
“Sialan orang itu, kenapa kau melakukannya. Kau, dasar bodoh.” Air mata yang tak bisa dibendung oleh Lucy mulai menetes. “Kau tak seharusnya melakukan hal seperti ini, dasar bodoh.”
“P-panglima, apa yang sebenarnya terjadi. Leiavanya dikelilingi oleh sihir yang sangat kuat.”
“Abaikan itu, semuanya cepat pergi dari sini.”
“Baik.”
“Bocah.” (Homura)
“Raja naga Homura, ya.”
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Dia, melakukannya. Oigi dan Ruote.”
“Sihir terlarang!!”
“Ya.”
“K-kenapa dia bisa seceroboh itu sampai menggunakan hal berbahaya seperti itu?!”
“Dia tidak ingin melibatkan lebih banyak korban lagi, selain itu dia sudah berjuang lebih keras dibandingkan dengan kita semua.”
“Berjuang lebih keras?”
“Disaat kita mengatasi serangan monster, dia pergi ke tubuh Leiava untuk mencari kelemahannya, dan saat tau mengetahui hal yang mengejutkan dia adalah orang yang memberitahu terlebih dahulu. Dan sekarang, dia mencoba untuk menyelesaikannya seorang diri. Dasar bodoh.”
“Jika dibiarkan dia akan mati.”
“Tidak, dia tidak akan mati tapi kami orang yang dekat dengannya akan merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan daripada kematian.”
“Menyakitkan daripada kematian?”
----
“Tidak!!! J-jangan halangi aku!! Aku ingin bersama dengan Ari!!”
“P-putri, tenanglah. Aku mohom.” Ria dan beberapa perawat lain mencoba untuk menghentikan Iona yang mencoba untuk untuk masuk kedalam zona Oigi.
“Lepaskan, aku mohon. Aku ingin bertemu dengan Ari, aku mohon.” Dengan air mata yang mengalir dimatanya dia mencoba untuk lepas dari mereka yang menahannya. “Aku mohon, lepaskan aku. Aku ingin bersama dengannya.”
“Putri, maafkan aku.”
“Aku… Ingin bertemu dengan Ari…” Ria menggunakan sebuah sihir dari cincin yang diberikan oleh Lucy untuk membuat Iona tak sadarkan diri.
“Aku mohon, tolong bawa putri kedalam.”
“Baik.” Mereka membawa Iona masuk kedalam.
“Dasar wakil komandan bodoh.” Air mata Ria yang tak terbendung menetes. “Membiarkan putri menangis, aku membencimu.”
Sementara itu.
“Baiklah, pengisian Ruote sudah selesai. Sekarang waktunya.” Aku memegang kedua pedang itu dengan kedua tanganku. “Haaaa, aku akan melupakan semuanya. Semuanya, ya.” Aku mulai menyalurkan sihir Ruote pada keda pedang itu dan mengalirkan sihir Ruote pada kedua pedang itu. “S-sial.” Tenagaku habis dan perlahan ingatanku juga mulai lenyap. “AHHHH!!! Aku harus menyelesaikannya, jika tidak semuanya akan sia-sia.” Aku memaksakan diriku, menggunakan seluruh sisa tenagaku yang ada dan mengorbankan seluruh ingatanku. “Ini semua demi dirinya…” Tepat saat aku menyadarinya, ingatan itu sudah lenyap. “Siapa?”
Aku tak bisa mengingatnya, tapi aku merasa ini adalah hal yang harus aku lakukan. “Aku harus berjuang!!!” Perlahan ingatanku mulai lenyapseperti sebuah bangunan yang rapuh dan bisa dihancurkan hanya dengan sedikit sentuhan saja. Aku sudah tak ingat untuk siapa aku berjuang dan melakukan hal ini, meskipun begitu entah kenapa aku merasa ini adalah sesuatu yang harus aku lakukan dan hanya aku yang bisa melakukannya.
-------
“Ari.”
“Putri.”
Sudah beberapa jam berlalu dan sihir Oigi yang mengurung Leiava masih belum lenyap juga.
“Ria!!”
“L-Lucy…” Lucy datang ke tempat Ria dan Iona berada.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan putri?”
“Putri baik-baik saja, aku membuatnya tertidur.”
“Begitu, syukurlah.”
“Lucy, wakil komandan…”
“Kau juga sudah mendengarnya’kan, Oigi dan Ruote.”
“Jadi itu benar, ya. Itu berarti, wakil komandan.”
“Aku tak paham apa yang ada dipikirannya, mengorbankan dirinya. Padahal dia tau kalau disini ada orang yang paling mencemaskan dirinya. Dia membuatku sangat kesal.”
“Lucy.”
“Aku tak tau apa yang harus aku katakan pada saat putri bangun nanti.”
“Jadi, ingatan wakil komandan…”
“Ya, saat kita melihatnya nanti dia bukanlah wakil komandan yang kita kenal. Melainkan orang yang berbeda.”
“T-tidak mungkin.”
“Sial.”
Esok harinya.
Pagi hari, seluruh wiayah lembah kematian menjadi hijau dan Leiava lenyap.
Dan ditengah-tengah lembah itu terdapat sebuah cekungan yang dalam, dan seseorang ada didalamnya terkapar lemah tak berdaya. Para ketua aliansi ras dan juga Lucy berserta Iona dan juga Ria datang kesana.
“Ari!!!” Tubuhnya menderita luka yang sangat berat. “Aku akan menyembuhkanmu.” Menggunakan sihir penyembuh, Iona menyembuhkan luka yang dialami oleh Ari yang tengah terkapar.
Lukanya perlahan mulai pulih. “Sihir yang luar biasa.” (Homura)
“Nona, biarkan aku yang memerika keadaannya.” (Ruie)
Beberapa menit kemudian.
“Bagaimana?”
“Tidak ada masalah, semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”
“Begitu, syukurlah.”
----------
“P-putri!!” (Ria)
Kakiku terasa sangat lemas, meskipun begitu aku sangat senang mendengar kalau Ari baik-baik saja.
“Ini sebuah keajaiban, padahal sihir yang digunakan sebesar itu tapi dia masih hidup.” (Utarus)
“Ari…” Aku perlahan mulai mendekat kearahnya. “Syukurlah, syukurlah.”
Tubuhnya bergerak. “Ari…” Dia perlahan mulai membuka matanya.
“Dimana, aku?”
“Terimakasih karena sudah kembali, aku sangat senang. Terimakasih.” Aku memeluknya dengan erat.
“M-maaf, tapi, apa aku mengenalmu?”
Kalimat itu, membuatku menyadarinya. ‘Dia, kehilangan ingatannya.’
“E-eh, j-jangan menangis. Aku mohon, jangan menangis.” Dia menelap air mataku dengan tangannya, persis seperti apa yang dilakukan oleh Ari. “Aku tak tau kenapa kau menagis, tapi jangan menangis.”
Tatapannya itu, dia benar-benar melupakanku. “Tidak, aku tidak mau… Aku tidak mau hal seperti ini, tidak!!”
__ADS_1
------
“Putri…” (Lucy)
Mereka semua hanya bisa melihat tanpa bisa melakukan apapun.
“Aku mohon, kembalilah. Aku mohon, Ari… Aku mohon. Jika seperti ini, ini lebih buruk daripada kematian. Aku mohon.” Iona memeluk Ari yang kehilangan ingatannya. “Aku mohon, aku mohon…”
Ari yang kehilangan ingatannya hanya bisa diam karena tidak mengerti apa yang sudah terjadi disini. Tapi… Ia membalas pelukan Iona. “Aku tak tau alasanmu menangis, tapi sepertinya kau menangis karena aku. Jika memang benar, aku minta maaf. Sepertinya sebelumnya aku sudah melakukan kesalahan.” Mendengar hal itu, Iona menangis. “Haaaa, sepertinya aku mengatakan sesuatu yang buruk. Meskipun begitu, aku merasakan sesuatu saat kau didekatku.”
Beberapa lama setelah itu.
Iona melepaskan pelukannya. “Apa kau sudah tenang?”
“Y-ya, terimakasih.”
“Begitu, syukurlah. Kalau begitu, bisa jelaskan saat ini aku sedang ada dimana?” Lucy menjelaskannya, tentang dunia ini padanya. “Hmmm, begitu, ya. Jadi ini dunia lain.”
“Kau tidak terlihat terkejut.” (Lucy)
“Ya, sebelumnya aku mati ditikam, jadi aku pikir akan berakhir disurga atau apa tapi karena keadaannya seperti ini mau bagaimana lagi.”
“Begitu, ya.”
“Lalu, nama kalian?”
“Ahh, aku Lucy Groem.”
“Aku Ria.”
“Aku Homura, raja naga.”
“Wah, ada raja naga disini.”
“Hahaha, kau bisa saja.”
“Aku Ruie.”
“Wah, elf asli. Aku pikir akan butuh waktu untuk bertemu dengan ras elf, aku tak menyangka akan melihatnya secepat ini.”
“Aku Reans, raja para halfhuman.”
“Begitu, ya.”
“Aku Nou, raja Drawf.”
“Hooo, penempa hebat.”
“Bukan, tapi setidaknya tingkat ras kami berada diatas Dwarf.”
“Begitu.”
“Aku Utarus, raja iblis.”
“R-raja iblis, apa yang orang-orang luar biasa ini lakukan disini? Apa ada perang atau semacamnya disini?”
“Kau benar-benar melupakannya, ya.” (Homura) Saat berkata seperti itu semua orang yang ada disini menundukkan kepala mereka.
“Jika kau sampai berkata seperti itu, berarti aku sudah kehilangan sesuatu yang berharga, ya… Aku sudah mencoba untuk mengingatnya, tapi aku tak bisa mengingat apapun. Yang aku ingat hanyalah saat terakhirku, mati ditikam oleh perampok.”
“Begitu.”
“Hmmm, lalu. Kau?” Ari menunjuk kearah Iona.
Iona mengambil nafas panjang.
“Putri…” Ria yang mencoba untuk memegang Iona dihalangi oleh Lucy.
Menunjukkan senyumannya. ‘Aku harap kau bisa mengingatku.’ Dengan harapa itu, dia mulai memperkenalkan diri. “Perkenalkan namaku Iona… Aku, adalah istrimu.”
__ADS_1
🤗🤗🤗