
Beberapa hari berlalu setelah hari itu.
Sore hari di markas khusus, ruang kerja.
“Haaa, aku ingin istirahat.”
“Ari, ada apa?” (Iona)
“Aku hanya sedang mengalami masa-masa sulit, setidaknya aku ingin bersantai selama sehari saja. Tapi pekerjaan ini membuatku lelah secara fisik dan mental.”
“Aku kira kau tidak akan pernah mengeluh, ternyata kau bisa mengeluh juga.” (Lucy)
“Aku juga manusia, aku juga bisa merasa jenuh. Haa, sudahlah mengeluh tidak akan membuat semua pekerjaan ini selesai.” Aku kembali mengerjakan berkas ini meskipun sedikit tidak bersemangat. ‘Setidaknya aku ingin liburan, sebuah liburan yang asli.’ Karena sesuatu yang selama ini aku lakukan hanya berkedok liburan, aku tak pernah menikmati ataupun merasakan liburan yang sesungguhnya.
Cukup lama setelah itu.
“Aku selesai, aku ingin pergi tidur.” Aku kembali ke tempatku.
“Pangeran, bagaimana kalau kita melakukan sesuatu untuknya.”
“Lupakan hal itu, aku pikir dia tidak akan menyukainya.”
“Benarkah? Tapi aku rasa dia akan menyukainya.”
“Haa, meskipun begitu apa yang akan kau lakukan? Lagipula pekerjaan kita saja disini belum selesai.”
“Aku hanya berfikir bagaimana jika memberikan waktu istirahat ataupun liburan untuk Ari. Jadi, bagaimana kalau kita menyelesaikan semua pekerjaan untuk minggu ini agar Ari bisa beristirahat.”
“Itu bukan ide yang bagus, aku sarankan untukmu tidak melakukannya. Ada banyak pekerjaan lain yang harus dilakukan, menyelesaikan semua dalam 1 waktu sekaligus hanya akan membuatmu mengalami sesuatu yang buruk.”
“Kau tidak membantu?”
“Aku dan Ari memiliki urusan lain, perlombaan akan segera dilaksanakan dan kita harus bersiap-siap akan hal itu.”
“Begitu.”
“Haa, pekerjaanku sudah selesai. Putri aku izin untuk pergi duluan.”
“Ya.”
“Oh ya, ingat nasehatku ini. Jangan melakukan sesuatu diluar batas yang kau bisa.” Setelah mengatakan hal itu Lucy pergi.
“Meskipun begitu, setidaknya aku ingin melakukan sesuatu untuknya.”
Beberapa hari setelah itu.
Di akademi.
Jam pelajaran sudah dimulai dan seseorang masuk ke dalam kelas. “Selamat pagi semua, hari ini karena Round kalian ada kepentingan jadi aku Siona, kepala sekertaris akademi akan menjadi pengajar kalian untuk hari ini dan mungkin untuk beberapa hari kedepan.”
“Huh? Apa yang terjadi pada Iona?” Ini sedikit membuatku kebingungan.
“Ari, ada apa?”
“Benar juga, aku juga jarang melihat Iona selama beberapa hari terakhir apa yang terjadi padanya?”
“Hmm, mungkin dia sedang dalam masalah. Kenapa kau tidak datangi saja dia, aku rasa tidak ada masalah jika kau mendatanginya.”
“Haa, baiklah. Jika dia memang sedang ada masalah mungkin aku bisa sedikit membantunya. Tapi saat aku sudah menyelesaikan semua pekerjaanku.”
“Aku yang akan menggantikanmu, kau temui saja putri. Lagipula dokumen dan juga beberapa berkas untuk bulan ini sudah hampir selesai.”
“Ya sudah. Aku serahkan hal itu padamu.”
“Ya, kau temui saja putri.”
“Iya iya, aku mengerti.”
Siang hari.
“Oh ya, Lucy kapan perlombaan itu akan dimulai?”
“Hmm, kalau aku tidak salah dengar 2 atau 3 hari mendatang.”
“Huh? Tapi sama sekali tidak ada persiapan apapun untuk menyambut hal seperti itu disini.”
“Benar juga, tapi aku rasa perlombaannya akan dilangsungkan ditempat lain. Lagipula jika akademi ini menjadi tempatnya maka ini akan terlalu kecil, kepala sekolah pasti sudah menyiapkan tempatnya.”
“Begitu. Lalu, apa kau sudah siap?”
“Tentu saja, ini menyangkut harga diriku sebagai seorang pangeran dan juga siswa yang ditunjuk langsung oleh kepala sekolah. Aku tak bisa mempermalukan diriku sendiri.”
“Haa, iya iya aku mengerti.”
“Lalu, bagaimana denganmu?”
“Aku? Entahlah, tapi…”
“Huh? Ada apa?”
“Tidak, lupakan saja. Aku bergantung padamu.”
“Hey, kenapa kau berkata seperti itu. Kita adalah patner di perlombaan yang akan dilangsungkan ini, kita harus berjuang.”
“Haa, ya aku mengerti.”
Cukup lama setelah itu.
Pelajaran sudah selesai, dan waktu istirahat. “Ari, kau mau kemana?”
“Aku ingin pulang.”
“Kau ingin bolos, tidak seperti biasanya.”
“Haaa, entahlah. Mungkin kebiasaan lamaku perlahan mulai kembali.”
“Kebiasaan lama?”
“Sudahlah, aku pergi.” Aku pergi meninggalkan Lucy.
Di perjalanan menuju ke istana.
__ADS_1
“Kenapa hari ini dia baik sekali, ya.” Pekerjaanku cukup banyak, dan dia ingin menyelesaikannya untukku. “Sudahlah, biarkan dia melakukan apa yang dia mau.” Meskipun begitu, aku sedikit penasaran dengan apa yang sebenarnya dia rencanakan.
Cukup lama setelah itu.
Aku sempat kembali ke markas untuk mengambil sesuatu yang menurutku itu sedikit penting, ya setidaknya menurutku.
Di depan istana.
“Berhenti. Ada keperluan apa kau datang kemari?” (Prajurit)
Prajurit yang menjaga gerbang menghentikanku. “Aku ingin menemui putri Iona.”
“Apa kau sudah membuat janji dengan putri?”
‘Haaa, kenapa harus seperti ini.’ Mereka terlihat seperti sedang mengintrogasiku. “Sudahlah, bagaimana dengan ini. Apa aku boleh masuk?” Aku menunjukkan lencana khusus komandan milik Iona.
“M-maaf, saya tidak tau kalau itu anda.”
“Ya, tidak masalah.” Untung saja aku menyimpannya, lencana khusus yang diberikan oleh raja pada komandan (Iona) sebagai tanda penghormatan tertinggi. Ya, meskipun begitu statusnya sebagai pemimpin tetap disembunyikan.
Bisa dibilang, karena aku yang membawa ini secara tidak langsung aku menunjukkan diriku sendiri sebagai komandan itu sendiri. ‘Haa, sepertinya ini akan cukup merepotkan untuk kedepannya.’
Di dalam istana.
Suasananya terasa sepi, tidak seperti biasanya. ‘Apa yang sudah terjadi disini?’ Aku sedikit berkeliling sembari melihat-lihat sekitar.
Para pelayan yang melihatku sedikit menaruh rasa curiga padaku, ya itu wajar karena hanya beberapa orang saja yang pernah melihatku berada disini saat dirawat sebelumnya.
Kamar Iona.
“Huh? Ada apa?” Aku melihat cukup banyak pelayan yang berkumpul didepan kamar Iona, dan karena itu aku putuskan untuk bergegas kesana.
“Pelayan, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Tuan putri sedang sakit, dan saat ini dokter sedang mencoba untuk menyembuhkannya.”
“Huh? Sakit? Sakit apa?”
“Entahlah, penyakitnya belum diketahui. Saya sangat khawatir jika penyakit tuan putri kembali kambuh.”
Iona adalah gadis yang memiliki fisik lemah, jadi sangat wajar jika dia rentan terkena penyakit. Meskipun begitu. ‘Jadi ini yang ingin kau katakan, Lucy.’
Sementara itu.
“Haaa, aku harap dia sedikit terbuka padanya. Sedih juga jika melihat seseorang yang cintanya hanya bertepuk sebelah tangan.”
“Pangeran, kau berbicara sesuatu?” (Siswi)
“Tidak ada, oh ya. Hari ini kita akan pergi kemana?”
Cukup lama setelah itu.
Pintu kamar terbuka dan seseorang keluar.
“Dokter, bagaimana keadaan tuan putri?”
“Putri baik baik saja, saya akan segera melaporkan hasilnya pada baginda ratu.” (Dokter)
“Baik.”
“Yang mulia tidak ada disini?” Aku bertanya seperti itu sembari melihat ke arah para pelayan, mereka semua menundukkan kepalanya.
“Yang mulia sedang melangsungkan rapat di kerajaan lain, yang ada disini hanya putri Risa dan juga baginda ratu.”
“Begitu. Kalian bisa pergi, bukannya ada pekerjaan yang harus kalian selesaikan.”
“Baik.”
Entah kenapa mereka menuruti apa yang aku katakan, padahal mereka belum pernah melihatku dan juga sebaliknya. “Sudahlah.”
Setelah mereka pergi aku masuk kekamar Iona untuk melihat kondisinya.
Di dalam kamar.
Aku melihatnya terbaring lemah, dan aku juga melihat Risa bersama dengannya.
“Siapa?” (Risa)
“Maaf mengganggu. Risa-onees, maksudku putri Risa.” Karena terbiasa memanggilnya seperti itu aku jadi sering keceplosan.
“Kenapa kau kemari?”
“Aku hanya ingin melihat Iona, karena beberapa hari terakhir dia sudah jarang pergi ke markas khusus. Aku pikir dia sibuk, tapi aku tak tau kalau dia sedang sakit.”
“Dia bekerja terlalu keras sampai melupakan kesehatannya.”
“Bekerja terlalu keras? Kenapa dia melakukannya?”
“Itu untukmu.”
“Untukku?”
“Dia selalu bercerita sesuatu tentangmu padaku, jadi aku tau alasan kenapa dia jadi seperti ini.”
“Begitu.” Jika dia sampai seperti ini hanya untukku, ini adalah sebuah kelalaianku. “Lalu, penyakit apa yang diderita olehnya?”
“Masih belum diketahui, dokter tadi sempat memeriksanya tapi dia masih mencari obat yang cocok untuknya.”
Mengingat keadaan tubuh Iona yang lemah, obat biasa mungkin akan berdampak buruk baginya oleh karena itu dibutuhkan obat khusus.
Aku perlahan mendekat kearahnya, menyentuh dahinya. ‘Panas.’ Tubuhnya terasa begitu panas. ‘Jika demam tidak mungkin akan sepanas ini.’ Aku tak tega melihatnya seperti ini.
--
‘Dewi, buat kesepakatan. Pindahkan penyakit Iona padaku.’
‘Hey, kau serius?’
‘Ya, aku serius.’
‘Tapi aku tak bisa menjamin kau bisa bertahan dengan hal itu.’
__ADS_1
‘Tolong lakukan.’
‘Haa, baiklah. Tapi hanya kali ini saja, ya.’
‘Terimakasih.’
‘Penyakit yang berpindah akan menjadi berkali-kali lipat lebih sakit, apa kau yakin?’
‘Ya.’
‘Begitu. Aku iri dengannya.’
‘Huh?’
‘Tidak, lupakan saja.’
--
Tubuhku seketika terasa sangat berat, penglihatanku menjadi gelap dan kepalaku terasa begitu menyakitkan.
“Ari, kau baik-baik saja?” (Risa)
“Y-ya, aku baik-baik saja.” Aku mencoba untuk menahannya meskipun itu sangat sulit.
“Tapi, kau tidak terlihat baik-baik saja.”
“I-itu hanya perasaanmu saja. A-aku harus kembali, ada hal yang harus aku kerjakan hari ini. Jika Iona bangun tolong titipkan salamku untuknya.”
Dengan tubuh yang lemah aku berjalan keluar kamar, dan pergi.
Beberapa menit setelah itu.
“Ha, ha, ha… S-sial.” Nafasku terasa begitu berat lalu tangan dan kakiku juga mati rasa. ‘Ayo bergerak.’ Aku mencoba untuk memaksakan tubuhku.
Sfx : jatuh.
Aku terkapar lemah. ‘Penyakit apa ini. Rasanya sangat menyakitkan.’ Tubuhku terasa sangat berat dan lagi rasa sakit dikepalaku ini membuatku terasa sangat tersiksa.
Beberapa saat kemudian.
‘Haa, sial.’ Seluruh tubuhku tidak bisa digerakkan, dan pandanganku menjadi hitam pekat. Aku tak bisa mendengar dan merasakan apapun. ‘Setidaknya ini lebih baik daripada harus merasa kesakitan.’
‘Kau bodoh, kenapa kau sampai rela melakukan hal seperti itu.’
Suara yang tak asing terdengar olehku. ‘Dewi? Apa itu kau?’ Aku tak bisa melihatnya, tapi aku bisa mendengarnya.
‘Jawab aku, kenapa kau melakukan hal seperti itu.’
‘Memintamu untuk menghilangkan penyakitnya, maka penyakit bawaannya juga akan lenyap. Lagipula itu adalah sebuah penyakit biasa, dan penyakit yang dideritanya akibat dari dia bekerja keras terlalu berlebihan. Dia melakukannya kemungkinan karena apa yang pernah aku katakana sebelumnya, jadi secara tidak langsung penyebabnya seperti ini karena aku.’
‘Meskipun begitu, kenapa kau mengorbankan dirimu untuk hal seperti itu. Padahal aku sudah memperingatkanmu.’
‘Haa, entahlah. Aku juga bingung kenapa aku melakukannya, tapi entah kenapa aku berfikir harus melakukannya.’
‘Meskipun itu bisa mengancam nyawamu sendiri?’
‘Lagipula aku ini sudah pernah mati, dihidupkan kembali saja sudah membuatku bersyukur. Jika aku harus mati lagi, aku tidak akan menolaknya. Mungkin itu sudah waktunya aku kembali, meskipun aku harus menelan kepahitan ini.’
‘Kau bodoh. Tapi, aku tak membencimu karena sifatmu itu.’
‘Huh?’
‘Tidak, bukan apa-apa. Aku akan meringankan gejalamu, tapi saat kau bangun mungkin sudah akan berlalu beberapa hari.’
‘Terimakasih.’
‘Jangalah kesehatanmu, jangan sampai kau melukai ataupun mencelakakan dirimu sendiri hanya demi orang lain.’
‘Jika itu bersangkutan dengan Iona, aku akan melakukannya. Lagipula aku tak memiliki tujuan hidup lain didunia ini selain dia, alasanku berada didunia ini tidak lain dan tidak bukan karena dia.’
‘Aku sangat iri dengannya. Tapi sudahlah, Ari jaga dirimu dengan baik. Mungkin kedepannya kau akan mengalami cukup banyak masalah yang lebih sulit lagi, tapi aku yakin kau pasti bisa melewatinya.’
‘Itu terdengar merepotkan. Tapi, karena aku sudah dipercaya seperti itu sepertinya tidak ada pilihan lain selain menjalaninya.’
‘Ari, semoga kau mendapatkan kehidupan yang bahagia.’
--
Malam hari.
Aku terbangun di sebuah kamar yang tak asing. ‘Kamar Iona, ya. Sepertinya aku dirawat disini.’ Aku melihat sekitar. ‘Iona.’ Aku melihatnya tengah tertidur pulas didekatku. ‘Sepertinya aku sudah membuatnya khawatir. Tapi, ya setidaknya setelah ini semuanya akan kembali seperti semula.’
Sementara itu.
Dunia para dewa.
“Kau sudah memutuskannya, ya.”
“Untuk apa kau datang kemari, aku tidak butuh simpati dari dewa sepertimu, pergilah.”
“Iris, dengan berkata seperti itu padanya kau sudah memutuskan pilihan yang tepat. Kau tidak bisa mengambil orang itu darinya, dia bahkan rela mati demi menyelamatkan gadisnya.”
“Aku tidak butuh ucapanmu itu. Kau urus saja gadismu itu, jangan ikut campur masalahku!!”
“Begitu, kau yang selama ini menutup matamu ternyata bisa bersikap seperti ini juga.”
“Diam!!”
“Sebagai dewa yang sama-sama menyukai seorang manusia, aku paham dengan apa yang kau rasakan.”
“Tidak, kau tidak paham. Kau bisa mendapatkannya, tapi aku, aku tidak akan pernah…” (menangis)
“Sepertinya aku tak bisa menghiburmu, selamat tinggal.”
“Dasar bodoh!! Kenapa, kenapa bisa seperti ini!! Ini, menyakitkan.”
--
“Satu-satunya dewi yang ada disini merasakan hal seperti itu, sepertinya ini merupakan awal dari sebuah kejadian yang buruk.”
“Sha, kemana saja kau. Cepat, rapat akan segera dimulai.”
__ADS_1
“Haa, baik… Aku harap, semuanya bisa berakhir bahagia setidaknya untuknya.”