Pria Amnesia

Pria Amnesia
120. POV Teresia Wiratama


__ADS_3

Aku baru saja pulang dari kegiatan kampus, Namun aku begitu terkejut melihat Kakek tua yang datang ke mansion dengan senyum yang ceria memberi salam hangat kepadaku.


Aku duduk manis mendengarkan pembicaraan bisnis yang mereka sedang diskusikan dengan menyeruput teh hangat juga cemilan ringan yang tersedia oleh pembantu kami, lalu tak ku sangka Papi begitu asyik mendengarkan cerita pilu cucu dari Kakek tersebut.


Awalnya aku hanya merasakan miris akan kisah cinta Johan yang tak di anggap, namun lama-lama Kakek itu malah menjodohkan aku dengannya. Aku pikir itu hanya sebuah gurauan belaka saja, tapi ternyata mereka serius ingin aku menikah dengan orang yang mereka bicarakan.


Sontak aku menolak perjodohan itu karena aku tidak kenal rupa seorang yang bernama Johan. Aku pun terus memberontak tidak mau di jodohkan dengan acara kabur dari mansion membawa sebagian bajuku di ransel berwarna merah muda


Kepergian aku membuat papi kembali kambuh sakit, dan terpaksa aku harus pulang dengan memberitahukan kepada kekasih'ku kalau aku harus menyudahi Kisah cinta antara kita.


Setibanya aku di apartemen Bryan tidak menyambut dengan ramah, Dia memalingkan wajahnya dan melipatkan kedua tangannya bahkan dia mematung begitu aku panggil namanya beberapa kali

__ADS_1


"Bryan"ucap Teresia


"Bryan!!!" seru Teresia


"Untuk apa lagi kamu ke sini? bukankah kamu besok akan menikah dengan si lumpuh itu!"ucap Bryan


"Maafkan aku Bryan, Aku tahu kamu pasti sangat kecewa dengan keputusanku, namun aku tidak bisa menentang keinginan papi yang sedang sakit kanker otak." Lirih Teresia


"Maafkan aku Bryan, Aku juga tidak bisa berbuat apa pun, Semoga kamu bahagia setelah kepergian ku ini." Ucap Teresia


Hanya kata-kata itu yang bisa aku ucapkan padanya, Kata maaf yang tak bisa termaafkan karena aku tahu ini adalah keputusan yang sangat berat untuk melangkah pergi dari hidupnya, namun aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan menjaga kehormatanku sebagai seorang gadis selama aku menjadi istri orang lain.

__ADS_1


Tanpa saling mengenal dan bertegur sapa, kini aku melihat calon suamiku di kursi roda, Dia memang tampan lebih tampan dari Bryan, Namun sayangnya dia itu cacat secara fisik dan mental. Aku sungguh tidak beruntung harus di nikahi olehnya.


Kami pun melangsung acara pernikahan secara privat, hanya kerabat dekat dan beberapa kolega saja yang di undang karena keterbatasan calon suamiku untuk di adakan acara secara besar-besaran


Aku selalu menghela napas panjang ketika pernikahan kita berlangsung di hadapan semua tamu aku merasa sangat canggung dengan memakai gaun pengantin berwarna putih untuk janji suci pernikahan dan aku sekarang sudah sah menjadi istri dari keluarga konglomerat Hutomo Group. Perasaan canggung terpancar jelas saat kami saling menatap satu sama lain serta kami saling melingkarkan sebuah cincin permata berlian berwarna silver berkilauan di jari manis masing-masing


Dan dia sekilas mencium keningku di hadapan semua para tamu untuk meyakinkan para undangan bahwa kami saling mencintai satu sama lain.


bersambung...


...Jangan lupa untuk memberikan dukungannya berupa like di setiap episode, vote sebanyak mungkin, dan tambahkan di rak buku sebagai Favorite/Subscribe...

__ADS_1


...Terima kasih sudah mampir di karya ini, semoga bisa menghibur kalian semua...


__ADS_2