Persahabatan Dunia Lain

Persahabatan Dunia Lain
aborsi


__ADS_3

Akhirnya aku pun menolak permintaan kak Lia untuk membantu mengugurkan kandungannya yang sudah mau memasuki usia kandungan empat bulan.


"Maaf kak Lan gak bisa bantu kakak, kasian dia kak mendingan kakak rawat aja" ucapku berusaha menyakinkan kak Lia.


"Ya sudah Lan kalau kamu gak mau bantu aku tidak apa-apa maafin aku sudah melibatkan kamu kedalam urusanku, aku bisa menyelesaikannya sendiri.


Berulang kali aku mencoba menyakinkan kakak Lia tetapi tetap saja dia kekeh dengan keinginannya yang kuat untuk menggugurkan kandungannya.


"Lan aku pulang yah aku ijin,"


"Mau Lan antar kak"


"Gak usah Lan kamu selesaikan kerjaan mu aja, aku bisa pulang sendri minta ijin dulu sama atasan."


"Serius kak gak papa"


"Ia tenang aja, aku cuma butuh istirahat aja kok, ya sudah kamu kembali ketempat kerjamu enggak enak sama yang lain kamu dan aku berlama-lama di toilet.


Akhirnya aku kembali ke mejaku dan kak Lia meminta ijin untuk pulang, di kala aku ingin melanjutkan pekerjaanku Dion lagi-lagi menggangguku.


"Lan...Lan...Lan..." ucap Dion.


"Ia apa" ucapku di dalam hati karena takut orang-orang semua melihat tingkahku.


"Kamu enggak bantu kak Lia kan buat mengugurkan kandungannya, soalnya bahaya."


"Enggak Lah aku gak sejahat itu, aku enggak mau membantu dia membunuh, bahayanya kenapa??"


"Sepengetahuan aku Lan bayi-bayi hasil aborsi atau bayi yang di gugurkan akan menjadi hantu!"


"Kak bisa jadi hantu kenapa kan katanya roh orang yang sudah mati bakal ada di akhirat" ucapku di di dalam hati sambil binggung.


"Gini aku jelasin orang yang meninggal tidak wajar seperti di bunuh, bunuh diri, kecelakaan itu memang rohnya ada di akhirat tapi karena meninggalnya tidak wajar jin-jin yang ada di tempat itu akan memanfaatkan jasadnya dan menganggu orang-orang bahkan bisa menerornya. Begitu juga bayi yang di aborsi atau di gugurkan, dia akan menghantui orang tuanya yang telah membunuhnya."


"Oooo begitu ya Dion. Tapi gimana kalau kak Lia benar-benar mau mengaborsinya, aku sudah menyakinkannya tapi tetap saja dia seperti itu."


"Ya kalau itu terjadi ya sudah tanggung jawab ibunya nanti."

__ADS_1


"Ya sudah Lah Dion, kita doain aja semoga itu gak terjadi amin."


"Kerjaanku hampir selesai nih gak terasa, di ajakin ngobrol terus sih."


"Hahaha..... ya bagus lah, bentar lagi kita pulang Lan. ucap Dion


Setelah berapa jam kemudian akhirnya aku pulang sepanjang jalan Dion masih saja membahas tentang kak Lia sampai akhirnya tiba di rumah, seperti biasa rutinitas aku lakukan mandi, makan, nonton tv dan tidurr.


Keesokan aku berangkat kerja lbih awal, dan sudah hampir mulai kantor untuk berkerja tetapi kak Lia tidak kunjung datang ternyata benar dugaanku kak Lia tidak masuk kerja hari ini. Aku mencoba menghubunginya beberapa kali tapi tidak di angkat-angkat olehnya. Aku mulai panik.


"Apa mungkin kak Lia benar-benar mengugurkannya yah" gumamku di dalam hati.


Tapi aku tepis semua hal negatif yang ada di pikiranku, agar aku bisa tenang tidak memikirkannya, niat hati sepulang dari kantor aku ingin mendatangi kak Lia aku kuatir terjadi apa-apa hati dan pikiranku mulai tidak tenang.


Aku mulai kembali berkerja dan berusaha tidak memikirkan kak Lia. Setelah sampai jam istirahat hp ku berbunyi telepon dari kak Lia lalu aku mencoba mengangkatnya.


"Hallo Lan," ucap kak Lia dengan suara lemas.


"Ya kak ada apa, tolong aku Lan, tolong aku" ucapnya sambil menangis.


"Bantu aku Lan kamu ke kosan yah penting baget Lan siapa lagi temanku kalau tidak kamu, tolong banget ya Lan ke kosanku" ucap kak Lia sambil mematikan teleponnya.


Aku pun meminta ijin kepada pimpin dengan alasan ada keperluan keluarga dan setengah hari kerja, setelah di ijinkan untuk tidak kerja aku mulai mendatangi kak Lia hatiku mulai bertanya-tanya.


"Ada apa dengan kak Lia, apa dia tetap ingin aku membantunya untuk mengaborsi, tapi dia sudah tahu kalau aku tidak ingin membantunya" gumamku di hati


Akhirnya aku tiba mulai memasuki kosannya dan membuka pintunya ternyata di kunci aku mencoba mengetok dan memanggil namanya akhirnya di bukakan kuncinya dan aku membuka pintu itu dan terkejut melihat kak Lia duduk di dinding samping pintu dengan banyak ceceran darah di mana-mana.



Dengan kaki yang penuh darah kak Lia duduk dengan lemesnya.


Aku mulai panik melihat semua ini apa lagi melihat kak Lia yang mulai lemas dan tak berdaya dan aku mencoba menanyakanya ada apa ini kak apa yang kak lakuin.


"Aku mengaborsi anak ini Lan, aku meminum obat setelah itu mendatangi dukun yang terbaca bisa melakukan aborsi, perutku di pijat dia dan di beri ramuan lagi olehnya setelah selesai aku di suruh pulang di suruh menunggu hasilnya berapa jam kemudian perutku sakitt baget Lan dan lama- kelamaan keluar darah dan janin."


Aku melihat janin itu di lantai

__ADS_1



lalu aku mengambilnya dan mulai membersihkannya setelah bersih aku mulai membungkusnya dengan kain dan aku letakan di dekat kamar mandi setelah itu aku mulai membersihkan darah-darah yang ada di lantai aku cuci bekas mengelap darah itu di kamar mandi dan aku mengulanginya lagi sampai benar-benar bersih. Setelah semua menurutku sudah bersih baru aku memopong kak Lia ke kamar mandi untung kosan kak Lia itu ada kamar mandi dapur jadi aku bisa membantu membersihkannya tanpa di ketahui oleh orang lain.


"Yuk kak Lan bantu berdiri untuk ke kamar mandi."


"Makasih yah Lan kamu sampai detik ini setia dengan aku tidak meningal kan aku, maafin aku yah Lan."


"Nanti aja ngomongnya kak Lan bantu kakak ke kamar mandi dulu membersihkan badan kakak."


Kak Lia mulai membersihkan badannya yang penuh dengan darah dan aku mulai mengubur jasad janin tersebut. Setelah selesai aku menguburnya aku menghampiri kak Lia kembali.


"Kakak rehat aja dulu biar pulih badan kakak" ucapku.


"Ia Lan makasih yah."


"Kakak sudah makan?"


"Belum Lan, kakak binggung mana bisa makan."


"Lan beliin makan yah kak, biar kakak enggak lemes."


"Makasih ya Lan" ucap kak Lian yang sedang berbaring di tempat tidur.


Aku mulai keluar mencari makan untuk Lia, setelah dapat aku kembali ke tempat kak Lia. Aku memberi makan itu kepada kak Lia, dia hanya makan beberapa sendok setelah itu menangis.


"Kenapa enggak di habisin kak."


"Aku enggak bisa makan Lan, aku merasa bersalah telah membunuh darah dagingku sendiri" ucap kak Lia sambil menangis.


"Kakak enggak pernah dengerin Lan, semua apa kata kakak" ucapku kesal dengan sifatnya.


"Ia Lan maafin aku" ucap kak Lia sambil menangis.


nantikan cerita Kak Lia selanjutnya.


dukungan kalian sangat sya harapkan untuk menyemangati saya menulis, like jgan di lupakan 🥰 trimakasih

__ADS_1


__ADS_2