Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
33


__ADS_3

Esoknya.


Dibelakang markas.


“Mulai hari ini sampai hari kelulusanmu,kita akan melakukan latihan ini rutin setiap hari. Paling tidak 1-2 jam setiap paginya. Apa kau mengerti.”


“Hey, kau juga punya jadwal untuk akademi, lo. Jangan lupakan hal itu.” (Lucy)


“Aku bisa mengurusnya, tapi untuk Iona. Aku ingin kau serius, jika kau serius aku bisa fokus mengajarimu.”


“Tapi…”


“Tidak ada tapi-tapian, yang aku ingin dengan ada kata ‘YA’ kau paham”


“Y-ya.”


“Kurang tegas!!”


“YA!!”


“Bagus.”


“Itu lebih terlihat seperti latihan seorang prajurit, lo.” (Lucy)


“Baiklah, untuk hal pertama yang harus kau lakukan.”


“Aku diabaikan.” (Lucy)


“Sihir apa yang bisa kau gunakan?”


“Eh? A-angin dan air.”


“Hmmm, angin dan air, ya.” 2 atribut yang bisa saling mendukung, meskipun begitu aku sih berharap api dan angin agar lebih keren, tapi ini sudah cukup lagipula atribut sihir tidak bisa dipilih melainkan karunia sejak lahir jadi tidak ada gunakanya mengharapkan hal lain.


“T-tapi aku tak begitu bisa menggunakannya.”


“Tidak masalah, untuk latihan ini kau hanya perlu menggunakan sihirmu sampai batas atau paling tidak mana milikmu tersisa 50% saja.”


“Menggunakan sihir?”


“Iya, gunakan sihir apapun tapi dengan skala yang kecil agar kau bisa mengatur kekuatan sihir yang bisa kau kendalikan.”


“Hooo, itu metode yang menarik. Benar’kan Ria.” (Lucy)


“Aku tidak begitu paham dengan hal seperti itu, tapi sepertinya wakil komandan Ari adalah pengajar yang hebat.” (Ria)


Beberapa menit setelah itu.


“A-ahhh!! A-aku tidak bisa, aku selalu mengacaukannya.”


“Hmmm, bagaimana kalau kau mengeluarkan sihirmu saja. Tidak perlu menggunakan atrimut sihirmu.”


“Mengeluarkan sihir?”


“Prinsipnya sama seperti saat peralatan sihir menyerap sihir yang ada pada batu sihir, tapi kau yang berfungsi sebagai batu sihir, kau membiarkan energy sihirmu keluar dari tubuhmu. Seperti itu.”


“Jika seperti itu, sepertinya aku bisa.”


“Kalau begitu, mulai.”


Beberapa menit, lagi.


“Bagaimana?”


“Sepertinya berhasil, tapi aku merasa sangat lelah.”


“Kalau begitu istirahatlah, jangan memaksakan dirimu.”


“Baik.”


“Kalian masih memperhatikan?”


“Ya, aku pikir akan terjadi sesuatu yang menarik, seperti angin topan yang muncul tiba-tiba atau hujan deras yang sangat dasyat seperti itu.”


“Hey, pemikiranmu itu terlalu liar.”


“Lagipula aku dengar kalau keluarga kerajaan memiliki kapasitas mana yang sangat bersar, jadi aku pikir dia bisa melakukan itu.”


“Kau sendiri bagaimana, bukankah kau sendiri bagian dari kerajaan? Kau tidak bisa menggunakan sihir?”


“Aku sudah mencobanya, tapi aku tak tertarik. Alhasil aku tidak pernah menggunakannya.”


“Begitu, sayang disayangkan. Kalian bedua tolong jaga Iona, aku akan kedalam mengambil minuman.”


“Ya.”


\=\=\=\=


“Putri, kau baik-baik saja?”


“Iya, aku hanya sedikit lelah saja.”


“Begitu, pasti karena kebanyakan menggunakan sihir, mana yang ada padamu hampir habis.”


“Aku tidak pernah menggunakan mana sebanyak itu sebelumnya, saat ini aku jadi sangat lelah. Dan lagi, kenapa tiba-tiba Ari mengajakku untuk latihan seperti ini. Dia tidak seperti biasa.”


“Begini.”


Pangeran Lucy menceritakannya, perjuangan yang Ari lakukan agar aku dapat diterima di akademi sihir yang ada dikerajaan Guil.


“Aku tak menyangka wakil komandan Ari akan sampai melakukan hal sejauh itu.”


“Ya, dia bahkan mencoba untuk mempelajari hal yang berada diluar pemahamannya hanya untukmu. Meskipun begitu, dia masih saja mencari tahu apa metode yang cocok untuk melatihmu, dia tidak bisa menggunakan sihirnya tapi dia masih mencoba untuk melatihmu tanpa membebanimu. Ya, itu sulit baginya aku mengakuinya. Tapi dia mencoba yang terbaik untukmu, hanya untukmu dia rela berjuang sekeras itu.”


“A-aku tidak boleh mengecewakannya, aku akan berjuang.”


“Ya, kami akan mendukungmu.”


“Aku kembali, Iona ini minumanmu.”


“Terimakasih.” Aku meminumnya. “Baiklah, waktunya untuk kembali latihan.”


“Jangan memaksakan diri.”


“Tenang saja, aku baik-baik saja.”


“Haaaa, sudah aku bilang istirahat. Aku tau kalau kau sudah tidak sanggup lagi untuk hari ini, jadi kau boleh istirahat. Itu lebih baik daripada aku harus melihatmu terbaring lemah.”


Dia memperhatikanku, dia sangat peduli padaku. “Terimakasih.” Sepertinya, aku ini memang sangat mencintainya.

__ADS_1


Beberapa hari berlalu.


Pelatihanku berjalan seperti biasa, saat aku hampir kehabisan mana Ari menyuruhku untuk beristirahat dan pelatihan hari itu berakhir. Meskipun begitu…


“Iona, apa ada peningkatan?”


“Aku tidak tau, tapi sepertinya aku sudah sedikit terbiasa dengan hal ini.” Aku melakukan hal seperti ini berulang kali, aku tak ingin membuatnya kecewa oleh karena itu aku harus berjuang sekuat tenaga agar usaha yang dia lakukan untukku tidak sia-sia.


“Aku sudah menghitung waktumu, sepertinya ada peningkatan.”


“Eh? Benarkah?”


“Iya, dihari pertama aku mencatat sekitar kurang dari 2 menit sebelum manamu habis lalu dihari berikutnya masih sama, tapi dihari-hari berikutnya ada sedikit perkembangan.”


“Begitu, jika terus seperti itu mungkin aku bisa… Awww!!” Ari memukul kepalaku. “K-kenapa?!!”


“Jangan memaksakan diri, kesehatanmu adalah yang paling penting. Kau harus ingat itu.”


“Baik, aku mengerti.”


Tangannya menyentuh kepalaku. “Maaf karena sudah memukulmu barusan..” Ia mengelus kepalaku dengan lembut dan rasanya sangat nyaman.


“Tidak apa-apa, makasih.” Aku merasa senang dimoment seperti ini, karena aku merasa lebih dekat dengannya. Lebih dekat dari biasanya, melihat sisinya yang sangat peduli padaku secara langsung.


\=\=\=


Beberapa minggu kemudian.


“Hmmm, bagus sepertinya kau sudah menjadi lebih baik dalam hal ini hanya dalam beberapa minggu saja.”


“Iya.”


Peningkatan Iona dalam mengendalikan mana sudah lebih baik dari sebelumnya, dan ini membuat sedikit usahaku terbayar. “Baiklah, waktunya untuk istirahat.”


“Tapi aku masih sanggup’kok.”


“Aku bilang istirahat.”


“B-baik.”


Ya, meskipun akhir-akhir ini dia sering memaksakan dirinya agar latihannya lebih keras lagi, aku ingin melakukannya tapi kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk melakukan itu. Karena itu, dari sekian banyak cara latihan yang dipikirkan olehku, hanya cara ini yang bisa digunakan oleh Iona untuk sebagai latihan.


“Ari, bagaimana dengan rekorku?”


“Hmmm, sekitar 10 menit lebih.”


“Wah, itu luar biasa, padahal kemarin hanya 8 menit.”


“Itu karena kau terlalu memaksakan diri hari ini, memangnya apa yang terjadi hari ini?”


“Begini, hasil nilai dari penelitian yang aku lakukan akan keluar hari ini.”


“Begitu, kau gugup?”


“Tidak, tentu saja aku sangat senang. Aku sudah berjuang keras untuk hari ini, aku harap aku bisa mendapatkan nilai yang tinggi nanti.”


“Karena nilainya sudah keluar hari ini, berarti waktu kelulusanmu juga akan segera tiba.”


“Iya.”


Saat aku mengatakan itu, Iona menjadi murung. Karena dia akan belajar di kerajaan lain, mau tak mau kita harus berpisah, kemungkinan itu yang dia khawatirkan. Meskipun begitu, aku juga khawatir karena jika dia berada dikerajaan lain aku tidak bisa menjaganya. “Hmmm, mau jalan-jalan sebentar.”


-----


“Kenapa harus bersama Dravin?”


“Karena tempatnya sedikit jauh, jadi kita butuh tumpangan darinya. Benar’kan Dravin.”


Groaaarrr.


Kami menuju ke sebuah tempat dengan menunggangi Dravin, karena tempatnya cukup jauh dan sulit dijangkau Dravin sangat membantu dengan hal seperti ini.


Cukup lama setelah itu.


Kami sudah sampai ditujuan.


“Wahh, tempat ini sangat indah. Penuh dengan bunga warna-warni.” Sebuah tanah lapang hijau dengan 1 pohon ditengah dan dikelilingi oleh banyak bunga disekitarnya.


“Syukurlah jika kau menyukainya.”


“Ngomong-ngomong, bagaimana kau bisa menemukan tempat seperti ini?”


“Emmm, saat jalan-jalan aku tak sengaja menemukannya. Karena tempatnya sulit dijangkau, aku pikir bunga ini tumbuh alami disini selain itu aku juga tak melihat ada pemukiman ataupun apapun yang ada didekat sini.”


“Begitu, ya. Bunga-bunga ini sangat indah, dan lagi udara disini sangat sejuk dan nyaman. Sepertinya aku bisa betah kalau berlama-lama berada disini. Lalu, pohon itu cukup besar, kira-kira sudah berapa lama dia tumbuh, ya.”


“Hmmm, entahlah. Mungkin sekitar 150 atau 200 tahun, mungkin saja lebih.” Pohon yang ada ditengah-tengah itu memang cukup besar, memiliki lebar sekitar 15-20 meter, dan tinggi lebih dari 50 meter aku tak tau berapa pastinya yang jelas sangat sangat tinggi.


“Begitu. Pasti pohon ini sudah melewati banyak sekali keadaan buruk, dan juga aku tak tau sejarah kelam apa yang pernah dia alami. Meskipun begitu, aku senang saat ini tempat ini menjadi sangat indah seperti ini.”


“Kau bisa datang kemari jika kau mau.”


“Kalau begitu, nanti kita kemari lagi, ya.”


“Baiklah, sesuai keinginanmu.”


Setelah Iona puas kami putuskan untuk kembali.


“Mungkin kita bisa mengajak yang lain kesana juga nanti.”


“Yang lain? Untuk apa?”


“Tentu saja, untuk piknik tentunya.”


“Begitu. Sepertinya itu ide yang bagus.”


Setelah cukup lama kami sampai dan setelah itu kami pergi ke akademi untuk mengambil hasil dari penelitiannya.


Diakademi.


“Bagaimana?”


“Aku…”


“Begitu, ya.” Wajahnya terlihat murung, setidaknya aku tau apa yang terjadi.


“Maaf, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik lagi.”


Iona menangis dan aku mencoba untuk menenangkannya. Aku mengelus kepalanya untuk membuatnya lebih tenang. “Tenanglah, dari sebuah kegagalan kau bisa belajar untuk menjadi yang lebih baik lagi. Setidaknya kau hanya gagal dalam hal ini, tidak dalam peperangan. Kau bisa memperbaikinya di akademi barumu, saat itu tiba lakukanlah yang terbaik.”

__ADS_1


“Tapi… Aku sudah mengecewakan teman-temanku.”


“Kalian semua sudah berusaha sebaik mungkin, jadi tidak masalah. Lihat.”


“Putri, terimakasih karena sudah membantu kami selama ini.” (???)


“Tanpa bantuan putri, mungkin projek ini tidak akan pernah selesai.” (???)


“Itu benar, jangan menyalahkan dirimu sendiri, kita semua sudah berusaha hanya saja mungkin pengalaman yang kita miliki kurang.” (???)


“Itu benar, jadi jangan mengangap ini semua adalah kesalahanmu.” (???)


Teman-teman studynya menyemangatinya. “Kalian.”


“Kau masih memiliki teman yang baik seperti mereka, mereka sudah mendukungmu. Jadi, tidak masalah. Terimakasih atas kerja keras kalian. Aku akan pergi dulu, kau pasti ada yang ingin dibicarakan dengan mereka, aku akan menunggu.”


“Baik.”


Aku pergi menjauh.


“Yo Ari.” (Lucy)


“Lucy, ada apa?”


“Kau sudah melihat hasil ujiannya?”


“Paling aku dapat nilai paling rendah, akupun tak masuk saat ujian dilaksanakan.”


“Oh, ngomong-ngomong jika kau ingin melaksanakan ujian bisa hari ini, lo.”


“Eh? Bisa seperti itu?”


“Ya, kau tau. Lagipula sekolah ini bukan sekolah umum, ini sekolah khusus. Tapi, jika kau mengikuti ujian ini ujiannya akan sangat sulit dari ujian biasanya. Ya, untukmu itu sih bukan masalah.”


“Terimakasih atas informasinya, kalau begitu aku akan pergi untuk ujian.”


“Ya, semoga berhasil.”


Di ruang kepala akademi.


“Cih, kenapa aku harus kemari.” Aku membenci tempat ini, tapi jika ingin melakukan ujian aku harus meminta izin dari orang itu. “Haaa, mau bagaimana lagi.” Karena terpaksa, aku masuk kedalam.


“Hooo, ada siswa yang tak asing.”


“Heh, seperti biasa suasana disini sangat mencekam.”


“Putri sudah pergi, tak ada yang akan melindungimu lagi diakademi ini.”


“Melindungiku? Memangnya aku butuh perlindungan? Memangnya aku selemah itu sampai butuh sebuah perlindungan.”


“Haaaa, lupakan itu. Kau ingin meminta izin untuk mengikuti ujian ulang’kan.”


“Heh?” Sikapnya tiba-tiba saja berubah. “I-iya.”


“Kalau begitu, ini.” Dia memberiku kertas persetujuan. “Ada apa? Kau tidak mau?”


Aku mengambilnya. “Tak kusangka kau juga bisa bersikap seperti ini.”


“Hahahaha, aku hanya ingin melihat dirimu berjuang. Ujian ini sangat sulit, apa kau bisa menyelesaikannya?”


“Hah, mau sesulit apapun selama masuk akal semuanya bisa aku lakukan.” Aku pergi.


“Aku menunggu akan hal itu, berikan sesuatu yang menarik untukku.”


Di ruang ujian.


Aku langsung diarahkan ke ruangan ujian.


Dan setelah beberapa menit menunggu kertas ujian diberikan.


“Hey hey, yang benar saja. Soal ini sama sekali tidak ada yang dipelajari di kelas. Jadi ini, ya yang dinamankan ujian yang sangat sulit.” Semua yang ada dilembar jawaban ini sama sekali tidak termasuk kategori pembelajaran ,semuanya adalah hal yang berbeda dari kurikulum akademi ini. “Sialan, kau menjebakku. Sepertinya aku memang sangat membencimu.”


Cukup lama setelah itu.


“Yo kau sudah kembali.” (Lucy)


“Ari, bagaimana?” (Iona)


“Haaaa, sialan kepala akademi itu. Memberikan soal yang tidak masuk akal seperti itu para siswanya.”


“Kau beneran ikut ujian itu?”


“Iya, sial.”


“Aku dengar, meskipun orang dengan nilai terbaikpun tidak mampu melewati ujian itu. Selain itu, ujian itu dilakukan untuk siswa yang ingin mendapatkan nilai terbaik. Aku tak meyangka kalau kau akan melakukan hal itu.”


“Mau bagaimana lagi, nilaiku paling bawah. Jika tidak diperbaiki maka aku akan tinggal kelas.”


“Tinggal kelas?”


“Eh? Disini tidak ada sistem untuk siswa dengan peringkat bawah harus tinggal kelas’kah?”


“Tidak ada.”


“S-sialan!! Untuk apa aku melakukan ujian itu!! Haaaa, sudahlah. Semuanya juga sudah terjawab.”


“Lalu, bagaimana dengan hasilnya? Berapa soal yang kau jawab dengan benar?” (Lucy)


“Entahlah, aku sakit kepala karena memikirkan soal ujian yang tak masuk akal itu. Aku akan kembali kemarkas.”


“Putri, bagaimana menurutmu?”


“Aku yakin semua jawabannya benar, dia’kan memang orang yang seperti itu. (Tersenyum)”


---


Sementara itu.


“K-kepala akademi, ada berita penting.” (???)


“Ada apa?”


“Seoang siswa berhasil menjawab semua jawaban ujian khusus dengan benar.”


“Hoooo, siapa siswa itu?”


“Ari.”


“Menarik, itu sangat menarik.”

__ADS_1


__ADS_2