Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
64


__ADS_3

Esok harinya.


“Ehhh, Iona aku pikir rencana buruk jika kau ikut.”


“Aku mau ikut, pokoknya aku mau ikut.”


“Hmmm, ini berbahaya lo. Aku tak tau apa yang akan terjadi jika kau ikut kedalam masalah seperti ini, aku lebih suka kau tetap berada disini.”


“Aku mau ikut.”


“Haaa, Ari, ajak saja dia.”


“Aku juga mau ikut.”


“R-Ria, jangan mengatakan hal yang membuatku takut seperti itu.”


“Aku juga mau ikut, meskipun tidak banyak membantu setidaknya aku juga ingin ikut denganmu.”


“Heeee, Lucy ajak saja dia. Dia pasti kesepian jika ditinggal sendirian disini.”


“Sialan kau. Sudahlah, tapi saat ada sesuatu kau tidak boleh bertindak ceroboh.”


“Baik, aku mengerti.”


“Ari…”


“Haaaa, ya sudah. Ria, bisa tolong jaga Iona nanti.”


“Ya, serahkan saja padaku. Aku akan menjaga putri.”


“Kalau begitu, ayo berangkat.”


“Iya, kau bersemangat sekali. Untuk pertama.” Aku menggunakan teleportasiku dan menuju langsung ke tempat aliansi kerajaan. Aku berteleportasi ke sebuah tenda. “Lucy, kau disini. Kalian bedua bagaimana? Apa mau diam disini atau diam di tempat aliansi ras?”


“Ari, kami disini saja.”


“Begitu. Jika ada apa-apa, gunakan benda yang aku berikan waktu itu padamu.”


“Baik.”


“Kalau begitu, aku pergi.”


Di lokasi aliansi antar ras.


Tenda rapat ketua ras.


“Haaa, aku tak menyangka para manusia itu melakukan hal bodoh seperti itu.” (Nou) Saat aku masuk kedalam, yang terlihat disini adalah perdebatan mengenai apa yang dilakukan oleh ras manusia kemarin.


“Bocah, kau sudah datang.” (Homura)


“Membahas tentang serangan manusia kemarin?”


“Iya, itu adalah tindakan terbodoh yang pernah dilakukan. Nak, apa kau sudah memberitahu mereka tentang apa yang tidak boleh mereka lakukan?” (Reans)


“Sudah, temanku yang ada disana sudah mengurusnya. Tapi, seperti yang kalian tau manusia memiliki sifat haus akan pujian tamak, dan juga rakus. Jadi mereka melakukannya hanya untuk mendapatkan itu, meskipun sudah diperingatkan sekalipun.”


“Seharusnya jika itu tidak terjadi kita masih punya waktu untuk membuat rencana, tapi sayangnya mereka menghancurkan kesempatan itu.”


“Apa Leiava sudah bangkit?”


“Tanda-tanda kebangkitannya sudah mulai muncul, dan territory yang kau katakan kemarin sudah lenyap tadi malam.” (Ruie)


“Seberapa banyak sihir yang mereka lepaskan sampai membuat Leiava bisa bangkit secepat itu.”


“Entahlah, tapi akibat mereka kita sudah kehabisan waktu.” (Utarus)


“Nak, apa kau punya rencana?”


“Informasi, itulah yang aku butuhkan saat ini sebelum memulai penyerangan sepenuhnya.”


“Territory yang menjaga Leiava sudah lenyap, seharusnya jika mengirim pengintai akan baik-baik saja sekarang.” (Ruie)


“Itu benar. Kalau begitu, Utarus, aku serahkan tugas ini padamu.” (Homura)


“Baiklah. Serahkan padaku.”


“Untuk berjaga-jaga, kirim sedikit pasukan saja untuk meminimalkan jumlah korban jika sampai ada kejadian tak terduga.”


“Aku mengerti.”


“Hahaha, raja iblis diberitahu oleh bocah yang lebih muda darinya.” (Homura)


“Usia bukan masalah untuk saat ini, orang yang dibutuhkan saat ini adalah orang yang bisa berfikir dingin meskipun keadaanya sangat sulit sekalipun dia masih bisa bersikap tenang, aku menaruh harapan banyak pada anak ini.” (Utarus)


“Ya, seperti yang dikatakan oleh raja iblis ini. Bocah, kau adalah orang yang dipilih untuk memimpin kami para pemimpin ras dalam perang ini.” (Homura)


“Aku? Tidak tidak, aku tidak memiliki kemampuan untuk memimpin kalian, selain itu…”


“Tidak perlu menolaknya, lagipula kami semua yang ada disini sudah setuju dengan hal itu. Kau adalah orang pertama yang berhasil mempertemukan para ras besar ditempat ini, aku juga yakin kalau kau bisa memimpin semua yang ada disini untuk mencapai kemenangan.” (Nou)


“Beban itu terlalu berat untukku…” Aku melihat kearah mereka, dan mereka semua tersenyum padaku seakan mempercayaiku. “Haaaa, ini merepotkan. Saat aku dalam kesulitan aku harap kalian mau membantuku nanti.”


“Saat itu tiba, serahkan saja pada kami.”


“Kalau begitu, baiklah akan aku lakukan.” Meskipun aku tak yakin, tapi karena sudah diberikan kepercayaan aku ingin memberikan mereka harapan.


Beberapa jam berlalu.


Para pasukan pengintai yang dikirim oleh raja iblis sudah kembali. “Bagaimana?”


“Leiava mulai menunjukkan dirinya, tapi sepertinya hanya badan bagian atasnya saja yang terlihat.” (Utarus)


“Hmmm, sepertinya dia terkubur cukup dalam.” (Homura)


“Bukankah ini waktu yang bagus untuk menyerangnya.” (Nou)


“Tidak, selain itu kita masih kekurangan informasi tentang Leiava. Mengirim banyak pasukan hanya akan membuang-buang nyawa para pasukan saja.”


“Itu benar.”


Beberapa saat setelah itu, pasukan pengintai lainnya kembali. “Ada apa?”


“Ada banyak sekali monster yang menlindungi Leiava.” (Utarus)


“Monster, bukankah di lembah kematian tidak ada kehidupan apapun.” (Ruie)

__ADS_1


“Kemungkinan besar itu adalah ciptaannya sendiri.”


“Ciptaan Leiava sendiri.”


“Iya, karena sihir untuk menyuplai kebutuhannya sudah terpenuhi dia bisa menggunakannya. Kemungkinan itu adalah salah satu kekuatannya yang baru pertama kali dia gunakan, dan kemungkinan masih ada banyak lagi kemampuan yang Leiava miliki. Selain itu, setelah proses pengeluaran selesai, monster yang ia buat pasti akan segera menyerang.”


“Ini saatnya kita untuk menyerang.” (Nou)


“Tidak, seperti yang aku bilang. Kita masih membutuhkan informasi lebih.”


“Kita harus menunggu berapa lama lagi?”


“Jika lawannya manusia ataupun ras lain, mereka mudah dipelajari dan juga ditebak. Tapi ini adalah mahluk legendaris yang bahkan kisahnya saja dianggap sebagai sebuah dongeng belaka, oleh karena itu mendapatkan sebanyak mungkin informasi mengenai musuh adalah cara untuk bisa memenangkan pertarungan yang sulit. Informasi adalah senjata paling penting dalam sebuah pertempuran.”


“Jika bocah ini berkata seperti itu, kita hanya bisa mengikutinya.” (Homura)


“Terimakasih semuanya, sudah mau mengerti.” Informasi yang aku butuhkan masih kurang, setidaknya itu bukanlah informasi yang aku butuhkan.


Malam hari.


Terjadi gempa besar malam ini.


“Sepertinya Leiava sudah hampir berhasil bebas.”


“Bagaimana? Apa kita sudah bisa memulai rencananya?”


“Tidak, masih belum. Raja iblis Utarus, bisa tolong utus beberapa pasukanmu untuk mengintai keadaan disana, dan jika bisa cari informasi yang lebih banyak lagi tentang Leiava.”


“Ya, serahkan hal itu padaku.”


“Terimakasih. Untuk sekarang, rapat bisa kita akhiri. Aku akan pergi dulu.”


“Menemui istirmu?” (Homura)


“Ya, aku agak mencemaskannya. Kalau begitu, sampai jumpa lagi besok.”


Di aliansi kerajaan.


“Ari, kau datang juga.”


“Iona, dimana dia?”


“Ahh, dia sedang tidur ditenda. Sepertinya dia sangat kelelahan.”


“Begitu.” Aku masuk kedalam tenda yang ditempati oleh Iona. “Dia terlihat sangat kelelahan. Lucy, apa yang dia lakukan?”


“Entahlah, mulai tadi saat datang kemari aku sibuk dengan urusanku jadi aku tidak sempat mengawasi apa yang dilakukan oleh mereka.”


“Begitu, ya. Seharusnya aku melarang dia untuk ikut jika kejadiannya seperti ini.”


“Aku akan menemui Ria dulu, jika kau butuh sesuatu panggil saja aku.”


“Ditempat yang ramai seperti ini.”


“Hahahaha, jika kau khawatir bawa dia kembali ke istana langit. Aku mungkin akan bermalam disini bersama Ria karena masih ada urusan yang belum selesai.”


“Sekarang kau jadi sibuk, ya.”


“Memangnya siapa yang melimpahkan hal ini padaku. Sudahlah, mengeluh tidak akan menyelesaikan apa-apa. Aku akan pergi.”


Cukup lama setelah itu.


“Haaa, aku terhipnotis.” Aku sudah cukup lama memandangi wajahnya sampai membuatku lupa akan tujuanku. Tapi, melihatnya seperti ini aku jadi tak tega untuk membawanya. Meskipun begitu, aku tak bisa membiarkannya tidur disini.


Istana langit, kamar.


Aku membawanya ke kamar dan setelah itu menidurkannya disana. “Ini lebih baik. Aku masih punya beberapa tugas, sebaiknya aku segera me…” Saat aku ingin pergi, Iona memegang tanganku.


“Aku mohon, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku. Aku mohon.”


Dia bermimpi buruk, dia menangis disaat tertidur. “Mimpi apa yang kau alami sebenarnya.” Aku tak bisa membiarkannya dalam kondisi seperti ini. “Haaa, sepertinya malam ini aku harus istirahat.” Aku berbaring disamping Iona lalu memeluknya. “Aku harap mimpi burukmu segera berakhir.” Mengatakan hal itu aku perlahan mulai memejamkan mata. “Iona selamat malam, dan semoga mimpi burukmu berubah menjadi mimpi yang indah.”


Esoknya.


“Ari, bangun. Sudah pagi.”


“5 menit lagi.”


“Ari, ayo bangun. Jika kau tidak mau bangun, aku akan menggangumu sampai kau bangun.”


Iona menyolek pipiku berulang kali. “Haaa, iya iya.” Aku perlahan mulai membuka mataku.


“Akhirnya kau bangun juga. Kau mau mandi dulu, atau langsung sarapan?”


“Aku mau…” Aku menarik Iona dan membuatnya tidur di kasur. “Kamu.”


“Duh, ada apa denganmu.”


“Hari ini begitu dingin, tubuhmu hangat ini sangat nyaman… Awww…” Dia memukulku.


“Ayo bangun, aku sudah membuatkanmu sarapan.”


“Baik.”


Cukup lama setelah itu, didapur.


“Hari ini cukup dingin, ya. Apa alat penghangat sihirnya rusak?”


“Sepertinya tidak, tapi mungkin saja hari ini kita sudah sampai di tempat benua bagian utara.”


“Hmm, perpedaan musim yang ada disetiap wilayah, ya.”


“Iya, oleh karena itu hari ini lebih dingin dari biasanya.”


“Bagian utara, ya. Oh ya, Lucy belum kembali?”


“Dia tidak kembali, mungkin dia masih ada di tempat kamp.”


“Begitu, jadi dia menginap disana, ya.”


“Kau akan pergi, kalau begitu tunggu aku.”


“Iona, sebaiknya kau tidak usah ikut hari ini.”


“Kenapa?”

__ADS_1


“Hmm, entah kenapa firasatku tidak enak.”


“Tapi aku sudah berjanji kemarin akan akan membantu, jika aku tidak bisa memenuhi itu. Bukankah janji harus ditepati.”


“Haaaa, baiklah. Tapi jangan berlebihan.”


“Terimakasih.”


Setelah itu.


Siang hari, di aliansi ras.


“Haaaa, ternyata sudah siang, ya. Aku terlambat, perbedaan waktu yang menyebalkan.” Karena istana langit bergerak, aku tak bisa menghitung waktu dengan benar.


Di tenda.


“Haaa, maaf aku terlambat.” Semua pemimpin ras sudah ada disini.


“Tidak masalah, kau pasti memiliki kesibukan sendiri.” (Ruie)


“Kalau begitu raja iblis, bisa beritahu aku informasi apa yang didapatkan pasukan pengintaimu saat melakukan penyelidikan?”


“Tubuh bagian atasnya sudah mulai terlihat, dan sesuai dugaan tubuhnya sangat besar, kemungkinan seluruh area lembah kematian merupakan tubuhnya.” (Utarus)


“Raja naga, bisa kau beritahu asal usul lembah kematian?”


“Jika kau bertanya seperti itu, aku tak begitu mengerti. Tapi, saat pahlawan pertama menyegel Leiava di lembah ini semua pohon ataupun tumbuhan dan juga mahluk dihidup yang ada di area lembah itu semuanya mati, padahal sebelumnya lembah itu adalah sebuah tempat yang sangat subur dan sangat-sangat luas, setidaknya 5000 tahun yang lalu. Tapi sejak saat Leiava disegel disana, tempat itu berubah drastis dan disebut sebagai lembah kematian.”


“Jadi begitu, ya.” Memiliki luas yang besar dan juga tidak ada satupun tumbuhan atau mahluk hidup yang ada disana. “Kemungkinan lembah kematian itu adalah tubuh Leiava.”


“Yang benar saja, tempat seluas itu adalah tubuh Leiava?!” (Nou)


“Raja naga, bagaimana menurutmu?”


“Hmmm, jika itu memang benar alasan tanah subur itu menjadi tempat mematikan seperti itu tidak diragukan lagi. Selain itu aku sudah melihat sendiri bentuk dan ukuran Leiava, jadi itu mungkin saja. Benar’kan, raja iblis.” (Homura)


“Iya, selain itu saat aku dan juga bangsaku membantu penyegelan bersama dengan pahlawan pertama, tanah di lembah itu memang sangat subur. Tapi saat penyegelan selesai dilakukan, tumbuhan dan juga hewan yang ada di lembah itu semuanya mati hanya dalam hitungan hari saja. Aku pikir itu hanyalah efek dari penyegelan ataupun karena aura yang dikeluakan oleh Leiava yang membuat hutannya seperti itu, tapi jika hutan itu sudah menyatu dengan Leiava maka itu masuk akal.”


“Menyerap energi kehidupan selama 1000 tahun lalu setelah cukup dia mencoba untuk menghancurkan segelnya, tapi karena menghancurkan segel itu memakan banyak sihir dia kehabisan sihir dan mencoba unuk mengumpulkan lagi sebelum melakukan pemusnahan, ya.” (Reans)


“Seperti itulah.” (Homura)


“Lalu, akibat serangan besar-besaran dari manusia sihirnya pulih. Sungguh ironis sekali kenyataan ini.” (Ruie)


“Aku tak bisa membantahnya, itu adalah hal yang paling konyol yang pernah dilakukan.” Aku mengakui hal itu, manusia yang menyebabkan hal ini terjadi lebih cepat.


“Bocah, apa yang akan kau lakukan setelah ini?”


“Hmmm, jika tubuh Leiava adalah lembah kematian itu sendiri, jika dia bangkit seharusnya akan terjadi sesuatu yang besar saat kebangkitannya.”


“Sesuatu yang besar?”


Bel peringatan berbunyi, dan tepat setelah itu salah satu ras iblis masuk. “Yang mulia, para monster menyerang.” (???)


Ini adalah yang aku maksud. “Semuanya, persiapkan diri kalian. Informasinya masih kurang, jadi aku harap tidak ada dari kalian semua yang melakukan hal gegabah.”


“Hahahaha, diperintah oleh manusia. Menarik.” (Ruie)


“Tenang saja bocah, semua pemimpin yang ada disini bukanlah pemimpin yang berkuasa selama beberapa puluh tahun, tapi sudah ratusan bahkan ribuan tahun.” (Homura)


“Jangan meremehkan kemampuan kami, tapi kami akan mendengarkan saranmu.” (Utarus)


“Terimakasih banyak.”


“Nak, apa yang akan kau lakukan?” (Reans)


“Mencoba untuk menghadang para monster itu, setidaknya sambil mencari informasi tentang Leiava sendiri.”


“Itu terlalu gegabah, bawalah beberapa pasukan nagaku bersama denganmu.” (Homura)


“Tidak, saat ini yang lebih penting adalah bertahan. Selama kita masih belum mendapatkan informasi yang cukup melakukan hal itu hanya akan membuang-buang nyawa secara percuma.”


“Lalu, bagaimana denganmu?”


“Aku bisa menjaga diriku sendiri, selain itu aku tidak akan mati dengan mudah. Kalau begitu, aku akan pergi.”


Di tempat aliansi kerajaan.


Aku langsung pergi mencari Iona.


Beberapa menit setelah itu aku menemukannya. Dia ada ditenda perawat bersama dengan Ria. “Ari, ada apa?”


“Keadaan semakin gawat disini, aku ingin kau kembali ke istana langit.”


“Aku ingin membantu.”


“Jangan keras kepala, memangnya apa yang bisa kau lakukan?”


“Aku bisa mengobati mereka yang terluka, aku juga belajar tentang sihir penyembuhan. Meskipun tidak sebaik dirimu tapi aku bisa melakukannya, setidaknya aku juga ingin ikut ambil bagian dalam hal ini.”


“Ahhhh, kenapa kau begitu keras kepala disaat seperti ini.”


“Itu karena, kau selalu berada dalam bahaya dan jika aku hanya duduk tanpa melakukan apapun aku merasa tidak berguna. Aku memiliki kekuatan untuk menolong, tapi tidak aku gunakan. Itu sangat membuatku kesal. Jadi, aku mohon biarkan aku tetap disini untuk membantu. Aku memohon padamu.”


Ia membuat ekspresi yang sulit untukku menolak permintaanya. “Haaaa, dasar kau itu.” Aku mengeluarkan senapan sihir yang ada di ruang dimensi milikku. “Jika kau dalam bahaya gunakan ini, atau tembakkan ini ke langit sebagai tanda. Aku akan langsung kembali padamu.”


“Terimakasih banyak.”


“Dan ingat, jangan memaksakan diri.”


“Baik.”


“Ria, tolong jaga Iona, jangan biarkan dia melakukan sesuatu secara berlebihan.”


“Baik wakil komandan, serahkan saja padaku. Aku akan menjaga dan mengawasi putri.”


“Terimakasih. Kalau begitu, aku akan pergi.”


“Ari, jaga dirimu, ya.”


“Seharusnya aku yang bilang seperti itu, dasar kau itu… Haaaa, sudahlah. Jangan memaksakan diri, dan jaga dirimu.”


“Ya.”


Aku pergi menuju ke tempat Leiava berada. Ini bukalah perang, melainkan sebuah pertempuran.

__ADS_1


__ADS_2