
Hari-hari pesta sudah berlalu, dan hari ini. 1 hari setelah pesta selesai.
Markas khusus.
“Haaaa, melelahkan.” Sejak pesta itu aku jadi kurang tidur dan sekarang aku menjadi sangat lelah.
“Ari, aku sudah mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan.” (Lucy)
“Terimakasih, aku akan segera menyerahkan ini pada raja. Lalu, setelah itu aku bisa beristirahat dengan tenang dan damai.”
“Hari-hari sibukmu belum berakhir, lo. Kau pasti tidak lupa hari ini hari apa,kan.”
“Entahlah, pikiranku buntu sekarang karena kurang tidur. Aku tak bisa berfikir dengan baik.”
“Begitu, jika seperti itu cepat selesaikan itu dan segeralah tidur. Ya, tapi aku tak yakin dia akan membiarkanmu tidur.” Setelah mengatakan itu Lucy pergi.
“Haaaa, aku sendirian disini.” Tak ada seorangpun disini dan ini sangat sangat tenang, tempat seperti ini memang sangat cocok denganku.
Beberapa menit kemudian.
“Baiklah, waktunya untuk pergi ke istana.” Tujuanku adalah bertemu dengan raja dan menyerahkan serta menjelaskan semua tentang apa yang sebenarnya sudah terjadi saat acara pernikahanku yang diadakan itu.
Cukup lama setelah itu.
Ruang kerja raja.
“Begitulah yang sebenarnya terjadi.” Aku sudah menjelaskan semua yang sebenarnya terjadi saat acara pernikahan itu padanya, sisanya hanya tergantung pada keputusannya.
“Aku tak menyangka mereka akan melakukan hal semacam ini. Tapi, apa yang kau katakan itu benar?”
“Iya, aku mengatakan yang sebenarnya. Lagipula tidak ada alasan untukku berbohong, apalagi pada ayah mertuaku. Benar’kan.”
“Aku akan memikirkannya.”
“Baiklah, selain itu sebelumnya juga aku pernah bilang kalau jika ingin membuat kerajaan ini jauh lebih maju dari saat ini, petinggi rakus seperti mereka tidak dibutuhkan.”
“Apa kau mempunyai bukti?”
“Jika ayah yang meminta bukti, aku tak bisa memberikannya. Tapi, jika raja yang menginginkan bukti itu…”
“Apa yang kau maksud?”
“Aku tak bisa membiarkan seorang ayah yang mengurus hal seperti ini, tapi jika anda bertindak sebagai seorang raja maka aku siap memberikannya. Bagiku, anda adalah orang yang terhormat dan yang aku hormati. Oleh karena itu, jika anda hanya bertindak seperti itu karena aku adalah menantumu, aku akan menolaknya, tapi jika kau menganggapku sebagai orang yang tanpa sengaja memberikan sebuah informasi, maka aku akan memberikannya.”
“Begitu. Kalau begitu, sebagai seorang raja, aku ingin kau memberikan informasi itu padaku.”
“Baik, segera akan saya siapkan.”
Beberapa menit setelah itu.
“Tidak mungkin.” (Raja)
“Itu semua adalah dokumen yang saya dapat dan itu sudah membuktikan kalau orang-orang seperti mereka tidak pantas untuk menjabat di posisi itu. Saya harap, anda sebagai raja bisa memberikan tindakan yang tegas pada mereka. Ulah mereka, banyak orang yang kelaparan dan juga kesulitan, bukan hanya itu akibat ulah mereka juga banyak orang yang harus berhenti bekerja. Aku sudah melakukan berbagai macam cara untuk mengatasinya, tapi jika sumber masalahnya tidak diatasi maka semua yang aku lakukan hanya akan menjadi sia-sia. Semuanya akan kembali seperti semula, saat kerajaan ini berada dalam kesulitan.”
“Baiklah, biarkan aku yang mengurus hal ini.”
“Jika seperti itu, saya izin untuk pergi.”
“Tunggu sebentar Ari.”
“Eh? Y-ya?”
“Mengenai tentang bulan madu kalian berdua.”
“Bulan madu?” Saat raja mengatakan hal itu, aku mengingatnya, dan juga aku mengerti apa yang dikatakan oleh Lucy tadi. “Haaaa, benar juga. Hal seperti itu juga ada, ya.”
“Apa kau sudah memiliki rencana? Jika tidak, mertuamu ini bisa menyarankan lokasi yang bagus untuk…”
“Terimakasih atas tawarannya, tapi kami sudah memilihnya dari jauh hari.”
“Begitu, jika seperti itu mau bagaimana lagi. Nikmati liburanmu.”
“Ya.”
Di luar ruangan.
“Ari, kenapa kau dari ruangan ayah? Apa kalian membicarakan sesuatu?” (Iona)
Aku bertemu dengan Iona tepat saat keluar dari ruangan ini. “Ya, hanya pembicaraan kecil.”
“Ari, aku ingin membicarakan sesuatu.”
“Sesuatu? Tentang apa?”
“Itu, sesuatu yang pernah kita bahas sebelumnya. Apa kau ingat?”
“Huh? Sesuatu apa?”
“Itu lo, yang pernah kita bicarakan sebelumnya di istana langit.”
“Apa ada yang pernah kita bicarakan?”
“Jangan membuatku marah, apa kau melupakannya… Kenapa kau malah tersenyum, aku ini sedang marah, lo.”
“Iya iya, aku tau. Maaf, aku ingat kok. Setelah kita memberitahu yang lain dan menyiapkan persiapan, kita bisa langsung berangkat.”
“Aku sudah memberitahu yang lain, dan persiapannya juga sudah aku lakukan. Barang-barang yang aku butuhkan juga sudah aku bawa. Kita bisa berangkat sekarang. Awww…”
Aku menjitak dahinya. “Haaaa, karena kau sudah menyiapkan semuanya mau bagaimana lagi.”
Siang hari.
__ADS_1
Di sebuah penginapan di kerajaan yang ada di dekat pantai yang indah bernama Seronia.
“Wah, dari sini pemandangan pantainya terlihat sangat indah.” Iona melihat keluar jendela, dan langsung disambut oleh pemandagan pantai yang memukau.
“Aku senang jika kau menyukainya.”
“Ari, darimana kau tau tentang tempat ini?”
“Ahhh, a-aku waktu itu sedikit berjalan-jalan dan berhenti disini untuk makan, karena tempatnya bagus aku pikir bisa membawamu kemari. Tapi, karena selalu saja ada masalah aku sampai tak sempat untuk mengatakannya. Untungnya sekarang aku bisa mengajakmu kemari.”
“Terimakasih.”
“Kalau begitu, aku akan tidur dulu. Aku sangat lelah sekarang.” Aku berbaring dikasur yang lembut dan nyaman ini. “Haaaa, selamat tidur.”
“Tunggu, bagaimana dengan jalan-jalannya?”
“Jalan-jalan, ya.” Saat ini aku sedang sangat-sangat lelah, selain karena kurang istirahat akibat pesta itu hari ini aku juga menggunakan teleportasi dan sudah jelas itu membuatku sangat lelah sekarang. “Iona, kesini sebentar.”
“Ada apa?”
“Sudah, kesini.” Iona menghampiriku, dan setelah itu.
“A-apa yang kau…”
Aku menariknya tidur diatas kasur ini. “Apa kau tidak lelah?”
“Tidak.”
“Begitu, meskipun begitu perhatikan kondisi tubuhmu. Jangan memaksakan diri.”
“Aku tidak memaksakan diri, aku hanya ingin jalan-jalan saja.”
“Kita masih memiliki waktu untuk melakukan itu, sekarang aku sangat lelah. Setidaknya biarkan aku istirahat sebentar, 1 jam saja sudah cukup.” Aku perlahan mulai menutup mataku. “Iona, selamat tidur.”
Sore hari.
Aku perlahan mulai membuka mataku. “Haaa, dia tertidur juga.” Iona tertidur pulas disampingku.
Perutku berbunyi. “Aku lupa tidak makan sejak pagi.”
Cukup lama setelah itu.
“Iona kau sudah bangun, ya.”
“A-ri…”
“Aku sudah menyiapkan makanan untukmu, jika kau lapar kau bisa langsung makan.”
“Terimakasih. Kau mau pergi kemana? Aku mau ikut.”
“Hmmm, makan saja dulu. Kau’kan belum makan sejak pagi. Aku akan menunggumu.”
“Baik.”
“Iya, ini enak. Dimana kau membelinya?”
“Tadi dijalan, karena terlihat enak jadi aku membelinya.”
“Kau mau coba?”
“Aku sudah, makan saja.”
“Sini, coba satu gigitan saja, ya.”
“Tidak perlu, kau makan saja.”
“Begitu, ya.”
“Haaaa, baik baik. Aku akan mencobanya.”
“Benarkah, kalau begitu. Aku akan menyuapimu. Buka mulutmu, aaaaa… Bagaimana? Apa rasanya enak?”
“Iya, setidaknya ini tidak buruk.”
“Benar’kan.”
Cukup lama setelah itu.
Kami berkeliling disore hari.
“Tempat ini sangat nyaman, penduduknya juga sangat ramah.”
“Mereka menyambut pendatang baru ataupun orang yang sedang liburan kemari dengan hangat, selain itu kerajaan ini juga dikenal sebagai kerjaan untuk orang yang ingin liburan. Aku dengar kalau fasilitas yang ada disini cukup lengkap, mulai dari tempat hiburan, tempat makan romantis dan juga beberapa hal lainnya. Semuanya ada disini, tapi setiap tempatnya berbeda. Lalu, yang paling terkenal adalah pemanian air panas awet mudanya.”
“Pemandian air panas awet muda?”
“Iya, seperti yang dikatakan. Pemandian itu dapat membuat orang yang masuk menjadi awet muda, meskipun begitu aku tau itu hanyalah sebuah hal yang digunakan untuk membuat daya tarik orang untuk mencobanya. Aku yakin kalau tidak ada khasiat apapun di…”
“Ari, aku ingin mencobanya. Pemandian awet muda itu, aku ingin mencobanya.”
“Aku baru saja menjelaskan, lo. Itu hanya pemandian air panas biasa”
“Tapi aku ingin mencobanya.”
“Haaaa, baik. Nanti malam kita pergi kesana.”
“Asyik.”
Malam harinya.
Tempat pemandian pribadi yang ada di penginapan.
__ADS_1
“Padahal aku ingin mencobanya.”
Saat ini aku tengah berendam dan Iona masih membersihkan tubuhnya. “Mau bagaimana lagi, tempatnya sudah penuh. Aku juga tak tau kalau tempat itu akan seramai itu, jika kau mau mungkin besok kita bisa menyewa tempat itu.”
“Benarkah?”
“Jika kau memang ingin coba, tidak masalah. Untuk hari ini nikmati saja pemandian ini.”
“Terimakasih, tapi sebenarnya yang aku inginkan hanyalah menghabiskan waktu bersamamu. Waktu seperti ini sangat berharga bagiku.”
“Begitu, sepertinya aku juga harus buat pemandian air panas di istana lagi.”
“Kalau itu sudah ada’kok.”
“Eh, benarkah? Tapi aku tak pernah melihatnya.”
“Kalau itu, tempatnya ada dibawah tanah.”
“Dibawah tanah, apa-apaan pemandian itu.”
“Tempatnya juga sangat nyaman kok, aku pernah mencobanya. Selain itu tempatnya luas dan juga bersih, aku menyukainya. Kapan-kapan kita berendam disana, ya.”
“Iya iya. Lagipula istana langit sudah bisa dibilang sebagai rumah kita, tidak perlu menunggu kapan-kapan. Saat mau kita bisa melakukannya.”
“Hehe, benar juga.”
Cukup lama setelah itu.
“Haaaa, sepertinya sudah cukup.”
“Kau sudah selesai?”
“Iya, jika terlalu lama aku akan pusing. Selain itu kita belum makan malam.”
“Benar juga.”
“Jika kau masih belum selesai lanjutkan saja, aku akan pergi untuk membeli makanan.”
“Baik, aku akan diam disini saja.”
Malam ini tidak terjadi apa-apa. Setelah makan malam aku tertidur begitu pula dengan Iona.
Esoknya.
Pagi hari.
Aku membuka mataku dan melihat matahari sudah terbit. “Ari, kau sudah bangun. Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, sebelum jalan-jalan nanti aku ingin kau makan dulu.”
“Iya iya.” Saat aku ingin bangun.
“A-ari, apa yang kau lakukan?!” Aku mengendong Iona dan langsung melompat keluar jendela. Dan tepat setelah itu, penginapan yang kami tempati hancur. “A-apa yang sebenarnya terjadi?”
“Cih, aku tak menyangka mereka akan sampai disini duluan.”
Orang-orang yang melihat kejadian itu langsung berkerumun disini.
“Iona, saat kau berjalan keluar apa kau melihat ada orang lain yang ada di penginapan ini?”
“Tidak, semua orang yang ada dipenginapan ini sudah keluar semua, lagipula hanya ada 3 orang saja yang menginap disini termasuk kita.”
“Begitu, syukurlah.” Tidak ada korban pada insiden kali ini. “Maaf mengenai pakaian yang kau bawa.”
“T-tidak apa-apa. Ari, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Membicarakan disini bukan hal baik, kita cari tempat yang sepi dulu.”
“Y-ya.”
Di tepi pantai.
“Tempat ini cukup sepi, sekarang katakan, apa yang sebenarnya terjadi?”
Sembari jalan-jalan, aku menjelaskan apa yang sebenarnya sudah terjadi. “Serangan para iblis.”
“Para iblis? Mereka sudah mencapai kemari?”
“Tidak belum, tapi serangan barusan jaraknya sangat jauh dan juga sangat kuat. Tapi, karena terpaku oleh jarak yang jauh makanya dampaknya hanya seperti itu, jika lebih kuat dan besar lagi kemungkinan akan meledak sebelum sampai disini.”
“Serangannya bisa sampai sejauh ini… I-itu..” Tubuh Iona bergetar, dan ia terlihat ketakutan.
“Sepertinya kita sudah terlalu banyak membuang waktu, maaf Iona tapi sepertinya tidak ada waktu untuk melanjutkan hal ini lagi. Kita harus segera kembali dan memulai rencananya.”
“Aku mengerti.”
Meskipun berkata seperti itu, tapi raut wajahnya berkata lain. Aku tak mau melihatnya seperti itu. “Haaaa, sepertinya untuk semalam saja tidak apa-apa.”
“Huh?”
“Bukankah kau ingin mencoba pemandian air panas itu, jika pergi sebelum mencobanya aku pikir kau tidak akan senang jadi sebelum pergi bagaimana kalau kita mencobanya.”
“Baik.”
Ia masih terlihat sangat kecewa. “Kita akan kembali besok pagi, jadi hari ini kita bisa menikmati hari ini sepuasnya sebelum kembali besok.”
“Ya.”
“Haaaa.” Wajahnya masih tidak berubah, ini membuatku sangat bingung. Aku menciumnya. “Maaf membuat hal yang sangat kau dambakan berakhir secepat ini.”
“Tidak apa-apa. Kau tidak salah.” Meskipun begitu, ia terlihat begitu sedih.
Aku memeluknya. “Maaf, aku minta maaf karena sudah merusak yang kau dambakan.” Dia menangis.
__ADS_1
“Aku sudah menatikan hari ini, tapi kenapa ini harus berakhir secepat ini. Hiks. Padahal aku sangat menantikannya, menikmati matahari sore bersama, makan malam romantis, bersenang-senang bersama, dan melakukan hal menyenangkan lainnya. Aku sangat menantikannya, tapi semuanya berakhir secepat ini.”
Aku tak bisa melihatnya menangis seperti ini, tapi saat ini aku tak tau harus melakukan apa. Kekuatan musuh masih belum diketahui, meskipun aku maju kemungkinan akan ada serangan tambahan lagi dan itu hanya akan membuat semuanya kacau atau lebih buruknya tempat ini akan hancur. ‘Maaf, karena sudah membuatmu menangis.’