
Keesokan pagi rutinitas seperti biasa kembali berkerja dan ke kantor,
Di saat aku berada di kantor sedang di meja kerjaku crew editor mendatangiku.
"Lan coba baca deh nih cerita," kata Dita memberi file cerita.
"Emang kenapa Dit?" sambil menerima file itu dan membukanya di laptopku.
"Renkarnasi??" ucapku membaca judul tulisan tersebut.
"Unik ceritanya Lan emang ada Renkarnasi di dunia ini???"
"Aku kurang begitu tahu sih Dit ada atau enggaknya soalnya aku belum menemukan hal seperti ini, ini siapa yang nulis?" tanyaku sambil menatap layar laptopku membaca cerita nya.
"Itu ada yang karyawan baru Lan namanya Dimas melamar di sini, dia penulis horor juga tapi tulisannya lebih seram kamu Lan, nahh kali ini semua crew tertarik dengan tulisannya tentang renkarnasi ini."
"Menurut kamu gimana ceritanya," sambung Dita.
"Ceritanya sih seru," sahutku sambil membaca cerita itu.
"Tapi pertanyaanku emang ada renkarnasi itu?"
"Aku belum tahu Dittaaaa...... belum pernah menemukan hal ini,"
"Ia...ia..., oh iya katanya pak Teguh atasan kita mau bikinin kamu tim tuh,"
"Tim apa lagi, wah,,,wah aneh.... aneh aja tuh"
"Katanya sih buat bantu kamu nulis, nahh kayanya kamu di tim kan sama Dimas sama-sama penulis horor."
Tiba-tiba pak Teguh datang ke mejaku,
"Ulan bisa ke ruang saya sebentar."
"Ia pak,"
Pak Teguh kembali ke ruangannya aku mulai beranjak dari meja kerjaku untuk ke ruangan pak Teguh.
"Misi pak," sambil mengetuk pintu.
"Ya silahkan masuk Lan," tutur pak Teguh.
"Kenalin Lan ini asisten baru kamu namanya Dimas penulis horor juga kaya kamu,"
"Asisten???? enggak usah pak, saya masih bisa nulis sendiri kok!
"Udah Lan biar kamu enggak kewalahan nulisnya Lan, kalian bisa jadi tim penulis horor,"
__ADS_1
"Tapi pak,"
"Enggak ada tapi, tapian selamat menjadi tim sukses dan saya harap tulisan kalian bisa menjadi tulisan yang lebih baik lagi."
"Dan ini ada misi untuk kalian berdua di sebuah desa ada sebuah rumah yang terkenal dengan horornya nanti crew yang lain ngasih kamu alamat rumah itu, nah saya ingin kamu berdua menulis tentang rumah horor tersebut, ada yang mau di tanyakan" sambung pak Teguh.
"Enggak ada pak" serentak dimas dan ulan menjawab.
"Buat cerita ini saya tidak kasih jangka waktu saya paham menulis itu tidak bisa di desak dan apa lagi ini cerita nyata kalian harus cari sumber-sumber cerita itu dari warga sekitar, jadi kalau bisa saya minta jangan terlalu lama,"
"Yah itu namanya mendesak secara halus juga,"
Gumamku di batin
"Kalau sudah jelas bisa kembali ke meja masing-masing," sambung pak teguh kembali
"Ia pak," ucap serentak kembali.
Aku dan Dimas ke luar dari ruangan pak teguh kembali ke meja kerja masing-masing tapi aku mulai risih dengan Dimas dari di ruangan pak teguh sampai keluar dia selalu melihat ku sampai akhirnya aku merasa tidak nyaman aku menegur dia.
"Kamu kenapa sih ngeliatin aku trus," menghentikan langkahku dan menatapnya.
"Ma...maaf yahh, aku belum kenalan dengan mu, Dimas kamu," mengulurkan tangan mengajak jabat tangan.
Aku mulai mengulurkan tanganku dan menjabat tangannya.
"Wulan," ucapku dengan ketus.
"Ini lepasssinnnn," memaksa menarik tanganku.
"Eh...maaf yah Ulan, kayanya aku mengenal dirimu, dan kamu ada sangkut pautnya dengan masa lalu ku," dengan suaranya yang lembut.
Aku kaget mendengarnya aku mengira dia aneh, aku baru kali ini bertemu dengannya kenapa dia anggap mengenalku.
"Udah ah dasar aneh," kataku sambil kembali ke meja kerja,
Setelah aku sampai ke meja kerjaku Dita lagi-lagi menghampiriku.
"Cieee....cieee dapat tim baru nih aroma-aroma bahagia,"
"Apaan sih,,,, bahagia dari mana kesel ia,"
"Kenapa lagi sih Lan, Dimas anaknya ganteng loh mirip jepang-jepang indo gitu suaranya lembuttty bagett, aku mau deh kalau jadi kamu,"
"Ya udahhh tuh ambil bungkus bawa pulang," beranjak pergi meninggalkan Dita.
"Mau kemana Lan? aku belum selesai ngomong ma kamu."
"Mau pulang cari inspirasi dulu, diem disi buntu aku,"
__ADS_1
"Lahhh dia malah pulang,,,, Lan tunggu ini aku di suruh ngasih alamat rumah sama pak Teguh."
"Ya udah simpan aja dulu besok masih bisa."
"Yeee dasar ya udah deh,"
Aku menuju keluar kantor dan aku putuskan untuk pulang, Karena hari ini aku ingin menyerahkan tulisan tentang Nia walau belum selesai semua.
Setelah di parkiran aku ingin menghidupkan motor dan tidak kunjung hidup ternyata mogok, dia datang.
"Kenapa Lan?" tanya Dion
"Waduhhh motorku mogok dion gimana nih, aku engak bawa kunci busi lagi, kayanya sih businya banjir," ucapku dalam hati.
"Trus gimana nih," kata dion.
"Gak tau aku binggung,"
Tiba-tiba Dimas datang ia ingin mengambil motornya di tempat parkir.
"Kenapa Lan?"
"Mogok kayanya punya kunci busi enggak, kaya sih banjir nih businya,"
"Sebentar kayanya ada di dalam jok motorku."
Dimas mengambil kunci di dalam kunci dan memberikan kepadaku, aku mulai membuka busi motorku mengelapnya lalu aku coba pasang kembali ternya bisa.
"Nihh kuncinya makasih yah,"
"Ia sama-sama kamu hebat ya ngerti masalah kaya gitu aku biasanya ke bengkel, oh ia itu teman mu yah di belakang dia ganteng yah," dengan suara lembutnya.
Sontak aku kaget dimas bisa liat Dion dan rasa ingin tertawa ternyata ada seorang cowo yang memuji dia.
"Ya udah aku duluan," menahan tawa mendengar ucapan dimas.
Sepanjang jalan aku tertawa bebas.
"Ha....ha...ha...."
"Puas yahh kamu ngetawain aku," sahut dion mulai kesal.
"Ia maaf yahhh, aku lucu tuh orang benar-benar aneh aku kira di dunia ini cuma aku aja yang aneh ternyata ada lagi yang lebih parah dari aku."
Bersambung.
__ADS_1
Terimakasihhh 🥰😘😘