Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
8


__ADS_3

Hari ke-2 pengintaian.


Pagi hari yang cerah.


“Baiklah, waktunya bersenang-senang.” Hari ini adalah waktunya untuk bersenang-senang, meskipun begitu bukan bersenang-senang seperti yang biasa melainkan hanya untuk membuat kecurigaan orang yang mengawasi pendatang sepertiku mereda.


Di luar penginapan.


“Haa, baiklah. Sedikit olahraga dipagi hari sepertinya tidak buruk.” Aku berjalan berkeliling kerajaan ini, mencari cela dan juga mengumpulkan informasi penting ataupun hal lain yang bisa aku dapatkan secara tidak sengaja.


Siang hari, disalah satu kedai makan.


Aku duduk sembari menikmati makanan yang aku pesan, dan mendengar sedikit pembicaraan orang-orang yang ada disini.


“Wahh, anggur ini sangat lezat.” (Pelanggan 1)


“Sepertinya kerajaan ini sedikit demi sedikit mulai berubah.” (Pelanggan 2)


“Itu semua akibat dari kepemimpinan pangeran, dia menjadi komandan pasukan dan semuanya menjadi seperti sekarang.” (P 1)


“Meskipun begitu, ambisi pangeran sekarang semakin membara, aku tak jadi sedikit khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk padanya.” (P 2)


“Meskipun begitu, ambisinya adalah yang utama. Sebagai rakyatnya, meskipun sangat mencemaskannya kita tidak bisa melakukan apapun.”


“Ya, kau benar.”


‘Sepertinya pangeran itu sangat dicintai oleh penduduknya.’ Melihat dari betapa khawatirnya mereka terhadap pangeran Victoria, sepertinya dia sudah melakukan sesuatu hal yang bisa membuat rakyaknya sangat mencintainya. ‘Jika saja semua raja bisa belajar untuk bisa dicintai oleh rakyaknya, hal itu pasti akan sangat bagus.’ Itu hanyalah sebuah hal yang sangat sulit diwujudkan.


Malam hari.


“Hmm, besok, ya.” Aku tengah berbaring dikasur sembari memikirkan cara untuk apa yang akan aku lakukan besok. “Haa, sepertinya aku sudah bebas.” Ada yang mengawasiku, aku menyadarinya sejak keluar dari bar kemarin dan sekarang sepetinya sudah hilang. “Ini sedikit membuatku cemas.”


Hari ke-3.


Di penginapan.


“Baiklah, persiapan dan rencanaku sudah siap.” Pegangan utamaku adalah koin yang diberikan oleh paman pemilik bar itu. “Waktunya berangkat.” Tujuanku hari ini adalah bukit yang ada dibelakang istana.


Dalam perjalanan.


Hari ini tidak ada bedanya dari hari pertama dan juga hari kedua keberadaanku dikerajaan ini, masih tenang. ‘Mirip dengan kerajaan Thorwn.’ Aku tak merasakan kalau aku diikuti ataupun diawasi lagi. ‘Aku harap tidak ada hal yang diluar dugaanku hari ini, jika sampai terjadi maka akan sangat gawat.’ Diluar dugaanku, itu artinya sesuatu yang bukan termasuk rencana ataupun opsi lain yang sudah aku siapkan.


Cukup lama setelah itu.


Aku sampai, tempat itu dijaga oleh banyak sekali prajurit. Setidaknya itu hal yang wajar karena tempat itu termasuk tempat yang berbahaya.


‘Sepertinya pemeriksaannya akan sangat ketat.’ Meskipun begitu, aku sudah memiliki koin ini dan aku yakin bisa masuk.


Aku perlahan mulai mendekat. “Siapa kau? Dan ada perlu apa kau datang kemari?” (Prajurit)


“Aku seorang pengembara, aku ingin melihat tempat ini. Oh ya, aku juga membawa ini.” Aku menunjukkan koin yang aku dapatkan padanya.


“I-itu… (terkejut) Kau boleh masuk.”


Ia terlihat terkejut, meskipun begitu ia memberiku izin untuk memasuki area itu. Aku masuk dan mulai melihat-lihat area yang menjadi tempat pembuangan limbah racun itu.


“Racun jenis ini, ya.” Dari beberapa bahan yang aku lihat, aku sudah tau jenis racun apa yang akan pangeran itu buat. ‘Dengan begini, kemenangan sudah ada ditangan.’ Tepat saat aku ingin kembali.


“Kau, tidak akan aku biarkan lari.” (???)


Bug. Sfx : Pukulan.


“Gwaaa!!” Sebuah pukulan yang begitu keras diterima olehku tepat dibagian wajahku. “S-sial…” Setelah pukulan itu, entah kenapa tubuhku tidak bisa digerakkan. ‘I-ini gawat.’


Bug, bug, bug. Sfx : pukulan.

__ADS_1


Aku kehilangan kesadaranku.


Sementara itu.


Kerajaan Almos.


“A-aww…” (Iona)


“Iona, ada apa?” (Risa)


“T-tidak ada apa-apa, jariku hanya sedikit tergores akibat membaca buku.”


“Kau seharusnya lebih berhati-hati lagi, sini biar aku obati.”


“Terimakasih, kak Risa.”


“Tidak masalah.”


Setelah jari Iona selesai dibalut.


“Pangeran Lucy kemana?” (Iona)


“Dia bilang ingin pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri.”


“Begitu.”


Di suatu tempat.


“Kau sampai menyiapkan semuanya sedetail ini, dengan begini aku yakin apa yang kau katakan akan berjalan sesuai dengan rencanamu. Meskipun begitu…” Di bagian bawah surat itu, terdapat tulisan lain. “Jika kau tidak kembali dalam waktu 7 hari, segera kirim pasukan untuk menyerang kerajaan Victoria, ya. Aku harap insiden seperti itu tidak akan sampai terjadi.”


Hari ke-4.


Plass;. Sfx : cambukan.


“Gwaaaahh!!!!”


“Hahaha, i-itu percuma. Tidak ada hal lain lagi yang bisa aku katakan.” Mereka ingin mengorek informasi dariku, mengikatku lalu menyiksaku untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. “Informasi yang aku ketahui, hanya itu.” Aku memberikan informasi palsu dan juga tak penting padanya.


Sfx : cambukan.


“Aaahhgg!!!”


“Algojo, berhentilah.”


“Tuan muda.”


“Tuan muda…” Entah kenapa aku mengingat sesuatu yang membuatku sangat kesal. ‘Pemilik bar itu, ada dibawah pimpinan pangeran itu.’ Perbedaan memanggil pangeran mereka dengan sebutan tuan muda. ‘Jadi, aku sudah terjebak oleh perangkap mereka, ya. Ini menyebalkan.’


Pangeran itu duduk tepat didepanku. “Apa sebenarnya tujuanmu? Kenapa kau malah pergi ketempat pembuangan racun yang sudah aku buat.”


“Jika kau jenius, seharusnya kau sudah tau tujuanku melakukannya.”


“Begitu, aku hanya memiliki 2 perkiraan saja. Antara kau ingin mengambil sampel racun itu lalu memberikannya kesalah satu kerajaan, atau yang ke 2, mungkin kau ingin membuat penawarnya.”


“Sepertinya kau tidak sebodoh yang aku kira.”


“Kau!!”


“Ahhhhggg!!!”


“Hentikan itu.”


“B-baik tuan muda.”


“Siapa kau.”

__ADS_1


“Seorang pengembara.”


“Aku akan terkejut jika seorang pengembara mengetahui salah satu bahan rahasia dari pembuatan racun itu. Sepertinya kau tidak berniat untuk mengatakan kebenarannya.”


“Hahaha, kau tidak akan pernah mendapatkan apapun dari… Ughhh.” Tubuh bagian perutku dipukul olehnya. “S-sialan kau.”


“Ini hanyalah salam perpisahan dariku, kau akan tetap disini sampai kau mengatakan semuanya.”


“Hah, kau kira aku bodoh. Saat aku mengatakannya, kau akan menjebloskanku kedalam penjara dan aku akan membusuk disana.”


“Hee, ternyata kau mengetahuinya. Sepertinya kau bukan hanya seorang yang menyamar sebagai pengembara.”


“Kau hanya seorang bocah yang masih belum mengerti tentang hal yang namanya takdir, kau akan kalah dan kau tidak akan pernah bisa merubahnya.”


“Hee, menarik. Mari kita buktikan, takdir yang kau katakan atau takdir yang sudah aku tetapkan yang akan berhasil.”


“Hahaha, aku menantikannya. Kau akan kalah, aku menjaminya.”


Pangeran itu pergi. “Kau, berani-beraninya berbicara seperti itu pada tuan muda. Sadari posisimu!!”


“Gwaahhh!!” Aku kembali disiksa. ‘Ini, menyebalkan.’


“Tuan muda, bagaimana? Apa anda bisa mendapatkan informasi darinya?” (Komandan tempur)


“Mulut orang itu sangat tertutup rapat, tidak ada hal penting yang bisa aku dapatkan darinya. Dia cerdas, membuat pengalihan pembicaraan padahal kondisinya yang sudah diujung tanduk seperti itu.”


“Lalu, tuan muda. Apa yang akan anda lakukan padanya?”


“Siksa dia sampai dia mau bicara. Aku sangat yakin jika dia menyimpan banyak sekali rahasia yang dia sembunyikan.”


“Baik.” Pergi.


“Aku ingin tau, sebanyak apa rahasia yang ia miliki.”


Hari ke-4.


“Gwaaaaaahh, AGGGHHHHH!!!!!... Ha, ha, ha…”


“Tuan muda, anda datang.”


“Bagaimana? Apa dia mengatakan sesuatu?”


“Maaf tuan muda, tapi mulutnya tertutup sangat rapat. Saya sudah mencoba berbagai cara untuk membuatnya bicara, tapi semuanya sia-sia.”


“Haha… K-kau tid-tidak akan m-mendapatkan a-apapun dariku.”


“Aku hanya ingin melihat, sampai mana kau bisa bertahan. Semoga kau tidak mati karena tersiksa.”


“Sa-ngat menji-jikkan mendengar hal seperti itu darimu.”


“Tubuhmu sekarang sudah penuh dengan luka, meskipun bisa diobati aku bisa menjamin jika mentalmu akan rusak.”


Itu memang benar, jika terus mengalami hal seperti ini maka ada saatnya diriku akan berubah menjadi orang yang berbeda. Meskipun begitu. ‘Aku hanya perlu bertahan, 2 hari lagi.’ Waktu yang tersisa sebelum para pasukan dibawah kepemimpinan Iona menyerbu ke tempat ini. ‘Hanya itu yang bisa aku harapkan saat ini.’


“Tuan muda, apa yang harus dilakukan untuk membuatnya bicara?”


“Tetap siksa dia sampai mau bicara, gunakan segala cara tapi jangan sampai menggunakan hal yang bisa mengancam nyawanya. Karena jika dia mati, aku yakin itu adalah sesuatu yang sangat merugikan.”


“Baik.”


“S-sekeras apapun siksaannya, kau tidak akan mendapatkan apapun.”


“Kau memang sangat kuat, tapi aku ingin melihat kehancuranmu.”


“K-kau tidak, kau tidak akan mendapatkannya.”

__ADS_1


“Kita lihat saja, apa kau masih bisa berbicara seperti itu atau kau sendiri yang akan hancur.”


__ADS_2