Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
63


__ADS_3

Rencana pertama dimulai, beberapa dari ras Naga, Drawf, HalfHuman dan juga Elf pergi ke tempat Leiava bangkit untuk mencari informasi yang bisa didapatkan. Semakin banyak informasi maka semakin bagus.


Perjalanan dengan naga mungkin akan memakan waktu beberapa jam, selain itu pergerakan ras Elf dan juga ras lainnya memiliki kelebihan dalam pergerakan dan kelincahan mereka. Aku yakin pengumpulan informasi ini bisa berjalan dengan lancar, setidaknya itulah yang aku harapkan.


Beberapa jam setelah itu.


“Sepertinya mereka tidak kembali.” (Utarus) Mereka yang diberikan tugas untuk mencari informasi tentang Leiava tidak kunjung kembali.


“Begitu, ya. Setidaknya paling tidak aku mengharapkan salah satu dari mereka bisa kembali dengan selamat, jika bisa semua bisa kembali dengan selamat kemari.”


“Bocah, buang pemikiran naifmu itu jauh-jauh. Ini adalah medang perang, kehilangan nyawa adalah bagian dari itu. Mau seberapa hebat strategi yang kau buat pasti akan tetap ada korban yang jatuh, yang paling penting semua pasukan yang berada dimedan perang ini mereka semua sudah rela mati demi melindungi apa yang mereka ingin lindungi. Kau harus mengerti perasaan mereka semua, oleh karena itu jangan membuat pemikiran naif seperti itu.” (Homura)


“Maaf.”


“Salah satu dari mereka kembali!!” (???)


Saat aku mendengar hal itu aku langsung menghampirinya. Salah satu yang kembali adalah ras naga, tapi dia terlihat begitu kelelahan. “Apa yang terjadi?”


“Energi sihir dan mananya hampir habis, jika dibiarkan dia akan mati.”


“Tunggu sebentar, aku akan melakukan sesuatu.” Aku memberikan manaku padanya untuk membuatnya kembali pulih. “Sepertinya berhasil.” Nafasnya kembali teratur.


“Bocah, terimakasih banyak karena sudah menolong bangsaku.”


“Tidak masalah, selain itu hanya dia satu-satunya yang bisa kembali, jadi sebisa mungkin aku ingin mendapatkan informasi darinya. Tapi sebelum itu, sebaiknya biarkan dia istirahat dulu sebentar.”


“Ya, kau benar.”


Kami memutuskan untuk kembali ke tenda dan membicarakan lebih lanjut tentang strategi yang akan digunakan.


Cukup lama setelah itu.


“Maaf menggangu. Saya adalah satu-satunya anggota pengintai yang berhasil selamat.” (???) Dia, naga yang bertugas mengintai datang kemari.


“Anakku, bisa kau beritahu apa yang sebenarnya terjadi disana, dan kenapa hanya kau satu-satunya yang berhasil kembali?” (Homura)


“Rajaku, maafkan saya. Tepat saat kami memasuki lembah kematian, semua mana dan juga sihir yang kami miliki seakan dikuras habis disana.”


“Leiava? Apa kau melihatnya?”


“Leiava belum menunjukkan dirinya, tapi semakin dekat kekuatan besar semakin terasa saya yakin kalau Leiava mencoba untuk keluar dari dalam bumi.”


“Begitu. Leiava disegel didalam tanah, meskipun sudah berhasil menghancurkan segelnya tapi dia masih mencoba untuk memulihkan diri dengan cara menghisap sihir dan berusaha untuk keluar dari tanah. Tapi, karena lembah kematian tidak ada kehidupan jadi siapapun yang mendekatinya maka sihir dan mananya akan dikuras. Setidaknya itulah yang bisa aku simpulkan sekarang.”


“Ternyata pengamatanmu boleh juga nak.” (Reans)


“Itu memang benar, pemilihan penyegelan Leiava oleh pahlawan pertama memang tidak bisa dianggap sebagai kebetulan, selain itu ras iblis yang sudah banyak membantu dalam hal itu. Memancing Leiava ke lembah kematian dan menyegelnya.” (Homura)


“Mengingat masa itu, aku tak bisa membayangkan sudah berapa banyak rakyatku yang tewas waktu itu karena perintaku pada saat itu.” (Utarus)


“Begitu.” Entah kenapa dalam hal ini aku menjadi sedikit bersimpati pada raja iblis. “Fokus fokus.” Saat ini ada yang lebih penting, jika sampai gagal maka akan ada lebih banyak korban jiwa lagi.


“Bocah, apa kau memiliki rencana untuk masalah ini?”


“Hmmm, territory yang tak bisa dilewati, sepertinya Leiava tidak akan bergerak untuk beberapa waktu tapi disisi lain kita juga tidak bisa menyerang karena adanya territory itu.”


“Territory, apa?” (Reans)


“Maksudku dindin pembatas yang akan mengambil mana dan sihir milik Leiava.”


“Kau menggunakan kata-kata yang rumit.”


“Maaf, tapi untuk sekarang tidak banyak yang bisa kita lakukan. Jika bisa aku harap bisa mendapatkan lebih banyak informasi lagi, tapi dengan adanya territory itu tidak banyak yang bisa kita lakukan.”


“Bagaimana jika kita menyerangnya menggunakan sihir terkuat?” (Homura)


“Itu bukan ide yang bagus, jika sampai dilakukan ada kemungkinan besar sihirnya akan diserap saat menyentuh territory itu. Untuk saat ini aku harap semua pasukan kalian bisa bersiaga untuk serangan kedepannya, untuk sekarang karena aku masih kekurangan informasi aku tak bisa memprediksi arah perang ini akan seperti apa. Persiapan yang matang dibutuhkan untuk mengalahkan musuh yang tangguh.”


“Untuk seorang remaja, kau bisa mengatakan sesuatu yang bijak seperti itu. Baiklah, kami akan mengatakan itu pada seluruh pasukan yang kami bawa.” (Utarus)


“Oh ya, jika bisa aku bisa minta detail berapa banyak pasukan yang kalian bawa?”

__ADS_1


“Ya, tentu.”


“Terimakasih banyak.”


Cukup lama setelah itu, diistana langit ruang istirahat.


“Ari, bagaimana?”


“Hmmm, ini cukup buruk. Saat ini penyerangan tidak bisa dilakukan, selain itu musuh ternyata lebih merepotkan daripada yang aku bayangkan.”


“Lalu, apa itu yang ada dimeja?”


“Ini, kertas tentang informasi jumlah pasukan aliansi antar ras.”


“Boleh aku membacanya?”


“Silahkan.”


“Hmmm, pasukan Drawf 150 ribu, pasukan naga 300, pasukan HalfHuman 230 ribu, pasukan Elf 20 ribu, lalu pasukan raja iblis 570 ribu. Itu banyak sekali.”


“Ya, dibandingkan dengan aliansi manusia jumlah pasukan yang dimiliki oleh aliansi ras sangat sedikit.”


“Tapi, 300 naga itu banyak dan lagi 570 ribu pasukan iblis, bukankah itu jumlah yang sangat besar. Bahkan aku ragu kalau 3 juta pasukan manusia akan mampu mengalahkan 50 naga ataupun 500 ribu pasukan iblis.”


“Pengandaianmu terlalu berlebihan, tapi itu memang benar. Meskipun jumlahnya lebih sedikit dibandingkan dengan aliansi kerajaan, tapi kekuatan aliansi ras tidak dapat diremehkan.”


“Ari, kau terlihat khawatir ada apa?”


“Haaaa, aku hanya berfikit kalau perang ini akan jadi lebih sulit daripada apa yang aku perkirakan.”


“Begitu, ya.”


“Iona, duduk disini.” Aku menyuruhnya duduk disampingku dan ia menurutinya.


“Ada apa?”


Aku berbaring dan tidur dipangkuannya. “Haaaa, aku sangat lelah. Ini adalah cara terbaik untukku mengisi kembali tenagaku yang terkuras.”


Iona tersenyum. “Jika kau lelah kau bisa memintanya padaku, aku akan melakukan ini sebanyak yang kau mau.”


“Terimakasih.”


“Iona.”


“Ya?”


“Setelah perang ini selesai, aku ingin hidup sederhana. Menjalani kehidupan tanpa adanya beban seperti tugas militer ataupun hal lainnya, aku sudah lelah dengan semua hal itu. Apa aku bisa mendapatkannya?”


“Tenang saja, jika itu keinginanmu maka aku akan mencobanya sebaik mungkin. Selain itu, aku juga sudah lelah dengan hal ini. Setelah pendidikanku selesai, aku rasa kita bisa hidup layaknya sebuah keluarga biasa.”


“Begitu. Terimakasih.” Pikiran dan juga batinku saat ini sudah sangat lelah dengan semua hal yang terjadi, setelah perang ini selesai aku harap aku bisa mendapatkan hal yang aku inginkan.


“Ari.”


“Ada apa?”


“Aku mohon, sampai perang ini berakhir tetaplah hidup.”


“Tenang saja, aku sudah punya banyak sekali alasan untuk kembali dengan selamat. Kau tak perlu mencemaskan hal itu.”


“Begitu.”


“Haaaa, Iona aku ingin istirahat sebentar. Selamat tidur.”


“Ya, mimpi indah.”


---------


Cukup lama setelah itu, hari sudah semakin sore dan Ari sudah tertidur begitu pulas.


“Yo…”

__ADS_1


“Stttt.. Jangan berisik.”


“Ahh, maaf.” Pangeran Ari sudah tiba disini. “Dia sudah tidur sejak tadi?”


“Ya, sudah agak lama.”


“Hmmm, tidurnya begitu pulas. Sepertinya dia sangat lelah.”


“Tugas yang dia kerjakan lebih berat daripada yang lain, selain itu sihir teleportasi miliknya menghabiskan banyak tenaganya setiap kali digunakan. Bisa dibilang kalau dia bekerja lebih keras.”


“Putri, kau tidak memperingatinya?”


“Kau tau dia, meskipun aku sudah memperingatinya jika itu ada hubungannya denganku dia akan mengabaikannya.”


“Hmmm, benar juga.”


“Oh ya, bagaimana keadaan medan perang saat ini?”


“Masih stabil, belum ada pergerakan dari Leiava, kemungkinan besar pesan yang dikirim oleh Ari tadi memang benar.”


“Pesan?”


“Ya, dia mengirim pesan lewat merpati jika Leiava tidak bisa diserang saat ini dan sebaiknya jangan mendekat ataupun menyerangnya sekarang karena itu sama saja menyerahkan nyawa secara percuma.”


“Begitu.”


“Sejujurnya, aku tak tau apa yang ada dipikirannya.”


“Bukankah kau sering membaca pikiran Ari.”


“Pemikiran yang sebenarnya, aku tak bisa membacanya. Yang dia pikirkan dan juga apa yang sebenarnya dia khawatirkan.”


“Dia mengkhawatirkan sesuatu?”


“Yang bisa aku pikirkan hanyalah kalau dia mengkhawatirkanmu saja, tapi disisi lain selain hal itu aku tak tau apa yang sebenarnya dia pikirkan. Aku sudah mengatakan hal ini padanya, dia adalah orang yang misterius.”


“Menurutku, dia berbeda dari itu. Mungkin karena beberapa hal dia menyembunyikan sifatnya itu tapi saat bersama denganku entah kenapa dia selalu terbuka dan terlihat jujur dengan perasaannya sendiri.”


“Aku jadi iri denganmu putri. Selain sikap fokus dan juga candaannya yang tak lucu aku tak pernah melihat hal lain darinya. Kau memang orang yang spesial.”


“Begitu.”


“Mau bagaimanapun, Iona adalah orang yang spesial untukku.”


“Ari, kau bangun.”


“Aku tidak bisa tidur jika merasakan sihir besar yang dikeluarkan oleh aliansi manusia.”


“Eh? Sihir besar?”


“Lucy, kau sudah mengatakan pada mereka untuk tidak menyerang tempat Leiava sebelum dia bangkit’kan.”


“Iya, aku sudah mengatakannya dengan jelas.”


“Haaa, sepertinya masih ada saja orang yang ingin mencari muka di situasi seperti ini. Aku masih lelah, aku tak bisa menggunakan banyak sihir sekarang. Lucy, medekatlah.”


“Iya.”


Ari menyentuh tangan pangeran Lucy. “Lokasinya, tempat aliansi kerajaan berada.” Setelah mengatakan itu pangeran Lucy menghilang tapi Ari masih tetap tidur dipangkuanku.


“Ari, apa itu?”


“Perpindahan tunggal, itu memakan banyak sekali tenaga dibandingkan melakukan teleportasi biasa, dan juga itu lebih sulit. Kemungkinan jika salah, dia akan muncul tidak jauh dari tempat yang sudah aku sebutkan.”


“Begitu.”


“Haaa, karena tak ingin meninggalkan sensasi ini aku jadi sangat lelah sekarang.”


Aku mengelus kepalanya. “Kalau begitu, kau bisa tidur sekarang.”


“Terimakasih.”

__ADS_1


Beban yang ditanggung olehnya, aku tak tau seberat apa tapi jika bisa aku ingin membantu untuk meringankan bebannya.


Aku menciumnya. “Ari, aku mencintaimu.”


__ADS_2