Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
13


__ADS_3

Siang hari.


“Ari!! Ari!! Dimana kau!! Ari!!” (Iona)


“Putri, bagaimana apa sudah ketemu?” (Lucy)


“Belum, aku tidak bisa menemukannya. Aku khawatir jika terjadi sesuatu padanya.”


“Dimana sebenarnya dia berada sekarang, dia membuat yang lain khawatir.”


“Kita harus tetap mencarinya.”


“Ya.”


Sementara itu.


Aku perlahan mulai membuka mataku, dan aku dapati diriku berada disuatu ruangan dengan kedua tangan yang diikat. ‘Haa, sepertinya ada orang yang menangkapku.’ Aku melihat sekeliling.


“Hmm, ini tidak bagus.” Aku tak menemukan hal apapun yang dapat aku gunakan untuk melepaskan ikatan yang kuat ini. “Apa yang menyebabkan aku berada disituasi seperti ini.” Aku mencoba untuk mengingatnya.


Beberapa menit kemudian.


Pintu terbuka dan beberapa orang mulai masuk kedalam.


Mereka mulai berbicara tetapi dengan bahasa yang tidak aku ketahui. ‘Ada apa ini?’ Aku merasakan sesuatu dari mereka. ‘Ini berbahaya. Aku harus segera mencari cara untuk kabur.’ Entah kenapa instingku mengatakan akan ada bahaya yang datang.


Mereka perlahan mulai mendekat ke arahku. “Hey, apa yang ingin kalian lakukan?! L-Lepaskan!!” Mereka membawaku keluar.


Diluar ada banyak sekali orang yang melihatiku. ‘Aku merasakan akan terjadi sesuatu yang buruk padaku.’ Hanya itu yang bisa aku pikirkan saat ini. Meskipun begitu aku masih mencoba untuk tenang dan menganalisa semuanya.


Beberapa saat kemudian.


Seketika ketenanganku menghilang setelah melihat apa yang ada tepat didepanku. ‘Alat pemenggal kepala, ‘Guillotine’ kenapa ada hal semacam ini didunia ini!’ Aku mencoba untuk melepaskan diri tapi tidak bisa. ‘Cih, mati karena hal ini sungguh tidak epic.’


Aku melihat kearah langit. ‘Siang hari, tapi tidak terasa panas. Sepertinya aku tidak bisa menemukan caranya.’ Mimpiku sebelumnya bukanlah sebuah mimpi biasa, itu adalah hal yang terakhir aku lihat sebelum pingsan. Jika seperti itu bisa dipastikan kalau tempat ini berada didalam pelindung sihir itu.


Setelah itu.


Kepalaku mulai ditaruh diantara Guillotine itu. ‘Haa, apa hanya seperti ini perjalanan hidupku.’ Aku sudah tak menemukan cara untuk lepas dari sini, meskipun bisa bebas aku juga tak tau apa aku bisa keluar dari pelindung sihir yang melindungi tempat ini atau tidak. “Setidaknya, aku ingin mengucapkan salam perpisahan dulu padanya.”


“Kau putus asa?” (???)


“Huh?” Semuanya seketika berhenti, aliran waktu seakan tidak berjalan ini sama seperti yang pernah ditunjukkan oleh Risa padaku. “Siapa?!”


“Hee, kau jahat tidak mengenaliku. Aku adalah orang yang bisa membantumu melewati rintangan seperti ini.”


“Suara itu.” Suara seorang wanita, dan itu tidak asing bagiku. “Terimakasih, aku mengharapkan pertolonganmu.”


“Tapi ingat, ini tidak gratis.”


“Ya, aku mengerti.”


“Kalau begitu, pejamkan matamu selama beberapa detik.”


“Baiklah.” Saat ini aku hanya bisa menuruti perintahnya. Aku menutup mataku.


“Hmm, kalau begitu… Sudah, kau bisa buka matamu sekarang.”


Aku perlahan mulai membuka mataku, dan aku dapati diriku dengan memengang buah. “Ini…”


“Aku hanya membalikkan waktu saja, kau tertangkap akibat memakan buah itu. Kau ceroboh, lain kali periksa dulu apa yang kau ingin lakukan dengan begitu kau akan terhindar dari masalah seperti ini.”


“Terimakasih.”


“Aku akan mengawasimu, tetapi mungkin aku tidak akan melakukan hal yang sama seperti ini terus menerus untukmu, aku ini tidak sebaik para dewa yang lain.”


“Meskipun begitu, terimakasih.”


“Ya, aku menantikan hal yang aku inginkan itu, jangan lupakan hal itu.”


“Tenang saja, aku pasti akan mendapatkannya.”


“Aku akan menunggu.”


Suaranya menghilang. “Haaa, jadi karena ini, ya.” Aku melihat ke buah yang sedang aku pegang ini, setelah itu aku membuangnya. “Sebaiknya aku harus segera pergi meninggalkan tempat ini.” Meskipun aku berhasil melewatinya, tak ada jaminan jika kejadian seperti itu tidak akan terulang kembali.


Beberapa menit setelah itu.


Tepat saat aku datang, mereka berdua sedang berbaring. “Lucy, Iona, maaf menggangu istirahat kalian tapi kita harus segera pergi dari tempat ini.”


“Eh, kenapa tiba-tiba?” (Iona)


“Haa, begitu. Baik baik, putri ayo cepat.” (Lucy)


“Huh? Ada apa? Kenapa hanya aku yang tak mengerti?”


“Sudahlah, ayo putri cepat jangan membuang-buang waktu.”


Seperti biasa, Lucy selalu cepat dan tanggap dalam hal seperti ini.


Cukup lama setelah itu.


“Ari, sebenarnya ada apa? Kenapa kita harus terburu-buru?”


“Ada sesuatu yang berhaya, dan ada baiknya jika kau tidak perlu tau.”

__ADS_1


“Begitu, ya sudah.”


Kami melangsungkan perjalanan menuju ke gunung Juinds.


Sore hari.


Kami sampai di kerajaan Guilty disore hari. “Ini sedikit terlambat daripada apa yang dijadwalkan.” (Lucy)


“Beban yang dibawa Dravin saja lebih dari apa yang sebenarnya dia bisa bawa, lagipula jika kecepatannya lebih cepat lagi kita tidak akan bisa bertahan berada diatasnya dan mungkin kita akan terjatuh.”


“Benar juga.”


Beberapa saat kemudian, kami semua turun cukup jauh dari kerajaan Guilty tepatnya disebuah hutan yang cukup lebat. “Dravin, besok siang kami akan menemuimu disini, jika ada masalah mungkin kita akan sedikit terlambat.” Ia kembali ke mode tertidurnya.


“Ari, ayo cepat!!” (Iona)


“Ya, aku akan segera menyusul.” Mereka berdua sudah berada cukup jauh didepan. “Dravin, jika terjadi sesuatu saat kami ada disana kau bisa membantu kami untuk mengalihkan perhatian. Ini hanya sebuah rencana untuk bagian terburuk, tapi tenang saja aku sudah mempersiapkannya dengan sangat baik.” Tak ada respon. “Haa, aku tak tau kau mendengar atau tidak tapi terimakasih karena sudah mau mengantarkan kami sampai kesini.” Aku perlahan pergi meninggalkannya, menyusul Iona dan juga Lucy yang sudah jauh berada didepan.


Beberapa lama setelah itu.


Kami berhasil masuk kedalam kerajaan, meskipun ada sedikit masalah.


“Kau menyuapnya?” (Lucy)


Ia berbisik padaku. “Haa, ya seperti itulah.”


“Begitu, berapa banyak yang kau berikan?”


“Tidak banyak, setidaknya itu tidak harus aku bicarakan.”


“Hmm, lalu darimana kau dapat uang itu? Aku tidak tau kalau kau dapat uang?”


“Ini uang dari gajimu selama menjadi asistenku dulu.”


“Eh? Aku juga digaji?”


“Ya, tapi karena kau bilang ingin belajar aku anggap itu sebagai uang bayaran.”


“Ehhh!! Aku bahkan tidak tau kalau aku bisa mendapatkan bayaran. Seberapa banyak bayaranku?”


“Hmm, entahlah. Aku juga menggunakan uang itu untuk melakukan perjalanan dan juga liburan para ketua regu dan yang lainnya.”


“Heee…”


“Apa yang kalian berdua bicarakan?” (Iona) Iona yang tadinya menjauh perlahan mulai berjalan berdampingan.


“Tidak ada apa-apa, hanya pembicaraan kecil.”


“Oh ya, Ari uang yang ada dikotak itu habis, apa kau yang menggunakannya?”


“Iya, aku sudah menggunakannya untuk liburan ini.”


“Oh ya putri, berapa banyak uang yang ada disana?” (Lucy)


“Hmm, kalau tidak salah sekitar 500 atau 700 ribu Els, itu jika aku tidak salah hitung mungkin bisa saja lebih banyak dari itu.”


“S-sebanyak itu.”


“Ya.”


“Hey, itu semua gajiku?” Lucy berbisik padaku.


“Semuanya sudah terpakai, mau protes bagaimanapun kau juga setuju dengan rencana liburan untuk yang lainnya.”


“I-itu memang benar, tapi…”


“Sudahlah, kau sudah banyak belajar. Dengan pengetahuan yang kau dapatkan dariku kau bisa mendapatkan yang lebih banyak dari itu.”


“Haa, ya sudah.”


Beberapa saat kemudian.


“Ari, kita akan tidur dimana malam ini?” (Iona)


Tanpa aku sadari ternyata matahari sudah mulai terbenam. “Hmm, kita cari penginapan yang sederhana saja.”


“Baiklah.”


Setelah itu kami mencari penginapan.


Malam hari.


Di sebuah penginapan.


“Haaa, ini lumayan juga.” (Lucy)


“Ya, ini tidak buruk.” Aku dan Lucy tidur di 1 kamar sedangkan Iona tidur dikamar terpisah.


“Berapa biaya untuk semalam disini?”


“Kalau tidak salah, sekitar 11 atau 17 ribu.”


“Haaa, itu sedikit mahal. Tapi sudahlah, dengan fasilitias 2 kasur yang lumayan ini harga seperti itu sepertinya tidak masalah. Lalu, berapa banyak sisa uang yang kau punya sekarang?... Eh, apa ini?”


Aku melemparkan sebuah kantong padanya. “Sisa uang yang aku bawa, kau bisa mengambilnya.”

__ADS_1


“Eh? Serius!!”


“Ya, lagipula tidak ada hal lain lagi yang bisa dibeli olehku.”


“Huh? Kau tidak ingin memberli oleh-oleh atau semacamnya?”


“Tujuanku kesini bukan untuk itu.”


“Lalu, tentang tujuan yang pernah kau bahas waktu itu. Apa sebenarnya alasanmu ingin pergi ke gunung Juinds?”


“Aku tak ingin membicarakannya.”


“Aku tidak akan memaksamu, tapi kau tidak bisa melakukannya sendirian.”


“Ya, aku tau hal itu.”


“Ngomong-ngomong, kau melihatnya?”


“Huh? Melihat apa?”


“Saat kita beristirahat dihutan, apa kau melihatnya?”


“Huh? Katakan lebih jelas, jangan membuatku bingung.”


“Suku pedalaman yang ada dihutan itu, kau melihatnya?”


“Haaa, ternyata itu.”


“Jadi kau memang benar melihatnya, ya. Bagaimana wujud mereka?”


“Mereka manusia.”


“Hooo, tak banyak orang yang tau dengan suku pedalaman itu. Pernah dikatakan kalau orang yang pernah melihat suku itu tidak akan pernah ditemukan lagi.”


“Jadi begitu.” Setidaknya aku mengerti alasan ada Guillotine disana, itu untuk membunuh orang yang melihat wujud mereka. Untuk alasan mereka melakukan hal itu, aku tak tau persis tapi sepertinya itu bukan merupakan hal yang baik jika terus dipikirkan.


Suasana menjadi hening untuk beberapa saat.


“Ari, apa kau tau tentang pernikahan putri Iona?”


“Huh? Pernikahan Iona?”


“Usianya saat ini sudah cukup untuk melangsungkan pernikahan, tentu saja untuk tujuan memperkuat kerajaan.”


“Tujuan politik, ya.” Hal yang paling tidak aku sukai.


“Apa yang akan kau lakukan?”


“Aku pernah mengatakannya dulu, itu sangat lama sekali. Jika kerajaan memang membutuhkan kekuatan militer yang sangat kuat, aku akan mewujudkannya, tapi jika seorang ayah ingin melihat putrinya menderita maka…” Entah kenapa aku tidak bisa melanjutkan ucapanku, saat ini aku tidak berada diposisinya jadi aku tak tau apa yang sebenarnya Iona pikirkan tentang hal ini, dan lagi alasan kenapa dia menyembunyikan hal ini dariku.


“Jika saja putri Iona tidak setuju, apa yang ingin kau lakukan?”


“Menghentikan pernikahan itu.”


“Apa kau bisa melakukannya?”


“Itu sangat mudah, tapi untuk selanjutnya mungkin sesuatu yang buruk akan menimpaku.”


“Kau menyelamatkan seseorang tapi kau sendiri yang dalam bahaya, bukankah itu sedikit ceroboh.”


“Anggap saja itu adalah sebuah pilihan terakhir, meskipun begitu setelah melakukan hal seperti itu aku harus memiliki alasan yang kuat kenapa aku melakukan hal itu. Itulah yang paling penting.”


“Bukankah kau sudah memiliki alasannya? Kau mencintainya, apa aku salah.”


“Aku tak bisa menyawabnya.”


“Heee, kau malu?”


“Entahlah, tapi bukan karena itu.”


“Lalu?”


“Iona, aku tau kau menguping. Masuklah.” Pintu terbuka dan Iona perlahan mulai masuk. “Jadi, sebanyak apa yang sudah kau dengar?”


“M-maaf.”


“Haa, sudahlah. Lucy, jangan membuat rencana yang kurang matang seperti ini lagi. Lain kali jika ingin melakukan sesuatu, lakukan dengan baik.”


“Hahahaha, ternyata ketahuan.”


“Iona, segeralah kembali kekamarmu, kita akan berangkat besok pagi-pagi sekali.” Aku memutuskan untuk tidur karena besok adalah hari yang penting.


“Baik.”


Diluar kamar.


“Maaf putri, aku tidak dapat membantu banyak.”


“T-tidak perlu minta maaf, aku seharusnya yang berterimakasih padamu karena sudah mau membantuku. Meskipun sedikit kecewa, tapi aku juga senang karena Ari masih peduli denganku.”


“Dia sebenarnya juga menyukaimu, tapi entah apa alasannya dia tak mau mengungkapkannya. Padahal jika saja dia mau dia bisa langsung melamarmu.”


“I-itu terlalu cepat. Meskipun begitu, aku juga berharap seperti itu.”


Di dalam kamar.

__ADS_1


‘Aku bisa mendengar apa yang kalian bicarakan.’ Aku yang ingin tidur tidak jadi karena mendengar pembicaraan mereka berdua. ‘Iona, aku minta maaf, aku tak bisa mengatakannya.’ Aku terikat suatu perjanjian dan jika itu dilanggar maka aku akan lenyap dari dunia ini.


Perjanjian antara aku dan juga dewi.


__ADS_2