Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
28


__ADS_3

“Kenapa, kenapa hanya Ari yang mengorbankan diri!! KENAPA HARUS ARI!!!” Didalam kesedihan, Iona menatap tajam kearah para ketua regu.


“Iona, mereka tidak salah. Semuanya bisa saja terjadi dimedan perang, bahkan sesuatu yang tak terduga sekalipun.” (Risa) Risa mencoba untuk menenangkan Iona.


“Kak Risa tidak mengerti, aku sudah berulang kali mengingatkannya tapi hanya karena kerajaan ini akan diserang dia sampai rela mengorbankan nyawanya. AKU MEMBENCINYA!!! Sikap egois miliknya itu, sama sekali tidak pernah memikirkan tentang diriku. Aku membencinya. Ari…” Didalam kemarahan, Iona tetap memeluk tubuh Ari dan air mata yang menetes mengenai wajah Ari. “Aku mohon, kembalilah, AKU MOHON!!! Aku mohon…”


“Kita harus menyiapkan pemakaman yang layak untuknya.” (Sylvia)


“Tidak!! Ari tidak mati, dia masih hidup aku yakin. Dia tidak mungkin mati, aku percaya…”


“Tapi Iona, dia sudah…”


“TIDAKK!!! Aku tak mau mendengar apapun lagi, aku, aku… Jika memang harus mati, maka aku akan mati bersamanya.”


“A-apa yang kau katakan!!” (Alfred)


“Aku tak ingin kehilangannya, dia adalah orang yang paling, sangat berharga bagiku. Aku tak mau jika sampai harus berpisah dengannya. Aku tak ingin berpisah dengannya.” Semua orang yang melihat itu hanya bisa menundukkan kepala mereka, mereka tak bisa berkata apapun padanya. “Aku tak mau berpisah dengannya. Aku tak mau.”


Waktu tiba-tiba saja berhenti.


“Apa yang terjadi?” Iona yang menyadari hal itu kebingungan.


“Aku Iris, dewi yang membantu Ari.”


“Dewi?”


Seketika Iona berpindah tempat.


“Dimana ini?”


“Ini adalah dikediamanku. Sepertinya banyak hal yang disembunyikan oleh Ari darimu, ya.”


“Disembunyikan dariku?”


“Ya.”


“Jika kau dewi, anda bisa menghidupkan Ari kembali. Aku mohon padamu, tolong hidupkan kembali Ari. Aku memohon padamu.”


“Sayangnya itu tidak mungkin.”


“B-bagaiamana bisa, bukankah anda seorang dewi. Bagaiaman itu tidak mungkin.”


“Ari sebelumnya sudah pernah dihidupkan kembali kedunia ini, secara hukum dia akan pergi meninggalkan dunia ini selamanya.”


“I-itu, tidak mungkin.” Mendengar hal itu kesedian yang mendalam ditunjukkan oleh Iona. “Aku mohon, tolong hidupkan kembali Ari, ambil saja apapun dariku jika perlu ambil saja nyawaku untuk menghidupkannya. Aku mohon.”


“Haaaa, bersyukurlah kau. Karena itu kau tak perlu sampai mengorbankan nyawamu.” Iris menunjuk ke leher Iona.


“Ini.”


“Kau ingat apa yang pernah dikatakan olehnya sebelumnya?”


‘Aku akan menyerahkan separuh nyawaku untukmu.’ “Aku mengingatnya, dimoment itu.”


“Ya. Seperti yang dikatakan olehnya, itu adalah sebuah kontrak. Separuh nyawa milik Ari sudah diberikan padamu.”


“Jadi, jika aku mengembalikannya Ari bisa hidup kembali.”


“Ya, kau benar.” Senyuman harapan mulai terpancar dari Iona. “Tapi, kau harus melakukan apapun yang pernah dia lakukan sebelumnya padamu kepadanya.”


“Baik, akan aku lakukan.”


“Ya, aku akan membantumu dari sini.”


“Dewi Iris, terimakasih.” Setelah itu Iona kembali kedunianya.


“Kau kalah. Dia sampai rela mengorbankan nyawanya hanya demi menyelamatkannya, dalam hal cinta kau sudah kalah dengannya.”


“Ya, lagipula aku memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk menang sama sekali.”


“Kau kuat, ya.”


\=\=


Aku kembali. Setelah mendengar apa yang dijelaskan oleh dewi aku mendapatkan sebuah harapan. ‘Terimakasih banyak. Dewi.’


“Iona.”


“Aku harap ini berhasil.”


‘Kau harus melakukannya dengan penuh kasih sayang, itulah yang Ari lakukan padamu sebelumnya.’ Muncul suara dewi dikepalaku.


“Penuh kasih sayang.” Aku perlahan mulai mendekatkan bibirku kearah dari Ari. “Aku mohon, bangunlah. Aku mohon, bangunlah.”


“Iona…” (Risa) Mereka semua hanya bisa melihat apa yang dilakukan oleh Iona terhadap tubuh Ari yang sudah kaku itu.


Iona melakukannya, semua yang pernah Ari lakukan padanya. Mencium keningnya, mencium telapak tangannya, lalu mencium lehernya. “Aku mohon, bangunlah, Ari… Aku mohon…”


\=\=\=


“Skak, yes, aku menang lagi.”


“Bagaimana aku bisa kalah, padahal aku sudah mengetahui arah permainannya.”


“Hahaha, tapi anda adalah dewa yang sangat hebat. Terimakasih karena sudah mau menghabiskan waktumu untuk orang sepertiku.”


“Tidak masalah, lagipula sudah lama aku tak merasa terhibur seperti ini.” Tiba-tiba tubuhku seakan perlahan mulai lenyap. “Ohh, sepertinya seseorang memanggilmu. Kita harus berpisah. Oh ya, apa kau ingin sesuatu sebagai kenang-kenangan?”


“Hmmm, bagaimana kalau aku bisa menggunakan sihir? Hahahaha, aku hanya bercanda. Aku tak butuh apapun, terimakasih karena sudah menghabiskan waktu bersama denganku.” Aku pergi, entah kemana aku akan tiba setelah ini.


“Ya. Orang yang menarik.”


“Sepertinya kau menemukan orang yang menarik.”


“Ya. Hey, mau main catur bersamaku?”


“Mana sudi aku menghabiskan waktu berhargaku hanya untuk bermain-main.”


“Benar juga, ya. Benar juga.”


\=\=\=


Sebenarnya aku ingin membuka mataku, tapi entah kenapa aku tak ingin melakukannya saat ini. ‘Aku terlahir kembali, kah?’ Meskipun begitu, aku merasakan kehangatan yang begitu nyaman.


“Ari.”


Suara yang tak asing bagiku, aku mendengarnya. Suara itu yang membuatku ingin membuka mataku.


“Ari… Ari!!!”


“Iona?” Orang yang pertama kali aku lihat adalah Iona, tapi dia menangis. “Kenapa kau menangis?”


“Ari, syukurlah. Aku pikir aku tak akan pernah melihatmu lagi.”


Iona memelukku dengan erat. “Aku kesakitan, lo.”


“Ari, Ari!!”


Saat aku melihat sekitar, semua orang berkumpul disini. Mulai dari raja, ratu, Risa, Lucy dan juga para ketua regu. “Apa yang sebenarnya terjadi disini?” Mereka terlihat sangat terkejut. ‘Haaaa, sudahlah. Biarkan saja.’ Setidaknya aku akan membiarkannya sampai dia menjadi lebih tenang.


Beberapa menit kemudian.


“Kau sudah tenang?”


“Y-ya, maaf.”


“Tidak masalah.” Aku melihat seluruh tubuhku, tak ada luka bakar yang tersisa semuanya sudah sembuh. “Apa yang sudah terjadi padaku?”


“Begini, aku akan menjelaskannya.” (Lucy) Lucy kemudian menjelaskan apa yang terjadi.


Aku mengerti semuanya, tapi aku tak menyangka kalau Iona akan melakukan itu. “Ternyata kau bisa agresif juga.”


“Aku tak peduli, selama itu bisa menyelamatkanmu aku akan melakukan apapun.”


“Begitu.” Mataku tertuju pada tanda kecupan dilehernya, selama beberapa hari sudah berlalu tapi tanda itu tidak kunjung menhilang. Aku kemudian menyentuhnya. “Terimakasih. Kau tak terganggu dengan ini?”


“Tidak, sama sekali tidak. Aku sangat senang, ini membuatku lebih dekat denganmu.”


“Begitu. Haaaa, baiklah. Iona bisa kau pindah? Aku ingin bangun.”


“Y-ya. Kau bisa bangun?”


“Tenang, aku bisa.” Aku mencoba untuk bangun, tapi otot tubuhku masih belum sanggup.


“Aku akan membantumu.”


“Terimakasih.” Iona membantuku untuk bangun.


“Haaaa, setelah ini aku masih harus menemui para komandan itu. Sepertinya hari ini aku akan sibuk.”


“Tidak boleh, kau tidak boleh bekerja saat ini. Kau harus istirahat.”


“Tapi…”


“Aku bilang tidak, ya tidak!!”


“Haaa, baik-baik.”


Beberapa hari berlalu.


“Bagaimana keadaanmu?”


“Sudah lebih baik dari sebelumnya, sepertinya aku sudah bisa beraktifitas hari ini.” Saat ini aku dirawat dikamar Iona, sama seperti sebelum-sebelumnya.


“Tidak boleh, kau harus sembuh total.”


“Tapi…”


“Pangran Lucy sudah melakukan semuanya, kau tak perlu cemas.”


“Justru itu yang aku cemaskan, dia melakukan semuanya sendirian dia pasti kerepotan saat ini.”


“Aku juga tak ikut ujian, bagaimana dengan nilai akademiku. Aku tak ingin bertemu dengan kepala akademi itu lagi.”


“Aku sudah mengurusnya, kau tak perlu khawatir dengan hal itu.”


“Begitu, ya. Disaat sepertinya kau memang bisa diandalkan, ya.”


“B-begitu. T-terimakasih.”


‘Apa aku mengatakan sesuatu?’ Ia terlihat begitu senang, tapi aku tak tau kenapa dan apa alasannya.


Beberapa hari setelah itu, lagi.


“Haaaa, sepertinya aku sudah pulih.”


“Benarkah?”


“Iya, terimakasih karena sudah merawatku selama ini.” Aku merentangkan kedua tanganku. “Iona.”


“Ari.”


“Kemarilah.”


Iona mendekat kearahku, dan aku memeluknya. “Ari.”


“Terimakasih atas semuanya. Terimakasih karena sudah merawatku, terimakasih karena sudah mencintaiku, terimakasih karena sudah menjadi alasanku untuk hidup. Terimakasih.”


“Ari, aku mencintaimu.”


“Terimakasih.”


“Ehem. Sepertinya kalian berdua memang sangat dekat.”


“K-kak Risa.”


“Risa-oneesama, ada apa?”


“Tidak, sepertinya kau sudah lebih sehat dari sebelumnya.”


“Ya, aku sudah pulih sepenuhnya. Tapi ya, Iona terlalu ketat jadinya aku berada disini lebih lama dari seharusnya.”


“Begitu, bukankah itu artinya dia sangat khawatir dengan keadaanmu.”


“Ya, tapi Lucy saat ini pasti juga sedang kerepotan jika harus mengerjakan semua militer sendiri.”


“Kau akan pergi?”

__ADS_1


“Iya, lagipula sudah cukup lama aku tak menggerakkan tubuhku ini. Mungkin akan jadi sedikit kaku dari sebelumnya karena jarang bergerak.”


“Begitu.”


“Iona, ayo pergi.”


“Baik.”


“Mereka berdua sudah lebih terbuka sekarang, mungkin mereka saat ini sudah terlihat sebagai sepasang kekasih.”


Diperjalanan menuju ke markas khusus.


“Oh ya, bagaimana dengan pesta pertunangan Risa-oneesama?”


“Pertunangannya ditunda.”


“Karena penyerangan itu, ya.”


“Iya.”


“Jadi, kabar apa yang kerajaan calon suami Risa-oneesama dapatkan?”


“Hmmm, mereka hanya mendapatkan kabar kalau perang sudah selesai, jadi semuanya baik-baik saja. Jadi, pertunangan bisa diadakan lagi.”


“Begitu, syukurlah.”


“A-anu… Ari.”


“Huh?”


“B-boleh aku…” Iona menatap ke tanganku.


“Hmmm, seperti ini.” Aku menggandeng tangannya. “Apa sudah cukup?”


“Terimakasih.”


Pertunangan masih bisa dilaksanakan, jadi untuk masalah ini sepertinya tidak akan jadi masalah.


Di markas.


“Weeew, kalian terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.” (Lucy)


“Hentikan itu. Yang lainnya kemana?”


“Haaa, suasana haremku menghilang, mereka semua pergi melakukan tugas mereka.”


“Kau memikirkan tentang hal itu?”


“Ayolah, aku hanya bercanda. Melihat dari kondisimu, sepertinya kau sudah pulih total.”


“Ya, semua itu berkat perawatan Iona.”


“Begitu, kalau begitu aku juga ingin tau bagaimana rasanya dirawat oleh putri.”


“Ehem, apa ada masalah?”


“Bagaimana mulainya, ya. Hmmmm, ada cukup banyak orang yang tak memiliki pekerjaan, bisa dibilang masalah lapangan kerja yang semakin sedikit.”


“Apa lapangan kerja yang kita sediakan kurang?”


“Hmmm, bisa dikatakan seperti itu. Lahan pertanian hampir semuanya sudah penuh, dan juga jika kita menebang hutan untuk dijadikan lahan pertanian…”


“Itu hal buruk, jika ingin melakukan itu lakukan jika benar-benar sudah dibutuhkan seperti ketika bahan pangan kita sudah tidak tercukupi, jika hanya untuk mencari lahan pekerjaan jangan libatkan alam apalagi hutan. Masih ada banyak cara untuk mencari pekerjaan selain merusak alam.”


“Hmmm, apa kau punya ide?”


“Manfaatkan hasil laut, lautan masih belum terjamah. Kerajaan ini sejak dulu mengandalkan hasil panen dari bertani mereka, padahal mereka juga memiliki potensi yang besar dengan hasil laut. Jika bisa dimanfaatkan pasti akan sangat menguntungkan, meskipun begitu jangan berlebihan.”


“Hmmm, begitu, aku mengerti.”


“Selain itu, bukankah kerajaan ini juga punya tambang batu bara. Kenapa mereka tidak memanfaatkannya?” Tempat yang digunakan oleh Dravin, itu adalah gua bekas tambang jadi wajar aku merasa sedikit heran dengan hal itu.


“Ahhh, tentang itu. Aku akan menjelaskannya.” (Iona)


Cukup lama setelah itu..


“Hmmm, aku mengerti keadaannya.” Tambang pernah digunakan sebagai mata pencaharian kerajaan ini, tapi itu sudah puluhan tahun yang lalu. Mereka berhenti menggunakannya sejak tau kalau ada sarang monster didalam sana. “Meskipun begitu, material yang didapat dari hasil pertambangan akan sangat menguntungkan. Lucy, perintahkan para komandan untuk memeriksa tempat tambang yang ada dikerajaan ini.”


“Kau berencana untuk menggunakannya kembali?”


“Itu bisa jadi akan menguntungkan, dan mungkin saja gajimu akan naik.”


“Hoooo, itu bagus. Baiklah. Aku akan mengatakan itu pada ketua regu.”


“Ya, hati-hati dijalan.” Lucy pergi.


“Gaji? Bukankah jika gaji pangeran Lucy kurang tinggal minta saja pada ayah? Aku yakin ayah juga akan memberikannya.”


“Bukan seperti itu, itu hanya sebagai formalitas saja.”


“Ari, bagaimana dengan gajimu?”


“Hmmmm, tidak ada.”


“Sudah habis?”


“Tidak, aku memang tidak digaji.”


“Eh? Kenapa?!!”


“Aku tak membutuhkannya, uang yang aku dapatkan dari hasil penjualan barang sudah lebih dari cukup.”


“Hasil penjualan barang? Kau berdagang?”


“Iya, tapi aku tak pernah mengurusnya. Aku serahkan tugas itu pada para pensiunan pasukan yang tidak memiliki pekerjaan.”


“Pensiunan pasukan?”


“Kau tau, prajurit yang sudah pensiun itu memiliki banyak sekali tanggungan. Uang yang diberikan oleh raja mungkin tak akan cukup untuk kebutuhan keluarga para prajurit yang pensiun itu, oleh karena itu aku sedikit membantu mereka.”


“Begitu.”


“Ya, tapi seperti yang kau dengar sebelumnya. Semakin banyak orang yang membutuhkan pekerjaan, aku beryukur akan hal itu karena itu bisa saja membuat kerajaan ini semakin maju. Tapi disisi lain, aku khawatir dengan hal ini.”


“Khawatir?”


“Semakin banyak kebutuhan, maka alam akan menerima dampaknya. Penebangan hutan, pencemaran lingkungan dan hal lainnya yang mungkin saja menyebabkan kerusakan. Aku ingin mencegah hal itu, udara didunia ini sangat nyaman dan begitu sejuk. Suasananya juga sangat menenangkan, akan sangat disayangkan jika semua itu harus lenyap hanya demi sebuah keserakahan.”


“Ya, seperti itulah. Hutan adalah kehiduan bagi banyak mahluk hidup, semua tumbuhan yang dibutuhkan oleh manusia tersedia disana, akan sangat merugikan jika harus menghancurkan hutan tanpa kebutuhan yang memang sangat diperlukan. Meskipun hanya sedikit merusak, tapi fungsi hutan jauh lebih penting daripada apa yang bisa kita bayangkan.”


“Aku mengerti.”


“Haaaa, baiklah. Lucy sudah pergi, waktunya untuk membereskan sisa pekerjaan ini. Iona, jika kau lelah kau bisa istirahat, aku yang akan mengerjakan semuanya.”


“Seharusnya aku yang bilang begitu.”


“Hahaha, kalau begitu kita bagi tugas.”


“Baik.”


Cukup lama setelah itu.


“Ari, ada yang aneh dengan dokumen ini.”


“Ada apa?”


“Lihat, jumlahnya tidak sesuai. Bukan cuma itu, tapi jumlah anggaran yang masuk juga lebih sedikit dari biasanya. Selain itu, pengeluaran semakin banyak, bukankah itu aneh?”


“Hmmm, sepertinya ada yang melakukan kecurangan.”


“Kecurangan?”


“Ini sudah pernah terjadi sebelumnya, seharusnya mereka sudah pahan dengan konsekuensinya.”


“Aku kembali. Wah, ternyata memang ada banyak monster ditambang.” (Lucy) Lucy kembali dengan wajah senang dan penuh dengan keringat.


“Lalu?”


“Para ketua regu dan pasukan yang lain sudah memulai rencana pembasmian, mungkin tambang itu akan bersih sekitar 3-6 hari kedepan. Haaaa, tapi itu sungguh melelahkan.”


“Oh ya, Lucy apa kau tau tentang ini?”


“Ahhh, dokumen itu. Aku sudah menyelidikinya sejak beberapa hari yang lalu, seperti yang kau duga ada yang melakukan kecurangan. Aku tak tau apa yang mereka pikirkan, tapi bukankah seharusnya gaji yang diberikan pada mereka sudah cukup besar, kenapa mereka masih saja melakukan hal itu?”


“Bukan pertanyaan yang sulit, mereka hanya rakus saja. Mereka ingin memiliki semuanya, ingin menjadi orang yang kaya, dan ingin menjadi orang yang dihormati karena memiliki pangkat yang tinggi. Hanya itu.”


“Haaaa, begitu. Ahhhh, aku sangat lelah. Pekerjaan barusan menghabiskan seluruh staminaku.”


“Memangnya apa yang kau lakukan?”


“Berlari kesana-kemari, memeriksa beberapa tambang yang bisa digunakan, dikejar kerumunan monster, dan hal lainnya.”


“B-begitu, pasti itu sulit.”


“Sudah jelas.”


“Tunggu sebentat, aku akan mengambilkan air minum.” (Iona)


“Wah, terimakasih banyak.” Iona pergi. “Enak juga, ya jika punya seorang istri sebaik dan secantik putri.”


“Lalu, apa yang ingin kau bicarakan?”


“Wah, kejam. Padahal aku sedang iri denganmu.”


“Kau ingin Iona pergi karena ada yang ingin kau bicarakan, benar’kan.”


“Haaa, seperti biasa kau tak suka basa-basi. Baik, ini tentang dokumen yang kau pegang itu.”


“Hmmm, apa ada masalah?”


“Sepertinya itu adalah kesalahan.”


“Kesalahan? Maksudmu itu ditulis dengan salah, begitu?”


“Ya, seperti itu. Aku mendapatkan detail yang cukup dari beberapa orang tentang pembayaran dan pemasukan itu, semua jumlahnya sesuai, tapi saat masuk kesini semuanya dikurangi seolah…”


“Jadi singkatnya kau bilang bahwa salah satu dari mereka sudah mengambil uang itu, seperti itu?”


“Ya.”


Jika memang benar seperti itu, wajar saja dia tidak berani untuk membicarakan ini didepan Iona. “Lalu, siapa yang kau curigai?”


“Lysia.”


“Kau memiliki alasan?”


“Aku dengar saat ini orang tuanya sedang mengalami sakit parah, dia membutuhkan banyak uang untuk pengobatannya. Kemungkinan itulah yang membuat dia nekat melakukan hal seperti itu.”


“Hmmmm, berapa gaji mereka semua?”


“Jika dilihat dari jumlahnya, sekitar 75.”


“Itu sudah dibagi 2?”


“Ya.”


Jika seperti itu, berarti gaji mereka yang sebenarnya adalah 150, tapi karena mereka berdua, jadinya semua itu juga dibagi 2. “Apa tidak bisa membuat gaji mereka dinaikkan? Lagipula yang mengatur keuangan markas ini adalah mereka ber-4.”


“Meskipun kau bilang begitu, keuangan untuk menggaji para prajurit saat ini sudah lumayan menguras dompet.”


“Padahal yang menggaji raja bukan kau.”


“Pokoknya, jika ada kenaikan gaji, itu harus ada persetujuan dari raja. Itu saja.”


“Bagaimana jika mereka berkerta sampingan lain? Bukankah pekerjaan sebagai bendahara dan sekertaris tidak begitu banyak.”


“Eh, iya juga sih. Kebanyakan dokumen yang ada disini mengenai pengelolahan dan hal lainnya yang tak berhubungan dengan uang, itupun diluar bidang yang mereka bisa. Sepertinya boleh.”


“Kalau begitu, katakan pada mereka. Jika ingin uang lebih, toko yang aku buka siap untuk menyambut mereka.”


“Kau membuka toko?”


“Iya.”


“Kapan?”


“Sejak beberapa bulan yang lalu. Toko anggur.”

__ADS_1


“Hey, kenapa bisa jadi seperti itu.”


“Sudahlah, ini juga demi memperkejakan orang yang ingin mendapatkan uang.”


“B-begitu.”


“Ngomong-ngomong sudah ada cabang lain, lo di kerajaan sebelah.”


“K-kau itu… Haaaa, sudahlah. Lalu, kita bisa anggap masalah ini selesai, seperti itu?”


“Ya, tapi aku berharap mereka lebih terbuka pada kita. Jika ada sesuatu yang mereka inginkan, kita bisa saja membantu.”


“Perbedaan posisi.”


“Perbedaan posisi?”


“Mereka merasa asing dengan kita berdua, hanya kita berdua.”


“Begitu, mereka adalah teman Iona. Jadi mereka dekat dengan Iona, tapi kenapa mereka tidak menceritakan jika ada masalah pada kehidupan mereka?”


“Hmmm, mungkin karena mereka tidak ingin merepotkannya. Dia seorang putri, meskipun mereka berteman tapi kasta mereka berbeda.”


“Haaaa, kedudukan, ya. Padahal itu sama sekali tidak ada hubungannya.”


“Aku juga berfikiran seperti itu. Selain itu, keududukan juga sudah ditentukan sejak lahir jadi mau bagaimana lagi.”


“Maaf membuat kalian menunggu, aku membawakannya.” Iona kembali, dan dia membawa 2 gelas jus.


“Wah, terimakasih.” Lucy langsung mengambil satu gelas lalu meminmunya.


“Jus?”


“Iya.”


“Tidak ada campuran lain?”


“Iya, lihat pangeran Lucy. Jika kau tidak percaya, aku akan meminumnya.” Iona meminumnya sedikit. “Lihat.”


“B-begitu.” Aku sedikit trauma karena hal itu, oleh karena itu aku sedikit waspada agak kejadian seperti itu tidak terulang kambali.


Setelah itu, aku meminumnya dan tak merasakan apapun. “Bagaimana?”


“Seperti jus.”


“Kan aku bilang apa, tidak ada apapun didalamnya. Bagaimana dengan rasanya?”


“Ya, lumayan.”


“Komentarmu terlalu biasa, berikan sedikit kesan biar terlihat lebih keren.” (Lucy)


“Kau ingin aku. Wah, minuman ini sangat enak, aku ingin meminumnya setiap hari, jika bisa tolong siapkan minuman seperti ini setiap hari untukku. Seperti itu?”


“Ya, bukan seperti itu juga. Haaaa, sudahlah, kau memang orang yang seperti itu. Dan lagi, kau tak memberikan reaksi apapun.”


“Reaksi?”


“Bukankah itu ciuman tidak langsung.”


“Ahhhh, kita harus segera menyelesaikan pekerjaan ini. Masih banyak yang harus dilakukan.”


“Jangan mengalihkan pembicaraan.”


“Pembicaraan ini tidak akan menyelesaikan pekerjaan kita, jadi berhenti berbicara dan cepat bekerja.”


“Baik-baik. Benar juga, kau pasti bisa mendapatkan lebih jika kau mau.”


“Hey, berhenti berbicara dan kerjakan kertas yang ada dimejamu itu.”


“Iya iya.”


Cukup lama setelah itu.


Siang hari.


“Haaaa, Akhirnya waktunya istirahat.” (Lucy)


“Lysia, bisa bicara sebentar.”


“Eh? B-baik.”


Aku mengajaknya berbicara.


Beberapa menit setelah itu, kami kembali.


“Hey, apa yang kau lakukan padanya? Kenapa dia terlihat begitu senang?” (Lucy) Lucy berbisik padaku.


“Tidak ada, hanya memberikannya beberapa nasehat, saran dan bantuan saja.”


“Kau mengatakannya?”


“Iya, awalnya itu sedikit membuatnya terkejut dan ketakutan.”


“Itu sudah jelas, kau menghukum orang yang melakukan tindakan seperti itu dengan cukup kejam, sudah jelas kalau dia ketakutan. Tapi, apa kau yakin tidak menghukumnya?”


“Sedari awal yang salah adalah kita, gaji mereka terlalu kecil. Jika dibandingkan dengan gaji para ketua regu, gaji mereka ber-4 bisa dibilang sama seperti gaji 1 ketua regu saja. Bisa dibayangkan, pekerjaan mereka itu cukup melelahkan meskipun tidak bertarung dimendan tempur ataupun turun ke garis depan. Tapi, jika tidak ada yang mengatur keuangan kita markas ini tidak akan bisa berjalan. Seharusnya kau paham dengan hal itu.”


“Jadi, bisa disimpulkan kalau ini adalah kelalaian dari pihak kita, seperti itu?”


“Kau mau membantahnya?”


“Tidak. Jadi, sebelum kita bisa meminta raja untuk menaikkan gaji mereka mereka bisa bekerja ditempatmu untuk mendapatkan pemasukan tambahan, seperti itu.”


“Ya, benar.”


“Meskipun begitu, membiarkan orang yang sudah berbuat kesalahan.”


“Semua orang pernah salah, dan kali ini antara dia dan kita sama-sama salah. Jadi, ini adil. Tapi, jika dia melakukan kesalahan yang sama lagi tidak akan ada toleransi.”


“Baik-baik, terserah kau saja.”


“Ari, apa kau akan membiarkan jika ada orang lain yang berbuat hal seperti itu?”


“Selama dia memiliki alasan yang jelas, aku akan mecoba untuk memakluminya. Tapi, jika hanya untuk kepentingan sendiri, maka itu adalah sebuah kesalahan.”


“Alasan yang jelas?”


“Gaji mereka kurang, atau mereka memiliki kebutuhan penting lainnya yang diperlukan untuk kehidupan keluarganya, dan mungkin saja untuk hal yang berguna bagi orang banyak. Aku tak akan mempermasalahkannya, selain itu aku bisa menghasilkan banyak uang dari bisnisku sekarang. Mau sebanyak apapun uang yang diambil, aku bisa menggantinya. Tapi, untuk apa uang itu digunakan adalah alasan yang aku butuhkan untuk bisa menerimanya.”


“Begitu.”


“Wakil komandan, ada surat untuk anda.” (Famus)


“Untukku?” (Lucy)


“Tidak, sepertinya untukku.” Aku mengambil suratnya, kemudian membaca isinya. “Hoooo, itu sangat menarik.”


“Ada apa?”


“Mereka membuka cabang di 2 kerajaan berbeda, dan semuanya sukses besar.”


“Bisnis anggurmu?”


“Ya.”


“Dari mana kau mendapatkan stok anggur sebanyak itu?”


“Seorang pembisnis, dia mengenalkanku pada seorang pembuat anggur.”


“Begitu. Pasti kejadiannya sudah lama.”


“Ya, seperti itulah.”


“Tapi, bukankah jika seperti ini kau akan jadi lebih sibuk dari biasanya?”


“Tidak juga, aku hanya akan menerima laporan keuangan dan penjualan saja, setelah memeriksanya tugasku selesai. Hanya itu.”


“Hanya itu?”


“Iya, hanya itu.”


“Maaf menggangu waktu anda.” (Dirk)


“Dirk, ada apa? Apa ada sesuatu?”


“Salah satu prajurit kerajaan memberikan pesan untuk komandan dan juga wakil komandan agar segera datang ke istana.”


“Lucy, apa kau tau sesuatu?”


“Mungkin tambahan gaji?”


“Kau terlalu berharap. Tapi ya, aku harap bukan sesuatu yang buruk. Baiklah, ayo.”


“Kau juga ikut?” (Iona) Ari dan Iona menatap kearahku.


“Aku kan juga bagian dari ini, apa salahnya?”


“Tapi, bukannya kau tidak suka jika ada orang yang melihatmu?”


“Raja dan ratu sudah melihatku, dan karena sikapmu seperti itu padaku aku yakin mereka berdua pasti sudah menyadarinya. Jadi untuk apalagi aku menyembunyikan diri.”


“B-begitu.”


“Sudah, jangan membuang banyak waktu. Ayo pergi.”


Ruang tahta.


“Aku merasakan sesuatu yang buruk.” (Lucy)


“Sepertinya kau benar.”


Semua orang penting berkumpul disini, mereka menatap tajam kearah kami ber-3.


“Jadi mereka yang memulai kekacauan ini.” (Petinggi kerajaan)


“Kekacauan?”


“Mungkin masalah perang.” (Lucy) Ucap Lucy yang berbisik padaku.


“Perang, ya.” Hal seperti itu memang tak dapat dihindari, mau bagaimana lagi.


“Anak-anak seperti kalian seharusnya diam saja, biarkan orang dewasa yang menangani masalah ini.”


“Itu benar, sebaiknya kalian belajar dibandingkan harus bermain militer-militeran seperti itu.”


Aku pikir aku dipanggil kesini karena ada urusan penting, ternyata hanya untuk mendengar cemooan mereka.


“Yang mulia, apa yang sebenarnya anda pikirkan. Mereka semuanya hanyalah seorang anak-anak, mereka tidak akan paham apa arti melindungi kerajaan yang sebenarnya. Mereka hanya akan membahayakan diri mereka sendiri.”


“Itu benar, sudah cukup main-mainnya. Biarkan semua urusan ini, orang dewasa seperti kami yang mengurusnya.”


“Jika saja waktu itu raja itu ditangkap, pasti tidak akan ada penyerangan seperti itu yang akan terjadi dikerajaan ini.”


“Selain itu, sampai memanggil bala bantuan. Kita sendiri bisa menghadapi semua pasukan itu dengan seluruh pasukan yang kita miliki.”


“Cih.”


“Ari, ada apa?” (Iona)


Mendengar cemooan mereka membuat kepalaku sakit, ini membuatku sangat kesal.


“T-tenang dulu para petinggi sekalian, k-kami hanya…” (Lucy)


“Diam, apa kau tau kau itu adalah pangeran dari kerajaan lain. Kenapa kau ikut membahayakan dirimu, seharusnya kau memikirkan hal itu. Itu semua demi keselamatanmu dan juga masa depan kerajaanmu.”


“KALIAN BERISIK!!!”


“Ari.”


“Mengoceh tentang anak-anak, apa yang kalian bisa lakukan. Selama ini anak-anak inilah yang membuat kerajaan ini berkembang sampai saat ini, apa yang selama ini orang dewasa seperti kalian lakukan. Rakus, ingin menangkap raja musuh dan menjadikannya sebagai tawanan. Kalian tidak memikirkan seberapa banyak kerajaan yang akan menyerang kerajaan ini jika sampai hal itu tejadi, kalian hanya memikirkan kerajaan tapi tidak pernah memikirkan rakyat. Yang kalian panggil anak-anak ini sudah memberikan kehidupan bagi rakyat yang kalian abaiakan itu, kenapa kalian… APA YANG SEBENARNYA KALIAN INGINKAN!!!”


“K-kau benari-beraninya kau berkata seperti itu.”


“Kehidupan kalian hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, harta yang kalian miliki itu hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, jabatan yang kalian dapatkan itu hanya untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Semua yang kalian lakukan hanyalah untuk keuntungan pribadi kalian. Untuk kerajaan, hal apa yang sudah kalian lakukan untuk kerajaan. Ahhh, benar, memaksa raja untuk menikahkan putrinya pada kerajaan lain untuk mendapatkan kekuasaan yang lebih. Tapi, kalian sama sekali tidak pernah berfikir, bagaimana jika putri kalian yang berada diposisi itu. Tapi, pada akhirnya itu semua hanya untuk keuntungan pribadi kalian saja.” Ini sangat membuatku kesal.


“Ari…”


“Sudah berapa banyak uang rakyat yang telah kalian habiskan untuk berpesta, berapa banyak rakyat yang tersiksa akibat ulah kalian. Jika harus memilih, pemimpin seperti kalian akan lebih baik mati daripada harus hidup dengan kebusukan seperti itu.” Semua unek-unekku sudah aku keluarkan, meskipun ada itu mungkin hanyalah hal yang akan membuatku semakin kesal. “Iona, Lucy, ayo pergi. Tidak ada gunanya mendengar ocehan orang yang menggangap diri mereka orang dewasa itu.”

__ADS_1


“B-baik.”


Sebelum pergi, aku menyampaikan 1 hal pada raja. “Raja, jika kau ingin kerajaan ini sejahtera. Petinggi yang hanya memikirkan kekuasaan dan kepentingan pribadi seperti mereka hanya akan menghalangi jalan.”


__ADS_2