
Esok hari dipagi yang cerah, di perpustakaan.
“Ari, buku ini mau ditaruh dimana?”
“Ahh, biar aku saja yang taruh.”
“Baiklah, oh ya. Aku akan membuat teh apa kau mau?”
“Ya, tolong.”
“Baiklah, pangeran bagaimana denganmu?”
“Jika tidak merepotkan.”
“Baiklah.” Iona pergi.
“Hubunganmu berjalan lancar, padahal kemarin kau dalam masalah.”
“Itu benar, padahal kemarin putri terlihat sangat kesal, lo. Wakil komandan , apa yang sebenarnya kau katakan pada putri sampai membuatnya seperti itu?”
“Bukan apa-apa, hanya mengutarakan keegoisanku saja.”
“Heeee, aku mengerti.” (Lucy)
“Apa yang kau mengerti.”
“Lucy, apa yang kau mengerti?” (Ria)
“Ya, aku juga mungkin akan berkata seperti itu jika dalam keadaan lain. Tapi karena keinginanku mengalahkan hal itu.”
“Ehh, kenapa kau hanya bilang seperti itu. Ayo katakan, aku penasaran.”
“Ari, boleh aku katakan?”
“Jika itu memang benar, silahkan saja.”
“Kalau begitu, yang dikatakan oleh Ari adalah…” Dia mengatakannya, semua yang sudah aku katakan pada Iona kemarin.
“S-sialan kau!!”
“Hahaha, ternyata benar.”
“Wah, aku tak menyangka wakil komandan orang yang seperti itu.”
“Hey, berhenti melihatku seperti itu. Mau bagaimana lagi, aku tak ingin orang lain melihatnya seperti itu.”
“Kau memonopoli putri untuk dirimu sendiri, sungguh egois.”
“Dia istriku, jadi tidak masalah.”
“Iya iya, aku mengerti. Jika keadaanku tidak seperti kemarin mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama.”
“Eh, kau juga?”
“Tentu saja, mana mungkin aku rela membiarkan orang lain melihat tubuhmu meskipun hanya sedikit. Sampai matipun aku tidak akan membiarkan hal itu.”
“Heeee, kalimat pamungkasmu keluar. Lihat, dia sampai malu seperti itu.”
“A-aku ingin membantu putri.” Ria pergi.
“Haaa, dia malu dengan apa yang kay katakan. Dia pergi. Sepertinya dia masih belum siap dengan ungkapan mesum yang kau ucapkan.”
“Siapa yang bilang ungkapanku itu mesum. Aku mengucapkannya dengan penuh cinta.”
“Iya iya, aku mengerti.”
Cukup lama setelah itu.
“Haaa, pagi hari minum teh memang terbaik.”
“Oh ya Ari, kemarin kau pergi kemana?” (Lucy)
“Huh?”
“Benar juga, kemarin saat kau pergi dari kafe itu kau kemana?” (Iona)
“Ahhh, aku menemui seseorang kemarin malam.”
“Seseorang?”
“Lucy, Iona, kalian tau’kan tentang kisah tentang mahluk legendaris.”
“Mahluk legendaris?” (Ria)
“Ria, kau belum membacanya? Padahal aku sudah memberitahumu, lo.” (Lucy)
“Aku membacanya, hanya saja aku sedikit bingung dengan ceritanya.”
“Ya, jika kau tidak mengerti tidak masalah. Aku berbicara mengenai seseorang menenai mahluk itu.”
“Lalu, informasi apa yang kau dapatkan?”
“Nama mahluk legendaris itu adalah Leiava, mahluk itu muncul pertama kali 5000 tahun yang lalu.” Aku menceritakan semuanya apa yang aku dengar dari Homura pada mereka.
Setelah selesai menjelaskan.
“B-bukankah itu sangat mustahil untuk dikalahkan.” (Iona)
“Ya, tapi itu tidak mustahil.”
“Karena serangan pahlawan pertama ada bekas luka yang dalam ditubuh Leiava, meskipun begitu tempat luka itu tidak ditemukan.”
“Oleh karena itu, jika luka itu berhasil ditemukan maka kemenangan bisa didapatkan. Tapi sebelum itu, sebuah aliansi yang kuat dibutuhkan.”
“Jadi kau sudah membulatkan tekatmu.”
“Iya, musuh yang sebenarnya harus kita lawan bukan mereka para iblis, tapi melainkan Leiava. Oleh karena itu, apapun yang terjadi aku harus membuat aliansi dengan para iblis dan mengubah arah perang ini menjadi penyelamatan dunia dari serangan Leiava, bukan para iblis.”
“Apa kau bisa melakukannya?”
“Hah, jangan meremehkanku. Aku akan melakukan segala cara agar membuatnya berhasil, lihat dan nantikan.”
“Iya iya, aku menantikannya.”
“Haaa, aku akan pergi dulu.”
“Aku ikut.” (Iona)
“Baiklah. Lucy, jika ada apa-apa kabari aku.”
“Ahh, iya. Kebetulan juga aku ingin kembali ke Thorwn karena ada yang ingin aku lakukan. Ria, ayo.”
“Baik.”
“Hmmm, jadi sisanya hanya ada mereka ber-3, ya.”
“Mereka ber-3 sudah pulang, lo.”
“Eh? Benarkah?”
“Kau sudah mengatur lokasi kunci mereka untuk sampai di kerajaan Guil’kan saat digunakan.”
“Begitu, ya. Aku baru ingat, tapi kenapa mereka pulang?”
“Ya, kita hanya akan diam disini selama beberapa hari kedepan. Jadi mereka memilih untuk kembali, selain itu sudah cukup lama mereka tidak pulang jadi mungkin saja mereka merindukan orang tua mereka.”
“Hmmm, benar juga.”
“Ya, bisa dibilang ini juga sebagai liburan untuk mereka.”
“Iya. Kalau begitu kami pergi. Sampaikan salamku pada para ketua regu dan yang lain.”
“Ya.”
Aku langsung berpindah ke tempat raja naga Homura.
“Wah, bocah kau datang lagi. Ada apa? Dan kau juga mengajak istrimu.” Homura masih dalam bentuk naganya.
“Ya, dia bilang ingin ikut jadi aku mengajaknya.”
“Begitu. Ahhh, sebentar. Aku ingin menyelesaikan pekerjaanku dulu sebentar, kalian masuklah kedalam.”
“Ya.”
Didalam.
“Tempatnya bagus.”
“Ya, itulah yang aku rasakan saat pertama kali masuk kesini.”
Beberapa menit setelah itu.
“Maaf membuat kalian menunggu.” Homura datang dengan wujud manusianya. “Haaaa, jadi apa yang ingin kalian berdua bicarakan?”
“Bukan kami, tapi hanya aku. Aku ingin bertanya, apa mungkin pengalihan kondisi perang diubah arahnya?”
“Hmmm, kau berniat untuk memindahkan target yang harusnya diserang, seperti itu.”
“Ya.”
“Itu mungkin saja, tapi dengan beberapa kondisi.”
“Beberapa kondisi?”
“Pertama, lawan yang menjadi pengalihan lebih kuat daripada lawan yang dialihkan. Lalu semua pihak aliansi menyetujuinya dan yang paling penting, aliansi yang dialihkan bisa menjadi bagian dari aliansi penyerangan.”
“Untuk kondisi pertama mungkin sudah terpenuhi, raja iblis bukan apa-apa jika melawan Leiava, anggap saja itu sebagai point pertama. Tapi masih ada 2 point yang tersisa.”
“Persetujuan dari pihak aliansi, ya.”
“Jika mereka setuju, maka hanya ada 1 point yang tersisa, jika semua kondisinya bisa terpenuhi pengalihan perang bisa dilakukan.”
“Jadi mau tak mau aku harus ke benua Drawf dan juga benua HalfHuman, ya untuk meminta persetujuan.”
“Ini hanya saran dariku, sebelum melakukan itu sebaiknya kau membuat aliansi dengan pihak raja iblis terlebih dahulu. Aku yakin jika kau menjelaskannya dengan benar dia akan mengerti, selain itu raja iblis sebenarnya bukan orang yang jahat. Dia hanya bertindak jahat demi memenuhi perannya sebagai raja iblis.”
“Ya, aku juga mengerti hal itu.”
“Tunggu, anda seperti sudah mengenal raja iblis?” (Iona)
“Tentu, selain itu dia adalah muridku dulu. Sudah 700 tahun yang lalu sejak pertama kali dia belajar dariku. Aku mengajarinya banyak hal, tapi karena perannya dia jadi seperti itu.”
“Eh, raja iblis adalah muridmu?”
“Iya, untuk apa kalian berdua terkejut? Aku ini naga yang sudah hidup lebih dari 5000 tahun, pengalamanku jauh lebih banyak diabandingkan dengan mahluk hidup yang lain. Jangan meremehkan gelarku sebagai seorang raja naga.”
“Eh?!! Raja naga?!”
“Eh? Suamimu belum mengatakannya?”
“Ari, kau sudah tau? Kenapa kau tidak mengatakannya?”
“Ahahaha, aku lupa.”
“Raja, naga salah satu mahluk yang dianggap suci didunia ini.”
“Hahaha, nona pujianmu itu berlebihan. Sekarang aku hanyalah seorang naga tua yang suka bersantai dan menghabiskan waktu dengan hal yang tak berguna. Aku juga sudah lama melupakan julukan itu.”
“Oh ya, aku dengar jika banyak naga terbang dilangit itu berarti ritualnya sudah dimulai, ya.”
“Huh? Ritual? Ritual apa?”
“Ari, kau tidak membacanya, ya. Padahal sudah ada dibuku.”
“Eh? Buku yang mana?”
“Buku yang pernah aku berikan padamu sebelumnya.”
“Eh? Kau memberiku buku?”
“Iya, jangan-jangan kau lupa membacanya.”
“Ya, kemungkinan.” Aku tak mengingatnya, kapan dan dimana.
“Ritual yang aku maksud itu adalah ritual dimana para naga jantan dan betina terbang untuk mencari pasangan.”
__ADS_1
“Hmmm, begitu.”
“Sebelumnya aku belum menyadarinya, tapi saat aku mengingatnya alasan kenapa banyak naga yang terbang disaat yang sama adalah karena hal ini.”
“Wah nona, ternyata anda juga tau hal ini.”
“Ya, aku juga membaca buku tentang ras naga. Meskipun begitu aku tak tau kalau akan ada festival yang dilaksanakan saat ritual itu dimulai.”
“Hahaha, tahun ini cukup banyak para naga muda yang mendapatkan pasangan.”
“Eh, jangan-jangan saat aku menemui kau kemarin.”
“Ya, aku sedang mengawasi mereka semua dari bawah sembari melihat apa kastil pahlawan sudah sampai atau tidak.”
“Begitu.”
“Ritual ini merupakan hal yang saktral dan sangat dinantikan oleh para naga remaja, mereka akan menunjukkan kemampuan mereka untuk memikat pujaan hati mereka. Itu terdengar sangat romantis, mereka berjuang demi apa yang ingin mereka dapatkan.”
“Hahaha, itu benar.”
“Oh ya, raja naga dimana istrimu?”
“Ahh, aku tidak memiliki istri. Karena usiaku yang sudah sangat tua aku sudah kehilangan hasrat dengan hal itu, meskipun begitu aku masih menerima orang yang ingin berbincang ataupun berbicara banyak hal denganku dengan tangan terbuka. Selain itu aku sangat menghargai orang yang ingin mengetahu sesuatu.”
“Begitu.”
“Pengalaman adalah senjata yang paling ampuh dalam perang, dan pengetahuan adalah senjata untuk membentuk sebuah kerajaan yang hebat, lalu kebijaksanaan adalah senjata untuk membuat kepemimpinan berjalan dengan sempurna. Aku sudah melakukan hal itu selama 5000 tahun, jadi aku mengetahuinya.”
“Ari, ini tentang Dravin.”
“Benar juga.”
“Raja naga, kami memiliki naga di kerajaan kami yang kami beri nama Dravin.”
“Naga?”
“Sebenarnya beberapa tahun lalu ada beberapa naga yang menyerang kerajaan kami, kami membunuh salah satu dari mereka dan melumpuhkan satunya lalu sisanya kabur.”
“Hmmm, begitu.”
“Lalu yang kami lumpuhkan entah kenapa menjadi jinak pada kami, dan sampai sekarang naga itu selalu membantu kami.”
“Begitu, ya. Itu berarti kalian sudah dianggap sebagai keluarga olehnya.”
“Keluarga?”
“Kalian tau, hanya orang yang dihormati dan memiliki hubungan dengan nagalah yang bisa menaiki naga. Orang lain bisa menaikinya, tapi harus dengan orang yang naga itu anggap sebagai keluarga.”
“Begitu.”
“Lalu, siapa saja yang sudah bisa menaiki naga itu?”
“Aku, suamiku, lalu pangeran Lucy.”
“Ahh, pemuda yang bersujud kemarin di café itu.”
“Ya.”
“Itu sangat jarang sekali terjadi, paling banyak naga hanya akan mengizinkan 2 orang saja yang bisa menaikinya, tapi sampai 3 orang mungkin naga itu sudah termasuk naga yang unik.”
“Naga yang unik?”
“Ya, ada beberapa kemungkinan sih yang bisa terjadi. Naga itu adalah naga yang berbeda dari naga lainnya, atau bisa dibilang naga istimewa. Lalu, naga itu adalah salah satu peliharaan pahlawan.”
“Naga istimewa? Maksudnya apa?”
“Ahhh, naga yang diberi gelar oleh raja naga. Hanya beberapa naga saja yang aku berikan gelar istimewa, jadi kemungkinan itu adalah naga yang aku berikan gelar istimewa, tapi tidak menutut kemungkinan kalau naga itu sebenarnya naga yang dipelihara oleh pahlawan. Hmmm, kalau tidak salah dulu salah satu pahlawan meminta bayi naga untuk dijadikan peliharaan.”
“Eh? Meminta? Apa diberikan?”
“Ya, setelah pertimbangan dan juga beberapa hal lainnya mereka diberikan izin itu. Selain itu pahlawan itu sangat menyukai naga, dia bilang kalau semua naga itu imut dan lucu. Saat mendengarnya aku tertawa sejadi-jadinya. Mahluk yang dikenal sebagai mahluk suci dan juga memiliki wibawa serta perkasa dan juga bijaksana dikatakan imut dan lucu. Sudah jelas itu menjadi hal yang sangat lucu.”
“Eh, memangnya kenapa dengan hal itu? Apa itu aneh?”
“Ya, itu sudah jelas aneh.”
“Tapi, menurutku tidak. Pertama aku lihat Dravin untuk pertama kalinya itu juga menyeramkan, tapi saat aku mengenalnya dia ternyata lucu dan imut. Aku pikir Dravin lebih mirip hewan peliharaan dibandinkan seekor naga.”
“Iona, kau yakin berkata seperti itu?”
“Iya, selain itu Dravin’kan tidak menggigit.”
“Aku penasaran bagaimana pandanganmu saat melihat Dravin.”
“Hahahaha, kau memperlakukan naga sebagai seekor peliharaan. Sudah sangat lama aku tidak merasakan hal seperti ini, ini terasa membuatku muda kembali. Nona, apa kau ingin memelihara seekor naga?”
“Eh, apa boleh? Tapi, aku bingung harus memberinya makan apa nantinya. Selain itu aku tak pernah melihat apa makanan Dravin jadi aku tak tau apa yang dibutuhkan naga untuk makan, dan lagi bayi naga. Lagipula aku pikir memelihara seekor naga akan sangat merepotkan dan juga akan menyusahkan, aku belum terbiasa jika harus merasa sesuatu.”
“Begitu, sangat disayangkan. Lalu, hanya itu yang ingin kalian bicarakan.”
“Jika boleh tanya lagi, aku ingin bertanya tentang raja iblis. Sebenarnya orang seperti apa dia.”
Cukup lama setelah itu.
Kami kembali ke istana langit.
Ruang istirahat.
“Haaaa, tempat ini sekarang hanya milik kita berdua.”
“Tapi, rasanya sepi.”
“Ya, biasanya ada banyak orang disini tapi saat ini dirumah ini hanya ada kita berdua, ini memang terasa sangat sepi.”
“Ari, mau mandi bareng?”
“Hmm, baiklah.” Tidak ada orang lain disini, jadi tidak ada yang akan menggangu.
Di pemandian bawah tanah.
“Haaa, sudah lama sekali aku tak kemari.” Aku berendam dengan tenang dan damai, perasaan santai dan juga rileks aku rasakan saat ini. “Rasanya sangat nyaman.”
“Iya, benar sekali. Ini seperti sebuah tempat rahasia untuk kita berdua, hehe.”
“Huh? Ari, ada apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?”
“Hmmm, kau tambah gemuk, ya?”
“Eh? B-benarkah? M-mungkin saja, lagipula aku banyak makan akhir-akhir ini.”
“Begitu.”
“Kau tidak suka?”
“Tidak juga, lagipula selama itu tidak menggangumu aku tidak akan menghalanginya. Tapi, jika kau sudah merasa tidak nyaman aku akan melarangnya.”
“Begitu. Ari, jika aku jadi gemuk apa kau tetap akan mencintaiku?”
“Haaaa, mau bagaimanapun keadaanmu aku akan tetap mencintaimu.”
“Begitu, kalau begitu mau bagaimanapun keadaanmu aku juga akan selalu mencintaimu.”
Aku mendekat keraha Iona dan mencium keningnya. “Aku akan menitipkan sesuatu yang berharga bagiku padamu.”
“Huh? A-apa?”
“Saat waktunya tiba, kau bisa kembalikan padaku.”
“Eh, apa itu? Apa yang kau berikan padaku?”
“Rahasia. Haaaa, rasanya sangat nyaman disini.”
“Mooo, jangan membuatku penasaran.”
Cukup lama setelah itu, di ruang istirahat.
“Hoaaaam, setelah mandi memang yang paling enak adalah tidur.”
“Ari, aku ingin kembali ke istana sebentar.”
“Huh? Ada apa?”
“Aku ingin membuat laporan pada ayah.”
“Begitu. Oh ya, aku juga ada urusan di markas dan juga ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan raja.”
“Kalau begitu ayo pergi.”
“Ya.”
Diistana.
Malam hari.
“Ari, apa yang ingin kau bicarakan dengan ayah?”
“Hmmm, hanya sesuatu hal kecil. Tapi setelah masalah di markas selesai, kau selesaikan dulu masalahmu aku akan menjemputmu dikamarmu saat sudah selesai.”
“Baik.”
Kami berpisah.
Di markas khusus.
“Wakil komandan.” (Lysia)
“Lysia, Rine, Sofia, bagaimana keadaan disini saat aku dan yang lain tidak ada?”
“Semuanya baik-baik saja tidak ada masalah. Oh ya, bagaimana dengan wakil komandan dan juga putri? Kenapa anda kembali?”
“Ada beberapa hal yang ingin aku lakukan, kalian tak perlu pikirkan.”
“Begitu.”
“Jika kalian lelah kalian bisa ambil cuti dulu, jangan memaksakan diri lagipula ini bukan tugas kalian.”
“Terimakasih atas perhatiannya.”
“Hmmm, apa ada kesulitan saat melakukan tugas?”
“Tidak, selain itu pangeran Lucy selalu membantu kami untuk mengerjakan tugas yang sulit.”
“Begitu. Sepertinya disini baik-baik saja. Aku akan pergi menemui para ketua regu.”
“Baik.”
Tempat pelatihan.
“Wakil komandan, anda sudah kembali.” Grild yan melihatku langsung menghampiriku. “Apa ada masalah?”
“Tidak, aku hanya ingin melihat kalian saja.”
“Begitu.”
“Dimana yang lain?”
“Laren, Famus, dan juga Dirk saat ini sedang berada dikerajaan lain.”
“Huh? Dikerajaan lain? Kenapa?”
“Wakil komandan Lucy memberi perintah untuk melatih pasukan dikerjaan, dia bilang untuk memperkuat kekuatan saat melawan raja iblis.”
“Hmmm, aku ragu kalau mereka akan sanggup melakukan latihan yang diberikan ketua regu.”
“Kalau untuk itu, pangeran Lucy bilang kalau berikan latihan ringan yang bisa membuat harapan hidup menjadi lebih tinggi, selain itu beliau juga berkata kalau pasukan ini adalah senjata utama jika sampai kekuatan ini menyebar maka akan ada hal buruk yang terjadi nantinya.”
“Dia sudah mengetahuinya, ya. Ya aku tidak akan terkejut. Lalu, kenapa kau masih ada disini? Apa kau tidak ikut?”
“Saya bertugas untuk melindungi kerajaan, jika semua ketua regu pergi wakil komandan Lucy bilang kalau kerajaan ini dengan mudah dapat dihancurkan, dan lagi komando terpenting yaitu wakil komandan saat ini sedang tidak berada disini oleh karena itu aku yang ada disini sekarang untuk menjaga kerajaan.”
“Seperti itu, setidaknya aku sudah mengerti.
“Lalu, wakil komandan, kenapa anda kembali? Apa tugas anda sudah selesai?”
“Tidak, masih belum. Aku kembali hanya untuk memeriksa saja.”
__ADS_1
“Seperti itu.”
“Karena keadaan disini baik-baik saja aku tidak perlu khawatir lagi, sepertinya perintah dari Lucy bisa berguna. Oh ya, akan aku beritahu sesuatu.”
“Apa itu?”
“Perintah yang harus kalian priotitaskan adalah Aku, Lucy, setelah itu baru Iona. Saat aku dan Lucy tidak ada, maka perintah Iona adalah mutlak, dan saat aku tidak ada perintah Lucy adalah mutlak.”
“Baik, saya paham. Akan saya sampaikan hal itu pada yang lain.”
“Ya.” Kecerdasan Lucy ada dibawahku sedangkan kecerdasan Iona berada dibawah Lucy, memberikannya tempat terakhir untuknya bukan merupakan hal buruk, itu mencegahnya untuk membuat perintah yang tidak masuk akal. Selama ada orang yang bisa berfikir tenang aku akan memilihnya sebagai pengganti, lalu untuk kasus Iona aku berharap dia bisa belajar dariku dan juga Lucy. Sebisa mungkin aku tak ingin membuatnya melakukan hal yang merepotkan dirinya sendiri, mungkin itu salah satu alasanku memberikan posisi terakhir untuknya.
Istana.
“Ari, kau sudah kembali. Apa urusanmu di markas sudah selesai?” Aku bertemu dengan Iona tepat di pintu masuk ruang tahta.
“Sudah, bagaimana denganmu apa sudah selesai?”
“Iya. Oh ya, ada orang lain di dalam. Aku pikir saat ini bukan waktu yang tepat untuk menemui ayah.”
Aku tersenyum. “Iona, yang ingin aku temui adalah raja bukan mertuaku.”
“Huh?”
Aku masuk kedalam, didalam ada cukup banyak orang dan beberapa orang baru yang belum aku lihat sebelumnya.
‘Perdana mentri baru, ya.’ Itu adalah pemikiran pertamaku saat melihat mereka, perdana mentri dan para petinggi yang lama sudah diganti ya aku harap mereka tidak akan melakukan hal bodoh seperti para petinggi sebelumnya.
Aku langsung menghadap raja, umumnya orang akan memberikan hormat saat melihatnya. Tapi dalam kasusku berbeda, bukan karena aku adalah menantunya melainkan hal yang berbeda.
“Tunjukkan sikap hormatmu saat bertemu dengan raja.”
Raja mengabaikannya. “Ari, ada apa? Kenapa kau menggangu pembicaraan kami?”
“Yang mulia, aku ingin memberikan sesuatu yang penting.”
“Hal penting?”
Aku menjelaskan tentang Leiava meskipun begitu mereka semua yang ada disini terlihat tidak percaya, tapi setelah aku menggabungkan dengan insiden gempa yang sering terjadi dan juga beberapa penjelasan detail lainnya akhirnya mereka bisa menerimannya.
“Mahluk yang hidup dimasa lalu, ya. Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang wahai anakku?” (Raja)
“Pengalihan perang.”
“Pengalihan perang? Aku pernah mendengarnya, tapi tidak ada satu orangpun yang pernah melakukannya.” (???) Tamu yang ada disampingku ikut angkat bicara.
“Ari, bisa kau jelaskan pada yang lain tentang pengalihan perang?”
“Hmmm, intinyasaat perang sudah ditentukan melawan sebuah musuh, tapi jika ada musuh yang lebih kuat dan membahayakan maka sebuah pengalihan perang bisa dilakukan. Aku sudah membicarakan hal itu dengan raja naga.”
“A-apa? Raja naga? Maksudmu raja naga Homura?!” (???)
“Y-ya. Ehhh, siapa kau?” Ia mengetahuinya.
“Aku, aku adalah salah satu utusan dari kerajaan Guil. Namaku Rie.”
“Hmmm, begitu.”
“Lalu, apa kau sudah bertemu dengan raja naga?”
“Ya, aku tak bisa menceritakan lebih detailnya. Tapi yang pasti pengalihan perang harus dilakukan.”
“Kau sudah menemukan caranya?” (Raja)
“Iya, aku sudah mendapatkan petunjuk untuk melakukannya. Aku bisa segera melengkap syarat untuk melakukan pengalihan perang sesegera mungkin.”
“Baiklah, aku akan mengizinkannya.”
“Terimakasih.” Sejujurnya aku tak memerlukan izin, selain itu pergerakan dan juga aliansi yang aku buat ini menggunakan namaku sendiri tak ada sangkut pautnya dengan kerajaan ini. “Ayah, jika terjadi sesuatu padaku. Aku harap ayah bisa menggantikanku untuk merawat Iona.”
“Apa yang kau katakan?”
“Perang kali ini bukan seperti pertempuran biasa, jika melawan para iblis masih ada kesempatan untuk menang. Tapi yang akan menjadi lawan kali ini adalah mahluk yang diutus langsung oleh dewi. Aku pikir akan ada banyak nyawa yang menjadi korban, tidak menutut kemungkinan salah satunya adalah aku. Oleh karena itu aku berpesan seperti itu, ini adalah permintaan menantumu.” Setelah mengatakan itu aku pergi.
Di luar.
“Ari, apa yang kau bicarakan?”
“Hmmm, bukan hal yang penting. Oh ya, mau jalan-jalan sebentar sebelum kembali?”
“Tapi disini sudah malam.”
“Hmmm, benar juga.” Karena perbedaan tempat, waktu disini berjalan berbeda dengan di tempat istana langit berada. Aku memegang tangannya. “Setidaknya, jalan-jalan malam juga tidak masalah.”
Kami berjalan-jalan dimalam hari.
“Hmmm, Iona apa kau punya tempat rekomendasi?”
“Aku? Tidak ada, lagipula kau yang mengajakku aku pikir kau sudah menemukannya.”
“Eh, itu ada Risa-oneesama.”
“Dimana?”
“Itu.” Aku menunjuk ke sebuah café.
“Itu tempat kak Risa biasa bersantai, bagaimana kalau kita pergi kesana juga.”
“Boleh.”
Beberapa saat kemudian.
“Wah, Iona, Ari, apa yang kalian lakukan malam-malam disini?” (Risa)
“Kami berencana untuk sedikit jalan-jalan, dan tidak sengaja melihatmu. Jadi kami datang menemuimu, lagipula sudah cukup lama kami tidak menemuimu.”
“Benar juga.”
“Ahh, putri, Ari, apa yang calon raja dan ratu lakukan disini?” (Rui)
“Aku bukan calon raja, aku hanya seorang pekerja saja.”
“Ehh, siapa?”
“Iona, dia adalah Rui, temannya Risa-oneesama.”
“Begitu, aku Touji Iona, salam kenal. Aku juga bukan seorang putri lagi.”
“Haaaaa.” Aku hanya menghela nafas panjang mendengar ia berkata seperti itu.
“Kau memilih menggunakan nama suamimu?” (Rui)
“Apa itu aneh?”
“Tidak, tapi bukankah itu berarti kau bukan menjadi bagian dari kerajaan lagi.”
“Tidak begitu, karena Iona adalah putri tunggal kerajaan Thorwn, dia tetap menjadi seorang putri setidaknya sampai pewaris kerajaan lahir.” (Risa)
“Begitu. Ahh, kalian berdua ingin pesan apa?”
“Air putih saja.”
“Kalau kau putri?”
“Aku teh hangat.”
“Kalau begitu baik, tunggu sebentar.”
“Ya.” Rui pergi.
“Kalian berdua sudah kembali, apa semuanya berjalan dengan lancar?”
“Iya, kami kembali karena saat ini istana langit sedang mengiri kembali bahan bakarnya.”
“Mengisi kembali bahan bakar?”
“Iya, istana langit berhenti dilembah naga dan tidak akan bergerak selama beberapa hari kedepan, jadi selama itu kami tidak memiliki kesibukan.”
“Ya, meskipun saat bergerakpun kami memang tidak memiliki kesibukan.” (Iona)
“Begitu. Lembah naga, ya.”
Beberapa menit setelah itu.
“Maaf membuat kalian menunggu, pesanan sudah datang.” Rui menaruh pesanan yang kami minta.
“Ari, kau yakin cuma minum air putih?”
“Iya, aku butuh agar tidak dehidrasi dan cairan tubuhku terpenuhi, ini sudah cukup.”
“Begitu. Emmm, ini rasanya enak.”
“Teh yang digunakan adalah teh terbaik untuk orang yang spesial.”
“Terimakasih.”
“Ahh, aku akan pergi masih banyak perkerjaan yang harus dilakukan.”
“Ya.” (Risa) Rui pergi. “Malam yang tenang. Ari, Iona, kalian sedang berkencan?”
“Y-ya, seperti itulah. Mungkin bisa dibilang ingin berkeliling sebelum kembali, benar’kan Ari.”
“Iya.”
“Begitu… Selain itu, akhir-akhir ini sering sekali terjadi gempa.”
“Risa-oneesama, seberapa sering freksuensi munculnya gempa?”
“Eh, frek, apa?”
“Maksud Ari, seberapa sering gempa terjadi dan seberapa besar dampaknya, seperti itu. Ari, jangan menggunakan kata-kata yang sulit dipahami.”
“Kau memahaminya.”
“Aku selalu bersamamu, jadi aku sudah sering sekali mendengar ungkapan aneh yang kau sebutkan.”
“Kalau itu, kadang dalam 1 hari ada 2 sampai 3 kali gempa terjadi. Dan kerusakan yang dialami juga tidak begitu besar, paling tidak bagunan yang ada tidak ada satupun yang roboh akibat gempa yang terjadi.”
“2 sampai 3 kali perhari, ya.”
“Iya, tapi kadang juga gempanya tidak ada. Jika terlalu sering gempa, di beberapa hari berikutnya tidak akan ada gempa lagi, tapi setelah beberapa hari terlewat gempa akan muncul lagi.”
“Hmmm, begitu. Sepertinya waktunya sudah dekat.”
“Ari, apa kau mengetahui sesuatu?”
“Risa-oneesama, apa kau tau tentang cerita mahluk legendaris yang pernah meluluhlantahkan dunia ini pada zaman dahulu?”
“Itu kisah dongeng yang pernah aku baca, meskipun begitu ceritanya tidak begitu aku pahami. Selain itu ceritanya terlalu singkat dan juga sulit dimengerti terutama dalam penggunaan bahasanya.”
“Begitu, jadi aku bisa menganggapmu tau tentang mahluk legendaris itu. Sebenarnya, kemungkinan besar gempa yang sering terjadi ini akibat dari mahluk itu.”
“Eh, yang benar saja? Sebesar apa mahluk itu sampai bisa menyebabkan bencana seperti ini?”
“Jika aku menjelaskan besarnya, dia sangat besar, dan tinggi. Mahluk itu bernama Leiava.” Saat aku berkata seperti itu Risa terlihat begitu terkejut.
“Leiava? Apa aku tidak salah dengar?”
“Iya, kau tidak salah denganm, namanya adalah Leiava.”
“Kak Risa, apa kau mengetahui sesuatu?”
“Monster yang memiliki kekuatan besar, dan juga bisamenghancurkan sebuah kerajaan hanya dengan sekali langkahan saja.”
“Ya, aku bisa membayangkan hal itu. Tapi, kekuatan yang besar?”
“Iya, konon katanya pada zaman dahulu tepatnya 5000 tahun yang lalu. Leiava pernah dipuja sebagai salah satu mahluk yang diutus langsung oleh dewa dan dianggap sebagai mahluk agung. Karena hal itu Leiava memiliki kekuatan yang sangat amat besar yang mampu melindungi siapapun, mengabulkan permintaan apapun, dan juga bisa menyampaikan pesan secara langsung pada dewa.”
“Begitu.” Ini adalah sesuatu yang baru aku ketahui, raja naga tidak menjelaskan hal ini. Tapi setidaknya apa yang disampaikan oleh Risa dan juga raja naga Homura memiliki kesamaan. “Bisa beritahu apa saja kekuatan yang dimiliki oleh Leiava?”
“Tidak ada yang mengetahuinya, kebanyakan yang diceritakan bahwa Leiava bisa menggandakan diri selain kemampuan itu tidak ada yang tau kemampuan apa lagi yang dimiliki oleh mahluk agung itu.”
“Begitu, ya.” Penjelasan tentang kekuatan Leiava sangat sedikit, dengan hal seperti itu jika tidak memikirkan rencana yang matang maka ada kemungkinan besar pertempuran melawan Leiava akan menjadi sangat-sangat sulit dibandingkan melawan raja iblis.
Tak ada penjelasan yang lebih dari ini mengenai Leiava, bisa dibilang kalau saat ini aku sedang mengalami yang namanya kekurangan informasi. ‘Ini merepotkan.’ Semakin sedikit informasi yang aku dapat aku tak bisa membayangkan keadaan medan perang nantinya, dan yang paling penting aku tak bisa memperhitungkan berapa banyak korban yang akan jatuh. Ini adalah hal yang paling menyulitkan, melawan musuh yang mustahil dikalahkan dengan hanya bermodalkan sedikit informasi.
__ADS_1