Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
10


__ADS_3

Hari ke-8.


“Masih belum ada yang terjadi, ini sudah lewat sehari lo.” (Ritose)


“Tenanglah, hari ini tepat siang hari. Itu adalah waktunya.”


“Aku mulai meragukanmu.”


“Tidak apa-apa, saat waktunya tiba keraguanmu itu akan menghilang.”


Setelah cukup lama.


Siang hari.


“A-apa!! Serangan naga?!” (Prajurit)


“Ya, kita semua diminta untuk melakukan perlindungan terhadap tuan muda secepat mungkin.”


“Baik.” Mereka pergi.


“Penjagaan dipenjara ini melemah, tepat seperti yang kau katakan waktu itu.”


“Sudah aku bilang, baiklah. Mungkin akan ada 1 atau 2 penjaga yang tersisa akan tetap menjaga tempat ini. Kau sudah siap?”


“Ya, aku sudah siap. Untuk keluar dari tempat ini, aku sudah menyiapkan segalanya.”


“Hmm, untuk pertama apa kau punya kawat? Untuk membuka kunci pintu…”


Sfx : pintu roboh.


“K-kau memiliki senjata!!”


“Sudah aku bilang, aku sudah menyiapkan segalanya.”


“B-begitu.”


“Apa yang kau tunggu, kita harus bergerak.”


“Tenanglah, kita harus perlahan. Penjagaan memang melemah, tapi kita tidak boleh gegabah, bisa jadi ada perangkap yang dipasang oleh mereka.”


“Benar juga.”


Sementara itu.


Di hutan dekat pantai.


“Komandan, apa anda yakin membiarkan naga itu mengamuk disana?” (Grild)


“Aku tidak akan menyuruh dia untuk berhenti sampai mereka mengembalikan Ari.”


“Para pasukan yang lain tengah mencari keberadaan wakil komandan berada, kemungkinan akan membutuhkan waktu sedikit cukup lama untuk bisa menemukannya.”


“Hmm, meskipun dengan petunjuk yang ia tulis disini. Dia tidak menulis tempatnya, tapi setidaknya dia sudah menulis kalau jika dia tidak kembali di hari ke-7 maka kemungkinan dia sudah ditangkap dan dijebloskan kedalam penjara bawah tanah. Selain hal itu, dia tidak bisa mengetahui apapun lagi.” (Lucy)


“Kami akan terus mencoba untuk menemukannya. Kalau begitu, saya pergi dulu.” Grild pergi.


“Dia terlalu jenius, menyiapkan semua kemungkinan yang akan terjadi.”


“Ari, aku harap kau baik-baik saja.”


Di penjara bawah tanah.


“Ritose, bagaimana disana?”


“Aku sudah membunuhnya, jalan disini sudah aman.”


“Itu bagus, tapi kenapa sampai dibunuh juga?”


“Jika tidak, mereka yang akan membunuh kita.”


“Hmm, benar juga.” Beberapa penjaga yang ada disini sudah dibereskan, sisanya adalah mencari jalan keluar dari tempat ini.


Cukup lama setelah itu.


“Ahhh, tempat ini membingungkan.” (Ritose)


“Tempat ini mirip seperti labirin, jika salah memilih jalan maka kita akan kembali ke tempat semula.”


“Apa kau memiliki rencana?”


“Yang aku ingat hanyalah jalan menuju keruangan penyiksaan. Tunggu, ruang penyiksaan, ya.”


“Apa kau mengetahui sesuatu?”

__ADS_1


“Ini hanyalah perkiraanku belaka, tapi tidak ada salahnya dicoba. Meskipun begitu, ada kemungkinan kita akan berhadapat dengan si algojo itu.”


“Tenang, aku bisa mengatasinya.”


“Kalau begitu, ayo.”


Beberapa saat kemudian.


Di depan ruang penyiksaan.


“Ritose, bisa ambilkan aku sebuah pedang dan juga tombak milik prajurit itu.”


“Eh, baik.”


Setelah itu.


“Apa yang kau lakukan?”


Aku menacapkan tombak itu tepat ditengah-tengah pintu hingga tertembus. “Sekarang, dorong!!” Ritose dan aku mendorong dengan kuat pintu itu.


“Agghhh!!”


“Suara?”


“Abaikan dorong yang kuat!!”


Beberapa saat kemudian.


“Kita, membunuhnya.”


“Ternyata benar.” Si algojo itu bersembunyi disamping pintu ini, dia tertusuk tombak yang aku sematkan dipintu ini.


“Kau hebat, bagaimana caramu mengetahuinya?”


“Kau tau, teriakanku bisa terdengar sampai ke sell tempatmu dipenjara. Jadi akan sangat aneh algojo itu tidak datang padahal suara yang dikeluarkan oleh para prajurit itu cukup keras. Jadi, aku pikir dia akan melakukan hal ini. Serangan tiba-tiba, oleh karena itu aku menggunakan cara ini agar bisa membunuhnya.”


“Begitu, kau memang benar-benar hebat.”


Setelah itu, aku langsung menggeledah tempat ini. “Ritose, apa kau menemukan sesuatu?”


“Hmm, tidak ada. Hanya ada alat untuk menyiksa seseorang.”


“Begitu. Huh? Bau ini…”


“Bau pantai. Jadi benar.” Aku melihat sekeliling tempat ini. “Ahh, jadi begitu.”


“Ada apa?”


Aku menghampiri mayat algojo itu, dan memeriksa tubuhnya. “Ketemu.”


“Batu apa itu? Indah sekali.”


Sebuah batu berwarna aku dapatkan dari algojo ini. “Sepertinya ini kunci yang terbuat dari batu sihir. Berarti ada ruangan tersembunyi yang ada ditempat ini.”


“Kalau begitu…”


“Ya, kemungkinan batu ini adalah kunci untuk keluar dari penjara ini.”


“Jadi, sisanya hanya mencari pintu untuk kuncinya lalu kita bisa bebas. Tapi, dimana pintunya?”


“Untuk itu, aku sudah menemukannya sebelumnya.” Aku menggeser lemari yang ada disini, dan sesuai dugaanku pintu rahasia ada dibelakang lemari itu.


“Kita bisa bebas.”


“Ya, kita akan bebas.”


Setelah itu.


Diluar penjara.


“Lautan, akhirnya setelah sekian lama aku bisa kembali melihatnya.” (Ritose)


Sfx : jatuh.


“K-kau tidak apa-apa?!”


Tubuhku terkapar lemah. “Aku, baik-baik saja. Adrenalin yang aku alami sepertinya sudah hilang, aku tak akan bisa mengerakkan tubuhku untuk sementara waktu.”


“Apa yang akan terjadi padamu?”


“Para prajurit yang ada disini sudah pergi, tidak akan ada yang datang kemari untuk sementara waktu. Sebaiknya kau harus segera pergi.”


“Mana mungkin aku meninggalkanmu, kau sudah membantuku untuk lepas dari penjara itu. Aku berhutang padamu.”

__ADS_1


“Haa, aku akan baik-baik saja. Sebentar lagi jemputanku akan datang, kau harus pergi.”


“Tapi…”


“Melihatmu memaksa seperti ini, mengingatkanku pada seseorang.”


“Seseorang?”


“Ya, seseorang. Sudahlah, lupakan hal itu. Kau harus segera pergi atau kau akan terlibat masalah lain lagi.”


“Tapi…”


“Pergilah.”


“B-baik.” Ritose pergi. ‘Haa, aku harap dia tidak mencariku.’


“ARIIII!!!”


Suara Iona terdengar olehku. ‘Sepertinya sudah selesai, waktunya istirahat.’ Perlahan aku mulai menutup mataku, membiarkan rasa lelah ini menguasai diriku.


“Ari, ari…” Iona melihat tubuh Ari yang dipenuhi oleh luka. “(menangis) Ari… Maafkan aku, maafkan aku karena aku terlambat.”


“Komandan, apa yang harus kita lakukan setelah ini?” (Famus)


“Tarik pasukan untuk kembali, misi sudah selesai.”


“Baik.”


-------


Aku perlahan mulai membuka mataku. “D-dimana ini?” Aku melihat langit-langit yang tak asing bagiku, aku mencoba untuk bangun tapi seluruh tubuhku tidak bisa digerakkan. “Iona…” Aku melihatnya tertidur disampingku. ‘Haa, aku membuatnya sedih.’ Air matanya menetes meskipun ia sedang terlelap.


“Sudah lama sekali aku tak melihat kamar ini.” Kamar milik Iona, tak ada yang berubah sejak terakhir kali aku melihatnya.


Setelah cukup lama.


“Iona, kau sudah bangun.”


“Ari… S-syukurlah, syukurlah kau sudah sadar…”


“Haa, berhentilah dan hapus air matamu.”


“M-maaf, aku sangat senang melihatmu sudah sadar.”


“Umm, memangnya sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?”


“3 hari…”


“Begitu, ya.” Aku perlahan mulai memaksa tubuhku untuk bangun. “Begini lebih baik.”


“Ari, maafkan aku. Jika saja aku melarangmu untuk pergi, aku yakin kau…”


“Jika kau melarangku, aku tetap akan pergi. Jika tidak ada yang pergi maka kerajaan ini akan dikalahkan dengan mudah.”


“Meskipun begitu, kau sampai terluka seperti itu. Maafkan aku.”


“Apa yang harus aku maafkan, kau tidak melakukan kesalahan. Lagipula ini adalah sebuah keharusan, aku terluka seperti ini karena kecerobohanku. Tidak perlu kau pikirkan. Oh ya, bagaimana dengan pertemuannya? Apa berjalan lancar?”


“Ya, dengan dibantu oleh Lucy, kita mendapatkan banyak bantuan dari kerajaan lain.”


“Begitu, ya.”


“Lalu Ari, apa yang harus kita lakukan setelah ini?”


“Untuk sementara kita bisa bersantai dulu, kerajaan Victoria dalam keadaan terburuknya akibat serangan yang kau lakukan waktu itu. Aku bisa menjaminnya, mereka butuh waktu untuk memulihkan keadaan mereka seperti semula.”


“Bukannya ini adalah waktu yang tepat untuk menyerang mereka, bukannya saat ini kondisi mereka sedang berada di keadaan terburuk.”


“Itu memang benar, tapi lawan kia juga seorang yang jenius. Dia pasti juga merencakan sesuatu jika sampai hal seperti itu terjadi, pernyerangan yang kau lakukan sebelumnya berhasil karena dia sama sekali tidak ada persiapan dengan hal itu. Tapi, jika kita menyerang lagi dia pasti sudah bersiap dengan serangan apapun.”


“Begitu.”


“Meskipun begitu, aku bersyukur masih bisa hidup sampai saat ini. Setelah melewati semua itu, rasanya ini seperti mimpi saja.”


Peluk.


“Ini bukan mimpi, kau ada disini dank au masih hidup.”


“Ya, aku tau. Bisa kau lepaskan, tubuhku masih kesakitan.”


“M-maaf.”


“Terimakasih karena sudah khawatir denganku.” Hari ini, aku terbebas dari belenggu siksaan itu dan aku tak berniat untuk merasakannya lagi karena itu sangat menyakitkan.

__ADS_1


__ADS_2