
Esok harinya.
Pagi hari yang cerah.
“Baiklah, semuanya berangkat!!”
“YAAA!!!” 1000 pasukan bersama dengan para assassin dan juga ketua regu berangkat menuju ke kerajaan Guil.
“Kalau begitu, aku akan pegi juga.”
“Ari, tunggu.” (Lucy)
“Lucy, ada apa?”
“Aku juga ingin ikut, ada sesuatu yang ingin aku periksa disana.”
“Eh? K-kenapa tiba-tiba. Siapa yang akan menjaga markas jika kau tidak ada?”
“Biar aku yang menjaganya, pangeran juga sudah memberitahuku hal penting yang harus dilakukan.” (Ria)
“Bagaimana jika kau tidak tau?”
“Emmm, dia bilang untuk mengabaikannya. Mengerjakan hal yang bisa dilakukan terlebih dahulu adalah hal yang bagus.”
“Apa yang kau ajarkan padanya.”
“Sudahlah, semuanya akan baik-baik saja. Lagipula ada teman-temannya yang bisa membantunya jika dia kesulitan, jadi ajak aku.” (Lucy)
“Kau serius?!”
“Tentu saja. Cepat.”
“Haaaa, baiklah.”
“Ria, jaga tempat ini selama kami pergi, ya.” (Lucy)
“Baik. Serahkan saja semuanya padaku.” (Ria)
“Kalau begitu, ayo pergi.”
“Iya iya.”
---
Kami sudah sampai, menggunakan sihir teleportasi.
“Hooo, sudah sampai, ya. Tak kusangka akan secepat ini, sihir teleportasi memang praktis. Lalu, ada dimana kita?”
“Didepan akademi sihir.”
“Akademi sihir, ya. Sudah lama aku tidak datang kemari.”
“Ari, kau datang lagi, ada apa?” (Iona) Iona yang melihat kami langsung menghampiri.
“Lagi?” (Lucy)
“Ahh, pangeran Lucy juga ikut, tidak biasanya kau mengajak orang lain kemari.”
“Y-ya, dia bilang ada yang ingin dia lakukan disini jadi aku membawanya.”
“Tunggu sebentar, putri Iona, jadi Ari sering datang kemari?”
“Iya, paling tidak seminggu 1 sampai 2 kali dia datang kemari. Aku sudah pernah bilang kalau dia tidak perlu datang kemari terlalu sering, aku juga sudah mulai beradaptasi dengan akademi ini.”
“Mau bagaimanapun aku tetap khawatir.”
“Hoooo, lalu kau datang kemari tanpa sepengetahuanku. Terlebih lagi, kau mengeluh karena tidak bisa bertemu dengannya. Jadi itu semua hanyalah sebuah rekayasa.”
“Eh? Aku pikir dia sudah memberitahukan hal ini padamu, jadi aku diam saja.” (Iona)
“M-mau bagaimana lagi…”
“Mau bagaimana apanya, aku sudah bilang untuk tidak datang kemari tapi kau masih saja memaksa!!” (Lucy)
“T-tapi…”
“Haaaa, sudahlah. Aku sudah tidak peduli lagi, terserah kau saja jika kau memang tidak mau diberitau.”
“Pangeran Lucy, apa yang kau cari disini?”
“Aku ingin menemui seseorang, oh ya sebelum itu aku ingin mengonfirmasi sesuatu. Apa surat yang kau tulis itu benar?”
“Iya, aku juga sudah mengatakannya pada Ari beberapa hari yang lalu. Tapi dia menyuruh untuk menulis surat saja untuk dikirimkan padamu biar lebih sopan, dan juga saat ingin mengirimnya dia menambahkan sesuatu, aku tak tau apa. Setelah itu dia langsung mengirimkannya.”
“Jadi itu tulisanmu sendiri.”
“B-bicara apa kau, aku sama sekali tidak mengerti.”
“Haaaa, aku benar-benar tertipu. Sudahlah.”
“Apa kalian akan tinggal disini?”
“Iya, aku akan menemui seseorang, kami juga akan menetap disini selama beberapa hari untuk melakukan negosiasi.”
“Benarkah?”
“Iya, kalau begitu aku pergi. Oh ya, Ari kita akan berpisah saat waktunya sudah tiba aku akan menunggu ditempat yang sudah direncanakan.”
“Baik, hati-hati dijalan.”
“Senyumanmu mencurigakan, tapi sudahlah. Aku berharap banyak padamu, putri sampai nanti.”
“Ya, sampai nanti.”
“Putri!” Salah satu temannya menghampiri Iona. “Siapa dia, dan orang yang tadi itu siapa?”
“Ahhh, dia adalah orang yang aku ceritakan pada kalian, dan orang yang tadi itu adalah pangeran Lucy dari kerajaan Groem.”
“Wah, jadi ini orang yang sudah memenangkan hati putri, ya. Oh ya, perkenalkan namaku Naila. Meskipun begitu luar biasa, kau sangat tampan daripada apa yang putri ceritakan.”
“T-terimakasih, aku Ari. Oh ya, Iona aku ingin pergi dulu.”
“Kau sudah mau pergi?” (Iona)
“Hari ini aku memiliki urusan penting, ada orang yang ingin aku temui.”
“Orang, apa seorang gadis? Wah, apa jangan-jangan kau ingin menyelingkuhi putri.” (Naila)
“Mana mungkin, aku hanya ingin bertemu dengan raja dan menanyai beberapa hal.”
“Raja? Kau kenal dengan raja?”
“Tidak, tapi sepertinya dia memiliki informasi yang aku butuhkan. Kalau begitu, sampai jumpa.”
\=\=\=
Ari menghilang.
“Wah, sihir apa itu kenapa dia bisa menghilang?”
“Sihir teleportasi.”
“Putri, kau mendapatkan pria yang hebat, aku sangat iri denganmu. Jika saja tunanganku sehebat dan sekeren itu, aku pasti akan bahagia.”
“Kau bisa saja.”
“Putri, apa kau tau apa yang dia akan bahas dengan raja?”
“Mungkin tentang pengumunan waktu itu.”
“Maksudmu tentang penyerangan yang akan dilakukan yang mulia.”
“Iya.”
“Memangnya apa yang salah dengan hal itu? Bukankah itu bukan urusan orang luar?”
“Itu memang benar, tapi saat aku bilang padanya kalau para murid akademi akan turun kemedan perang, dia terlihat sangat marah.”
“Ahhhh, aku tau alasannya. Mungkin saja dia tidak ingin melihatmu terluka, atau mungkin saja dia tidak ingin membuatmu terlibat dalam hal-hal semacam itu.”
“Begitu.”
“Aku sudah merasakannya sendiri, tunanganku berusaha sangat keras agar aku dapat masuk ke akademi sihir ini. Tapi, jika mendengar seluruh murid akademi kerajaan ini harus ikut dalam pertempuran, aku yakin dia juga akan marah dan pasti akan menyuruhku untuk berhenti. Tapi, aku tak ingin membuatnya khawatir.”
__ADS_1
“Kau tidak memberitahunya?”
“Tidak, mungkin ini sedikit egois tapi aku ingin mencoba melangkah lebih jauh dari apa yang aku bisa lakukan sekarang.”
“Tapi, dia bisa saja khawatir denganmu.”
“Aku tau itu, tapi aku juga tak ingin pergi dari sini. Dia sudah berusaha keras agar aku bisa masuk ke akademi sihir ini, jadi aku ingin berjuang untuknya juga.”
“Kau gadis yang baik, ya.”
“T-tidak juga, aku hanyalah gadis yang egois.”
“Naila, apa boleh kalau aku bersikap egois?”
“Tidak masalah, seorang wanita tidak akan jadi masalah jika bersikap egois. Selain itu, jika kau egois demi hal yang kau sayangi lebih baik kau menjadi gadis yang egois daripada harus kehilangan hal itu.”
“Begitu, terimakasih atas sarannya.”
“Tidak masalah. Ahhh, aku lupa bukankah hari ini kita ada pelajaran tambahan. Putri, ayo.”
“Iya.”
\=\=\=
“Jadi, semuanya ada lebih dari 500 penyihir yang ada dibenteng itu?”
“Iya, jika dihitung bersama dengan prajurit yang ada disana semuanya berjumlah lebih dari 50 ribu pasukan.” (Raja)
“50 ribu, ya.” Saat ini aku sedang mendengarkan penjelasan dari raja mengenai informasi penting yang bisa aku dapatkan.
“Informasi itu sudah cukup bukan?”
“Sejujurnya masih kurang, tapi karena kalian sudah berbaik hati ingin membaginya mau bagaimana lagi.”
“T-tunggu sebentar, kenapa kau ingin melakukan hal itu?” (perdana mentri)
“Kenapa aku ingin melakukan hal itu? Tentu saja karena ada hal yang lebih penting, selain itu kalian berencana ingin menggunakan para siswa untuk membantu penyerangan kalian. Mana mungkin akumembiarkan hal seperti itu terjadi, apalagi sampai berani melibatkan Iona.”
“T-tapi kit…”
“Ya, selain itu. Karena Iona juga menyukai kerajaan ini, dia sudah mulai terbiasa dengan kehidupan akademinya aku senang dia menikmatinya. Jika penyerangan ini gagal, meskipun para siswa tidak diikutkan dalam perang, kerajaan ini akan dalam keterpurukan jika sampai kalah dan kemungkinan besar kerajaan ini akan diserang balik. Jika seperti itu, tempat ini akan hancur dan aku pikir Iona akan sedih, dia juga mendapatkan teman baru dan itu sangat membuatku senang. Oleh karena itu, bersyukurlah kalian karena Iona menyukai tempat ini.”
“Ayahanda.” (???)
“Huh?” Mendengar suara dari belakang aku berbalik untuk melihatnya. “Siapa mereka?” 2 orang, laki-laki semuran (18) denganku dan juga gadis yang seumuran dengan Iona (17). “Mereka putra dan putrimu?”
“Iya, Marie dan Paul anak-anakku.”
“Ayahanda, siapa laki-laki ini? Apa dia calon suami dari Marie?” (Paul)
“Heeee, kau bicara seperti itu dengan orang yang salah. Tapi sudahlah, aku bukan siapa-siapa hanya orang asing disini. Kalau begitu raja, aku akan pergi dan ingat jangan sampai kau melakukan hal aneh atau jika tidak… Mungkin, mereka berdua…” Aku tersenyum.
“Jangan berani menyentuh anak-anakku!!”
“Hahahahaha, sudahlah . Aku rasa seperti itu perasaanku jika kau sampai menyakiti Iona, mungkin aku bisa melakukan hal yang lebih lagi.”
“Kau…”
“Tenang saja, aku tak akan menyentuh mereka karena mereka tidak ada hubungannya dengan ini. Oleh karena itu, jangan biarkan mereka terlibat.”
“Dia menghilang?!” (Paul)
“Ayah, siapa orang yang menyeramkan itu?” (Marie)
“Sebaiknya kalian berdua hati-hati dengannya, dia bukan orang biasa.” (Perdana mentri)
“Aku juga bisa merasakannya, kekuatan itu. Sangat tidak normal. Ayahanda, siapa dia sebenarnya?”
Sang raja menjelaskan tentang Ari pada kedua anaknya, dan saat itu mereka berdua sedikit terkejut.
“Eh? Putri Iona? Maksud ayahanda putri Iona yang ada di akademi sihir itu?”
“Iya.”
“Aku berteman dekat dengannya, dia orang yang sangat baik, dia juga banyak membantuku.” (Marie)
“Begitu, kalau begitu bertemanlah dengannya. Ayah yakin jika kalian berdua dekat dengannya, kalian akan aman. Baik sekarang ataupun dimasa depan nanti. Waktunya sudah hampir tiba, badai yang sangat dahsyat akan segera tiba dan hanya tinggal menunggu waktu saja.”
---
“Hmmm, bagaimana ini. Sebuah benteng, ya.” Saat ini aku sedang memikirkan cara untuk melakukan penyerangan terhadap daerah yang ingin dikuasai lagi oleh raja bodoh itu. Tapi masalahnya adalah tempat itu merupakan sebuah benteng pertahanan. “Sepertinya ini cukup sulit.” Jika harus membobol sebuah benteng, maka harus siap untuk mengorbankan pasukan tapi aku tak ingin melakukannya. “Haaaa, mau bagaimana lagi. Sepertinya aku harus menggunakannya.” Cara terakhir bisa aku pikirkan.
Esoknya.
Waktu istirahat.
Akademi sihir.
“Ari, kau datang lagi, ada apa?”
“Iona, bisa antarkan aku kepada kepala akademi?”
“Kepala akademi? Untuk apa?”
“Ada sesuatu yang ingin aku ketahui darinya.”
“Kau mengenal kepala akademi?” (Naila)
“Mana mungkin, ini mungkin bisa dibilang pertama kali aku akan menemuinya. Jadi, bisa antarkan aku?”
“Kalau begitu, akan aku antarkan. Naila, ayo.”
“Ahhh, maaf putri, sepertinya kau saja yang mengantar. Aku lupa kalau ada urusan, jadi sampai nanti.”
“T-tunggu!!” (Iona) Naila pergi.
“Iona, ayo. Aku sedang terburu-buru.”
“Eh, b-baik.”
\=\=\=
“Ari, memangnya ada perlu apa kau ingin menemui kepala akademi?”
“Hmmm, aku ingin menanykan beberapa hal padanya.”
“Menyakan beberapa hal?”
“Iya, aku pikir dia bisa menjawabnya.”
“Begitu.”
Tak berapa lama, kami sampai.
“Ari, ini ruangannya. Kalau begitu, aku akan pergi.”
“Kau mau pergi?”
“Eh, iya. Memangnya kenapa?”
“Bisa temani aku.”
“Eh, kenapa?”
“Ehhh, aku punya pengalaman buruk dengan kepala akademi. Jadi…”
Aku tersenyum. “Baiklah, tapi aku tak menyangka kalau kau juga bisa bersikap seperti ini.”
“Y-ya, aku sedikit trauma dengan kepala akademi.”
Aku memengang tangannya. “Baiklah, akan aku temani.”
“Terimakasih.”
“Kalau begitu, ayo masuk.”
“Iya.” Kami masuk kedalam ruangan kepala akademi.
Di dalam.
“Wah, jarang sekali ada yang kesini.” (???) Kepala akademi adalah seorang wanita dewasa.
“Kepala akademi, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda.”
__ADS_1
“Hmmm, kau ingin menjadi murid diakademi ini?”
“Tidak, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan.” (Ari)
“Sesuatu yang ingin kau ketahui, apa itu? Lalu, apa tidak masalah jika dia ada disini?”
“Tidak, aku juga ingin dia mendengarnya.”
“Aku boleh ikut dengar?”
“Iya, tidak masalah.” Aku tak tau apa yang ingin ari bahas, tapi sepertinya itu hal yang cukup penting.
“Jadi, apa yang ingin kau ketahui?”
“Kenapa raja ingin melakukan perebutan wilayah?”
“Kau menanyakan hal itu padaku, aku tidak tau apa-apa.”
“Ari, bukankah seharusnya kau menanyakan hal itu langsung pada raja.”
“Yang dikatakan kekasihmu itu benar, seharusnya kau mengatakan hal itu pada raja bukan padaku.”
“Alasan yang diberikan raja tidak masuk akal, aku yakin kau tau apa alasan sebenarnya. Dan lagi, aku tau kalau kau punya kemampuan untuk mengetahui segalanya.”
“Siapa yang memberitahumu hal itu?”
“Seorang kakek.”
“Kakek, maksudmu kakek yang pernah kita temui itu?”
“Iya.”
“Haaaa, dasar orang tua itu.”
“Lalu, bisa beritahu aku alasannya?”
“Baiklah, tapi aku tak yakin alasan itu bisa didengar oleh kekasihmu.”
“Tidak masalah, benarkan, Iona.”
“Eh, i-iya. Aku juga ingin tau alasan kenapa raja sampai ingin mengirim para murid untuk ikut dalam pertempuran itu.” Sebenarnya aku tak begitu peduli dengan hal itu, hanya saja aku ingin melihat apa yang ingin Ari ketahui.
“Baik.” Kepala akademi mulai menceritakannya, alasan kenapa raja ingin mengambil kembali daerah yang sudah dikuasai oleh kerajaan Tania.
Setelah cukup lama ceritanya berakhir.
“Rune legendaris? Apa itu?” Sebuah kata yang tak pernah aku dengar sebelumnya, bahkan aku tak tau apa itu.
“Iona, begini aku akan menjelaskan dengan sikat. Jadi dengarkan dengan baik.”
“Iya.”
“Rune adalah sebuah sihir kuno, sihir yang diciptakan oleh para pahlawan terdahulu untuk mengalahkan musuh terbesar mereka.”
“Musuh terbesar?”
“Para iblis.”
“Iblis?”
“Iya. Karena terlalu jauh dibagian barat, kebanyakan orang tidak tau tentang keberadaan iblis. Aku dulu juga sempat penasaran, kenapa sihir ada didunia ini.”
“Jadi untuk melawan para iblis?”
“Iya, itu benar. Jika hanya melawan manusia, menggunakan strategi dan keahlian saja sudah cukup. Sejujurnya aku sudah mengabaikan 1 hal penting. Untuk sekarang, apa kau percaya?”
Aku tak menyangka Ari akan mengatakan itu, meskipun sulit diterima tapi… “Aku percaya dengan apa yang kau katakan.”
“Begitu, terimakasih.”
“Lalu, hal penting yang kau lupakan itu?”
“Kalau dunia ini memiliki hal yang sangatcocok dengan apa yang aku bayangkan.”
“Cocok?”
“Kau tau, naga, sihir, kerajaan, dan juga monster. Semua itu sudah mendukung, jujur saja kau mungkin akan sulit untuk mengerti tapi karena itu aku melupakannya, tidak tapi aku mengabaikannya.”
Aku tak mengerti maksud apa yang diucapkan olehnya. “Mengabaikannya? Apa yang kau katakan?”
“Dia ingin bilang, kalau sejak awal dia sudah mengabaikan sesuatu yang seharusnya tidak dia abaikan. Tapi dia malah melupakannya, dan sekarang itu menjadi awal sebuah bencana.”
“Ari, apa yang dikatakan kepala akademi itu benar?”
“Iya, itu benar.”
“Tapi, apa yang kau lupakan, aku mohon jangan membuatku bingung.”
Ari mengelus kepalaku dengan lembut. “Maaf, ya. Sepertinya ini memang pembicaraan yang seharusnya tidak kau dengar. Tapi, karena kau sudah mendengar sebanyak itu mau tak mau aku harus menjelaskannya.” Ari kembali melanjutkan penjelasannya. “Perang besar akan terjadi.”
“Perang besar, melawan kerajaan apa?”
“Bukan melawan sesama manusia, tapi melawan raja iblis.”
“Raja iblis? Raja jahat yang mengendalikan seluruh pasukan iblis seperti didalam buku cerita?”
“Iya. Tapi ini bukan cerita, melainkan kenyataannya.”
“Tapi, selama ini aku sama sekali tidak mengetahui hal itu. Raja iblis, dan perang besar yang akan terjadi dengan para iblis.”
“Aku sudah bilang sebelumnya, karena terlalu jauh dan terlalu sibuk dengan perang antar kerajaan tidak ada yang sadar akan keberadaan raja iblis.”
“Jadi kau ingin bilang, selama ini perang antar kerajaan itu tidak ada gunanya seperti itu?”
“Nyatanya memang begitu, perang yang sebenarnya adalah perang melawan raja iblis. Aku tak bisa memaksamu untuk mempercayainya, tapi saat ini kerajaan yang ada dibagian timur benua ini tengah berperang melawan raja iblis. Selama kita disini sibuk berperang memperebutkan wilayah dan juga memperluas wilayah ataupun hal lain yang memicu peperangan yang tak berguna, kerajaan yang ada di belahan timur benua ini tengah bertempur mati-matian melawan raja iblis. Mau percaya atau tidak itulah kenyataannya.”
“Aku mempercayainya.” Aku ingin mempercayai apa yang dikatakan oleh Ari. Meskipun begitu ini masih membuatku sangat kebingungan.
“Aku tak menyangka kau sudah tau sebanyak itu.”
“Seorang temanku dari kerajaan timur datang menemuiku, aku mengetahui hal itu dari ceritanya. Meskipun sempat sedikit ragu karena dia tidak begitu menjelaskannya dengan detail, tapi setelah merangkai semua puzzle ini menjadi satu aku mendapatkan jawabannya.”
“Teman? Apa dia seorang gadis?” Saat bilang teman, aku tak tau tapi entah kenapa aku sangat penasaran dengan hal itu.
“Eh, i-iya.”
“Sudah berapa lama kalian kenal? Dimana kalian bertemu, dan bagaimana kalian bisa menjadi teman? Lalu apa tujuannya datang ketempatmu?”
“Hey hey, pertanyaanmu kebanyakan. Apa jangan-jangan kau cemburu?”
“J-jangan mengalihkan pembicaraan, jawab!!”
“Haaaa, aku bertemu dengannya saat aku ditangkap di kerajaan Victoria,dia yang membantuku untuk keluar dari penjara bawah tanah. Lalu, alasan dia datang ke tempatku karena kerajaan yang dia tinggali saat ini sudah hancur, semua keluarga dan orang terdekatnya dia kehilangan mereka.”
“Akibat serangan raja iblis?”
“Iya. Dia datang ketempatku untuk memiinta bantuan, tapi karena itu diluar kemampuanku aku tidak melakukannya, aku hanya memberinya tempat tinggal dan pekerjaan sebagai assassin yang berada dibawah bimbingan para ketua regu.”
“Begitu.”
“Apa kau sudah puas dengan jawabanku?”
“Kau benar-benar tidak punya hubungan apapun dengannya?... A-awww…” Ari memukul kepalaku. “Kenapa kau memukulku!!”
“Kau imut saat sedang marah.”
“K-kau, m-masih saja sempat menggodaku.”
“Baiklah, hentikan kemesraan kalian pasangan mudah. Jika ingin melakukan hal yang mesra lakukan saat kalian sedang berdua, selain itu ini adalah ruang kerja.”
“M-maaf. Ari, ini salahmu.”
“Eh? Salahku?”
“Iya.”
“Haaa, ya sudah.”
“Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan?” (Kepala akademi)
“Tidak, tapi masih ada 1 hal lagi.”
“Apa itu?”
__ADS_1
“Apa sebenarnya yang ada didalam rune legendaris itu?”