Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
45


__ADS_3

Markas khusus.


Pagi hari.


“Haaaa, sudah lama rasanya tidak duduk dikursi kebangganku ini.”


“Ari, dokumen ini bagaimana?”


“Ahhh, taruh saja disana aku akan menyelesaikannya nanti. Oh ya, yang lainnya kemana, ya. Biasanya pagi-pagi begini mereka sudah ada disini.” Disini hanya ada aku dan juga Iona, sedangkan yang lainnya masih belum kelihatan.


“Mungkin mereka telat atau ada masalah lain, jadinya mereka sedikit terlambat.”


“Begitu. Sudah lama, ya tempat ini berdiri dan tanpa sadar tempat ini sudah menjadi besar seperti ini.”


“Kalau tidak salah sudah 7 tahun lalu sejak pertama kali kau membuat pasukan khusus untuk pertama kalinya.”


“7 tahun, berarti saat itu kau masih berumur 10 tahun, ya. Berarti sudah sekitar 13 tahun, sudah selama itu, ya.” Sudah terlalu banyak hal yang terjadi padaku sampai aku tak menyadari sudah selama itu aku berada didunia ini sejak pertama kali aku bangun sebagai Iona. “Sudahlah, sebaiknya segera selesaikan pekerjaan ini agar aku bisa bersantai.”


Beberapa lama setelah itu.


“PUTRI!!!”


“Kalian sudah datang.” Ari, Ria, Lysia, Sofia, dan juga Rine datang.


“Hey, jangan berteriak. Aku sedang mengerjakan pekerjaan ini.”


“Itu tidak penting!! Putri, apa kau benar akan menikah minggu depan?!” (Lysia)


“Eh? D-darimana kalian tau?”


“Rumornya sudah tersebar keseluruh penjuru kerajaan, karena itu kami datang langsung ingin memastikannya.”


“Haaa, karena ini pembicaraan gadis. Aku ingin keluar, Lucy ayo pergi.”


“Eh, y-ya.”


“Iona, aku dan Lucy ingin pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan sesuatu dan sekalian menyelesaikan pekerjaan ini, jika kau ingin menyusul.” Aku memberikan kunci yang kakek pahlawan berikan padaku. “Buka pintu apapun menggunakan kunci ini, dan ingat jangan sampai hilang, ya.”


“Baik.”


“Kalau begitu kami pergi.”Aku dan Lucy pergi.


Di istana langit, perpustakaan.


“Haaaa, disini lebih tenang.”


“Ari, apa itu benar?”


“Huh?”


“Kabar mengenai pernikahan putri?”


“Iya, itu benar.”


“Tidak seperti biasanya kau melakukan hal seperti ini, setahuku kau selama ini selalu menahan diri. Kenapa kau tiba-tiba melakukan hal seperti ini?”


“Hanya ini yang bisa aku lakukan untuknya sekarang. Selain itu, jika seperti ini keinginanku untuk melindunginya akan semakin kuat.”


“Begitu.”


“Lucy, bisa beritahu aku buku tentang sihir legendaris yang kau pelajari itu.”


“Baiklah.” Lucy mengambilkannya lalu memberikan padaku. “Bahasanya sedikit sulit untuk dimengerti, tapi jika itu kau pasti akan mudah untuk mempelajarinya.”


“Kau terlalu berlebihan.” Aku kemudian membaca buku itu.


Cukup lama setelah itu.


“Putri, kau datang.” (Lucy)


“Haaaa, mereka menanyakanku banyak sekali pertanyaan. Aku sangat lelah menjawab pertanyaan mereka semua.” (Iona)


“Begitu.”


“Pangeran, kau tidak menanyakan hal itu padaku?”


“Tidak, selain itu 1 kalimat saja dari mulutnya sudah membuatku mengerti apa yang sebenarnya dia ingin lakukan.”


“Huh?”


“Abaikan ucapannya.”


“Ari, buku apa yang kau baca itu?”


“Hmmm, buku tentang sihir legendaris. Aku cukup tertarik dengan hal ini.”


“Eh, mana-mana aku juga ingin membacanya.”


Beberapa saat kemudian.


“A-aku tidak mengerti tulisannya. Ari, kau mengerti apa yang ditulis disini?”


“Iya, aku mengerti kok.”


“Putri, itu tulisan kuno. Tanpa pengetahuan yang luas dan juga pemahaman yang mendalam, anda tidak akan mengerti apa yang ditulis dibuku itu.”


“Kalau begitu, Ari bisa bacakan untukku. Aku mohon…”


Melihatnya seperti bersikap seperti ini membuatnya terlihat manis dan aku tak bisa menolaknya. “Haaaa, baik. Dengarkan dengan baik.”


“Iya.”


Aku mulai membacakan isi bukunya secara singkat. “Hmmm, sihir Ruote, jenis gabungan antara cahaya, api, dan juga petir, sihir ini dapat menghasilkan daya ledak yang luar biasa dahsyat. Kekuatan ledakannya tergantung dengan seberapa banyak yang dimiliki dan juga seberapa kuat 3 elemen sebelumnya. Semakin kuat elemen sebelumnya, maka ledakannya dapat menghancurkan apapun dengan mudah.”


“H-hebat. Lalu, selanjutnya apa?”


“Hmmm, sihir Oigi, sihir jenis pertahanan mutlak. Dapat menangkal segala jenis serangan apapun.”


“L-luar biasa, sihir legendaris memang sangat hebat. Lalu yang selanjutnya?”

__ADS_1


“Apa aku harus membacakan semuanya?”


“Tentu saja, aku’kan juga ingin tau. Apa kau tidak mau menuruti keinginanku?”


“Haaaaa, mau bagaimana lagi.”


Cukup lama kemudian.


“Haaaa, akhirnya selesai juga.”


“Sihir legendaris hebat, ya. Sihir yang digunakan oleh para pahlawan untuk mengalahkan para pasukan raja iblis, para pahlawan memang sangat luar biasa.”


“Putri, apa hanya perasaanku atau sekarang semakin menjadi manja jika bersama dengan Ari.”


“Eh, i-itu tidak benar.”


“Mau benar atau tidak, faktanya memang seperti itu. Jika kau seperti itu terus, itu hanya akan membuat apa yang sedang Ari kerjakan terganggu.”


“Benarkah? Ari, apa aku menggangumu?”


“Jika kau memang mengganguku, aku akan menyuruhmu untuk pergi. Tapi kenyataanya aku tak pernah bilang seperti itu.”


“Tapi, pangeran Lucy…”


“Haaaa, lihat dia. Dia hanya iri dengan kita karena saat ini dia sendirian disini, abaikan saja apa yang dia ucapkan barusan.”


“Dasar pangeran Lucy, aku membencimu.”


“Wah, gawat jika kau sampai membenciku. Tenang saja, aku hanya bercanda. Lagipula Ari tidak akan pernah terganggu jika itu kau.”


“Benarkah?”


“Iya, aku bisa menjaminnya.”


“Kalau begitu.” Iona memelukku dari belakang. “Jika seperti ini bagaimana.”


“H-hey, hentikan. Iona, aku sulit untuk bisa bergerak jika kau seperti itu. Lepaskan.”


“Tidak mau.”


“Haaaa, terserah kau saja.” Aku melanjutkan membaca buku lain.


“Hehe…”


Beberapa jam setelah itu.


“Haaaa, setelah puas mengganguku kau malah tidur seperti ini.” Iona tertidur diatas tumpukan buku yang ada dilantai. “Lucy, aku akan mengantar Iona ke kamar dulu. Bisa tolong selesaikan pekerjaanku yang tersisa itu. Aku akan segera kembali.”


“Iya, serahkan padaku.”


Aku mengendong Iona dan membawanya ke kamar.


“Haaaa, jika sudah menikah apa kau akan terus melakukan hal seperti itu untuk merepotkanku?” Aku menidurkannya., dan mencium keningnya. “Iona, mimpi indah.” Aku berjalan kembali ke perpustakaan, tapi…


“J-jangan pergi…” Iona mengingau dan menggenggam erat tanganku.


“Mimpi buruk, ya.” Air matanya menetes, dan aku mengusap air matanya. “Haaaa, sepertinya ini akan sedikit memakan waktu.”


Perpustakaan.


“Kau lama.” (Lucy)


“Aku ditahan olehnya, mau bagaimana lagi.”


“Heeee, kau melakukan sesuatu padanya selagi dia tertidur?”


“Candaanmu tidak lucu. Dia bermimpi buruk, aku tak tau apa yang dia impikan, tapi dia terlihat begitu sedih.”


“Kau tidak membangunkannya?”


“Jangan bodoh, aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Selain itu, mungkin saja sebuah mimpi juga bisa menjadi petunjuk apa yang akan tejadi dimasa depan. Oleh karena itu aku tak ingin melakukannya, jika ada hal buruk yang akan terjadi dimasa depan setidaknya Iona sudah menyiapkannya.”


“Itu hanya mimpi, tidak ada hubungannya dengan masa depan.”


“Meskipun begitu, sebuah khayalan akan mimpi dapat membuat sebuah masa depan yang sama seperti apa yang diimpikan. Ya, mungkin saja itu juga bisa salah, tapi setidaknya mimpi itu sesuatu yang harus dilewati.”


“Iya iya, aku paham. Ini, aku sudah mengerjakan semuanya. Oh ya, sepertinya ada yang berbuat kecurangan lagi.”


“Lagi. Perasaan semua gajinya sudah cukup, apa mereka orang rakus yang merasa terus kekurangan harta? Haaaa, orang seperti ini memang akan terus ada, orang yang rakus akan harta. Orang-orang yang seperti itu lebih baik diberi pelajaran apa, ya biar tidak berulah lagi.”


“Ari, kau bagaimana? Bukankah kau juga butuh uang? Apalagi nanti saat sudah menikah dengan putri.”


“Aku mengakui kalau aku juga butuh uang, tapi aku tidak memprioritaskan uang diatas segalanya. Mereka yang melakukan kecurangan itu, kebanyakan mereka hanya demi memuaskan hasrat pribadi mereka akan kekayaan.”


“Lalu, tindakan apa yang akan kau lakukan untuk mengatasinya?”


“Hmmm, orang seperti ini akan muncul terus seperti semut, jika dibasmi 1 maka yang lainnya akan muncul.”


“Jika kau tidak melakukan sesuatu, dia akan semakin semena-mena. Dan jika seperti itu terus keuangan markas akan semakin menipis.”


“Hmmm, lakukan seperti biasanya saja. Jika dia memiliki alasan yang jelas masuk akal dan bisa diterima, lakukan seperti biasa. Tapi, jika alasannya tidak masuk akal langsung eksekusi ditempat.”


“Baik, akan aku sampaikan pada yang lain nanti.”


“Tolong.”


“Haaa, iya. Lagipula aku tau kau masih akan berada disini untuk menjaga putri.”


“Terimakasih banyak atas pengertianmu itu.”


“Iya iya.”


“Saat aku selesai membaca buku ini, segera antar aku pulang.”


“Iya, aku mengerti.”


Sore hari, teras.


“Haaaaa, tenpat ini memang yang terbaik.” Aku tak tau saat ini rumah ini tengah berada dimana, tapi matahari sore kali ini terlihat sangat dekat daripada biasanya.

__ADS_1


“Ari…”


“Iona, kau sudah…” Aku melihat kearahnya dan dia menangis. “Iona, ada apa? Kenapa kau menangis?” Ia seketika langsung memelukku. “Iona, kenapa? Apa yang terjadi?” Sikapnya yang seperti ini membuatku sangat khawatir.


“Aku, bermimpi buruk tentangmu.”


“Tentangku?”


Iona kemudian menceritakan tentang mimpinya padaku. “Begitu, aku mati, ya.” Dari cerita Iona, aku mati karena dibunuh oleh raja iblis. Meskipun begitu, itu sedikit aneh. “Iona, apa kau ingat rupa raja iblis itu?”


“Tidak.”


“Jika begitu, kenapa kau bisa yakin kalau dia adalah raja iblis?”


“Dia mengatakannya. Aku adalah raja iblis terkuat, tidak ada yang bisa mengalahkanku. Seperti itu.”


“Seperti itu, ya. Tapi itu hanya mimpi saja, jangan dianggap serius. Itu mungkin terjadi karena imajinasimu saja, lagipula situasinya sudah gawat seperti ini jadi wajar jika kau bermimpi seperti itu.”


“Tapi itu benar-benar terlihat begitu nyata. Aku takut jika hal buruk yang aku mimpikan itu sampai benar-benar terjadi padamu.”


“Itu hanya mimpi, tidak akan ada yang terjadi padaku. Aku akan baik-baik saja.”


“Tapi…”


“Haaaa.” Aku membaringkan Iona dan menidurkannya di pangkuanku. “Kau harus tenang, semuanya akan baik-baik saja.” Aku mengelus kepalanya untuk membuatnya semakin tenang.


“M-maaf. Tapi, itu semua terlihat begitu nyata. Aku sangat mengkhawatirkanmu.”


“Semua orang juga pernah bermimpi buruk, tapi hal itu wajar saja terjadi. Dan terimakasih karena sudah mengkhawatirkanku, sekarang berbaringlah dan buat dirimu senyaman mungkin.”


“Baik.”


Beberapa menit.


“Kau sudah tenang?”


“Iya, terimakasih.”


“Kadang-kadang, seperti ini boleh juga.”


“Huh?”


“Aku yang biasanya tidur dipangkuanmu, sekarang kau yang tidur dipangkuanku.”


“Tapi tetap saja, kau yang harus tidur dipangkuanku.”


“Iya iya… Ternyata kau memang agresif, ya.”


“B-bicara apa kau, a-aku hanya bersikap seperti ini jika hanya bersamamu saja.”


“Kau yang malu-malu seperti itu, terlihat manis.”


“J-jangan melihat wajahku!!”


“Hahahaha. Iona.”


“Ya?”


“Aku tak bisa menjamin rencana yang kau pikirkan itu bisa berjalan dengan mulus.”


“Iya, aku tau, aku juga sudah menyadarinya. Tapi, aku ingin mencobanya sendiri. Aku ingin melihat seberapa jauh aku bisa berjuang sendirian tanpa bantuan darimu. Aku tak ingin hanya menjadi penonton saja, aku juga ingin ikut ambil bagian dalam hal ini. Setidaknya, aku ingin jadi orang yang bisa sedikit berguna untukmu.”


“Kenapa kau menutupi wajahmu?” Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


“A-aku malu… Mengatakan hal seperti itu langsung dihadapanmu membuatku malu.”


“Kau terlihat sangat imut jika seperti itu.”


“J-jangan lihat… A-ari, ada sesuatu yang dipahamu?”


“Ahhh, benar juga.” Iona bangun dan aku mengeluarkan sesuatu dari saku celanku. “Ini untukmu.”


“Anting-anting ini.”


“Kau tidak suka?”


“T-tidak, aku menyukainya. Terimakasih.”


“Begitu, syukurlah.”


“Sama seperti cincin dan juga kalung ini, aku akan menjaganya dengan baik.”


“Ya, sebenarnya itu anting buatanku.”


“Buatanmu? Benarkah?”


“Iya, aku menggunakan beberapa bahan dan juga alkimia untuk menyatukan bahannya. Serta ruby itu.”


“Ini Kristal ruby? Kristal yang sangat langkah itu?”


“Iya, tapi tidak kristal ini tidak begitu murni. Aku mencampurkan beberapa bahan, dan juga memberikan sedikit sihir untuk membuatnya lebih indah dan sedikit memperkuatnya. Dan lagi, saat kau tidur tadi aku sempat kepikiran sesuatu.”


“Apa itu?”


“Hmmm, aku sudah menambahkan sihir khusus pada semua aksesoris yang aku berikan padamu, bisa dibilang semua aksesoris yang kau miliki sekarang adalah sebuah artefak berharga.”


“Artefak, barang kuno yang biasa digunakan oleh manusia pada zaman dulu sebagai alat untuk mempermudah kehidupan mereka.”


“Iya, seperti itu. Cincin yang kau gunakan itu bisa menyimpan mana yang berlebihan dari tumbuhmu, dan kau bisa menggunakannya kembali. Lalu kalung itu, adalah bisa dibilang untuk melindungi dirimu. Jika ada sesuatu hal yang buruk ataupun saat kau dalam bahaya, sebuah pelindung akan muncul dan melindungimu.”


“Lalu, anting-anting ini?Apa fungsinya?”


“Hmmm, memperkuat efek dari 2 barang sebelumnya.”


“H-hebat, ini sangat hebat.”


“Ya, aku bersyukur jika kau menyukainya.”


“Aku sangat menyukainya, ini bagaikan sebuah jimat penyelamat bagiku. Jika kau tidak ada didekatku, aku bisa merasakan kalau kau tetap melindungiku.”

__ADS_1


“Kau terlalu berlebihan. Tapi, ya. Alasanku memberikan itu semua padamu hanya demi melindungimu, akan ada waktu dimana aku tak bisa bersamamu dan melindungimu. Oleh karena itu aku memberikan itu untukmu, sebagai pengganti jika aku tidak ada disampingmu saat kau membutuhkanku.”


“Terimakasih, aku sangat senang.”


__ADS_2