Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
18


__ADS_3

Beberapa hari berlalu.


Tubuhku sudah kembali pulih dan hari ini aku sudah bisa beraktifitas seperti biasanya. Ya, itu yang seharusnya terjadi.


“Ari, buka mulutmu. Aaaa…”


“A-aku sudah bisa makan sendiri, kau tak perlu melakukannya lagi.”


“Aku mohon, untuk kali ini saja. Aku mohon.”


“Haaa, terserah kau saja.”


“Kalau begitu… Aaaa…” Aku memakannya. “Bagaimana? Apa enak?”


“Ya, enak seperti biasa.”


Setelah itu.


“Ari.”


“Ada apa?”


“Apa kau…”


“Huh?”


“Tidak, tidak jadi.”


“Hey, kau membuatku penasaran.”


“Tidak lupakan saja.”


“Haaa, ya sudah. Oh ya, aku akan kembali ke markas sekarang. Lucy pasti sedang kesulitan disana.”


“Apa kau sudah baik baik saja?”


“Ya, kau tak perlu khawatir aku sudah sehat.”


“Begitu. Syukurlah.”


Meskipun berkata seperti itu, raut wajahnya berkata lain. “Haa, terimakasih karena sudah merawatku selama ini.”


“Aku hanya melakukan yang seharusnya, lagipula aku sudah sangat bahagia.”


“Huh?”


“Tidak, sudah kau bilang ingin kembali ke markas. Cepat, pangeran Lucy pasti sedang kerepotan disana.”


“Ahh, benar juga. Kalau begitu, aku pergi.” Aku pergi meninggalkan Iona dan langsung menuju ke markas.


------


Dimarkas khusus.


Aku sudah sampai disini. “Sepertinya kau tidak sedang kesusahan.” Lucy terlihat tengah bersantai dan tidak terlihat seperti membutuhkan bantuan.


“Wah, sahabatku kau akhirnya sembuh juga.”


“Sahabat? Sejak kapan?”


“Ayolah, itu hanyalah sebagai basa-basi saja.”


“Sudahlah, terserah kau saja. Lalu, apa selama aku tidak ada semuanya berjalan lancar?”


“Ya, semuanya baik-baik saja. Hanya saja.”


“Haaa, jangan bilang kalau ada masalah lagi.”


“Beberapa hari lalu, ada penyusup yang masuk ke kerajaan ini. Kemungkinan itu adalah penyusup dari negara tetangga.”


“Kenapa kau bisa seyakin itu? Apa alasannya?”


“Bisa dibilang, karena kemajuan negara ini yang pesat hanya dalam kurun waktu beberapa tahun saja. Wajar jika kerajaan lain ingin mengetahui rahasianya, dan lagi tentang jalur perdagangan.”


“Huh? Jalur perdagangan? Memangnya ada apa dengan hal itu?”


“Ya, aku tak begitu mengetahuinya. Tapi, sepertinya ada masalah dengan hal itu.”


“Masalah, ya. Aku baru saja sembuh dan sudah ada masalah rumit yang menanti. Jika saja ada orang yang bisa membantu disaat seperti ini.”


“Hey, jangan melihatku. Aku juga sudah sibuk dengan semua hal ini.”


“Iya iya, aku tau. Benar juga, bagaimana dengan teman Iona?”


“Maksudmu Sofia, Ria, Rine, dan Lysia?”


“Iya, apa kau sudah mengetahui kemampuan mereka?”


“Ya, mereka berbakat dibidangnya. Tapi sayang, dalam masalah ini mereka tidak bisa membantu.”


“Begitu. Haaa, jadi harus aku sendiri yang menyelesaikannya, ya.”


“Mau menyerahkan semua ini pada putri Iona?”


“Candaanmu tidak lucu, dia tidak tau apapun tentang hal seperti ini.”


“Kau tidak pernah mengajarkannya, bagaimana dia bisa tau. Setidaknya beritahu dia, lagipula akan ada waktunya kau dan aku tidak akan berada ditempat ini, saat itu tiba kau seharusnya sudah menyiapkannya.”


“Kau berkata seperti itu seolah ingin pergi ke tempat yang jauh.”


“Ini hanya sebuah saran dariku. Baiklah, aku ingin istirahat dulu. Sisanya aku serahkan padamu. Selamat berjuang.” Lucy keluar dari ruangan.


“Menyiapkannya, ya.” Kata-katanya terngiang dikepalaku. “Apa yang harus aku persiapkan.”


Sore hari.


“Haaa, akhirnya selesai. Iona apa kau sudah selesai?”


“Ya, aku sudah selesai.”


“Begitu.” Sisa pekerjaan yang diberikan oleh Lucy sudah selesai aku kerjakan, untuk hari dan beberapa hari kedepan mungkin tidak ada pekerjaan lain. “Sepertinya aku ingin bersantai besok.”


“Ari.”


“Huh? Ya, ada apa?”


“Terimakasih atas kerja kerasnya hari ini.” Setelah mengatakan hal itu Iona pergi.


“Apa yang sebenarnya ingin dia katakan?” Ada sesuatu yang ingin dia katakan, tapi dia tidak ingin mengatakannya. Jika seperti itu, aku tak harus mencaritahunya karena itu melanggar prinsipku. “Aku harap aku bisa bersantai besok.” Meskipun demikian, tidak bisa dipungkiri jika aku memang penasaran dengan apa yang ingin Iona katakan.


Esoknya.


Dipantai.


“Haaa, pagi hari menikmati matahari terbit di pantai adalah hal yang terbaik. Benarkan, Dravin.”


“Ternyata kau ada disini.” (Lucy)


“Lucy, ada apa? Kenapa kau kemari? Hari ini tidak ada pekerjaan, jadi aku ingin menenangkan diri disini.”


“Iya iya, aku tau. Ngomong-ngomong, Ari apa putri Iona sudah mengatakannya?”


“Huh? Mengatakannya? Mengatakan apa?”


“Dia tidak mengatakannya, ya. Ini merepotkan.”


“Hey, jangan membuatku penasaran seperti itu. Apa sebenarnya yang ingin Iona katakan?”


“Hari ini, dia akan melakukan pertunangan.”


“Itu tidak lucu, kau tau’kan.”


“Tidak, kali ini aku serius.”


“Apa itu pilihan Iona?”


“Kau itu bodoh atau apa. Mana mungkin dia mau melakukan hal seperti itu, seharusnya kau sudah tau.”


“Cih, ternyata peringatanku masih saja diabaikan.” Ini membuatku sangat kesal. Sesuatu yang aku benci kembali diulangi. “Lucy, ayo bergegas.”


“Haa, baik.”


Kami kembali ke istana dengan Dravin.


“Ari, apa aku boleh tau alasanmu menahan diri selama ini?”


“Menahan diri?”


“Alasanmu tidak mengungkapkan cintamu pada putri Iona.”

__ADS_1


“…”


“Kau tidak ingin mengatakannya? Atau mungkin kau tidak bisa mengatakannya?”


“Hahaha, kau memang orang yang keras kepala. Sudahlah, lagipula hanya kau saja.”


“Kau akan memberitahuku? Lalu, kenapa kau tidak mengatakannya sampai saat ini?”


“Mudahnya, jika tugasku belum selesai maka jika aku mengatakannya aku akan lenyap.”


“Lenyap? Tunggu, tugas apa?”


“Mengumpulkan 6 benda langkah yang ada didunia ini.”


“6 benda langkah?”


“Ya.”


“Untuk apa benda langkah itu, tunggu jangan-jangan tujuanmu pergi ke gunung Juinds adalah untuk itu.”


“Ya, aku tak tau untuk apa benda langkah ini. Tapi jika aku sudah mengumpulkan semuanya, maka syarat lenyapku juga menghilang.”


“Aku tak tau kalau masalahmu serumit itu, lalu apa kau tau dimana letak semua benda itu?”


“Tidak.”


“Huh? Lalu, bagaimana kau mencarinya?”


“Saat waktunya tiba, petunjuk tentang keberadaan benda itu akan muncul.”


“Begitu, ya. Jadi ada waktu tertentu. Jika kau tau seluruh tempatnya, kau bisa langsung mencarinya.”


“Ya begitulah, tapi nyatanya aku harus menunggu sampai keberadaan benda itu diketahui. Sebelum waktu itu tiba, aku hanya bisa menghabiskan waktu.”


“Aku sudah mengerti alasanmu, tapi kenapa kau tidak mengatakannya pada putri Iona? Aku yakin dia akan mengerti keadaanmu.”


“Jika aku bilang padanya, apa yang sekiranya akan dia lakukan?”


“Yang dia lakukan?”


“Aku sudah membayangkannya, dan aku putuskan untuk tidak mengatakannya.”


“Sudahlah, lagipula itu adalah keputusanmu. Tapi, karena sudah mendengar ceritamu ini aku berarti ikut terlibat dalam hal ini.”


“Kenapa kau menyimpulkan seperti itu?”


“Seseorang yang sudah mendengar rahasia orang lain, dia harus ikut merahasiakannya. Bukankah seperti itu.”


“Itu bukan berarti kau juga memiliki tanggung jawab itu.”


“Sudahlah, 2 kepala lebih baik daripada 1. Benar’kan.”


“Terserah kau saja.”


Beberapa menit setelah itu, kami sampai di belakang istana.


Diperjalanan menuju istana.


“Sepertinya semua orang sedang heboh.” (Lucy)


“Itu wajar, seekor naga terbang melewati kerajaan ini. Siapapun pasti akan ketakutan melihatnya. Lagipula keberadaan Dravin itu masih disembunyikan, wajar saja jika ada kejadian heboh seperti itu.”


“Lalu Ari, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”


“Seperti rencana awal, jika Iona menerimanya maka aku akan membiarkannya, tapi jika tidak aku akan membatalkannya.”


“Kau sudah tau jawabannya’kan.”


“Tentu saja.”


“Tapi, bagaimana jika dia menerimanya?”


Aku sedikit tersenyum. “Itu adalah pilihannya, aku akan menghargainya apapun pilihannya. Hanya saja…”


“Hanya saja?”


“Tidak, lupakan saja. Itu bukan sesuatu yang cocok untuk dibicarakan.”


“Begitu. Maaf sudah bertanya seperti itu.”


“Tidak masalah, lagipula aku tidak terganggu dengan hal seperti itu. Sebaiknya kita segera bergegas sebelum terlambat.”


“Ya.”


“Ternyata benar.” Aku pikir ini hanyalah sebuah candaan, tapi nyatanya banyak orang yang datang ke istana hari ini dan juga ini terlihat seperti akan diadakannya sebuah pesta besar yang sangat meriah. “Lucy, ayo cepat.”


“Eh? Kemana?”


“Kemana lagi, tentu saja ke tempat Iona.”


Dikamar Iona.


“Hmm, kau sangat cantik.” (Risa)


“Kak Risa, apa aku harus melakukan ini?”


“Tentu saja, hari ini adalah hari yang sangat spesial. Kau harus tampak cantik dan menawan.”


“Tapi…”


“Stttt, jangan banyak bicara. Tenang saja, aku pastikan semua orang yang melihatmu akan terpana dan tak akan melepaskan pandangannya darimu.”


“Haa, sudahlah.”


“Kau menirunya, ya.”


“Eh?”


“Kau menghela nafas dan pasrah, sama sepertinya.”


“Mungkin karena selalu bersamanya, ini menjadi sebuah kebiasaan.”


“Jika seperti itu, mau bagaimana lagi.”


---


Aku membuka pintu, dan “Iona!!” Aku sudah sampai tapi…


“Sepertinya kita sedikit terlambat.” (Lucy)


Tak ada siapapun disini. “Bagaimana dengan ruangan Aula? Dia pasti ada disana.”


“Ari, tenyata benar kau memang tidak bisa berfikir dengan jernih jika ada sesuatu yang menekanmu.”


“Apa yang kau katakan?! Dia pasti ada disana sekarang.”


“Ruang aula memang tempat banyak orang berkumpul, tapi seharusnya kau tau jika orang penting akan datang terlambat. Menunjukkan pesonanya dan membuat semua orang terpana, bukankah seperti itu.”


“B-benar juga, aku melupakannya.”


“Tapi, aku tak menyangka kalau kau akan panik disaat seperti ini. Tapi itu lebih baik daripada panik saat berada dimedan pertempuran. Kau sebaiknya tenangkan dirimu dulu, kita akan menyusul mereka sebentar lagi. Lalu, sebaiknya kau mencari pakaian yang bagus sedikit, kau ingin menggunakan pakaian itu dipesta.”


“Baik-baik, tapi sepertinya tidak perlu.”


“Alasannya?”


“Tak ada pakaian untuk remaja laki-laki disini, hanya itu alasanku. Pakaianku ada di markas, jika kembali kesana akan menghabiskan banyak waktu.”


“Jika kau berkata seperti itu, mau bagaimana lagi. Lalu, apa rencanamu untuk hal ini?”


“Jika menerobos langsung, kita bisa ditangkap oleh prajurit.”


“Tapi, dengan posisimu saat ini hal itu tidak akan terjadi.”


“Posisiku saat ini hanyalah orang yang membantu dibelakang layar, tidak ada yang tau apa posisiku. Tapi, jika itu kau mungkin akan berbeda.”


“Aku?”


“Kau adalah wakil komandan pasukan khusus, jadi jika kau mengacaukan pesta dan berkata sesuatu tentang…”


“Hey, itu menakutkan. Pikirkan cara lain, lagipula aku tak mau merusak nama baikku dan juga kerajaanku dengan melakukan hal konyol seperti itu.”


“Hmmm, beri aku waktu sebentar aku akan memikirkannya.”


“Baik, aku juga akan memikirkan cara lain juga.”


Setelah beberapa lama.


“Ari, kita sudah kehabisan waktu apa kau menemukan caranya?”

__ADS_1


“Haaa, entahlah. Aku tak bisa berfikir dengan bebas jikadalam kondisi seperti ini.”


“Sudahlah, pikirkan cara lain diperjalanan. Saat ini kita harus bergegas.”


Kami pergi menuju ke aula.


Beberapa saat kemudian, kami sampai.


“Dia sepertinya belum datang.” (Lucy)


“Ya, sepertinya kita sedikit lebih cepat.”


“Gunakan waktu ini untuk berfikir.”


“Iya, aku juga tau.”


Beberapa saat setelah itu.


“Perhatian, putri Iona dan juga putri Risa sudah datang.” (Prajurit)


“Apa kau sudah menemukannya? Kau kehabisan waktu.” (Lucy)


“Hey, kau menipuku.”


“Eh, m-menipumu, mana mungkin aku melakukan hal itu. Lagipula bagaimana caranya aku menipumu, kau’kan orang yang tak bisa ditipu.”


“Berhentilah berbohong, aku baru menyadarinya barusan.”


“M-menyadarinya?”


“Prajurit itu memanggil nama Iona dengan sebutan putri, jika dalam kondisi pertunangan biasanya kata itu tidak akan disebutkan.”


“Ari, kau datang.” (Iona)


Tanpa disadari Iona datang menghampiri kami.


“Ahahahaha, sepertinya sudah ketahuan. Tapi, aku tidak bohong lo.”


“Huh? Apa yang kalian berdua bicarakan?”


“Orang bodoh ini menipuku, dia bilang kalau kau dipaksa untuk bertunangan.”


“Hey, aku tidak berkata seperti itu, jangan mengarang cerita.”


“Pertunangan? Ahhh, maksudmu tentang kak Risa.”


“Huh? Risa?”


“Iya, hari ini adalah hari pertunangannya.”


“B-benarkan, aku tidak bohong ada pertunangan disini.”


“Berhenti berdalih, kau sudah membohongiku.”


“Ngomong-ngomong, Ari. Bagaimana penampilanku?”


“Ya, itu cocok untukmu.”


“B-begitu.”


“Hey, ekpresimu itu terlalu datar dan sangat biasa.” (Lucy)


“Apa aku harus berteriak dan bilang, Iona kau adalah gadis tercantik dikerajaan ini, tidak bahkan didunia ini. Seperti itu.”


“Tentu saja. Benar’kan putri Iona.”


“Kau gila.”


“Tidak apa, dengan respon seperti itu saja sudah cukup.” (Iona)


“Ya, tapi setidaknya kau terlihat berbeda dari hari-hari biasanya. Bagaimana bilangnya, hari ini kau terlihat lebih…” Kalimatku terhenti.


“Kau tidak melanjutkan kalimatmu.” (Lucy)


“Terlihat lebih apa?” (Iona)


Iona terlihat sangat mengharapkan kata lanjutan dariku. “Terlihat lebih… c-cantik.”


Mendengar hal itu Iona tersenyum. “T-terimakasih.”


“Hey, kenapa kau juga ikut tersenyum.” Lucy juga ikut tersenyum.


“Ya, aku jarang melihatmu atau bahkan tidak pernah melihatmu berkata seperti itu sebelumnya. Bisa dibilang kalau saat ini aku sedikit terkejut, ini seperti melihat sesuatu yang sangat langkah.”


“Haa, sudahlah. Sudah cukup, aku akan kembali.”


“Ari, tunggu.” (Iona)


“Ada apa?”


“Hari ini, apa kau lupa dengan hari ini?”


“Hari ini, hmmm… Ahhh, aku ingat.”


“Benarkah?”


“Aku punya pekerjaan penting yang harus segera aku selesaikan, setelah itu aku memiliki urusan lain. Kenapa aku bisa melupakannya.”


“B-bukan itu maksudku.” Iona mengembungkan pipinya.


“Kau itu bodoh, atau apa?”


“Hahaha, tenanglah aku ingat. Lagipula mana mungkin aku melupakan hari ini.”


“Benarkah?”


“Iya.” Aku sedikit menarik nafas panjang. “Iona, selamat ulang tahun yang ke-17. Aku belum menyiapkan hadiah untukmu tapi jika kau tak keberatan, aku akan menyiapkannya nanti.”


“Aku tak ingin hadiah, tapi aku ingin menanyakan sesuatu sebagai gantinya.”


“Huh? Apa itu?”


“Ari, a-apa kau… M-m-menyu-k-kaiku?”


“Eh? Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu.” Saat aku melihat ke arah Lucy, dia menundukkan kepalanya. ‘Ini sudah direncanakan’kan, ya.’ Karena aku sudah menceritakan alasanku padanya, dia merasa bersalah. Mungkin harus aku katakan seperti itu.


Meskipun begitu, aku tetap tak bisa mengatakannya. Tapi…


“Ari?” Aku perlahan mendekat kearah Iona. “Eh, ada apa?” Aku mendekatkan bibirku ke keningnya, lalu menciumnya. “Eh?”


“Sepertinya itu sudah cukup. Lucy, ayo kembali.”


“Eh, t-tunggu. Apa yang baru saja terjadi?”


“Sudah abaikan itu, ayo kembali.”


“Ari.”


“Huh?”


“Terimakasih, tapi… Jika kau menciumku dengan benar, mungkin aku akan sangat senang.”


Aku hanya tersenyum menanggapinya, dan setelah itu pergi.


Di perjalana kembali.


“Kau yakin melakukan hal seperti itu ditempat umum?”


“Tentang seorang putri yang menjalin kasih dengan seorang yang asing. Bukankah itu akan menjadi pembicaraan hangat diantara para tamu undangan.”


“Kau sudah memikirkannya.”


“Lagipula dengan melakukan hal seperti itu, aku harap dia bisa sedikit lebih bersabar lagi untuk kedepannya.”


“Tapi menurutku, dengan kau yang melakukan hal itu sama saja memberinya kesempatan untuk semakin dekat denganmu.”


“Haaa, benar juga. Tapi sudahlah, lagipula aku sudah siap dengan hal seperti itu.”


“Oh ya, tadi aku lihat raja memperhatikanmu, lo. Sepertinya akan terjadi hal buruk padamu.”


“Hal buruk, ya. Aku harap hal seperti itu tidak terjadi diwaktu yang kurang tepat.”


Tepat saat kami kembali ke markas.


“Wakil komandan. Ada kabar buruk.” (Famus)


“Ada masalah apa?”


“Regu pengintai melihat ada lebih dari 30 ribu pasukan siap tempur sudah dipersiapkan oleh kerajaan Bagdist.”

__ADS_1


__ADS_2