Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
32


__ADS_3

Dimarkas.


“Yo, kalian dari mana?” (Lucy)


“Putri ketiduran?” (Ria)


“Haaaa, seperti itulah.” Aku membaringkan tubuh Iona di atas kursi panjang, dan setelah itu menyelimutinya dengan selimut hangat. “Hmmm, kalau tidak salah. Katanya seperti ini.” Aku menyentuh cincin dan kalung yang Iona pakai, setelah itu cahaya yang tadinya agar bersinar sekarang mulai redup secara perlahan.


“Heee, kau membelikannya sesuatu yang menarik.”


“Hanya untuk berjaga-jaga.”


“Yang dikenakan putri itu, batu apa? Aku tak pernah melihat batu seperti itu sebelumnya.” (Ria)


“Itu batu sihir, batu yang biasa digunakan untuk mengaktifkan peralahan yang berhubungan dengan sihir.” (Lucy)


“Begitu, tapi itu sedikit berbeda dari batu sihir yang aku tau.”


“Batu itu sangat berharga, membuatnya menjadi perhiasan lebih sulit daripada sebuah permata. Itu karena batu sihir memerlukan bahan khusus yang cocok, jika tidak akan terjadi reaksi penolakan dan akhirnya batu sihir itu akan hancur.”


“Heee, aku tak tau kalau kau tau hal seperti itu.”


“Ya, itu adalah pengetahuan yang aku pelajari sendiri.”


“Seharusnya kau sudah paham dengan kegunaannya.”


“Iya, sedikit.”


“Itupun tidak masalah, lagipula saat ini batu sihir lumayan langkah tapi yang mencarinya sangat sedikit. Jika ada banyak, mungkin harganya bisa bersaing, atau bahkan melebihi harga permata ataupun berlian.”


“Y-yang benar saja. Itu benda yang sangat berharga.”


“Memberikan sesuatu yang berharga pada orang yang berharga pula, apa yang salah dengan hal itu.”


“Yang dikatakan Lucy itu benar, selain itu cincin yang dia berikan padamu bukankah itu cincin yang sangat berharga.”


“Eh? Cincin ini?!!” (Ria)


“Kenapa kau terlihat terkejut, mana mungkin aku akan memberikan cincin biasa pada orang yang spesial.” (Lucy)


“T-tapi…”


“Apa ada masalah?”


“Kau yakin memberikan barang berharga seperti ini padaku?”


“Tentu saja, barang itu tidak akan berharga jika tidak dipakai oleh orang yang berharga juga. Oleh karena itu aku memberikannya padamu, karena kau sudah menjadi satu-satunya orang yang paling berharga bagiku.”


“T-terimakasih.”


“Hey hey, hentikan kemesraan kalian. Apa masih tidak cukupkalian bermesraan tadi, sudah kembali bekerja.”


“Kau merusak suasana saja.”


“Haaa, iya iya. Sudah, ayo bekerja.”


Cukup lama setelah itu.


“Hmmm, seharusnya bagian ini tidak akan jadi masalah. Lucy, bagaimana deng… Eggghh…” Aku tak tau apa yang harus aku ucapkan, tapi… “Berhentilah bermesraan dan cepat selesaikan pekerjaan kalian, jika sudah terserah kalian mau apa.”


“Aku sudah selesai.” (Lucy)


“A-aku juga.” (Ria)


“Begitu, jangan bermesraan disini. Aku sedang sibuk, jangan membuatku melihat kelakuan kalian yang seperti itu.”


“Haaa, baik. Aku mengerti, Ria bisa tolong periksa dokumen yang kemarin aku periksa sekali lagi.”


“Dokumen tentang hasil penjualan pertanian itu?”


“Iya.”


“Baik.” Ria pergi.


“Ari, apa yang sebenarnya terjadi? Kau bukan orang yang akan marah hanya karena alasan sepele seperti itu.”


“Lucy, aku hanya sedikit marah. Tidak lebih.”


“Marah? Kenapa?”


“Tadi aku pergi ke seorang pedagang yang pernah aku ceritakan padamu.”


“Ahhh, pedagang yang menawarkan anggur padamu itu.”


“Iya.”


“Lalu, apa masalahnya?”


“Saat aku bilang kalau Iona ingin belajar sihir ke kerajaan lain, dia bilang kalau kerajaan ini sudah diwaspadai oleh kerajaan lain. Kemungkinan hal itu bisa terwujud akan sangat kecil.”


“Jadi itu yang membuatmu marah.”


“Dia memiliki impian, dan sudah menjadi tugasku untuk membuat impiannya terwujud. Tapi, jika seperti ini impiannya akan lenyap hanya karena masalah ini.”


“Hmmm, kalau begitu bagaimana jika aku memberikan saran.”


“Saran?”


“Kalau tidak salah, dibagian timur ada kerajaan bernama Guil, kerajaan para penyihir.”


“Kerajaan para penyihir?”


“Seperti namanya, disana adalah kota para penyihir berkumpul. Aku yakin putri akan diterima disana, meskipun begitu penyeleksiannya sangat ketat. Oleh karena itu, kau harus mengajarinya cara menggunakan sihir.”


“Aku bahkan tidak mengerti apapun soal sihir, sihir itu sesuatu diluar kemampuanku.”


“Kalau begitu, siapa yang akan mengajarkannya?”


“Hmm, Risa-oneesama.”


“Aku yakin dia sibuk, lagipula acara pertunangannya akan dimulai beberapa bulan lagi.”


“Acara pertunangannya ditunda lagi, ya.”


“Cuacanya tidak mendukung, aku dengar sih begitu.”


“Apa kau punya kenalan yang bisa mengajarkan sihir pada Iona?”

__ADS_1


“Sudah jelas tidak ada, kau seharusnya sudah tau kalau orang yang bisa menggunakan sihir itu sangat langkah. Mana mungkin aku bisa mendapatkan kenalan orang seperti itu.”


“Lalu aku harus bagaimana?”


“Belajar sihir secara mandiri saja, pemahamanmu tentang sesuatu sangat hebat. Aku mengakuinya, jika kau mempelajari sesuatu hal yang berkaitan dengan sihir aku yakin kau bisa memahami cara kerja sihir dan juga hal lainnya yang berhubungan dengan sihir.”


“Tapi, buku tentang sihir itupun sangat sedikit.”


“Tenang, aku memiliki beberapa akan aku pinjamkan padamu.”


“Eh? Serius?”


“Iya, sisanya hanyalah kau perlu melihat cara prakteknya. Untuk itu, kau bisa minta putri Risa ataupun putri Iona untuk melakukannya. Dengan begitu pemahamanmu akan semakin cepat, dan aku yakin kau bisa memahaminya dengan mudah jika seperti itu.”


“Hmmm, itu ide yang bagus. Aku tak menyangka kau bisa berfikiran seperti itu. Ternyata kau memang jenius.”


“Ya, yang aku bisa hanyalah hal semacam ini saja. Aku tak bisa melakukan hal yang berada dilluar batas kemamapuanku.”


“Tapi yang jadi masalah, aku sendiri tidak bisa menggunakan sihir. Aku tak yakin bisa mengajari Iona cara yang benar untuk belajar sihir.”


“Kenapa kau pesimis seperti itu, coba dulu jika tidak bisa coba lagi menggunakan cara yang lain jika masih tidak bisa kau baru boleh menyerah. Belum mencoba sudah pesimis, tidak seperti dirimu yang biasanya.”


“Ini meyangkut hal yang tidak aku kuasai, jadi aku tidak percaya diri dengan hal itu. Tapi, kau ada benarnya. Sebaiknya aku mencobanya, jika gagal atau memang mustahil aku baru akan mundur.”


“Nah, itu baru semangat. Aku akan memberikan buku itu padamu nanti, jangan lupa dibaca, ya. Dan lakukan yang terbaik.”


“Iya. Tenang saja, serahkan padaku. Aku akan melakukan yang terbaik.”


“Ya, aku akan menunggu hasilnya.”


“Ari…”


“Sepertinya putri sudah bangun, aku akan menyusul Ria. Dia pasti saat ini sedang kesulitan.”


“Ya.” Lucy pergi, dan aku langsung menghampiri Iona. “Iona, bagaimana keadaan tubuhmu? Apa kau kedinginan?”


“Terimakasih karena sudah mempedulikan aku. Aku baik-baik saja.” Dia melihat kearah kalung dan cincin yang ada ditubuhnya. “Ini?”


“Ahhh, itu hadiah untukmu. Karena aku bingung mau memberikanmu hadiah apa, jadi aku pikir untuk membelikanmu kalung dan juga cincin. Kau tidak suka?”


“B-bukan begitu, terimakasih banyak. Akan aku jaga dengan baik barang pemberianmu ini.”


“Ya.” Ia terlihat sangat senang. ‘Aku tak ingin senyuman itu menghilang karena alasan bodoh seperti itu.’ Menilai kerajaan ini hanya karena masalah itu, aku tak bisa menerimanya. “Baiklah, aku harus semangat. Aku akan melakukan yang terbaik.”


1 minggu setelah itu.


Ruang komandan.


“Hmmm, imajinasi dan juga penggambaran, rapalan juga diperlukan tapi tidak begitu penting.”


“Ari, bagaimana? Apa kau bisa mempelajarinya?”


“Buku yang kau berikan padaku cukup banyak, aku sudah membacanya sebagian dan saat ini aku sedang membandingkan semua isi dari masing-masing buku yang kau berikan itu.”


“Sepertinya kau berusaha keras. Berjuanglah, demi senyuman itu.”


“Hey, kau mengintip.”


“Hahahaha, aku pergi. Aku ingin kencan dengan Ria. Sampai jumpa lagi nanti.”


“Aku hanya ingin lebih memperhatikannya saja, oh ya pekerjaanku sudah selesai jadi aku sudah bisa istirahat’kan.”


“Ya.”


“Kalau begitu, aku pergi.”


Yang ada ditempat ini, hanya aku seorang diri. Iona tidak datang kemari karena ada urusan mendadak dan sisanya masih mengurusi pekerjaan mereka yang belum selesai. “Hmmm, mekanisme dalam menggunakan sihir. Sepertinya ini akan berguna, sebaiknya aku catat.” Aku masih butuh waktu untuk memahami semua materi tentang sihir ini, tidak ada yang mengajariku dan jelas itu semakin menambah tingkat kesulitan pemahamanku terhadap sihir.


1 minggu berlalu, lagi.


“Ari, bagaimana? Apa kau sudah menemukan caranya?” (Lucy)


“Hmmm, aku masih sedikit bingung. Apalagi tentang imajinasi dan juga pengambaran ini, apa yang harus digambarkan?”


“Bukankah itu seperti itu, kau tau.”


“Apa?”


“Jika kau membayangkan air, maka air yang akan muncul. Tapi, jika kau membayangkan air yang berbeda, contoh saja gelembung air, mungkin gelembung air yang akan muncul. Seperti itu.”


“Bukankah itu sama saja dengan mengimajinasikan pikiran.”


“Ya, mungkin seperti itu. Selain itu buku sihir ditulis sedikit agak berbeda dibandingkan buku yang lain.”


“Selain bahasa, pemahanannya juga tidak bisa disamakan dengan buku-buku biasa, seperti itu.”


“Iya, sejujurnya aku juga kesulitan jika harus memahami setiap makna dari setiap kalimat yang ditulis dibuku itu.”


“Haaaa, seperti itu, ya.”


“Kau ingin menyerah?”


“Tidak, setidaknya aku sudah menemukan sesuatu yang berguna. Semakin berkembang maka kekuatan sihir yang dimiliki juga akan ikut berkembang.”


“Ya, itu adalah hal dasar. Jika kau gagal mengendalikan sihir yang ada ditubuhmu maka bukan keuntungan, tapi bencana yang akan didapat.”


“Haaaaaaa.”


“Kau menghela nafas lebih panjang daripada biasanya, kau kesulitan?”


“Tingkat kesulitan dalam memahami hal diluar akal manusia itu sangat berbeda, otakku yang selalu aku ajak untuk berfikir masuk akal tidak sanggup.”


“Bagaimana jika kau gunakan penghayalan saja, jika seperti itu bukankah tidak ada yang tidak mungkin.”


“Menghayal, ya. Hmmm, jika hanya seperti itu mungkin bisa. Baiklah, aku akan mencobanya.”


1 minggu kemudan, lagi…?


“Hey, sudah berapa lama kau membaca buku itu.” (Lucy)


“Entahlah, mungkin sudah hampir 1 bulan.”


“Lalu, apa yang kau dapatkan?”


“Beberapa hal, mungkin lebih berguna daripada sebelumnya. Aku juga menggunakan metode menghayal itu, meskipun efektif atau tidak tapi sepertinya itu sedikit membuahkan hasil. Aku akan pergi sebentar.”


“Kemana?”

__ADS_1


“Keistana, aku ingin menemui Risa-oneesama.”


“Y-ya, semoga berhasil.”


Di istana.


Aku datang ke ruangan khusus milik Risa.


“Risa-oneesama, kau ada?”


“Ahh, Ari, ada apa? Tidak biasanya kau datang kemari?”


“Aku ingin mengetahui sedikit lebih banyak tentang sihir.”


“Tentang sihir?”


“Iya. Tolong ajari aku beberapa hal yang berguna.”


“Untuk apa, jika orang tidak memiliki sihir itu sama sekali tidak berguna, lo.”


“Aku mohon, meskipun hanya dalam bentuk materi saja aku mohon.”


“Tapi, aku juga masih pemula dalam hal ini. Jadi aku tak bisa memberitahumu banyak hal.”


“Tidak masalah, yang penting adalah pengetahuan tentang sihir.”


“Baiklah, lalu bagian mana yang ingin kau tanyakan pertama kali?”


“Cara menggunakan sihir.”


“Cara menggunakan sihir?”


“Aku sudah membaca dibuku, sihir bisa digunakan dengan menggunakan mana yang ada pada tubuh, jumlah mana yang digunakan juga tergantung kuat atau tidaknya sihir yang bisa digunakan.”


“Iya, itu memang benar.”


“Lalu, butuh waktu berapa lama agar mana dapat pulih kembali?”


“Hmmm, jika beristirahat dengan benar, maka mana yang terkuras habis dapat pulih dalam 1 hari. Tapi, ada efek samping jika sampai mana habis.”


“Efek samping?” Hal yang tidak dijelaskan dibuku. “Apa efek sampingnya?”


“Tubuhmu akan kaku dalam beberapa saat, meskipun akan dapat bergerak tapi jika kau sampai menghabiskan semua mana milikmu maka daya tahan tubuh dan juga staminamu akan terkuras dan kau akan menjadi sangat lelah.”


“Hmmm, begitu, aku mengerti.”


“Dan 1 hal lagi, jangan pernah menggunakan sihir lagi saat manamu sudah habis.”


“Eh? Memangnya kenapa?”


“Sebagai ganti mana yang sudah habis, kehidupanmu yang akan menjadi bahan bakar untuk sihir yang akan diaktifkan setelahnya.”


“Begitu.” Setidaknya aku sudah menduga hal itu.


“Lalu, apa ada yang ingin kau ketahui lagi?”


“Apa memungkinkan seorang penyihir memiliki lebih dari 1 atribut elemen yang bisa dia kuasai?”


“Bisa saja, ngomong-ngomong sihir yang bisa aku gunakan adalah kegelapan dan cahaya, lo.”


“Kegelapan dan cahaya?!”


“Iya, semua atribut sihir bisa berevolusi. Sihir cahaya milikku sudah berevolusi, aku bisa menghentikan waktu dengan sihir itu.”


“Wah, itu hebat.”


“Tapi aku tidak bisa melakukan hal lain, selain itu kedua elemen itu jika digunakan memakan banyak sekali mana. Jadi itu sedikit tidak berguna.”


“Oh ya, ngomong-ngomong berapa banyak atribut elemen sihir yang ada didunia ini? Dibuku ditulis ada 4, semuanya adalah elemen dasar seperti tanah, air, api, dan angin. Tapi, Risa-oneesama barusan menyebutkan kegelapan dan cahaya, itu berarti masih ada elemen lain selain 6 elemen itu’kan.”


“Sebenarnya untuk jumlahnya sendiri aku tak tau pasti, tapi semua elemen itu bisa digabung dan menjadi elemen berbeda, kau tau, seperti contoh jika api dicampurkan dengan tanah maka akan menjadi lahar panas, seperti itu.”


“Hmmm, begitu. Berarti semakin banyak elemen yang digabung, maka akan tercipta sebuah element baru, seperti itu.”


“Ya, konsepnya seperti itu.”


“Begitu, ya.” Ini adalah sesuatu yang tidak dijelaskan didalam buku.


“Apa ada hal lain lagi yang ingin kau ketahui tentang sihir?”


Aku menanyakan beberapa pertanyaan yang membuatku bingung, dan saat dijawab oleh Risa kebingungan itu menghilang. Tapi, 1 pertanyaan terakhir yang membuatku sangat pensaran. “Risa-oneesama, untuk apa sebenarnya sihir ada didunia ini? Jika hanya untuk berperang, maka bukankah lebih baik sihir lenyap saja dari dunia ini, tapi kenapa sampai sekarang ada orang yang bisa menggunakannya?”


“Eh? Untuk apa, jika kau bertanya seperti itu. Aku juga tidak tau, sejarah yang ada dikerajaan ini tidak ada yang menjelaskan tentang hal itu. Kenapa sihir bisa ada didunia ini, dan apa fungsi sihir kenapa harus ada.”


“Begitu, ya.” Sepertinya ini akan menjadi sebuah tanda tanya besar yang bisa aku caritahu.


“Tapi, aku pikir sihir juga bisa berguna. Kau lihat’kan peralatan sihir dan juga sihir yang bisa menurunkan hujan, aku yakin ada manfaat lain dari fungsi adanya sihir didunia ini. Aku yakin kalau sihir itu bisa digunakan untuk kepentingan banyak orang, dan bukan untuk berperang.”


“Terimakasih atas penjelasannya.”


“Apa itu sudah menjawab semua pertanyaanmu?”


“Ya, terimakasih. Kalau begitu, aku akan kembali.”


“Oh ya, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu.”


“Huh?”


Di markas.


“Ari, bagaimana hasil dari penelitianmu?” (Lucy)


“Penelitian?” (Iona)


“Memangnya apa yang wakil komandan Ari dengan diteliti?” (Ria)


“Ya, aku mendapatkan beberapa hal yang penting dan juga beberapa pertanyaanku akhirnya terjawab.”


“Kau bilang beberapa, berarti masih ada jawaban yang belum kau dapatkan atau kau tidak puas dengan jawaban itu.”


“Ya, seperti itulah. Tapi, sebagian besar hal penting sudah aku ketahui. Iona.”


“Eh, y-ya? Ada apa?”


“Mulai besok, kita akan melakukan latihan pengendalian sihir.”


“Eh? Pengendalian sihir?!”

__ADS_1


__ADS_2