
Aku mulai mencari lilin di bantu penerangan senter di hp, Dimas yang tidak beranjak pergi di belakangku dengan kaca mata hitamnya.
"Aduhh....pelan-pelan jalannya Lan,"
"Mass.... ini udah gelap kamu masih pake kaca mata item itu yah bakal kesandung,,, coba di buka dulu aku risih ini"
"Ya aku buka kacamataku, dah dapat belum lilinnya!"
"Gimana mau cepat dapat dari tadi yang nyari aku sendiri kamu di belang ku aja."
"Ya udah cepetan Lan, aku kebelet pipis nih!
"Ya elah.... tunggu dulu bentar,"
Setelah mencari dimana-mana akhirnya aku mendapatkan lilin itu di kamar Dimas dan menyalakannya.
Lalu beberapa lama kemudian lampu hidup kembali.
"Nah lohh.... nyala lampunya sia-sia nyalain lilin ini" celetukku.
"Lan anterin aku ke toilet yahh, aku kebelet nih" pinta Dimas
"Hufftttt,,,,, ini sebenarnya cewenya siapa cowonnya siapa sihh!"
"Ayo Lann,,,, please.... Lann!" sambil menarik-narik baju ulan.
Aku mengantar Dimas ke toilet yang ada di dekat dapur.
"Tungguin ya Lan jangan di tinggalin,"
"Ia jagan lama-lama entar aku tinggalin,"
"Iya Lan."
Dimas pun mulai masuk ke toilet, setelah selesai ia mulai memasang celananya namun hawa aneh di rasakan Dimas di belakang.
"Kok aku merinding yah, Lannn kamu masih di situ kan," teriak Dimas
"Iaa cepetan," sahutku
Benar saja di saat di saat Dimas ingin keluar kakinya seperti ada yang memegang dengan keberanian yang ia kumpulkan ia berusaha menoleh ke belanga dan seorang wanita berambut panjang menutupi mukanya dangan baju yang putih sedang jongkok memegang kaki Dimas setelah itu ia memperlihatkan wajahnya yang sangat menyeramkan dengan penuh dengan luka-luka dan darah di sekitar wajahnya spontan saja Dimas berteriak.
"Aaaaaaaa........"teriak Dimas
"Dimas....Dimasss.....Dimasss.... ada apa" aku yang panik mendengar teriakan Dimas.
Dan tidak lama Dimas berhasil keluar dan langsung bersembunyi di belakangku sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
"han....hann....hantu Lan," dengan suara terbatah-batah menunjuk ke kamar mandi.
Aku mulai berjalan dan dan membuka pintu kamar mandi itu.
"Mana enggak ada apa-apa," melihat sekeliling kamar mandi.
"Ituu di situ Lan!" menunjuk sambil memejamkan mata.
"Dimas coba buka matanya liat, enggak ada apa-apa,!
Dimas membuka mata dan melihat di sekeliling kamar mandi memang tidak ada apa-apa.
"Mas aku ngantuk ini udah malam aku mau tidur dulu."
"Aku ikut tidur sama kamu yah Lan??"
"Engak ah tidur di kamar masing-masing,"
"Nanti kalau ada setan lagi gimana?"
"Yah anggap aja dia nemenin kamu tidur," ledekku kepada Dimas.
"Gila kamu Lan,"
"Hahahahhah...." Aku yang tertawa meninggalkan Dimas menuju kamar.
Sesampainya di kamar.
Dion datang mengajakku berbicara.
"Gimana teman baru mu Lan?" kata Dion.
"Pusing aku di buatnya, dah lah aku males ngomongin dia mau tidur."
Sementara dimas yang di kamar sebelah sedang tidur sambil memakai kacamatanya.
Selang beberapa lama aroma yang sangat busuk muncul baunya seperti daging yang sudah membusuk sekali, karena aroma itu sangat busuk sampai-sampai membangunkan Dimas yang sedang tertidur.
"Bau apa ini baunya kok busuk banget," gumam Dimas.
Niat hati ingin mencari aroma busuk itu yang menganggu tidurnya Dimas pun membuka kacamatanya dan melihat di sampingnya begitu kagetnya ia melihat sesosok kain putih yang di bungkus dan di ikat di kepala badan dan kaki terbujur kaku dengan wajah yang rusak dan kapas-kapas yang masih menempel di mukanya rupanya aroma busuk itu dari mahluk itu, spontan Dimas teriak kembali.
Teriakkan Dimas membangunkan tidurku sontak aku bergegas menghampiri kamar Dimas.
"Mas....Dimas....kamu engak apa-apa," mengetok pintu kamar Dimas.
ceklek(suara pintu yang dibuka)
__ADS_1
"Tidak apa-apa Lan," dengan pandangan dingin dan kosong.
"Serius kamu enggak apa-apa?" ucapku yang khawatir dengannya.
Tapi Dimas tidak berbicara apa-apa ia kembali menutup kamar, aku pun tidak curiga dengan sikap Dimas yang seperti itu aku putuskan kembali ke kamar, sesampainya di kamar.
"Dasar orang aneh tadi triak-triak sampai bagunin orang sudah di datengin malah di cuekin, tapi enggak biasanya sikapnya dingin kaya gitu jangan-jangan di kerasukan," gumamku.
Aku keluar kamar kembali mengecek ke adaan Dimas, dan benar saja yang aku pikirkan Dimas tidak ada di kamar aku mencoba mencari-carinya,
Terdengar suara seseorang di dapur, aku mendatangi asal suara itu dan melihat Dimas sedang duduk sambil membuka kulkas memakan daging kornet yang masih mentah, sebenarnya itu aku beli untuk beberapa hari kami berada di sini tapi Dimas memakannya tanpa dimasak terlebih dulu, rasa mual yang aku rasa disaat Dimas makan daging kornet mentah itu.
Lalu aku berusaha untuk menyadarkannya.
"Mas.... sadar dimas," mengambil daging kornet dari tangannya.
Dimas marah dengan ku dan mulai mencekik aku.
"Mass.....ini aku Lann sadar dimas" aku yang mulai kehabisan nafas.
Tapi anehnya ada energi yang sangat besar pada saat itu di tubuhku membuat aku tidak sadar diri, aku mencoba melepas tangan Dimas di leherku lalu aku menonjok wajah Dimas, alhasil Dimas jatuh pingsan dan aku mulai sadar.
"Dimas....Dimas....bagun" memukul-mukul pipinya.
Dimas mulai sadar dan kaget sedang berada di dapur.
"Aku kok di sini Lan ,aduh sakit mukaku Lan,"
"Maaf yah mas tadi aku enggak bisa mengendalikan diriku, kamu tadi mau bunuh aku mencekik aku tiba-tiba aku ngerasa suatu energi yang kuat dari dalam tubuhku dan nonjok kamu," kataku yang berusaha menjelaskan apa yang terjadi kepada Dimas
Kami pun pada akhirnya menuju ruang tamu sambil mengobati luka yang di samping mulut dimas bekas ketonjok aku, rasa bersalah aku rasain saat itu.
"Aww!!.... pelan-pelan Lan, enggak kira-kira kamu mukul aku Lan pe kaya gini!
"Maaf yah Dimas.... habis aku ampir mati tau enggak" ucapku yang merasa bersalah.
"Yahh enggak kaya gini juga kali Lan?" Dimas yang kesel
"Maafin aku yah mas!"
"Ia aku maafin"
"Ikhlas enggak nih maafinnya"
"Ia bawel" sahut Dimas yang masih kesel.
Bersambung
__ADS_1
Buat pembaca setiaku terimakasih jagan lupa dukungannya biar Author semangat nulisnya dan mengibur kalian semua yah🥰🥰🥰🥰❤️❤️,
Buat yang sudah like, ngasih vote makasih yahh lope,lope,lope deh buat kalian ❤️❤️❤️