Persahabatan Dunia Lain

Persahabatan Dunia Lain
Ritual sesat part 2


__ADS_3

Aku mulai mengayuh sepeda dengan cepat agar aku bisa sampai di rumah tepat waktu. Karena aku takut mbah nanti marah denganku kalau pulangnya kemalaman, sesampainya di rumah aku langsung masukkan sepedaku ke dalam garasi aku mencoba membuka pintu dan ternyata pintunya belum di kunci oleh mbah aku lihat mbah masih menonton TV di ruang tamu.


"Baru pulang Lan?" tanya mbah kepadaku.


"Ya mbah baru kelar mengerjakan tugas!" sahutku.


Aku terpaksa berbohong kepada mbah kalau sebenarnya aku tidak mengerjakan tugas. karena aku tidak mau mbah tau apa yang ku lakukan.


"Ibu sudah pulang mbah." Tanyaku kepada mbah.


"Sudah itu ada di kamar ,mungkin sedang istirahat" sahut mbah.


"Lam kok bau bunga melati ya tiba-tiba?" tanya mbah kepadaku.


"Masa sih mbah" sahutku dengan bingung


"Iya Lan tadi tidak bau, pas kamu masuk ke rumah langsung bau bunga melati!" ucap mbahku dengan binggung.


"Ah,,,,,Itu mungkin cuma perasaan mbah aja Lan nggak mencium bau apa-apa kok.


"Ya sudah sanah kamu cuci kaki, cuci tangan, soalnya kamu habis dari luar baru istirahat ke kamar."


"Ia mbah Lan cuci kaki cuci tangan dulu" sahutku yang ingin menuju kamar mandi.


Setelah selesai cuci kaki dan tangan aku mulai menuju ke kamar, ku buka pintu kamar ternyata ibu masih belum tidur.


"Baru pulang nak?" tanya ibuku.


"Ia bu Lan baru pulang" sahutku.


"Habis dari mana Lan?" tanya kembali ibuku.


"Habis dari tempat-teman bu mengerjakan tugas" ucapku berbohong kepada ibu.

__ADS_1


" Kok pulangnya malam?"


"Ya kan tadi berangkatnya jam 20.00 bu, Lan nunggu ibu pulang, ternyata ibu tidak pulang-pulang" sahutku sedikit kecewa.


"Ya nak tadi ibu banyak kerjaan belum selesai jadinya ibu lembur" sahut ibuku.


"Ooooo,,,,,, pantas ibu Lan tunggu tidak pulang-pulang."


"Kok ibu mencium bau bunga melati ya Lan, tadi sebelum kamu datang baunya gak ada."


Aku pun terdiam sejenak, kaget mendengar ucapan ibu dan mbah yang sama. Apakah gara-gara ritual tadi pikirku.


"Ibu mau tidur dulu ya Lan, Ibu sudah mengantuk" ucap ibuku dengan wajah mengantuk.


"Ia bu nanti Lan menyusul, Lan mau menyiapkan mata pelajaran dulu buat besok."


"Ya sudah Ibu duluan ya Lan Ibu capek banget hari ini."


Lalu aku cepat-cepat mengeluarkan kain yang diberikan oleh ibunya Dewi kepadaku, aku menaruh kain itu di dalam tasku agar tidak ada yang tahu setelah aku merasa aman aku mulai naik ke kasur dan mulai mencari posisi tidur yang enak tapi entah kenapa aku tidak bisa tidur rasanya hatiku gelisah tidak tenang ditambah lagi ucapan ibu dan mbah yang sama mereka mencium bau bunga melati.


Aku mulai khawatir dengan semua ini aku mencoba tidur kembali untuk menghilangkan pikiran-pikiran negatif yang ada di pikiranku agar aku bisa tidur


Dan akhirnya aku bisa tertidur saat Jam 2 malam.


Setelah aku tertidur lagi-lagi aku bermimpi, aku seperti berada di hutan dengan pohon-pohon besar dan lebat, yang di penuhi kabut tipis suasana di hutan itu terasa mencekam, aku mendengar berbagai macam suara mulai dari suara tangisan, jeritan, kadang terdengar seperti ada yang melantunkan lagu entah dari mana suara-suara itu berasal, aku mulai berjalan menyusuri hutan itu saat aku berjalan dari kejauhan aku melihat bayangan hitam karena hutan itu berkabut jadi penglihatanku tidak terlalu jelas, semakin lama dia semakin mendekat dan anehnya bayangan itu semakin besar dan betapa kagetnya aku saat melihat matanya yang merah menyala dari kejauhan aku pun berjalan mundur dan ingin berbalik arah saat aku ingin berbalik dengan cepat bayangan itu sampai di depan ku aku pun terjatuh karena kaget, saat aku lihat sosok itu ternyata bukan manusia melainkan makhluk yang belum pernah aku lihat sebelumnya badannya sangat tinggi dan besar, sekujur tubuhnya berbulu dan hitam, ada tanduk di kepalanya aku juga mencium bau anyir ternyata itu bau darah menetes dari mulutnya seperti dia habis memakan sesuatu entah itu hewan atau apa aku tidak paham.


Aku berusaha berdiri tapi tiba-tiba dia mencekik ku dengan tangannya yang besar dan kuku nya yang runcing, aku berusaha melepaskan cekikkannya tapi tidak berhasil, aku hampir kehabisan nafas dan tidak ada tenaga untuk melawannya, aku akhirnya pasrah mungkin aku akan mati pikirku.


saat aku memasrahkan diriku tiba-tiba Dion datang menolongku dari cekikan makhluk itu, dan mereka berdua bertarung di situ, aku hanya bisa melihat tanpa bisa berbuat apa-apa.


Aku binggung apa yang harus kulakukan untuk membantu Dion, karna ku melihat Dion mulai kewalahan menghadapi mahluk itu, tapi di tengah-tengah ke putus asa ku hati kecilku menyuruh ku untuk berdoa meminta perlindungan kepada TUHAN, akhirnya mahluk itu bisa di kalah kan dia kepanasan dan mulai terbakar lalu hilang.


Saat aku bangun aku merasakan rasa perih dileher karena penasaran, mengambil cermin yang ada di atas meja aku kaget melihat leherku terluka seperti bekas cakaran ternyata mimpi ku tadi benar-benar nyata. Tapi aku tidak menghiraukan luka di leherku, aku langsung membereskan tempat tidurku dan lagi-lagi aku dikejutkan oleh sesuatu yang ada di bantalku, ternyata itu adalah setumpuk kan uang dengan cepat aku memasukan uang itu kedalam tas karna aku takut ketahuan ibu. Aku mulai berfikir apa ini yang di ucapkan ibunya Dewi mendapatkan uang gaib, besok inginku tanyakan kepada ibunya Dewi tentang semau yang terjadi padaku.

__ADS_1


Keesokan harinya selepas pulang sekolah aku menghampiri rumah Dewi dan aku mulai bertanya kepada ibunya Dewi.


"Bu, tadi malam aku mimpi, aku bertemu sosok menyeramkan dia berusaha mencekik ku lalu Dion menyelamatkan aku tapi Dion kewalahan menghadapinya, tadi pagi pas aku bangun leherku luka seperti bekas cakaran dan anehnya di bawah bantalku ada ini bu" ucapku sambil menunjukkan setumpuk uang.


"Iyaa itu memang sudah syaratnya kamu harus melawan mereka agar bisa mendapatkan uang yang banyak."


"Tapi bu, aku jadi tidak tenang aku ingin mengakhirinya saja."


"Kenapa Lan kamu kan sudah dapat hasilnya dan kita akan kaya raya Lan" ucap ibunya Dewi sambil meyakinkanku.


"Tidak bu aku tidak mau mencari kekayaan dengan jalan seperti ini aku harus mengorbankan diriku dan Dion hanya untuk uang" sahutku dengan kesal kepada ibunya Dewi.


"Kalian tidak akan kalah karena energi positif yang ada di dirimu dan sahabat sangat besar dan kalian harus melawannya berdua agar mendapatkan uang kembali.


"Maksud ibu apa" tanyaku.


"Kalau kamu berhasil mengalahkan penghuni gaib di alam mereka kamu akan mendapatkan uang yang kamu inginkan."


"Tapi kalau tidak kenapa bu?"


"Kalau tidak aura positif yang ada di diri mu akan di serap oleh mereka untuk di jadikan kekuatan mereka dan kamu akan terus menerus diganggu mereka bahkan melukai mu dengan nyata" ucap Ibunya Dewi dengan tegas.


"Aku tidak mau bu,,,,,,,! aku tidak ingin mengorbankan diriku dan Dion hanya karena uang."


"Apa kamu tidak ingin jadi kaya Lan?"


"Tidak bu. Aku tidak ingin kaya dengan cara seperti ini" tolakku dengan tegas.


"Ya sudahlah kalau kamu tetap bersikeras caranya ada di kain yang baru ibu kasih kemarin harus bakar karena itu gerbang jembatan mereka untuk masuk ke dunia mu. Bakar kain itu dan uang yang kamu dapat kan Jangan sekali-sekali mengingat mantra yang pernah kamu ucapkan kamu sanggup melakukan semua itu Lan?"


"Iya bu Lan sanggup gimana pun caranya akan Lan sanggupi" sahutku kepada ibunya Dewi.


Akhirnya aku ditemani Dewi dan ibunya membakar semua uang dan kain itu dan akhirnya sampai sekarang aku tidak pernah dihantui mereka lagi.

__ADS_1


__ADS_2