Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
24


__ADS_3

Esoknya.


Siang hari di ruang komandan.


“Bagaimana, apa kau sudah menemukan rencana baru?” (Lucy)


“Haaaa, tidak ada. Otakku sudah buntu, aku tak bisa berfikir jernih lagi saat ini.” Hanya ada aku dan Lucy diruangan ini, Iona dan juga temannya saat ini sedang sibuk oleh urusan lain.


“Permisi wakil komandan, pesanan anda sudah datang.” (Grild) Grild dan beberapa prajurit masuk kedalam sembari membawa kotak kayu yang cukup besar.


“Wah, sudah datang, ya. Akhinya.”


“Pesanan? Apa yang kau pesan?”


Setelah menaruh kotak itu, Grild dan prajurit lainnya keluar.


Aku perlahan mulai membuka kotak itu. “Wah, akhirnya kunci kemenangan kita.”


“Kunci kemenangan? Benda itu?”


Aku mengeluarkan sebuah senapan mesin jenis sniper. “Pembuatannya ternyata memakan waktu yang cukup lama.” Ada beberapa bahan yang tidak ada, atau masih belum ada didunia ini. Hal itu yang membuat pembuatannya sedikit memakan waktu.


“Apa yang bisa dilakukan oleh tongkat itu?”


“Ini bisa menembakkan peluru dengan kecepatan tinggi, lebih cepat dan akurasinya lebih baik dibandingkan sebuah panah, selain itu jarak tembakannya berkali-kali lipat lebih jauh dari panah.”


“Wah, itu sangat hebat. Lalu, bagaimana cara kerjanya?”


“Hmmm, aku juga tak tau. Ini hanyalah sebuah prototype saja, masih ada banyak bahan yang kurang untuk menyempurnakannya.”


“Kau tidak bisa menyempurnakan?”


“Pengetahuanku ini terbatas, ada beberapa bahan yang tidak aku ketahui dan aku tak tau cara membuatnya. Selain itu, meskipun berhasil di sempurnakan, mekanismenya mungkin sedikit berbeda dari apa yang aku tau.”


“Bukankah itu sama saja benda ini tidak berguna?”


“Bisa dibilang seperti itu. Meskipun begitu, jika saja ada bahannya mungkin aku bisa belajar untuk membuat dan menyempurnakannya.”


“Memangnya apa yang kau butuhkan?”


“Bahan peledak, seperti bubuk mesiu dan juga logam lalu bahan alumunium. Serta bahan…”


“Bahan apa?”


“Tidak, lupakan saja yang terakhir. 3 itu saja sudah cukup.”


“Tapi, bahan terakhir itu juga penting, bukan?”


“Tidak, 3 saja itu sudah cukup.”


“Begitu, aku akan mengusahakannya.”


“Tolong.”


“Serahkan padaku.”


Bahan terakhir yang aku butuhkan adalah plastik mentah, tapi aku tak mau mencemari lingkungan didunia ini dengan benda seperti itu. “Sepertinya aku harus bertanya pada seseorang yang bisa membantu untuk menyelesaikan masalah ini.”


“Seseorang yang bisa membantu?”


“Ya, aku pergi dulu. Tolong taruh itu ke atas meja.”


“Ya.”


Cukup lama setelah itu.


Di istana.


“Ari, kenapa kau ada disini?”


“Risa-oneesama, aku ingin bertanya sesuatu padamu.” Orang yang ingin aku temui itu adalah Risa.


“Apa ada masalah?”


“Ya, aku menemui sedikit kendala.”


“Baiklah, akan aku dengarkan. Sebelum itu, sebaiknya kita cari tempat yang nyaman dulu untuk berbincang.”


“Ya.”


Di sebuah kafe diluar istana.


“Ehhh, Risa-oneesama, kau tidak masalah jika keluar dari istana?”


“Santai saja, lagipula tempat ini adalah tempat yang aku suka, aku juga sudah sering kemari.”


“Begitu.”


“Putri, anda datang lagi.” (Pelayan)


“Pagi.”


“Ada apa pagi-pagi datang kemari, tidak seperti biasa. Lo? Siapa pria ini? Apa ini kekasihmu? Wah, putri aku tak menyangka kau akan membawanya kemari.”


“Bukan. Hmmm, dia adalah adikku.”


“Adik?”


“Oh ya, Ari apa kau ingin pesan sesuatu?”


“Bisa tolong berikan air putih?”


“Baik.”


“Aku pesan yang biasa.”


“Baik, tolong tunggu sebentar.” Pelayan itu pergi.


“Risa-oneesama, apa dia temanmu?”


“Ya, namanya Rui dia sekelas denganku.”


“Begitu. Lalu, kenapa kau bilang aku adalah adikmu?”


“Memangnya ada yang salah dengan hal itu? Cepat atau lambat kau’kan akan menikah dengan Iona, dengan begitu kau akan jadi adikku juga.”


“Haaaa, iya iya. Aku mengerti.”


“Lalu, apa yang ingin kau bicarakan?”


“Ini tentang sihir.”

__ADS_1


“Kau tertarik dengan hal seperti itu?”


“Hanya sedikit, ini juga demi kebutuhan.”


“Kebutuhan?”


“Ya. Risa-oneesama, apa kau bisa menggunakan sihir jenis angin?”


“Bisa.”


“Jika seperti itu, bisa kau membantuku?”


“Tapi saat ini aku sedikit sibuk, pekerjaanku masih banyak.”


“Aku akan membantumu, tapi tolong bantu aku.”


“Baiklah.”


“Maaf membuat kalian menungu, pesanan kalian sudah datang.” (Rui)


“Terimakasih, ini terlihat sangat enak.” (Risa)


“Silahkan dinikmati. Oh ya, apa kau calon suami putri Iona.”


Uhuk : tersedak.


“K-kau tidak apa-apa? Apa aku salah bicara?”


Aku tersedak dan sedikit terkejut mendengar hal yang diucapkan olehnya. “Risa-oneesama, apa yang sebenarnya kau sudah katakan padanya?”


“Tidak ada, aku hanya bilang kalau Iona sudah menemukan pasangannya. Hanya itu.”


“Tapi, kau bilang dia adalah adikmu, kau tidak punya adik dan satu-satunya adikmu adalah putri Iona, jadi jika kau memanggilnya adik bukankah itu berarti dia orang yang akan menjadi pasangan putri Iona.” (Rui)


‘Apa-apaan dengan orang yang sangat peka ini.’ Ya, ini juga bukan masalah besar jadi aku tak ingin mempermasalahkannya.


“Ahhh, benar juga. Putri, apa kau sudah dengar tentang perang besar yang akan segera terjadi?”


“Perang besar?”


“Iya, para pelanggan sejak kemarin membahas tentang hal itu. Aku tak sengaja mendengarnya, katanya sih ada banyak sekali pasukan yang berkumpul di kerajaan Bagdist. Dan rumornya mereka akan menyerang kerajaan ini, aku tak tau itu benar atau tidak tapi mudah-mudahan saja itu hanya rumor belaka.”


“Begitu. Ari, apa ada masalah?”


“Tidak ada.” Aku tak menyangka jika berita itu sudah tersebar. “Ngomong-ngomong, darimana asal berita itu?”


“Kebanyakan sih dari para pedangan keliling yang mampir kesini.”


“Pedangang keliling, ya.” Aku tak terkejut jika hal itu memang benar terjadi, selain itu para pedagang memiliki koneksi yang sangat baik dalam hal mencari informasi.


“Rui, ada pelanggan lain cepat layani mereka.” (???)


“Baik. Putri, aku pergi dulu.”


“Ya.” Rui pergi.


Beberapa menit setelah itu, kami menikmati minumannya, meskipun begitu aku hanya pesan air putih saja. “Haaaa.”


“Ari, kau sudah tau tentang hal ini’kan.” Risa menatapku dengan tatapan serius.


“Ya, apa raja juga sudah tau tentang hal ini?”


“Raja masih belum tau, hanya ada beberapa orang saja yang tau tentang hal ini. Tapi, apa itu benar?”


“Begitu.”


“Risa-oneesama, kau tak penasaran kenapa aku berkata seperti itu?”


“Kau memiliki alasan, dan sudah pasti itu adalah pilihan yang terbaik yang sudah dipikirkan olehmu. Aku tak akan bertanya apapun tentang hal itu.”


“Begitu. Haaaa, jika saja dia juga bisa memahami hal seperti itu, pasti ini akan jadi lebih mudah.”


“Kau membicarakan tentang Iona?”


“Iya, dia melarangku untuk terjun langsung kemedan perang.”


“Aku rasa dia khawatir denganmu.”


“Meskipun begitu kerajaan ini sedang dalam bahaya, keegoisan seseorang mungkin akan berdampak besar pada kelangsungan kerajaan ini.”


“Kau itu. Begini, sebenarnya aku tak ingin menceritakan ini padamu, tapi. Kau tau apa yang terjadi saat kau terluka saat sedang pergi ke kerajaan Victoria?”


“Huh? Ada apa?”


“Iona sangat mencemaskanmu, dia bahkan pergi ke seluruh toko obat dan memanggil dokter terbaik untuk menyembuhkanmu. Tubuhnya yang lemah itu rela melakukan hal seperti itu untukmu.”


Mendengar hal itu aku hanya terdiam.


“Lalu saat kau mengambil penyakit Iona, disaat itu dia sudah sangat putus asa. Para dokter dan bahkan obat terbaikpun tak dapat menyembuhkanmu, dia terlihat begitu putus asa. Meskipun begitu dia tak putus asa dan tetap mencari cara untuk menyembuhkanmu, kau tak pernah memperdulikan dirimu tapi kau ingin melihat Iona bahagia, sedangkan Iona tak ingin melihat dirimu terluka meskipun itu untuk dirinya. Aku bisa membayangkannya, rasa sakit saat melihat orang yang kita sayangi menderita.”


“Orang yang kita sayangi menderita, ya.” Sedari awal aku memang tak menyadarinya, karena sejak aku lahir aku tak mendapatkan hal itu. Kedua orang tuaku membenci kelahiranku, dan membenci keberadaanku oleh karena itu aku tak bisa menyadarinya. Pemikiranku yang terbuka membuatku tak bisa menyadarinya, aku hanya peduli pada seseorang dan tidak mempedulikan apa yang terjadi pada diriku sendiri. Seseorang yang tak bisa mengerti apa arti kasih sayang seperti itu, sangat sulit untuk memahami hal itu.


Meskipun begitu, didunia ini aku sedikit belajar tentang hal itu. Dari kehidupan Iona, memahami apa itu kasih sayang.


“Pikirkanlah perasaannya, dia selalu ditolong olehmu tapi dia sama sekali tak pernah membantumu. Dia mencoba untuk merubah diri agar bisa berguna bagimu, dimulai dari langkah kecil sebagai Round. Dia ingin terlihat bahwa dia juga bisa diandalkan olehmu, kau tau sebenarnya Iona juga sangat ingin kau bergantung padanya, tapi karena kau bisa menyelesaikan semua masalah itu sendiri itu terlihat seperti Iona yang sangat bergantung padamu, karena alasan itu dia ingin berubah menjadi seseorang yang bisa berguna untukmu. Sekarang aku akan bertanya, apa kau menyadari hal itu?”


Aku diam dan tak merespon, tapi ada sesuatu yang ingin aku katakan. “Aku tak menyangka kalau Iona akan berbuat sejauh itu.”


“Itu sudah jelas, karena dia sangat mencintaimu. Jadi dia melakukan semua itu agar suatu saat kau bisa bergantung padanya.”


Dari pembicaraan ini membuat pikiranku semakin terbuka tentang Iona. Entah kenapa disaat seperti ini aku seperti sedang menyalahkan diriku sendiri yang tak menyadari hal itu. ‘Seorang yang cerdas sepertiku sepertinya memang sangat buruk dalam hal percintaan seperti ini.’ Terlalu banyak yang aku pikirkan sampai aku tak bisa memikirkan hal sepele seperti itu. “Jika saja aku bisa menyadarinya lebih cepat, mungkin dia tidak akan berbuat sejauh ini.”


Setelah cukup lama.


“Bagaimana jika kita pulang.” (Risa)


“Baik.” Kami kembali.


Di tengah perjalanan, aku mampir ke toko obat untuk membeli sesuatu dan setelah itu kami berpisah. Aku kembali ke markas dengan tujuan untuk mengambil sesuatu dan Risa kembali ke istana.


Cukup lama setelah itu.


Di istana.


Di ruang laboratorium miliki Risa.


“Aku tak tau kalau ada tempat seperti ini di dalam istana?”


“Aku yang membuatnya, sebenarnya ini hanya untuk penelitian sihir. Jadi tak banyak orang yang tau tempat ini, atau bahkan hanya kau saja yang tau dengan adanya tempat ini.”


“Begitu.”

__ADS_1


“Lalu, apa yang kau bawa itu?”


“Ahh, ini.” Aku mengeluarkannya, sniper yang dibungkus dengan kain.


“Apa itu?”


“Hmmm, sebuah senapan. Bisa dibilang seperti itu.”


“Lalu, apa yang ingin kau lakukan dengan benda itu?”


Aku kemudian menjelaskannya, kekurangan yang dibutuhkan untuk menyempurnakan senapan ini.


“Begitu, jadi itu sebabnya kau bertanya soal sihir angin tadi.”


“Iya, apa bisa?”


“Mengaplikasikan ke dalam suatu benda, aku belum pernah mencobanya.”


“Begitu, ya.” Risa berkata seperti itu, itu berarti ini hanya akan menjadi sebuah pajangan saja tanpa bisa digunakan.


“J-jangan murung seperti itu, aku akan mencobanya. Jadi jangan murung lagi, oke.”


“Benarkah?!”


“Iya. Lalu, bisa beritahu aku cara kerja dari benda ini? Dengan begitu mungkin aku bisa sedikit membayangkan hal apa yang harus dilakukan.”


“Baik.”


Aku kemudian menjelaskannya, secara detail dan terperinci tanpa terlewat satupun.


“Hmmm, mekanismenya cukup rumit. Tapi tenang saja, aku akan mencoba yang terbaik.”


“Terimakasih Risa-oneesama.”


“(Tersenyum) Jika dilihat baik-baik kau dan Iona ternyata memiliki kemiripan, ya.”


“Huh?”


“Tidak, lupakan saja. Baiklah, waktunya untuk bekerja. Ngomong-ngomong, senjata ini berat juga.”


“Bahannya terbuat dari logam dan campuran baja.” Didunia ini tak ada bahan mentah plastik dan bahan lainnya jadi aku menggunakan itu, dan itu juga yang membuat prosesnya memakan waktu yang tidak sebentar.


“Sihir angin, ya. Seberapa kuat yang kau inginkan?”


“Sekuat mungkin.”


“Kalau begitu, aku akan memasang anti sihir dulu disenjata ini.”


“Anti sihir?”


“Iya, karena ini adalah benda, jadi benda ini tidak akan bisa menampung sihir yang kuat. Jika dipaksakan, tanpa anti sihir mungkin saja benda ini akan rusak dan hancur. Selain itu jika terlalu kuat mungkin juga akan memberikan dampak negative pada penggunanya.”


“B-begitu.” Aku tak menyangka akan jadi seberbahaya itu. “Kalau begitu, tolong.”


“Baik.”


Setelah memakan waktu yang cukup lama.


“Haaaa, akhinya selesai juga.”


“Benarkah?”


“Iya, kau bisa mencobanya.”


“Ringan.” Saat aku memengangnya, dan beratnya tidak seberat sebelumnya, ini jauh lebih ringan.


“Aku juga menambahkan sihir untuk meringankannya, jadi ini bisa kau gunakan dengan nyaman sekarang.”


“Terimakasih banyak Risa-oneesama, ini sangat membantu.”


“Kalau begitu, coba gunakan. Aku juga penasaran dengan cara kerjanya, meskipun kau sudah menjelaskannya tapi aku masih penasaran.”


“Baik.” Karena ini hanya percobaan, aku tak bisa melakukan banyak hal dan lagipula pelurunya juga belum siap.


Aku menarik pelatuknya.


“Tidak terjadi apa-apa? Ari, apa ada masalah?”


Pelatuknya tidak bisa ditarik. “Benar juga.” Aku pelupakan penahannya. Aku melepaskannya, dan kembali menarik pelatuknya. Dan saat aku melakukan hal itu.


Angin yang sangat kencang tertembak keluar dari senapan ini. ‘Ini berlebihan.’ Aku tak meyangka akan jadi seperti ini, dan yang lebih penting suara anginnya cukup kencang terdengar seperti suara ledakan.


“Hebat.”


“Risa-oneesama, bisa kau atur suaranya anginya? Suaranya terlalu keras, itu akan sangat menggangu.”


“Bisa. Tunggu sebentar.”


Beberapa menit setelah itu.


“Sudah, kau bisa mencobanya lagi.”


“Baik.” Aku mencobanya, dan hal seperti sebelumnya terjadi tapi sekarang tidak ada suara yang keluar.


“Bagaimana? Apa sudah cocok?”


“Ini sempurna, terimakasih sudah membantu Risa-oneesama.”


“Tidak masalah, jika kau butuh bantuan lagi katakan saja. Aku siap membantu, oh ya jangan lupa janjimu tadi. Kau harus membantuku juga.”


“Baik.” Dari siang hingga sore hari aku habiskan untuk membantu Risa mengerjakan tugasnya, ya karena ini sudah termasuk perjanjian aku harus melakukannya.


Malam hari.


Ruang komandan.


“Ari, aku sudah menyiapkan pesananmu.” (Lucy)


“Begitu, terimakasih. Sisanya adalah membentuknya menjadi peluru khusus.”


“Ari, yang ada di meja itu apa?” (Iona)


“Ini senapan mesin, ya karena ada sedikit perubahan, bisa dibilang ini adalah senapan sihir.” Karena tenaga pendorongnya adalah sihir, aku menyebutnya seperti itu.


“Permisi wakil komandan, pesanan lain anda sudah sampai.” (Famus)


“Sudah sampai, cepat sekali.”


“Mereka bilang karena modelnya sangat mudah dari sebelumnya, pengerjaannyapun jadi lebih cepat. Meskipun jumlahnya ada cukup banyak tapi mereka sanggup membuatnya dalam waktu singkat.” Famus menaruh pesananku diatas meja dan setelah itu pergi.


50 lusin butir peluru yang siap pakai, semuanya sudah siap sekarang. Aku ingin bilang seperti itu, tapi karena tenaga pendorongnya menggunakan sihir, bubuk mesiu yang ada pada peluru ini tidak akan terbakar. Aku butuh pemicu lain untuk membuatnya terbakar. Sebenarnya tidak juga sih, karena tenaganya sihir tidak perlu ada pembakaran, serta itu juga tidak menimbulkan suara bising layaknya senapan mesin biasa. Karena aku sudah mencobanya tadi.

__ADS_1


“Dengan begini, semua persiapannya sudah selesai.” Aku sudah siap.


__ADS_2