
Esok harinya siang hari.
“Haaaa, masih belum ketemu.”
‘Kau sudah cari di sekitar cangkangnya?’
“Sudah.”
‘Bagaimana dengan bagian belakangnya.’
“Hey, jarak dari punggung ke bagian ekor sangat jauh. Butuh waktu beberapa jam untuk sampai kesana.”
‘Ya, kalau begitu langsung saja ke kepalanya.’
“Enaknya kalian bicara.” Saat ini aku sedang berada ditubuh Leiava, dan ini sangat tinggi. Lebih tepatnya aku berada di dekat cangkangnya sekarang.
‘Dengan tubuh sebesar itu, bagian kepalanya juga pasti akan tinggi.’
“Ya, kau tau itu.”
‘Hmmm, apa kalian ada rencana lain?’
‘Ini lebih sulit dibandingkan dengan pelajaran Kimia.’
“Jangan membandingkan hal seperti ini dengan pelajaran sekolah, ini sudah jelas 2 hal yang berbeda.”
‘Kalau begitu, apa kau sudah coba untuk menyerangnya?’
‘Hmmm, sepertinya itu akan percuma. Selain itu aku baru sadar kalau sebenarnya tubuh Leiava dilapisi oleh sihir yang sangat besar.’
‘Kalau itu aku juga sudah menyadarinya, bagaimana mungkin monster sebesar itu mampu menahan beban dari berat tubuhnya sendiri jika tanpa bantuan sihir.’
“Jadi, ide kalian adalah untuk mengacaukan aliran sihir dari Leiava untuk membuatnya tidak bisa…”
‘Huh? Kau lihat, dia seperti ingin melakukan sesuatu.’
‘Eh, iya benar.’
“Hey ada apa?”
‘Dari mulutnya, dia seperti ini mengeluarkan sebuah serangan besar.’
‘Bisa kau hentikan?’
‘Tidak akan sempat, selain itu dampak dari serangannya juga pasti akan besar. Pasrah saja.’
“Ayolah, jangan bicara seperti itu. Di bawah ada 15 juta pasukan yang akan tewas jika dibiarkan.”
‘Hmmm, jika memang seperti itu. Buat serangannya ke atas, dengan begitu korban akan bisa ditekan seminimal mungkin. Meskipun begitu, apa kau bisa melakukannya? Darisini saja aku bisa merasakan kekuatan yang sangat besar ingin dilepaskan.’
“Aku juga merasakannya, tapi jika dibiarkan. 15 juta pasukan, dan mungkin saja Lucy juga akan…”
‘Haaa, baiklah. Buat perhitungan mundur waktu pelepasan serangan Leiava.’
‘Perkiraan waktu, 1 jam.’
“Kau, bagaimana caramu menghitungnya?”
‘Ya, tubuhnya sangat besar dan lagi kekuatan sihirnya juga baru saja dibentuk. Akan makan waktu lama untuk membuat sihir besar yang bisa digunakan oleh tubuh sebesar itu, dan sudah jelas kalau dampaknya juga akan sangat besar. Oleh karena itu, sebelum waktu itu kau harus segera sampai dibawah kepala Leiava. Kami disini akan mengatur cara untuk mengatasi serangannya.’
“Baik, aku serahkan hal itu pada kalian.” Aku bergegas pergi, dan waktu yang diberikan sangat singkat. “Paling tidak 2 sampai 3 jam, jaraknya dari sini ke kepala sangat jauh.”
‘Jangan banyak protes, Cuma 90km cepat pergi.’
“Haaaa, itu jauh. Tapi sudahlah.”
Sementara itu, rapat Ari dilangsungkan.
“Hmmm, lalu apa rencananya?”
“Menggunakan sihir besar untuk membuat kepala Leiava menghadap kelangit agar serangannya tidak mengenai para pasukan.”
“Ya, itu ide bagus selain itu area di bagian atas tidak tertutupi oleh pelindung, jadi kita bisa memanfaatkannya.”
“Tapi, bukankah ide itu sedikit buruk.”
“Buruk? Kenapa?”
“Ya, bisa dibayangkan kalau serangan yang dilepaskan oleh Leiava sejenis sihir lava ataupun pasir, dan yang paling buruk adalah air. Karena massanya lebih berat dari udara, pasti sihir itu akan kembali lagi ditarik oleh gravitasi dan menimbulkan banyak kerugian serta kematian yang lebih besar.”
“Benar juga.”
“Lalu, apa kau punya rencana lain?”
“Menutup mulutnya, dengan begitu serangannya akan berhenti dan jika memungkinkan serangannya akan berhenti sebelum dilepaskan.”
“Benar juga, itu ide yang bagus. Jika bisa tambahkan sedikit sihir untuk menghancurkan mulutnya, dengan begitu serangannya akan berbarik melukai dirinya sendiri.”
“Hmmm, itu ide yang cukup bagus. Tapi buat ke dalam rencana ke-2.”
“Eh, kenapa?”
“Menutup rapat mulut Leiava, seberapa banyak sihir yang harus digunakan untuk melakukannya.”
“Ahhh, itu juga benar.”
“Sepertinya ini cukup sulit.”
‘Woy kalian, apa sudah rapatnya?’
“Tunggu jangan terburu-buru, disini kami juga sedang kebingungan.”
“Haaa, jika saja suasananya lebih tenang pasti ini akan selesai dengan mudah.”
‘Mau bagaimana lagi, ini adalah medan tempur.’
“Iya, kami juga mengerti. Sudah, saat kau sudah sampai nanti hubungi kami lagi.”
‘Ya, baiklah.’
“Lalu, bagaimana?”
“Hmmm, membingungkan.”
‘Jika aku boleh memberikan saran. Bagaimana kalau buat penghalang saja pada kepalanya, saat dia melepaskan sihirnya dia’kan yang akan kena sendiri.’
“Hmmm, ide bagus. Tapi, apa kau bisa membuat penghalang yang kuat?”
‘Entahlah, tapi jika tak dicoba mana tau.’
“Ya sudah, itu jadikan sebagai rencana pertama, dan rencana kedua adalah itu. Semuanya, bagaimana? Apa kalian setuju?”
“Ya, itu bagus.”
“Tidak ada pilihan lain yang lebih baik dari itu, aku setuju.”
“Semuanya sudah memutuskan, kau bisa menggunakannya.”
‘Ya, baiklah.’
Cukup lama setelah itu.
“Ha ha ha ha… Akhirnya, sampai juga.” Nafasku habis, dan aku akhirnya sampai tepat dibawah kepala Leiava. “Tinggi sekali.” Dari bawah sini aku bisa melihat seberapa besar dan tingginya kepala Leiava berada. “Apa sihirku bisa sampai kesana, ya?”
‘Naik bodoh, jangan membuang-buang waktu. Gunakan sihir terbang yang sudah kau pelajar itu selama beberapa hari.’
‘Ya, jangan membuang-buang waktu.’
“Hey, disini aku sedang lelah. Biarkan aku istirahat sebentar.’
‘5 menit cukup’kan, setelah itu segera mulai rencananya.’
“Haaa, iya aku mengerti.”
Setelah beristirahat.
__ADS_1
‘Seberapa cepat kau bisa sampai ke kepalanya?’
“Hmmm, tergantung jaraknya.”
‘Tingginya sekitar 4000 atau 5000 meter, mungkin dengan kecepatan normal akan sampai dalam waktu 7-10 menit.’
“Itu sudah separuh dari tinggi gunung everest, lo.”
‘Itu terlalu lama, bagaimana kalau kau kombinasikan dengan sihir cahaya.’
‘Ahhh, itu benar juga. Dengan begitu kecepatanmu akan lebih cepat, tidak perlu banyak-banyak hanya sampai…’
‘Waaahhh, lihat dia sudah siap melepaskannya!!’
‘Cepat berangkat, kau sudah kehabisan waktu!!’
“Ya!!” Aku menuruti sarannya. “Sihir angin untuk terbang dan penambahan sihir cahaya untuk mempercepat. Selesai, waktunya berangkat.”
‘Hmm, bukankah lebih baik gunakan sihir petir untuk mempercepat. Ya, meskipun cahaya itu sangat cepat tapi bisa jadi itu akan sangat berbahaya.’
“Kau telat. Perisapannya sudah selesai.”
‘Jika seperti itu, semoga beruntung.’
“Sialan kau!!”
Beberapa saat kemudian.
“Ha ha ha haaaaa… Ini sangat melelahkan.” Aku sudah sampai di atas kepala Leiava, dan benar saja ini sangat tinggi.
‘Hey, apa kau baik-baik saja diatas sana? Apa ada udara diatas sana?’
‘Bagaimana dengan nafasmu, apa kau bisa bernafas dengan baik diatas sana?’
“Tidak, setidaknya aku tak bisa bertahan lama disini. Udaranya hampir tidak ada, itu membuatku kesulitan untuk bernafas.”
‘Hmmm, jika kau masih bisa berbicara seharusnya baik-baik saja.’
“Setidaknya pedulilah padaku sedikit. Haaa, sudahlah. Aku akan memulainya.”
‘Menggunakan sihir untuk membuatnya bisa bernafas, ya. Itu lumayan.’
“Hey, berhenti mengoceh. Aku butuh suplay tenaga.”
‘Siapa yang akan jadi tumbal pertama?’
“Jangan bilang tumbal, itu sedikit menakutkan.”
‘Ayolah, dia akan membuat kita lagi nanti. Tidak perlu takut, lagipula kita…’
‘Lah, dia yang jadi tumbal.’
‘Kejam sekali, dia bahkan belum selesai bicara tapi sudahlah memang nasibnya.’
Staminaku pulih kembali. “Baiklah semuanya, aku akan mulai.” Aku mulai membuat sebuah sihir pelindung yang menutupi kepalanya.
Beberapa menit kemudian.
“Haaaa, akhirnya selesai juga.” Luasnya dan lebarnya sekitar 100-300 meter, jadi ini sedikit memakan waktu. “Disini bisa untuk membuat lapangan dan stadionnya… Woooo..” Kepalanya mulai bergerak. “Aku harus pergi.
Menggunakan teleportasi aku berpindah ketempat yang lain.
“Yo, kau sudah kembali.”
“Apa berhasil?”
“Sepertinya begitu, selain itu jika dia memaksa kemungkinan serangannya akan berbalik pada dirinya sendiri.”
“Kau bisa menjamin kekuatannya?”
“Tenang, sihir cahaya dan kegelapan. Itu pasti sanggup untuk…”
Sebuah ledakan yang sangat keras terdengar, ledakan itu bergemah terdengar sangat keras.
“Wooow, hempasan anginnya sangat kuat.” Efek angin yang disebabkan oleh ledakan barusan terasa sampai kemari “Padahal jaraknya lebih dari 300km, lo.”
“Yang benar saja.” Pelindungnya berhasil menahannya tapi efek ledakan dari serangannya bahkan sama sekali tidak menggores sedikitpun bagian kepalanya.
“Bagaimana kalau gunakan sihir itu saja.”
“Sihir itu? Sihir yang mana?”
“Ruote.”
“Ruote?”
“Sebaiknya jangan, sihir itu memang sangat kuat tapi siapapun yang menggunakannya akan langsung berakhir saat itu juga karena kehabisan mana. Dan dalam kasusmu, kau mungkin akan kehilangan semua ingatanmu setelah menggunakan sihir itu, sebaiknya jangan lakukan.”
“Ruote, ya.”
“Masih ada cara lain, lagipula 2 rencana yang kita buat belum dilakukan sama sekali. Kita bisa jadikan itu opsi terburuk, saat sudah tidak ada hal yang bisa dilakukan lagi kau baru bisa menggunakannya, dan yang paling penting kau harus memberitahu Iona sebelum melakukannya. Jika tidak, dia akan salah paham nantinya.”
“Jika ingatanku menghilang kesalahpahaman apa yang akan terjadi. Semuanya akan terulang dari awal.”
“Itu adalah bagian terburuknya, untuk sekarang kacaukan aliran sihir dari Leiava dengan begitu…”
“Weeew, dia memulai lagi.”
“Haaaa, merepotkan.”
Ledakan besar terjadi lagi dan efeknya lebih kuat dari yang sebelumnya.
Hempasan anginya lebih kuat dari sebelumnya,. “Bukankah itu lebih cepat dari yang sebelumnya.”
“Kemungkinan karena energinya sudah terkumpul sebelumnya, oleh karena itu dia bisa melepaskan lagi dengan cepat.”
“Atau mungkin, serangan yang pertama adalah pengalihan.”
“Jika seperti itu, berarti dia sudah memperkirakan hal ini… Woyy, apa yang kau lakukan?!!”
“Membuat bayanganku lagi, 4 kepala lebih baik daripada 3.”
“Haaa, terserah kau saja. Bagaimana menurutmu?”
“Jika serangan kedua semakin kuat, ada kemungkinan, tidak tapi kemungkinan besar diserangan ketiga ini akan jadi serangan terakhir dan setelah itu pelindung sihir yang ada dikepalanya akan lenyap karena sudah mencapai batas.”
“Hmmm, apa kau bisa membuatnya lagi?”
“Mustahil, aku baru saja menggunakan teleportasi, selain itu jika aku memakasakan diri menggunakan teleportasi lagi untuk pergi kesana aku memang bisa membuat pelindungnya lagi tapi aku tak bisa menggunakan teleportasi untuk pergi darisana dan sudah pasti aku akan terkena dampaknya. Selain itu saat ini tenagaku sudah habis untuk membuat bayangan yang satu ini.”
“Hmmm, begitu.”
Beberapa saat kemudian.
“Yo, aku kembali. Haaaa, aku tak menyangka aku yang akan jadi tumbal.”
“Hahaha, kau terlihat tenang untuk orang yang pernah jadi tumbal.”
“Ya, meskipun aku tak berwujud tapi aku masih bisa mendengar kalian berbicara apa jadi itu tidak ada bedanya, meskipun aku tak bisa bicara.”
“Hmm, begitu.”
“Haaaa, aku ingin tidur sebentar. Aku sangat lelah, sisanya aku serahkan pada kalian.”
“Kau yakin? Jika dibiarkan monster itu akan mengamuk lagi, lo.”
“Hanya beberapa jam saja, setelah itu aku…”
“Dia tertidur, bagiamana?”
“Pikirkan rencana yang bagus, Leiava tidak bisa dikalahkan dengan mudah.”
“Bahkan serangannya sendiri yang kuat itu tidak bisa melukainya. Eh, tunggu sebentar.”
“Ada apa?”
__ADS_1
“Homura pernah bilang kalau Leiava memiliki kekuatan untuk membuat sebuah cloningannya sendiri. Bukankah itu berarti…”
“Woy Ari!!! Bagun, kita sudah ditipu!!!”
“Kita semua ini Ari, lo.”
“Hmmm, benar juga. Ari yang asli.”
“Dia tertidur pulas.”
“Cih, sialan.”
“Pukul saja agar dia bangun.”
“Kau gila, kalau kita memuluknya kita juga akan kesakitan.”
“Ya, tidak masalah lagipula kita cuma bayangan. Jika memang hal penting, itu adalah cara terbaik untuk membangunkannya dikondisi sekarang.”
“Haaa, jika seperti itu mau bagaimana lagi. Pukul?”
“Gas.”
Beberapa saat kemudian.
“AWWW!!!!! A-apa yang kalian lakukan!!?” Mereka ber-3 memukul wajahku.
“Hmmm, sepertinya Cuma 3 kali pukul saja.”
“Ya. Aku pikir bisa lebih puas lagi.”
“Ini sakit lo.”
“Haaa, iya kami tau. Kami juga kesakitan.”
“Hoaaammm… Ada apa, kenapa kalian membangunkanku? Padahal belum ada 30 menit aku terlelap.”
“Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan.”
“Huh? Ada apa?”
“Kita ditipu.”
“Ahhh, maksudmu tentang Leiava. Aku sudah menyadarinya kok.”
“Eh, sudah menyadarinya? Kapan?”
“Saat tadi, serangan ketiga yang dilepaskan. Aku menyadarinya, dia Leiava clone sedangkan yang asli masih berada dibawah tanah dan belum menampakkan dirinya.”
“Kenapa kau tidak bilang?!!”
“Aku lelah, terlalu lelah untuk memikirkan hal seperti itu… Hoaammm, saat ada gempa bangunkan aku.”
“Hey, jangan tidur dulu.”
“Aku sudah tak sanggup, semuanya selamat tidur.”
“Dia tidur… Hmmm, tapi, kenapa dia bisa menyadarinya?”
“Jika dipikir-pikir lagi, bukannya dari awal sudah aneh.”
“Aneh?”
“Ya, saat penghalangnya sudah mulai dibuat masih ada monster yang muncul dan keberadan kemunculan mereka juga berbeda, seharusnya mereka muncul dari depan ataupun dari samping, tapi monster itu malah muncul dari belakang.”
“Hmm, jika dibilang sebagai sisa dari monster aku rasa juga tidak bisa dibenarkan. Karena monster yang ada dibelakang sudah pasti dibersihkan.”
“Tunggu, jika seperti itu bukankah itu berarti.”
“Akhirnya kalian menyadarinya juga.”
“Kau bilang ingin tidur.”
“Ya, aku ingin tidur tapi… Kita sudah terkepung. Aku ingin segera istirahat sebentar dan kembali ketempat Iona, aku sangat khawatir dengannya.”
“Maksudmu, Leiava yang asli sudah menjebak kita? Seperti itu?”
“Iya, kau bisa bayangkan luas dan besar Leiava adalah sebesar 3 kali lipat dari clonenya. Perkiraanku sedari awal sudah salah, kekuatannya yang berkurang itu sama sekali hanyalah tipuan darinya.”
“Hmm, begitu. Jadi serangan monster itu ditujukan untuk menurunkan fokus kita terhadap kepekaan sihir yang ada disekitar, ya.”
“Ya, sihir memang bisa dirasakan tapi kepekaan terhadap sihir juga dibutuhkan. Sebesar apapun sihirnya jika ada benda lain yang menghalangi maka sihir besar itu seakan tidak pernah diketahui.”
“Itu masuk akal sekarang, kenapa Leiava hanya menggunakan kemampuan membuat monsternya saja. Tapi, serangan yang ingin dia lakukan barusan?”
“Ya, mungkin itu bukan sihir serangan melainkan sebuah peringatan.”
“Ahhh, jadi begitu, ya.”
“Jadi, sihir itu untuk memperingatkan kalau Leiava yang asli akan muncul, ya.”
“Ya, seperti itulah.”
“Jika seperti itu kejadiaanya, bukankah ini akan gawat. Para pasukan aliansi kerajaan dan ras sedang berada didekat Leiava, jika Leiava yang asli bangkit bisa dibayangkan tinggi yang akan dicapai olehnya. Kemungkinan akan lebih dari 8000 meter dan itu sudah bisa dibilang melebihi tinggi gunung everest, selain suhunya yang akan semakin dingin oksigen yang bisa dihirup juga akan semakin sedikit.”
“Kau benar, meskipun bisa menggunakan sihir untuk mengatasinya tapi seberapa lama itu adalah pertanyaan yang berbeda.”
“Jika dibiarkan, kemungkinan besar mereka semua akan mati beku.”
“Disana juga ada Lucy, pasti dia juga sudah menyadarinya.”
“Ya, aku harap juga seperti itu.”
“Apa ada masalah?”
“Tidak, hanya saja aku sudah memberitahunya sebelumnya. Jika ada sesuatu yang janggal, segera pergi.”
“Kau sampai menyadari hal seperti itu.”
“Itu sudah wajar, selain itu yang menjadi lawan kita kali ini adalah Leiava, mahluk yang diutus langsung oleh dewi.”
“Oh ya, ngomong-ngomong tentang dewi, dia belum pernah menghubungimu lagi.”
“Entahlah, aku juga tak tau. Padahal masih ada 3 pesanan lagi yang belum diketahui tempatnya.”
“Kontrakmu sudah habis, jadi tak ada alasan untukmu membantunya. Mungkin seperti itu.”
“Ya, itu bisa jadi.”
“Pembicaraan ini melenceng, aku akan tidur.”
“Ya, tidurlah. Kami akan rapat sebentar.”
“Hoaaamm, jangan lupa bangunkan aku kalau gempanya sudah terjadi.”
“Iya. Aku ingin bilang begitu, tapi sepertinya sudah tidak ada waktu.”
Aku yang berencana untuk tidur bangun setelah merasakan getaran yang cukup kuat dari dalam tanah. “Haaaa, paling tidak tunggu 3-6 jam sebelum bangkit. Sudahlah, semua aku ingin bertapa sebentar.”
“Hey, bukan waktunya untuk itu!!”
“Lah, dia sudah memulainya.”
“Haaa, merepotkan. Kita bagi tugas, ada yang menjaganya dan ada yang mengatasi monster yang akan datang.”
“Lalu sisanya?”
“Mengirim informasi pada yang lain lewat telepati.”
“Memangnya kau bisa?”
“Hahaha, bukankah dia sudah mempelajarinya sebelumnya. Hanya saja tidak sekuat dia karena kekuatan kita terbatas, tapi setidaknya masih bisa.”
“Hmm, baiklah. Siapa yang akan melakukannya?”
“Siapa saja boleh, bagi tugas dan kerjakan sekarang.”
__ADS_1
“Ay ay!!”