
Setelah hampir bertahun-tahun aku merawat ibu dan akhirnya ibu sakit semakin parah. Sempat koma selama beberapa hari lamanya aku pun menghubungi kakakku yang berada di Jakarta dan ayahku tapi yang datang ke sini hanya kakakku saja ayah tidak datang dengan berbagai alasan. Entah lah hanya ayah yang tau alasannya aku juga tidak terlalu suka dengannya di saat ibu sakit ayah tak pernah perhatian sedikit pun.
Itu yang terkadang membuat aku benci dengan ayah rasa sakit di hati tidak bisa hilang yah mungkin dengan jalannya waktu aku bisa menyembuhkan sakit hati ini kepada beliau.
Di hari itu tepatnya siang hari ibu tertidur sampai agak siang tidak bagun-bagun aku mencoba membangunkannya tapi tidak ada respon dari beliau lalu aku membawa ibuku ke rumah sakit disini aku mulai panik aku mencoba menelepon kakakku yang ada di Jakarta aku menelepon kakakku yang cewe karena dia kakak yang tertua dan aku juga condong lebih akrab dengannya.
"Hallo mba."
"Ia Lan ada apa?"
"Ibu masuk rumah sakit mba ibu koma, mba bisa datang ke banjarmasin dan abang juga bisa datang kesini" ucapku.
"Iya Lan hari ini mba sama abang berangkat ke banjarmasin"
Setelah selesai menelepon kakakku aku di pangil oleh dokter soudari Wulan silahkan masuk.
"Ibu saya kenapa dok?."
"Ibu mba mengalami pemecahan pembuluh darah yang mengakibatkan ibu mba Wulan koma dan tak sadarkan diri."
"Terus harus gimana dok, enggak ada harapan sembuh" tanya aku sambil menangis.
"Kami akan berusaha sebisa kami, mba Wulan terus berdoa untuk kesembuhan ibu mba Wulan"
mendengar ucapan dokter itu hatiku tak terbendung lagi air mata yang aku tahan-tahan keluar rasa sedih teramat sangat yang aku rasakan saat ini membuat dokter berdiri dan mencoba menenangkan aku.
"Sabar ya mba, mba harus kuat dan pasrahkan semuanya kepada Tuhan" sambil memegang pundakku
__ADS_1
"Ia dok terimakasih"
Aku pun keluar dari ruangan dokter dan menuju ICU. di sana aku lihat ibu terbaring lemah dibantu oksigen di hidungnya, selang-selang infus, dan elektroda yang di pasangkan di dadanya. Aku pun menghampirinya dan memegangnya tangannya sambil mengatakan sesuatu.
"Ibu kuat yah ibu harus sembuh Lan kangen sama ibu kita ngobrol lagi seperti dulu bercanda lagi yah bu, oh iya bu kakak sore ini datang jenguk ibu di sini ibu sembuh yah"
walaupun tidak ada respon dari tubuhnya, tapi saat aku mengatakan bahwa kakak-kakak ku akan datang ibuku mengeluarkan air mata walaupun matanya terpejam, sepertinya ibuku mendengar apa yang aku ucapkan.
Aku pun tertidur sambil duduk di pinggir ibuku sambil memegang tangannya, aku mulai terlelap dan bermimpi ibu datang di dalam mimpiku dengan mengunakan baju putih beliau tersenyum aku menghampirinya tapi ibu berusaha menjauh dan semakin jauh dan terbang menuju cahaya yang sangat terang aku pun kaget dan terbangun aku lihat monitor yang ada di samping kasur ibuku pergerakannya normal, aku pun bersyukur karena itu hanyalah mimpi.
Hari mulai menjelang malam kakakku tidak kunjung datang hingga ponselku berbunyi.
"Hallo Lan Ibu di ruang apa?
"Diruang Kenanga mba di ICU."
"Iya mba."
kakakku mematikan telponnya, tidak lama semua kakakku datang dan langsung memeluk ibuku yang terbaring di tempat tidur, lagi-lagi ibuku mengeluarkan air mata aku yang melihat keadaan ibuku pun menjadi sangat sedih dan berharap ibuku cepat sadar.
Mba Ningsih pun keluar menemui dokter untuk menanyakan keadaan ibuku.
Tidak lama layar monitor itu berbunyi, aku panik dan langsung menemui mba Ningsih yang masih berada di ruang dokter.
"Mba ibu mba" ucapku sambil menangis
mendengar perkataan ku dokter dan juga kakakku langsung keluar dan melihat keadaan ibuku, monitor itu terus berbunyi dengan pergerakan garis terus menurun, saat dokter menangani ibuku tidak lama monitor itu berbunyi saat mendengar suara itu aku dan semua kakak ku masuk kedalam benar saja, dilayar itu menunjukan garis yang datar yang panjang aku dan mba Ningsih langsung mendatangi kasur dan memeluk ibu sambil menangis.
__ADS_1
Salah satu abangku diajak keruangan oleh dokter dan memberi tau penyebab meninggalnya ibuku.
dengan raut sedih kami semua melepas kepergian ibu untuk selamanya, dokter mulai melepas semua alat yang terpasang di badan ibu dan menutup tubuh ibu dengan kain.
Ngiungngan suara ambulance mengiringi pengantaran jenazah ibuku menuju rumah duka, sepanjang jalan aku dan mba Ningsih tak henti meneteskan air mata.
Di depan gangku sudah terpasang bendera hijau dan papan tulis yang isinya nama, jam meninggal dan umur ibuku, didepan rumah juga sudah ada para tetangga yang memasangkan tenda dan juga bangku-bangku, beberapa warga juga sudah menyiapkan peralatan untuk memandikan ibuku. kebetulan ibuku meninggal pada jam 23.30 malam dan akan dimandikan pada jam 07.00 pagi, aku dan kakakku menyiapkan perlengkapan untuk pemakaman ibu.
Kakakku mendatangi komplek permakaman keluarga ku, lokasinya lumayan jauh sekitar 40 menit jika jalanan sedang lancar malam itu kakakku mendatangi petugas makam dan mengurus semua keperluan pemakaman.
Aku dan semua kakakku mulai membacakan surah yasin di samping jenazah ibuku, hingga pagi mulai menjelang, kami semua menyiapkan perlengkapan mandi untuk jenazah ibuku, kebetulan aku dan kakakku juga ikut memandikan ibuku untuk yang terakhir kalinya, sedangkan istri abangku di dapur bersama tetangga menyiapkan makanan untuk tahlilan nanti.
Ibu-ibu yang biasa memandikan jenazah pun sudah datang, kami pun bersiap memandikan jenazah ibu, saat memandikan ibu aku dan kakakku berusaha tidak menangis atau pun mengeluarkan air mata.
Usai dimandikan dan dikafani aku melihat jenazah ibuku sepertinya sangat bersih dan cantik tidak seperti saat ibuku sebelum sakit.
Jenazah di bawa dengan mengunakan ambulan menuju tempat pemakaman yang berada lumayan jauh dari rumah, karena di tempat itu kakek, nenek dan juga Datuk ibu dari nenek di kubur di sana jadi kami menguburkan ibu juga di sana.
Akhirnya kami pun sampai di pemakaman itu jenazah ibu di angkat menggunakan keranda abang dan warga kampung membantu mengangkatnya dan akhirnya sampai di lubang galian, setelah itu abang masuk ke lubang galian itu menyambut jenazah ibu di saat jenazah ibu di tutup dengan tanah aku tak kuasa menahan tangis kakak wanitaku pun memeluk aku, sakit dan perasaan sedih teramat sangat yang aku rasakan ketika ibu meninggalkanku saat ibu meninggalkanku untuk selamanya, inikah rasanya di tinggal kan orang yang kita sayangi.
Bersambung.
Nantikan cerita Wulan selanjutnya jangan lupa like, komen dan vote 🥰❤️.
Foto-foto ini adalah foto asli yang berhasil aku abadikan ketika ibu tidak ada 😢
__ADS_1