Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
68


__ADS_3

1 hari sudah berlalu.


“Woy, apa masih belum?”


“Diam kau, aku juga sedang berusaha disini. Jangan ganggu aku.” Aku masih belum selesai membangun pembatas, dan ya ini memang memakan waktu yang cukup lama.


“Haaaa, menyebalkan.”


“Daripada mengecoh terus, mereka sudah datang cepat urus.” Para monster sudah muncul.


“Iya iya, baik. Semuanya, ayo mulai kembali bekerja.”


“Haaa, menyebalkan. Baiklah, mau bagaimana lagi.” Mereka semua pergi.


“Haaaa, berurusan dengan diriku yang lain memang sangat merepotkan.” Meskipun begitu, entah kenapa aku merasa senang karena ini membuatlebih mengenal diriku sendiri. “Aku sendirian lagi.”


Beberapa jam kemudian.


“Akhirnya selesai.” Pembuatan penghalang sihir sudah selesai. Dengan membentuk sebuah pelindung persegi 6, dan jarak masing-masing dari sudutnya adalah 400km, ini memakan banyak sekali tenaga. “Aku sangat lelah.”


“Selamat atas keberhasilannya.”


“Ya.” Mereka semua juga sudah kembali. “Bagaimana? Apa sudah selesai?”


“Pelindungnya sudah dibuat, jadi tidak ada monster yang bisa lewat lagi.


“Bukannya ini lebih cepat dari yang dijadwalkan.”


“Hmmm, benar juga.”


“Hey, ayolah. Masa kalian tidak mengerti, setelah bekerja keras setidaknya aku ingin tidur sebentar.”


“Haaaa, aku pikir jika kau punya kesempatan seperti itu akan lebih baik. Tapi sekarang, kita masih belum selesai.”


“Memangnya kalian tidak lelah… Awww!!” Salah satu diriku memukul kepalaku.


“Kau pikir hanya kau saja yang lelah, aku, maksudhku kami semua juga lelah. Kemampuan diturunkan dari yang asli, hanya mencapai 30% saja, itu curang.”


“Ya, meskipun begitu kekuatan kalian bisa digunakan untuk meratakan sebuah kerajaan.”


“Haaa, sudahlah. Untuk sekarang, tunggu telepati dari Ruie, setelah semuanya selesai baru kita bisa istirahat dan menyusun rencana lagi.”


“Kau benar, rencana ini hanyalah sebagai pondasi saja, untuk sisanya lebih baik dipikirkan lebih matang.”


“Iya iya, aku mengerti. Mendapatkan saran dari diriku sendiri terdengar sangat aneh. Tapi baiklah, akan aku dengar nasehat dan juga saran dari kalian. Lalu, apa kalian punya rencana?” Dan rapat kecil kami maksudku diriku sendiri dimulai oleh diriku sendiri.


Beberapa jam kemudian.


Malam hari.


Kami ber-4 duduk diterangi oleh api unggun. “Hmmm, jari rencana itu yang akan digunakan?”


“Ya, memangnya ada rencana yang lebih baik lagi dari itu.”


“Haaa, aku harap ini segera berakhir. Aku ingin cepat-cepat bertemu dengan Iona.”


“Apa hanya perasaanku, atau sekarang kau semakin menjadi orang yang manja? Terutama saat bersama dengan Iona.”


“M-memangnya apa yang salah, dia adalah istriku.”


“Ya, itu tidak salah, tapi hanya saja bukankah itu semakin menunjukkan betapa lemahnya dirimu.”


“Aku juga seperti itu, ya aku tau kalau kau bisa menjadi tenang saat berada disampingnya tapi, bukankah itu bertentangan dengan prinsipmu terdahulu.”


“Prinsipku? Memangnya apa?”


“Entahlah, aku juga tak ingat, memangnya prinsip apa?”


“Eh, jangan melihatku seperti itu. Aku hanya bercanda, jangan dianggap serius.”


“Bro, kita pukul?”


“Gas.”


“H-HENTIKAANNNN!!!...”


Setelah itu.


“Hmmm, iywa setidwaknywa kau harus... Ahhh, kaliwan lanjutkan. Ini menywakitkan.”


“Kau harus mengurangi hal itu, memang akan sangat…”


“Aaaah, tidak. Aku tidak dengar, aku tidak dengar, aaaaa apa yang kalian bicarakan, aku tidak dengar.”


“Sepertinya perubahan sifatnya sudah berbeda jauh dari yang sebelumnya.”


“Mau bagaimana lagi, dia sudah terlalu dekat dengan Iona. Sifat aslinya juga sudah lama menghilang dari dirinya.”


“Sifat aslinya, ya.”


“Maksudnya sifat pendiam dan tak peduli dengan hal yang tak berhubungan dengannya, acuh tak acuh dengan sekitarnya, begitu.”


“Ya. Sifat itu yang membuatmu berkembang, didunia yang dulu kau sangat tidak ingin terlibat sesuatu dengan orang lain, bahkan kau tidak punya teman disekolah dulu.”


“Haaaa, mengingat masa itu, memang masa muda yang sangat buruk.”


“Menghabiskan waktu untuk mencari kesibukan dan menyibukkan diri, padahal jika saja kau lebih memperhatikan sikapmu aku yakin…”


“Ya ya, aku tau. Itu sudah lewat, mau bagaimana lagi jangan mengungkit tentang masalalu. Saat ini dunia ini adalah tempatku hidup, merubah sikapku adalah pilihan yang bagus. Menunjukkan sifat asliku pada mereka hanya akan membuat semuanya menjadi kacau. Kalian seharusnya sudah mengerti hal itu.”


“Entahlah, aku hanya sedikit bingung saja. Kenapa kau terlalu baik.”


“Terlalu baik?”


“Ya, aku juga merasa seperti itu.”


“Sejujurnywa akwu juga merasakan hal yang serupwa.”


“Gunakan penyembuh padanya, cara bicaranya tidak benar.”


“Kau yang memukulku.”

__ADS_1


“Haaaa, iya iya. Lalu, kenapa? Sebelum datang kemari, kau bahkan tidak pernah membantu siapapun dan selalu melakukan semuanya sendiri, tapi saat disini kenapa kau selalu melakukan hal itu?”


“Keegoisanku, aku bisa bilang seperti itu.”


“Haaaa, kenapa kau masih bilang seperti itu. Orang egois macam apa yang berani mengorbankan nyawanya hanya demi menyelamatkan orang yang tak dikenal.”


“Hahahaha.”


“Apa hanya pikiranku atau karena bocah itu.”


“Bocah?”


“Ahhh, benar juga. Aku juga merasa aneh dengan hal itu.”


“T-tunggu, apa yang kalian maksud?”


“Bocah itu, ya. Sepertinya begitu.”


“Hey, kenapa kalian merahasiakan hal itu?”


“Apa yang kami rahasiakan, kau saja yang lupa. Kalian masih ingat’kan.”


“Ya, sangat jelas dikepalaku.”


“Begitupun denganku.”


“Ehhh, kenapa bisa seperti itu. Jadi artinya hanya aku saja yang lupa.”


“Ya.”


“Orang pertama yang kagum dengan bakatmu, meskipun tidak begitu berguna aku mengakuinya, tapi saat kau melihatnya tersenyum perasaan itu muncul dihatimu.”


“Perasaan?”


“Kepuasan diri dan kau terus saja haus akan hal itu sampai sekarang.”


“Ya, itu benar. Sebelum datang kemari, kau tidak memiliki sifat itu tapi…”


“Hmmmm, aku rasa kalian salah.”


“Kau bisa menipu orang lain, tapi tidak dengan dirimu sendiri.”


“Kalian memang benar, tapi jika kalian pikir sifat itu muncul karena bocah yang kalian maksud itu, itu adalah salah.”


“Huh? Bagaimana bisa?”


“Sifat kepuasan diri itu memang sudah ada sejak dulu, bahkan jauh sebelum itu. Hanya saja aku tidak menyadarinya, dan saat momentnya muncul aku menyadarinya.”


“Jika diingat lagi, hal itu memang bisa saja terjadi.”


“Ya.”


“Haaaa, kepalaku pusing.”


“Hahahaha, seharusnya pembicaraan ini menjadi lebih berguna sedikit.”


“Sudahlah, aku mau tidur. Pembicaraan ini hanya berputar-putar saja.”


“Bwagaimana dengwanku?”


“Ehhh…”


“Kau ikut memukulnya juga, selain itu kekuatan penyembuhan dari kami tidak akan bisa menyembuhkannya.”


“Haaaa, iya iya. Aku paham.” Meskipun sedikit merepotkan, tapi entah kenapa aku menyukai hal seperti ini. Membicarakan hal yang tidak berguna.


Esok harinya, pagi hari yang cerah.


“Hmmm, hari ini cuacanya mendung.”


“Kau gila bilang ini mendung, lihat disana. Leiava sudah bangun.”


Leiava sudah bangun dan tubuhnya sudah terlihat seutuhnya. “Hmmm, sekitar 300km, ya.” Besarnya hampir menyamai besar pelindung sihir yang dibuat.


“Bisa kau kalahkan?”


“Hah, kau bercanda. Meskipun menggunakan seluruh kekuatan, mengalahkan monster raksasa sebesar itu mustahil. Selain itu, jika dia mengambil bentuk kura-kura itu berarti cangkangnya akan sangat keras.”


“Jadi rencananya masih sama, mencari bekas luka yang dibuat oleh pahlawan pertama dan menyerang ditempat itu dengan seluruh tenaga, seperti itu.”


“Ya. Haaa, aku lapar.”


“Benar juga, sejak kemarin kita tidak makan apapun. Ahhh, diistana langit, mungkin ada sesuatu yang bisa dimakan disana.”


“Kalau begitu, woy diriku yang asli. Ambil makanan di istana langit, kemampuan kami tidak bisa digunakan untuk melakukan teleportasi.”


“Cih, ya sudah. Tunggu sebentar, aku akan membawa makanan.”


“Ya, akan kami tunggu.”


Setelah itu.


Siang hari.


“Huh?”


“Ada apa?”


“Ada telepati dari Ruie, sepertinya mereka semua sudah siap untuk bergerak.”


“Penyerangan secara langsung, ya.”


“Bagaimana?”


“Lakukan saja, selain itu ini adalah kesempatan terbaik. Keadaanmu juga sudah pulih, kau bisa ikut bertempur sekarang.”


“Apa kalian juga akan ikut?”


“Kau gila.”


“Uhh…”

__ADS_1


“Jika kami ikut, kami hanya akan mati dengan 1 kali serangan saja.”


“Hmm, benar juga. Tubuh kalian hanyalah sebuah bayangan, jika terkena serangan yang lebih kuat dari kekuatan kalian, maka kalian akan lenyap.”


“Jika kami lenyap, kau tidak akan mendapatkan suplai stamina dari kami dan itu akan menyulitkanmu.”


“Hmmm, kalau begitu, kalian berjaga-jaga saja. Jika aku dalam masalah, akan segera aku kabari kalian.”


“Hah, sedari awal kita memang terhubung.”


“Hahahah, itu benar. Kalau begitu.” Aku membuka sedikit celah untuk masuk kedalam pelindung sihir ini. “Semuanya, aku berangkat.”


“Ya, hati-hati dijalan.”


“Jangan sampai tewas.”


“Ya, tenang saja.”


Didalam pelindung, lembah kematian.


“Jadi ini lembah kematian, ya.” Setelah berjalan beberapa menit aku melihatnya, lembah kematian dimana Leiava berada.


Seperti namanya, tak ada tumbuhan yang tumbuh di tempat ini. Selain itu, ini pertama kalinya aku sampai kemari, sebelumnya aku tidak pernah sampai dan selalu dihadang oleh monster dan sekarang aku melihatnya secara langsung, lembah kematian itu sendiri seperti apa.


“Hmmmm, aura disini sangat pekat.” Entah karena apa aku merasakan sesuatu yang berbeda saat masuk kemari, sesuatu yang sangat berbeda dari yang pernah aku rasakan. “Apa karena Aura Leiava?” Tempat ini sudah terkurung sempurna dan hal itu mungkin saja.


Beberapa jam setelah itu.


“Ha ha ha, melelahkan.” Aku sudah berlari cukup lama dan akhirnya aku sampai. “Besar juga.” Lebih tinggi dari gunung dan ukurannya sangat besar. “Darisini aku bahkan tidak bisa melihat kepala dan ekornya. Dan, ini kakinya?”Aku sampai di salah satu kakinya, dan sesuai dugaanku lebih tepatnya ini sedikit meleset dari dugaanku.


“Lebih kecil, ya.” Kakinya sebesar kerajaan normal, sekitar 50-70km sedangkan jika kerajaan ibukota besarnya sekitar 150-200km, oleh karena itu aku sudah menduganya. “Kekuatannya memang sudah banyak berkurang.” Ukurannya yang mengecil membuktikan kalau kekuatan Leiava sudah menyusut drastis dibandingkan dengan dulu.


Masih belum ada telepati dari Ruie. “Sepertinya aku tiba terlalu cepat.”


Berjam-jam kemudian.


Sore hari.


“Haaaa, ini sangat lama. Apa yang sudah terjadi?” Aku belum mendapatkan telepati dari Ruie sampai sekarang dan ini sudah lewat dari jadwal. “Hmmm, apa ada masalah?” Saat aku memikirkannya, aku hanya dapat memprediksi 1 hal. ‘Telepati tidak bisa dilakukan.’


Karena berada cukup dekat dengan Leiava, sihir telepati tidak bisa digunakan karena telepati adalah sebuah sihir dengan ukuran kecil yang dikirim secara langsung melalui aliran sihir, dan karena aku saat ini berada cukup dekat dengan Leiava yang memiliki sihir yang besar oleh karena itu telepati tidak bisa dilakukan karena terhalang oleh sihir Leiava. Singkatnya, aliran sihir yang ada disini kacau dan sihir telepati tidak akan bisa digunakan.


“Jika seperti itu, akan gawat.” Aku kekurangan informasi dan lagi rencana selanjutnya.


‘Gas ajalah, gk usah pake lama.’


“Huh?” Suara terdengar dikepalaku.


‘Ya, benar. Jika mereka tidak bisa memberikan perintah, kenapa kau tidak memulai duluan saja sebagai awalan. Selain itu kau’kan sendiri, tidak akan ada yang menyalahkanmu.’


‘Ya, itu benar kau adalah pemimpin mereka. Apa yang kau lakukan mereka pasti akan mengikutimu.’


“Kalian semua…” Suara itu adalah suara mereka ber-3. “Berhentilah mengoceh, aku juga tau hal itu.”


‘Jika kau sudah tau cepat lakukan!! Jangan menunda, waktu adalah uang!!’


“Haaa, iya iya. Kalian merepotkan. Jika tidak bisa mendengar maka buat saja tanda. Baiklah.” Aku mulai menyiapkan sihir yang akan aku gunakan. “Sihir tanah, dan api, lalu tambah dengan sedikit petir dan juga angin. Ahhh, tambah juga sedikit pasir.” Entah apa yang sedang aku buat, tapi seperti ini ini akan berhasil.


Beberapa saat kemudian.


Aku mencampurkan semua sihir itu dan membentu sebuah sihir baru. Entah sihir apa ini, tapi ini terlihat kuat. “Baiklah, lepaskan.” Aku melemparkannya ke arah kaki Leiava.


Ledakan yang begitu kuat terjadi dan hembusan angin akibat ledakannya sangat kuat, meskipun begitu… “Haaa, sudah kuduga akan jadi seperti ini.” Tidak tergores sedikitpun, bahkan dengan kekuatan sebesar itu tidak meninggalkan bekas apapun. “Hmmm, padahal jika sebuah kerajaan yang terkena itu mungkin akan langsung hancur. Mahluk ini memang kuat.”


Cukup lama setelah itu.


“Haaaa, membosankan. Aku ingin ini segera selesai.”


‘Jangan mengeluh terus, lakukan sesuatu jika kau ingin ini berakhir dengan cepat.’


“Bicara memang mudah.”


‘Hmmm, bagaimana kalau kau incar bagian lemahnya, seperti matanya.’


‘Ahhh, benar juga. Bagaimana kalau kau bakar otaknya menggunakan sihir listirk. Jika Leiava adalah mahluk hidup, itu berarti hal itu bisa dilakukan.’


“Hmmm, kau cerdas juga.”


‘Tapi, masalah utamanya adalah bagaimana cara menembus kulitnya yang keras bagaikan Kristal berlian itu.’


‘Ya, bukankah bagian kelopak matanya biasanya akan dilapisi oleh sedikit kulit. Kenapa tidak serang saja bagian itu. Kau punya’kan sihir seperti itu.’


“Hmmm, apa itu bisa berhasil? Itu menghabiskan banyak sihir, lo.”


‘Bukan sihir cahaya dan kegelapan, jadi tidak masalah. Kesempatannya ada sekitar 2% untuk berhasil.’


“Kau bercanda.”


‘Ya, itu tergantung dengan seberapa besar sihir yang akan kau gunakan, tapi aku sarankan untuk tidak menggunakan sihir dalam jumlah besar, ingatanmu bisa hilang lagi jika berlebihan.’


“Iya aku juga mengerti hal itu. Hmmm, mengincar kelopak matanya, ya.”


‘Oh ya, jika bisa cari juga bekas luka yang ditinggalkan oleh pahlawan pertama, aku yakin jika menemukannya kau bisa mengalahkannya dengan mudah dan cepat.’


“Tubuh sebesar ini.”


‘Coba saja dulu.’


‘Itu benar, coba saja. Lagipula jika bentuknya kura-kura bukankah akan lebih mudah untuk ditemukan.’


“Hmmm, abaikan tentang cangkangnya karena itu tidak akan bisa tergores. Lalu, bagian dalam cangkang atau bagian kepala.”


‘Yup, benar sekali. Karena bagian kaki sangat keras, bagian dalam cangkang kemungkinan tidak akan sekeras kaki, tapi tetap saja


Kelopak mata adalah bagian yang lemah. Itu bisa kau jadikan rencana terakhir jika kau tidak bisa menemukan bekas luka itu.’


“Baik, aku terima saran kalian.”


‘Kalau begitu, lakukan.’


“Haaa, iya iya.” Aku pergi mencarinya, luka yang dihasilkan oleh pahlawan pertama.

__ADS_1


Aku sudah memiliki 2 rencana untuk mengalahkan Leiava, pertama adalah menyerang titik lemah yang dibuat oleh pahlawan dan selanjutnya adalah menyerang otak Leiava. Aku tak tau itu akan berhasil atau tidak, tapi tidak ada salahnya dicoba.


“Sepertinya ini akan menjadi sedikit sulit.” Monster buatan Leiava muncul. “Baiklah, waktunya bersih-bersih.”


__ADS_2