembali mereka kesini!” bisiknya kepada bawahannya itu tidak sengaja terdengar olehku.


Aku mulai berbisik kepada Ray dan Dimas sebelum orang itu menghampiri kami.


“Kalian jangan buat sesuatu apapun, mereka mencurigai kita,” bisikku.


Lucy dan Dimas mengangguk, mereka mengantarkan kami namun anehnya kami di kepung dari depan dan belakang Lucy harus tetap berpura-pura sakit dan Dimas mau tidak mau harus membopong Lucy agar sandiwara kami terlihat meyakinkan.


Aku tidak tahu harus berkata ini beruntung atau apa mereka terus melihat ke arah tangan Lucy yang penuh luka dengan darah yang mengering, sepertinya mereka sedikit mempercayai kami hingga kami menemukan sebuah jalan besar namun jalan itu bukanlah jalan yang kami lalui tapi aku masih hafal jalan itu tidak terlalu jauh dengan lokasi Dimas memarkir mobilnya.


“Akhirnya kita bisa keluar,” ucap Lucy dengan wajah gembira.


“Pak terima kasih, karena sudah antarkan kami, akhirnya kami bisa pulang Darwin, Sari kita bisa pulang! Aku tidak mau lagi mendaki ke tempat ini aku kapok,” ucap Lucy sambil mengedip-ngedipkan matanya ke arahku.


“Lucy banyak akalnya juga sampai kepikiran mengganti nama kami,” gumamku dalam hati.


“Baiklah Yanti kita bisa istirahat di rumah, Pak sekali lagi terima kasih,” ucapku


Mereka hanya diam tanpa berbicara sepatah kata pun, aku dan yang lainnya berjalan menuju lokasi di mana mobil Dimas di parkir namun pandangan mereka tidak beralih dari kami walaupun kami sudah berjalan jauh Dimas pun harus tetap membopong Lucy hingga sampai Mobil.


“Lan kayaknya mereka masih ngikutin kita deh,” ucap Lucy.


“Lan aku bawa spidol hitam, tolong ambilkan di ranselku ya,” sambungnya.


Tanpa bertanya apa pun aku mengambil spidol hitam yang ada di ransel Lucy.


“Pegang terus Lan, nanti kalau sampai rumah warga kalian sandarin aku di belakang mobil ya.”


Aku dan Dimas hanya bisa mengangguk, hingga kami sampai di rumah warga tempat kami memarkirkan mobil. Aku menyandarkan Lucy di belakang mobil sambil diam-diam tangan Lucy mencoret nomor plat mobil milik Dimas.

__ADS_1


“Udah hilang belum angkanya?” tanya Lucy.


“Sedikit lagi,” ucapku.


__ADS_2