
"Lan aku habis makan apa yah, kok rasanya mulutku enggak enak!" tanya Dimas.
"Gara-gara aku ngambil kornet mentah yang kamu makan, kamu jadi marah,!
"Apaaa.... kornet mentah???"
"Ia kamu makan itu, habis 3 kaleng!"
Dimas langsung berlari menuju washtafel dan muntah-muntah.
"Uwee....uwee," suara Dimas yang sedang muntah.
Melihatnya seperti itu aku menjadi kasihan kepadanya dan memberikan segelas air putih kepadanya.
"Ini minum" memberikan segelas air putih kepadanya.
"Makasih yah Lan, rasanya aku eneg dan mual Lan,"
"Ayo kita ke ruang tamu lagi belum kelar aku ngobatin luka mu,"
"Lan bikinin aku teh anget yah aku mual,"
"Ya udahh aku bikinin,"
"Aku duluan ke ruang tamunya," sahut Dimas.
Dimas menuju ruang tamu, sedang tidur-tiduran di sofa sambil memegang wajah dan perutnya. Setelah selesai membuatkan teh hangat kepadanya lalu aku menghampirinya.
"Ini tehnya,"
"Makasih yah Lan, apes bnget aku hari ini dah ke tonjok kamu makan daging kornet mentah sampai mual,"
"Ia maaf yah mas aku enggak sengaja, lagian kok kamu bisa sih kerasukan segala emang kamu enggak bisa mengendalikan tubuhmu."
"Masalahnya adalah jika energi mereka lebih kuat aku pasti kerasukan, dan salahnya aku lupa membawa gelang dari kakekku biar aku enggak bisa dirasukin,"
"Aduh Dimasss....udah tahu itu hal penting kenapa sampai lupa?"
"Gara-gara kamu,"
"Kok aku sih, yang kena!"
"Ia disuruh cepat-cepat trus ketinggalan deh,"
"Habisnya kamu lama, trus gimana ini,"
"Kita pulang yuk Lan,"
"Jangan kita belum tau sejarah rumah ini kok pulang, nanti aku janji setelah aku tahu sejarah rumah ini kita pulang,!
"Sejarahnya ini rumah banyak hantunya Lan,"
"Ngaco kamu mas, dah ah aku mau lanjut tidur lagi," kataku.
__ADS_1
"Aku ikut yahh Lan ke kamarmu," dengan nada memelas.
Melihatnya seperti ini melihatku enggak tega.
"Ya udah tapiiiiii"
"Tapi apa Lan."
"Tidurnya di bawah oke,"
"Ia deh," sahut Dimas.
Kami berdua masuk kamar Dimas membawa kasurnya ke kamarku dan tidur di bawah.
"Inget yah mas jagan macem-macem," ucapku yang mengancamnya memang buru kali ini aku tidur sekamar dengan seorang pria.
"Iaa tenang aja, takut baget sih kamu ma aku Lan,"
"Mukamu muka mesum!"
"Mulutmu yah Lan ngatain aku kaya gitu, enggak ada harga dirinya aku ma kamu, kamu tahu di luar sana banyak yang pada naksir aku karena ketampananku,"
"Ia...ia... aku ngantuk,!"
Aku mulai meninggalkan Dimas dan mulai tidur kembali di saat itu jam sudah menunjukan jam 03.00 dini hari.
Selang beberapa lama aku melia bermimpi aneh, aku merasa berada di sebuah area pemakaman yang tidak ada orang satu pun, mereka yang dimakamkan di tempat itu semua pada terbangun mulai dari anak kecil, tante kunti, sosok pocong, muka yang ancur mengerikan mendatangi diriku dan semua pada mencekik diriku sambil berkata.
Tidak ada yang menolong aku disaat itu dan ingin mengucapkan doa namaun tak bisa untung saja Dimas yang mendengar aku mengiggo.
"Lannn.....Laann....bagun Lan..." ucap Dimas yang menggerakkan badanku.
Aku pun terbangun dan melihat hari mulai pagi.
"Astagfirullah," ucapku mengeluarkan keringat dingin.
"Kamu kenapa Lan?" tanya Dimas.
"Aku mimpi seram Dimas!"
"Tuh kan benar rumah ini banyak penunggunya mereka enggak suka kita berada di sini Lan, kita pulang yuk,"
"Ia kayanya mereka enggak suka kita berada di sini, jangan kalau pulang nanti apa yang mau kita tulis dan ngasih ke pak teguh.!
"Ngayal aja Lan!
"Jangan aku harus profesional kerja, lagi pula hal seperti ini udah biasa aku alami,"
"Ya udah lah terserah kamu Lan!
Aku dan Dimas mulai akrab sejak tadi malam banyak yang aku alami bersamanya.
Krukk....krukk (suara perut yang berbunyi karena lapar).
__ADS_1
"Lan aku lapar nih?"
"Trussss......?"
"Bikinin aku makan yah!"
"Enak banget nyuruh-nyuruh emangnya aku pembantumu."
"huuftt....biasanya kalau di rumah mamah sudah nyiapin makan kalau enggak bi ijah," gumam Dimas.
Ternyata aku baru tahu kalau Dimas anak orang kaya dan juga anak mami pantas saja kelakuannya manja sekali.
"Dimas ini bukan di rumahmu yahh jadi tolong belajar mandiri okeyy," kataku kepadanya.
"Tapi aku enggak bisa masak," sahut Dimas.
"Kan ada tuh mie instan, nahh kalau kamu enggak bisa masak mie itu liat di belakangnya ada petunjuk cara masaknya, habis itu kamu ikutin deh, belajar mandiri."
"Ia...ia... bawel" Dimas yang beranjak pergi menuju dapur.
Lalu aku mulai merapihkan kamar dan tempat tidurku, sementara Dimas sedang di dapur, setelah selesai aku tidak melihatnya sedang memasak, malah dia sedang di kamar mandi sedang mandi, Dimas yang mulai sedikit mulai berani sekarang ketimbang awal-awal masuk ke rumah ini,
Menunggu ia mandi aku membuka jendela di dapur begitu kagetnya aku waktu membuka jendela dan melihatnya di belakang rumah ini ternyata area pemakaman, dan mulai berfikir apakah mimpi ku tadi malam ada hubungannya dengan semua ini, hal yang masih tanda tanyaku saat itu.
Tiba-tiba Dimas keluar dari kamar mandi dengan handuk yang di pakainya di pinggangnya dan tubuhnya yang sangat atletis dan kulit yang putih jujur saja saat dekat dengannya aku merasa minder.
"Ngapain Lan???
"Ini lagi liat pemandangan di jendela indah baget coba kamu liat,"
Dimas mendatangi aku dan melihatnya.
"Gila itu kuburannn Lan, indah dari mana sakit kamu Lan"
"Hahahha....hahhaha...hahah..." aku yang tertawa berhasil mengerjainya.
"Tutup jendelanya Lan ngeri tau enggak!"
Tanpa memperdulikan Dimas aku masuk ke kamar mandi dan Dimas yang saat itu menutup jendelanya.
Setelah selesai mandi aku melihat Dimas yang sudah selesai membuat mie instan yang membuat perutku menjadi lapar.
"Mas bagi dong mienya,?" pintaku
"Enak aja bikin sendiri kamu tadi bilang belajar mandiri."
Dimas membalik kan kata yang aku ucapkan kepadanya.
"Dasar pelit,"
"Biarin, buat bikin mie ini banyak dramanya kamu enggak tahu aku hampir ke siram air panas tahu enggak."
Bersambung.
__ADS_1