Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
58


__ADS_3

“Hmmm, makanan ini sangat enak.”


“Mereka bilang kalau ini adalah hasil tangkapan mereka dari berburu rusa liar, aku tak menyangka kalau mereka bisa membuat makanan seenak ini.”


“Tempat ini sangat nyaman dan tenang, Ari tahun depan kita datang kemari lagi, ya.”


“Iya, jika itu yang kau inginkan.” Meskipun begitu aku tak tau apakah hari itu akan ada atau tidak.


“Ari, disana ada makanan yang terlihat enak ayo kesana.”


“I ya iya.”


Cukup lama setelah itu.


Kami berjalan berkeliling.


“Ari.”


“Ya?”


“Tentang mahluk legendaris yang kita bicarakan tadi, jika semua buku yang ada diperpustakaan itu adalah kisah dari masa lalu, berarti mahluk itu juga ada, ya?” Aku tak meresponnya. “Kenapa kau diam?” Aku hanya mengelus kepalanya tanpa memberikan jawaban. “Begitu, ya.”


Beberapa saat kemudian.


“Iona, ada apa?” Ia berhenti dan setelah itu berlari ke tempat sepi, karena hal itu aku menyusulnya. “Iona?!” Ia memuntahkan makanan yang ia makan barusan. “Iona, apa yang terjadi padamu?!”


“M-maaf, aku hanya sedikit tidak enak badan saja. Tapi aku sudah baik-baik saja.”


“Mau bagaimanapun aku tak bisa melihatmu dalam keadaaan seperti itu. Kita harus kembali.”


“Jangan, aku masih ingin menikmati festival ini.”


“Tapi keadaanmu.”


“Aku sudah baik-baik saja, percaya padaku.”


“Haaaa, baiklah. Tapi jangan memaksakan diri, ya.”


“Iya, tenang saja.”


Meskipun begitu aku tetap merasa khawatir dengannya. Aku tak tau apa penyakitnya oleh karena itu sihir penyembuhku tidak bisa aku gunakan. ‘Menyabalkan.’ Aku sangat kecewa dengan diriku sendiri yang sangat tak berdaya ini.


Cukup lama setelah itu, kami kembali berkumpul.


“Tempat ini sangat menyenangkan, aku harap tahun depan bisa kesini lagi.” (Ria)


“Ya, aku juga.” (Marie)


“Kalian bedua tidak menikmatinya?”


“Stamina mereka berbeda dengan kita, makan, bermain, makan, bermain, perutku sudah tak sanggup lagi.” (Lucy)


“I-itu benar, aku sudah tak sanggup lagi.” (Paul)


“Iona.” Ia kembali pergi dan aku langsung menyusulnya. “Kau mual lagi, aku khawatir denganmu. Ayo kembali, kita akan memeriksa keadaanmu.”


“Putri, ada apa?” (Ria) Mereka semua menyusul.


“Jika sakit, kalo tidak salah ada pos pemeriksaan disana. Bagaimana jika kau membawanya kesana.”


“Hey, laki-laki diam jangan ikut. Ini biar jadi urusan para gadis. Putri, ayo.”


“Y-ya.”


Para gadis pergi, dan disini hanya ada Lucy aku dan juga Paul.


“Ari, kau tak perlu cemas semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin itu bukan masalah yang besar, mungkin.”


“Kata terakhirmu membuatku cemas.”


“Ayolah, putri pasti akan baik-baik saja percaya padaku.”


“Tak ada yang bisa aku percaya darimu, selain itu bukan kau yang memeriksanya.”


“Iya, itu memang benar. Sudahlah, bagaimana kalau kita nikmati saja malam ini dan bersenang-senang. Aku menemukan tempat yang bagus, lo.”


“Tempat yang bagus.”


“Ya, aku menemukannya.”


Beberapa menit setelah itu.


“Kafe.”


“Ini bukan sembarang kafe, ini adalah surga. Aku melihatnya saat berjalan dengan Ria tadi, dan sedikit melihat kedalamnya.”


“Kau itu, kenapa kau melakukan hal yang berbahaya seperti itu.”


“Sudahlah, Paul, ayo masuk.” Lucy menarik tanganku dan juga Paul untuk masuk.


Di dalam.


Kami langsung duduk di salah satu kursi yang ada disini. “Tidak ada bedanya dengan tempat yang lain.”


“Hey, jangan menilai buku hanya dari sampulnya saja.”


“Jika sampulnya tidak menarik bagaimana akan menarik perhatian orang untuk membacanya.”


“Hmm, yak kau benar juga. Tapi tenang saja, tempat ini adalah sebuah penyamaran. Hidangan utamanya akan. Paul, apa yang ingin kau pesan?”


“Jus saja.”


“Ari, bagaimana denganmu?”


“Ari putih.”


“Eh, hanya itu?”


“Aku butuh untuk memberikan tambahan cairan untuk tubuhku.”


“Aku tak mengerti, tapi baiklah. Permisi, aku ingin memesan.” Lucy mulai memesan.


“Haaaa, aku mengkhawatirkannya.”


“Pangeran Ari…” (Paul)


“Panggil Ari saja, lagipula aku bukan seorang pangeran.”


“Kalau begitu, Ari. Apa kau mencemaskan putri?”


“Sangat mencemaskannya, setidaknya itulah yang aku rasakan. Penyembuhanku tidak bisa digunakan jika aku tak tau apa penyakitnya. Jika mengambil penyakitnya, aku yakin dia akan menjadi sangat sedih.”


“Huh? Kenapa?”


“Ya, saat aku melakukan itu penyakit yang akan aku terima berkali-kali lipat lebih besar daripada yang Iona terima.”


“Berkali-kali lipat?”


“Contoh sederhananya seperti ini, kalau tangan Iona tertusuk jarum maka jika aku mengambil lukanya luka Iona akan langsung sembuh tapi sebaliknya tanganku yang akan terluka tapi lukanya akan seperti terbelah oleh pedang. Seperti itu.”


“I-itu sangat menyeramkan.”


“Hmmm, aku baru tau tentang itu.”


“Kau tidak bertanya, bagaimana mau tau.”


“Aku saja tidak tau, bagaimana mau bertanya.”


“Haaa, iya iya. Berdebat denganmu memang tidak akan ada habisnya.”


“Ari, apa kau pernah menggunakan kemampuan itu?”


“Ya, dulu saat mengambil penyakit Iona untuk pertama kali. Rasanya seperti ingin mati, penyakit yang aku ambil dulu kalau tidak salah tifus, kalau saja tubuhku tidak kuat menahan berkali-kali lipat rasa sakitnya mungkin aku akan mati seketika tepat saat aku mengambil penyakitnya.”


“Jadi itu alasanmu sakit parah dulu.”


“Kau tau?”


“Iya tentu saja, kau pergi dalam keadaan sehat dan tiba-tiba saja kau dikabarkan sakit oleh putri, sudah jelas itu membuatku terkejut. Dan lagi, urusan militer diserahkan padaku, itu merepotkan. Waktu itu adalah waktu yang paling merepotkan untukku, krisis kerajaan dimana-mana dan hanya aku yang menyelesaikannya seorang diri.”


“Ya, itu adalah masalalu, tidak ada gunanya jika diungkit.”


“Kau benar.”


Beberapa saat kemudian, minuman yang kami pesan datang tapi…


“Hooo, ini dia.” Seorang yang memiliki paras cantik dan menggoda yang mengantarkan minuman yang kami pesan.


“Jadi ini maksudmu, ya.”


“Ini minuman kalian, selamat menikmati.”


“T-terimakasih.”


Setelah menaruh minumannya dia pergi.


“Aku tak bisa membayangkan bagaimana marahnya jika Ria melihatmu sekarang.”


“Jika dia memang marah, mungkin aku akan bersujud dan meminta maaf padanya sekarang.”


“Aku pegang kata-katamu itu.” (???)


Mendengar suara itu Lucy langsung menelan ludahnya.


“Lucy, kenapa kau menelan ludah?”


“S-sialan kau, kenapa kau tidak memberitahuku.”


Aku melihatnya dengan jelas, dibelakang Lucy Ria sedang berdiri dan menatap kearahnya. “Hooo.”

__ADS_1


“A-aku minta maaf, aku khilaf.” Ia melakukannya, dia bersujud dan meminta maaf langsung.


“Apa alasanmu datang kemari.”


“T-tidak ada, hanya iseng.”


“Heee, kau tadi bilang kalau ada sesuatu yang menarik disini, benar’kan Paul.”


“Eh, y-ya.”


“Sialan kalian.”


“Jadi, Lucy apa ada pembelaan?”


“M-maafkan aku, sebenarnya aku hanya ingin melihatmu menggunakan pakaian pelayan, tapi karena aku takut untuk memintanya jadi aku melakukan ini. Untuk membuatku tenang.”


“Heeee, aku tak menyangka kau akan mengatakan itu. Langsung didepannya.”


“Pangeran, kau memiliki hobi yang aneh.”


“Iona, jangan berkata seperti itu. Ya, aku tak menyangkalnya.”


“Sialan kalian.”


“Haaaa, Lucy. Kenapa kau tidak bilang dari awal.”


“Eh? A-apa boleh?”


“Jika hanya ada kita berdua aku mau melakukannya.”


“T-terimakasih!! Aku mencintaimu Ria!!”


“Oh ya, Iona, bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah tau penyakitmu?”


“Aku…”


“Ahh, putri hanya kelelahan saja. Perawat tadi juga bilang kalau mungkin putri terlalu bekerja keras.” (Naila)


“Hmm, benar juga.”


“Ari, bukankah kau yang paling mengerti putri. Putri memiliki tubuh yang lemah, tapi selama ini dia terus memaksakan dirinya.”


“Lucy, jika berbicara angkat kepalamu.”


“Abaikan itu. Untuk sementara waktu kita bisa gunakan waktu pemberhentian selama beberapa hari ini untuk beristirahat. Jika tidak salah, masih ada waktu 4 hari lagi, jadi kita masih punya waktu untuk beristirahat sebelum energi istana langit kembali pulih.”


“Jadi anggap saja ini sebagai liburan, ya.”


“Ya, itu benar. Lagipula festival ini akan berakhir 3 hari lagi, jadi kita masih punya waktu.”


“Haaaa, baiklah. Lagipula aku tak mau membiarkan Iona memaksakan diri lagi.”


“Ahh, nak. Kau ada disini.”


“Tuan naga yang tadi.”


“Apa yang kalian lakukan disini? Tempat ini bukan tempat yang diharuskan untuk kalian yang dibawah umur.”


“B-begitu.”


“Oh ya, kalau tidak salah disini ada tempat peminjaman pakaian.”


“Apa itu pakaian pelayan?!”


“Huh? Bocah, kenapa kau bersujud?”


“Ahhh, abaikan itu tapi apa itu pakaian pelayan yang digunakan oleh pelayan cantik yang membawa minuman itu?”


“Ahh, itu Shiera, kalian sudah bertemu dengannya. Dia adalah pemilik tempat ini, dia juga yang membuka jasa peminjaman pakaian. Iya, sepertinya begitu.”


“Ria, aku mohon.”


“Haaa, dasar kau itu tidak kapok, ya.”


“Ini demi kepuasan pribadiku.”


“Sudah-sudah, kenapa kalian tidak mencobanya dulu? Aku pikir kalian cocok menggunakannya. Shiera, ada orang yang ingin mencoba menggunakan pakaian café ini.”


“T-tungg…”


“Ahhh, benarkah?” Gadis cantik tadi langsung datang. “Wah, gadis manusia, sudah lama sekali aku tak melihatnya. Apa kalian ingin mencoba seragam kami?”


“Ya, aku mohon.” (Lucy)


“Hey, pertanyaan itu bukan untukmu.”


“Haaaa, putri, Marie, Naila, bagaimana dengan kalian?”


“Aku tidak masalah.” (Iona)


“Aku juga tidak masalah, lagipula aku ingin mencobanya. Pakaian yang berbeda.” (Marie)


“Kalau begitu, ayo kita coba.” Shiera langsung membawa mereka pergi.


“Haaa, akhirnya impianku.”


“Kau sudah bisa bangun, jangan sujud mulu seperti itu.”


“Iya iya, aku mengerti.”


“Hahahaha, masa muda. Sepertinya kalian menikmatinya.”


“Ya, meskipun keadaan semakin sulit tapi setidaknya kebahagiaan harus tetap ada.”


“Kau benar, situasi sekarang sudah sangat sulit bahkan ada sesuatu yang sulit untuk ditangani akan segera muncul.”


“Mahluk legendaris.”


“Membicarakan itu disini tidak bagus, jika ingin membicarakannya datanglah ketempatku. Aku akan menunggumu.” Dia memberikanku kertas yang memberitahu tempatnya tinggal, dan setelah itu dia pergi.


“Ari, apa yang kau bicarakan dengannya?”


“Tidak ada, bukan hal yang penting.”


Beberapa lama setelah itu.


Para gadis kembali dengan menggunakan pakaian kerja cafe ini.”


“S-sial, mereka semua terlihat imut. Apalagi Ria.” (Lucy)


“Haaa, iya. Setidaknya mereka terlihat berbeda.”


“Apa itu komentarmu, datar sekali.”


“M-maaf, s-sepertinya aku memang belum siap.” (Ria)


“K-kau terlihat sangat manis dan cantik.” (Lucy)


“T-terimakasih.”


Pakaiannya tertutup, tapi ada beberapa bagian yang terbuka kemungkinan untuk menarik perhatian dan juga sebagai daya tarik.


“A-Ari, bagaimana? Apa aku cocok menggunakan ini?”


“Tidak, sama sekali tidak cocok.”


“B-begitu, ya. Maaf.”


“Hey, kau serius bilang seperti itu?”


“Ya. Aku akan pergi, ada sesuatu yang ingin aku kerjakan. Aku akan kembali setelah selesai.”


Beberapa menit setelah itu.


Aku sudah sampai, ditempat dimana naga yang aku temui tinggal.


“Besar sekali.” Bukan rumah, melainkan sebuah gua. “P-permisi.”


“Ya, tunggu sebentar.”


Tak selang beberapa saat setelah itu sosok naga besar dan perkasa keluar dari gua itu. “Ahhh, kau anak mudah. Aku ingin membahas tentang yang tadi.”


“Y-ya.”


“Kalau begitu masuklah, jangan sungkan anggap saja seperti rumah sendiri.”


“Baik.” Aku masuk.


Beberapa saat kemudian.


Didalam sangat berbeda jauh dari penampilan luarnya, didalam sini terlihat begitu mewah. “Anda merubah bentuk?”


“Ahhh, karena ada tamu aku merubah bentuk. Selain itu tempat ini memang dikhususkan untuk menerima tamu, jadi memang terlihat mewah.”


“Begitu.”


“Kalau begitu duduk, aku sudah menyiapkan cemilan dan juga minuman.”


“Terimakasih.” Aku duduk.


“Hmmm, aku harap kau suka dengan teh.”


“Tidak masalah, aku menyukai apapun.”


“Begitu, syukurlah. Haaaa, minum teh dimalam hari memang yang terbaik…”


“Aku belum memperkenalkan diri, namaku Ari, Touji Ari.”


“Aku Homura, panggil saja seperti itu.”

__ADS_1


“Homura, ya. Aku ingin bertanya tentang mahluk legendaris itu.”


“Mahluk legendaris, ya. Jadi itu sebutan untuk monster itu.”


“Monster?”


“Ya, monster yang hampir meluluhlantahkan dunia.”


“Apa monster itu memang sekuat itu?”


“Iya, bahkan dahulu ada lebih dari 1000 naga terkuat yang mencoba untuk mengalahkannya tapi percuma. Monster itu tidak bisa dikalahkan.”


“Tapi, aku baca kalau ada seseorang yang bisa mengalahkannya, apa itu benar?”


“Ahhh, orang itu. Aku pernah bertemu dengannya 1000 tahun yang lalu, dan 500 tahun yang lalu aku merasakan kehadirannya kembali didunia ini.”


“Jadi itu benar, ya.” Orang itu adalah Hiroaki.


“Aku tak tau caranya mengalahkannya, tapi sepertinya setelah itu dia disegel didalam tanah. Tapi sekarang segelnya semakin melemah, kau memiliki mana yang besar kau pasti menyadarinya.”


“Ya, aku menyadarinya.”


“Monster itu disebuh dengan Leiava, dulunya dia adalah mahluk suci yang diturunkan oleh dewa.”


“Mahluk suci? Dewa menurunkan mahluk itu, untuk apa?”


“Entahlah, tapi awalnya Leiava bukanlah mahluk yang menyeramkan dan juga dahulu kala dia adalah bagaikan sebuah pengantar pesan secara langsung kepada dewa.”


“Tapi, jika seperti itu kenapa sekarang Leiava itu…” Aku menyadarinya. “Keserakahan.”


“Ya, karena Leiava itu bagaikan pengantar pesan pada dewa, jadi para manusia yang serahkan mulai memanfaatkannya, bukan hanya manusia tapi seluruh ras mulai memanfaatkannya untuk kepentingan mereka sendiri. Hasilnya, Leiava mengamuk dan melululantahkan dunia ini 1 kali, dan setelah itu dia tertidur.”


“Dunia ini, pernah hancur?”


“Ya, kejadian itu sudah lama. Sekitar 5000 tahun yang lalu, dan mahluk yang selamat membuat koloni baru dan memulai kehidupan baru mereka. Sampai akhirnya, 4000 tahun berlalu lebih tepatnya 1000 tahun yang lalu, dan serangan Liava yang kedua terjadi lagi.”


“Tapi, serangan itu berhasil dihentikan oleh seseorang dari dunia lain.”


“Ya, karena itu Leiava sekarang disegel.”


“Segelnya semakin lemah dan tidak ada yang bisa menghentikannya selain orang itu.”


“Meskipun dengan seluruh kekuatan ras yang hidup didunia ini sekarang, sangat sulit untuk mengalahkannya.”


“Sangat sulit, itu berarti dia masih bisa dikalahkan. Benar’kan?”


“Ya, tapi itu membutuhkan usaha yang sangat keras. Saat serangan kedua, pahlawan pertama dari dunia lain itu meninggalkan bekas luka yang dalam, tapi entah dimana letaknya.”


“Kemungkinan jika bisa menemukan itu dan menyerangnya Leiava bisa dikalahkan seperti itu.”


“Ya, tapi ukuran Leiava tidak masuk akal.”


“Memangnya sebesar apa ukurannya?”


“Aku pernah melihatnya sendiri dengan mata kepalaku. Kakinya ada 6 dan telapak kakinya sebesar sebuah ibukota kerajaan sedangkan tingginya melebihi tinggi langit, lalu besarnya dan lebarnya sebesar 3 gunung besar yang dijejer. Jika diperumpamakan, mungkin diatas tubuh Leiava bisa dibuat 7 sampai 10 ibukota kerajaan.”


“A-apa-apaan itu. Itu sangat tidak masuk akal.” Ukuran dan juga besar yang tak masuk akal itu, aku penasaran bagaimana Hiroaki bisa mengalahkannya. Meskipun begitu, ukurannya itu memang sudah cukup untuk meluluhlantahkan dunia ini. “Lalu, bagaimana dengan kekuatannya?”


“Hanya ada 1.”


“Hanya 1, benarkah?”


“Iya.”


“Haaa, syukurlah. Aku pikir monster seperti itu memiliki banyak sekali kemampuan, jika hanya 1 sepertinya tidak begitu bermasalah. Lalu, apa kemampuannya?”


“Membuat salinan diri.”


“Y-yang benar saja!!! Itu bahkan lebih buruk.”


“Tenang, Leiava hanya bisa membuat 3 salinan saja, selain itu salinan yang dibuat olehnya 2 kali lebih kecil darinya.”


“2 kali, meskipun terlihat kecil, tapi itu tetap saja sulit. Haaaa, sepertinya ini merepotkan. Tapi, terimakasih atas informasinya.”


“Oh ya, dimana pahlawan yang ada dikastil terbang itu?”


“Dia sudah…” Aku menundukkan kepalaku.


“Hmm, jadi dia memberikan itu padamu, ya. Sepertinya dia memilih orang yang tepat.”


“Huh?”


“Kau tau, pahlawan itu selalu berbincang padaku tentang mencari orang yang tepat untuk mewarisi kastil terbang itu. Dia bilang ingin mencari orang yang sesuai dengan pilihannya, tidak rakus, tidak termakan oleh kenikmatan dunia, dan yang paling penting memiliki kemampuan dan juga haus akan pengetahuan. Aku yakin dia melakukan itu untuk menghindari sifat kerakusan dan juga ketamakan, dan saat aku melihatmu sepertinya kau tidak memiliki sifat itu.”


“Tidak ada yang tau, tapi aku hanya mengetahui 1 hal tentang diriku sendiri, aku ini sangat egois.”


“Aku bisa melihatnya sendiri, tapi sifat egoismu itu sangat berguna bagi orang lain. Kebanyakan orang egois hanya mementingkan dirinya sendiri, tapi kau tidak. Keegoisanmu karena ingin berguna bagi orang lain, menolong mereka yang tidak bisa berbuat apa-apa dan juga membantu siapapun yang meminta pertolongan. Itulah sifat egois yang ada didalam dirimu. Jika kau terus egois seperti itu, kau juga akan dianggap sebagai seorang pahlawan.”


“Haha, julukan pahlawan sangat tidak cocok denganku, selain itu yang aku lakukan ini hanyalah demi memuaskan keegoisanku. Seseorang yang selalu mendahulukan sifat egoisnya, tidak pantas disebut sebagai seorang pahlawan.”


“Yang menentukan itu bukan kau, tapi orang lain. Mereka yang akan menentukan dirimu, kau tidak bisa menentukan dirimu sendiri.”


“Haaaa, ini menyebalkan. Disisi lain ada peperangan melawan iblis, dan disisi lain ada sesuatu hal yang bisa menghancurkan dunia.”


“Kau ingin membuat aliansi dengan raja iblis?”


“Jika itu memungkinkan, selain itu aku juga memiliki sebuah impian.”


“Membuat dunia dimana semua orang bisa hidup dengan damai dan harmonis.” Aku dan juga Homura mengucapkannya secara bersamaan.


“B-bagaimana kau.”


“Hahaha, itu adalah impian semua orang termasuk para pahlawan yang pernah kesini. Semua pemimpin yang memiliki kekuatan memimpikan hal itu. Yang mereka harapkan hanya 1, agar keluarga anak cucu mereka tidak perlu mengalami hal yang sama seperti yang sudah pernah dialami. Aku mengharapkan hal itu, sebagai seorang raja naga jika kau membutuhkan bantuan ras naga siap membantumu untuk mengwujudkan impanmu itu.”


“Terimakasih… EHHHH?!!! Raja naga?!”


“Aku belum mengatakannya, ya. Aku adalah raja naga, pemimpin yang mengendalikan semua naga didunia ini.”


“B-begitu.” Aku tak menyangka kalau yang aku temui ini adalah orang yang sangat penting. Tapi, jika dipikir lagi dia sudah hidup lebih dari 5000 tahun, jika saja aku menyadarinya mungkin aku tidak akan seterkejut ini mendengarnya.


“Jika kau butuh bantuan atau apapun kau bisa langsung datang kemari, aku akan menyambutmu disini.”


“Terimakasih atas tawarannya, aku sangat menghargainya. Saat waktunya tiba, aku akan mengatakannya.”


“Ya, akan aku tunggu.”


“Kalau begitu, aku pergi.” Aku pergi langsung ke istana langit.


“Anak muda yang menarik, responnya sama seperti para pahlawan itu buat pertama kali. Aku jadi merindukan masa-masa itu.”


Di istana langit.


Di perpustakaan.


“Huh? Lucy, dimana Iona?”


“Dia ada dihalaman sedang merenung, hibur dia sana.”


“Huh?”


“Wakil komandan, meskipun tidak cocok seharusnya kau memujinya. Aku tau kau itu orang yang terus terang, tapi setidaknya kau harus memujinya untuk membuatnya senang.”


“Haaa, iya iya. Kalau begitu aku akan menemui Iona.”


“Sepertinya kau sudah menemukan apa yang ingin kau katakan.”


“Ini bukan hal yang bisa dibicarakan didepan orang lain.”


“Iya, aku mengerti. Cepatlah pergi.”


“Ya.”


Di halaman.


“Iona.” Aku memanggilnya tapi ia tak menjawab. “Kau marah denganku?” Ia masih tak menjawab. “Haaa, begitu, ya.” Aku duduk disampingnya, tapi saat aku melakukan itu dia memberikan sedikit jarak.


Tak ada pembicaraan yang dilakukan selama beberapa menit.


“Kau marah?” Ia tak menjawab. “Kau tau, alasanku berkata seperti itu. Sebenarnya hanyalah merupakan keegoisanku.”


“Alasan?”


Dia mulai bicara padaku. “Iya, haaa, tapi sepertinya kau marah padaku jadi aku tak bisa mengatakannya.”


“A-aku tidak marah, jadi ayo katakan. Kenapa kau berkata seperti itu tadi?”


Aku tersenyum melihat perubahan sikapnya yang tiba-tiba ini. “Kau tau, pakaian yang tadi kau gunakan itu entah kenapa terlihat terbuka.”


“Lalu?”


“Ya, aku hanya tak ingin orang lain melihatmu memakai pakaian seperti itu. Maaf, karena aku egois.”


“Kau cemburu?”


“B-bukan begitu, aku hanya tidak suka jika…”


Tiba-tiba saja Iona langsung mendekat dan menidurkanku dipahanya. Ia tersenyum. “Kau cemburu.”


“A-aku hanya tidak suka jika orang lain melihatmu menggunakan pakaian seperti itu.”


“Itu artinya kau cemburu. Jika kau memang tidak suka aku tidak akan melakukannya.”


“Begitu. Tapi, jika boleh jujur kau tadi terlihat manis saat menggunakannya. Mungkin itu alasanku tidak mau orang lain melihat dirimu yang seperti itu.”


“Kau memang egois, ya. Kau ingin memonopoli diriku hanya untuk dirimu seorang.”


“M-maaf. Selain itu, kau adalah istriku. Aku pikir bersikap seperti itu tidak salah, tapi aku sudah membuatmu sedih. Maafkan aku.”


“Tidak perlu minta maaf, justru aku senang jika itu alasanmu yang sebenarnya. Jika seperti itu, saat berdua bersamamu aku ingin kau memilihkan baju untuk aku pakai. Aku akan senang jika kau melakukannya.”

__ADS_1


“Terimakasih.” Meskipun ini bukan hal yang penting, tapi entah kenapa aku sangat senang mendengarnya.


__ADS_2