
Beberapa menit berlalu.
“Cih, monsternya semakin banyak. Woy, aku kesulitan disini bantu aku.”
“Aku juga kesulitan disini.”
“Jangan ribut, aku sedang fokus. Aku butuh konsentrasi untuk menjalankan sihir ini.”
Wusshhh.
“B-barusan itu hampir saja. Cih, mau berapa lama dia bertapa seperti itu!! Awww!!! Jangan melempar batu padaku!”
“Jangan ribut, aku sedang fokus.”
“Haaa, iya iya.”
1 jam lebih sudah terlewat.
“Woy, apa dia masih belum selesai bertapa?”
“Bagaimana denganmu? Apa kau sudah menghubungi mereka?”
“Tersambung, haaaa… Akhirnya tersambung juga.”
“Baru tersambung?! Kenapa lama?!”
“Sudah aku bilang kekuatan sihir yang aku miliki kecil, jadi ini tidak akan mudah.”
“Tapi syukurlah kalau sudah tersambung. Cepat katakan pada yang lain, khususnya para pemimpin ras dan Lucy tentang apa yang terjadi.”
“Baik, serahkan saja padaku.”
2 jam berlalu.
Sore hari.
“Hey, dia masih belum selesai?”
“Pukul?”
“Tunggu sebentar, dengarkan nafasnya.”
“Huh?”
Beberapa saat kemudian.
“Bro, pukul?”
“Gas!!”
Setelah itu.
“A-awww… Itu sakit tau.”
“Ya, kami juga kesakitan memukulmu.”
“Kenapa kau bisa tidur diposisi seperti itu.”
“Ya, aku hanya berencana untuk menenangkan diri dan merasakan mana milik Leiava, tapi tak kusangka aku keterusan.”
“Aku pikir kau benar-benar bersemedi atau semacamnya, ternyata malah tertidur.”
“Haaaa, tapi berkat itu aku sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Lalu, bagaimana dengan keadannya?”
“Ketinggian tempat ini semakin naik setiap detiknya. Mungkin saat ini sudah mencapai 500-1000 meter diatas permukaan laut dan masih terus bertambah.”
“Hmmm, begitu, ya. Apa kalian sudah menghubungi yang lain?”
“Sudah, beberapa jam yang lalu. Kemungkinan saat ini mereka sudah berada di sekitar tepi Leiava dan butuh beberapa jam lagi untuk bisa turun dari tubuh Leiava. Tapi masalahnya.”
“Ketinggian itu sangat mustahil untuk orang bisa selamat jika melompat, dan jika tidak melompat mereka akan mati kedinginan ataupun mati kehabisan nafas.”
“Semuanya adalah pilihan yang sulit, meskipun menggunakan sihir 15 juta pasukan itu bukan jumlah yang sedikit. Kemungkinan besar akan ada banyak korban yang jatuh hanya karena hal sepele seperti ini.”
“Kau benar.”
“Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau punya rencana? Bukankah tidurmu sudah cukup untuk mengembalikan staminamu.”
“Ya, itu memang sudah cukup. Jika kejadiannya seperti ini, rencananya juga akan ikut berubah.”
“Merubah rencana disituasi seperti ini.”
“Ya, kau bisa bayangkan mencari titik lemah di suatu tempat yang luasnya lebih dari 900km, itu sudah hampir seluas sebuah kota. Bagaikan mencari sebuah jerami ditumpukan jarum.”
“Bukannya terbalik.”
“Jarum disini adalah waktu kita yang semakin habis, dan jerami adalah kelemahan atau apapun yang dapat mengalahkan Leiava. Semakin lama kita mencari maka luka yang akan didapat akan semakin parah.”
“Dan jangan lupakan soal jarum yang karatan yang bisa menyebabkan luka yang lebih serius bahkan bisa sampai kematian.”
“Iya, itu juga. Oleh karena itu merubah rencana adalah pilihan terbaik untuk saat ini.”
“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”
“Sebisa mungkin, aku ingin segera menghanguskan otaknya. Tapi disituasi sekarag, jika mengalahkan klonenya saja hampir setengah mati bagaimana bisa mengalahkan yang asli.”
“Begitu, ya.”
“Jika saja, ada sesuatu yang bisa menembus kelopak matanya, akan aku kerahkan seluruh kekuatanku untuk membuatnya terkapar.”
“Seberapa besar sihir yang kau butuhkan?”
“Kalian sudah tau kalau tidak ada sihir apapun yang bisa menembus kulitnya bahkan kulit yang sangat tipis seperti kelopak matanya. Satu-satunya cara adalah dengan menggunakan Ruote.”
“Tapi dampaknya akan sangat besar, lo. Kau juga harus menggunakan Oigi sebagai pelindungnya. Selain itu, sedari awal Oigi dan Ruote itu adalah sihir yang saling membutuhkan dan berkesinambungan satu sama lain. Memangnya kau punya energy sebesar itu?”
“Hey, dia mau menggunakan kita untuk melakukan hal itu.”
“Ya, aku sendiri tidak masalah dengan hal itu. Tapi yang aku permasalahkan, jika kesempatan untuk berhasil dibawah 50%, aku akan menolaknya mentah-mentah. Aku tak ingin dikorbankan hanya demi kesempatan menang yang kurang meyakinkan. Selain itu, ingatanmu akan lenyap itu adalah hal yang pasti terjadi.”
“Hey, kenapa kau tersenyum disaat seperti ini.”
“Seperti yang kalian tau, saat ini kita sudah tidak punya banyak waktu lagi. Oleh karena itu, kita akan berpisah disini.”
“Kau akan mengorbakan kami semua, sekaligus.”
“Mana ada, berpisah, kalian dengar berpisah. Kita akan berpisah, 1 orang pergi ke tempat Iona, dan sisanya pergi ke tempat Lucy untuk membantu.”
“Bagaimana denganmu?”
“Aku, aku, ya… Aku akan menyapa Leiava yang asli.”
“Tunggu, apa yang harus aku katakan saat bertemu dengan Iona nanti?”
“Katakan saja apa yang ingin kau katakan. Lagipula kau itu adalah diriku, apapun yang kau katakan nanti adalah termasuk apa yang ingin aku katakan. Jadi tidak masalah.”
“Haaaa, baiklah jika kau berkata seperti itu.”
“Kalau begitu, semuanya. Kita berpencar.”
“Ya.”
__ADS_1
Beberapa jam kemudian.
Malam hari.
“Ha ha ha… S-sial, mereka tidak ada habisnya.” Dalam perjalanan menuju ke bagian kepala Leiava yang asli, aku mendapatkan sebuah rintangan berupa… “Kenapa monster ini lebih besar dari sebelumnya, ini merepotkan. Aku harap yang lain sudah sampai ditujuan mereka.”
Sementara itu.
“Seberapa jauh lagi?”
“Kemungkinan sekitar setengah jam perjalanan lagi kita baru akan sampai ditempat Lucy.”
“Yang benar saja, ini sudah hampi 3 jam kita berlari tampa henti.”
“Jangan mengeluh, kekuatan kita terbatas jadi kita tak bisa secepat itu. Lagipula menurutku ini sudah sangat cepat, kita bisa melewati jarak lebih dari 600km hanya dalam waktu 3 jam saja. Ini sudah sama seperti kecepatan Dravin.”
“Hmmm, ngomong-ngomong tentang Dravin, sekarang dia sedang apa, ya.”
“Mungkin tidur, dia’kan lebih banyak menghabiskan waktu dengan tidur.”
“Hahaha, kau benar. Haaa, baiklah. Waktunya untuk kembali fokus. Perjalanan kita akan berakhir sebentar lagi, jadi bertahanlah!!”
Dan sementara itu, lagi.
“Haaa, akhirnya sudah sampai. Tempat aliansi manusia berada. Waktunya untuk mencari Iona, hmm tapi sebelum itu. Sepertinya aku harus membereskan mereka dulu, mereka akan menggangu pertemuan ini.”
Kembali lagi keawal.
Cukup lama setelah itu.
“Hmmm, jadi ini kepala Leiava, ya.” Aku sudah sampai dan ini lebih tinggi bahkan lebih tinggi dari kepala klonnya. “Hmmm, apa kira-kira akan ada udara saat aku berada diatasnya.” Saat aku memikirkan hal itu, ada sesuatu yang menarik perhatianku. “Cahaya apa itu?” Dari atas kepalanya terdapat sebuah benda yang bercahaya, aku tak tau pasti tapi itu mungkin sesuatu yang berguna. “Hmmm, baiklah. Setelah melakukan beberapa persiapan, aku akan kesana.”
Lalu.
“Haaaaa, akhirnya sampai juga.”
“Y-ya, akhirnya sampai juga. Aku sudah sangat lelah.”
“Ari, bayangannya?” (Lucy)
“Ahhh, Lucy, ya. Selamat malam. Bagaimana kabarmu?”
“Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kalian ada disini? Kemana Ari yang asli?”
“Ahhh, dia sedang melakukan sesuatu. Maaf, tapi sepertinya dia tidak bisa mengucapkan salam perpisahan padamu.”
“A-apa yang kau katakan?!”
“Kedatangan kami disini adalah untuk membantu evakuasi darurat, malam ini kalian semua harus segera pergi dari tubuh Leiava. Jika tidak…”
“Aku sudah melakukannya, dan hasilnya mustahil. 15 juta pasukan itu terlalu banyak, bahkan dengan sihirku sekalipun aku tidak bisa memindahkan 50ribu pasukan sekaligus.”
“Hmmm, apa rencananya sudah dimulai, dan berapa banyak yang sudah berada dibawah?”
“Sekitar 3 juta orang.”
“Hmmm, masih tersisa 12 juta lagi, ya.”
“Kemungkinan para naga dan ras lainnya juga ikut membantu, jika dilanjutkan seperti ini semuanya akan berada dibawah dalam waktu besok pagi sepertinya masih bisa... Aku ingin mengatakan hal itu, tapi sekarang kita sudah benar-benar kehabisan waktu. Jika dibiarkan sampai besok pagi, maka tempat ini akan berubah menjadi dingin dan kemungkinan besar kalian bisa mati kehabisan udara.”
“Itu…”
“Oleh karena itu kami akan membantu disini, tenang saja. Kami akan membantu sekuat tenaga, saat semuanya sudah selesai kami akan memberitahu Ari yang asli.”
“Terimakasih.”
“Yosh, kalau begitu. Para pemalas sekalian, waktunya bekerja!!”
Di hutan dekat dengan aliansi kerajaan. “Haaaa, akhirnya selesai juga.” Para monster sudah dibasmi. “Wah, besar juga tubuh Leiava jika dilihat dari bawah sini. Haaa, sudahlah waktunya kembali bekerja.”
--------
“Baiklah, selanjutnya.” Aku sedang mengobati para pasukan yang terluka akibat serangan monster yang datang kemari.
“Putri, bukankah kau bekerja terlalu keras.”
“Tidak masalah, aku masih bisa. Ini tidak bisa dibandingkan dengan Ari yang berjuang digaris depan.”
“Meskipun begitu, kau harus istirahat.”
“Aku tak bisa melakukannya, saat ini semua orang sedang berusaha keras jika aku beristirahat aku akan merasa hanye membebani mereka saja.”
“Tapi putri…”
“Yo, kau masih saja memaksakan diri, padahal sudah aku larang.”
Suara yang taka sing bagiku, dan perlahan sosoknya mulai muncul.
“Ari… Awww…” Dia memukul kepalaku.
“Sudah aku bilang jangan berlebihan. Haaa, bagaimana jika dia melihatmu bekerja keras seperti ini saat ini (berguman).”
“Ari, ada apa.”
“Haaaa, tidak ada aku hanya bicara sendiri. Hari ini kau istirahat saja, jangan terlalu memaksakan diri.”
“Kau, siapa…” Dia memang mirip dengan Ari, tapi ada yang berbeda darinya. “Kau, demon elf.”
“Eh, dia.” (Ria)
“Awwww…” Dia menjitak dahiku. “K-kenapa kau melakukan itu?!”
“Hahaha, maaf. Aku hanya ingin melakukannya saja.”
“Ari…”
“Sebelum waktunya tiba, aku akan menemanimu disini.”
“Menemaniku?”
“Ya, dan jika bisa aku ingin membicarakan hal yang penting padamu.”
“Huh?”
“P-putri, dia…”
“Tidak masalah, aku pikir dia tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padaku.”
“Tapi…”
“Tidak apa. Kalau begitu, ayo.”
“Ya.”
---------
Sementara itu.
“Haaaaa, melelahkan. Sudah berapa banyak yang sudah ada dibawah sekarang?”
“6 juta.” (Lucy)
__ADS_1
“Masih sisa sekitar 65% lagi, apa ini bisa tepat waktu.”
“Woy, jangan bermalas-malasan ayo cepat bekerja.”
“Haaaa, baik. Kau terlalu bersemangat.”
“Kita tidak punya banyak waktu, selain itu…”
‘Akan aku berikan kalian semua waktu 30 menit, sebelum itu aku harap semua yang ada disini sudah pergi.’
“Sial.”
“Huh? Ada apa?” (Lucy)
“Kita sudah tidak punya banyak waktu. Lucy, kami akan mempersiapkan pendaratan darurat dibawah.”
“Pendaratan darurat, apa maksud…”
“Mungkin ini sedikit beresiko, bahkan mungkin akan ada yang patah tulang ataupun hal beresiko lainnya. Tapi itu lebih baik, para pasukan naga dan juga iblis sudah berusaha sekuat tenaga. Kita kehabisan waktu.”
“Begitu, aku mengerti. Aku hanya tinggal bilang tentang resikonya, kan.”
“Terimakasih atas pengertianmu. Ayo.”
“Ya.”
“Kalau begitu, aku akan melakukan tugasku…”
Beberapa menit kemudian.
“Bagaimana? Apa disana sudah siap?”
“Sudah, sisanya hanya tergantung pada jumlah mana yang digunakan. Aku harap ini tidak akan terlambat.” Mereka membuat sebuah jaring yang sangat besar yang akan menangkap para pasukan dari atas.
“Ahhh, lihat mereka sudah mulai melompat.” Perlahan tapi pasti, satu persatu pasukan mulai melompat kebawah, lebih tepatnya ke tempat klon Ari berada.
Beberapa menit berlalu.
“Lucy, kau sudah selesai.”
“Bagaimana?”
“Sisanya tergantung dengan mereka, aku sudah memberikan mereka pilihan dan apa yang akan mereka pilih adalah pilihan mereka.”
“Memangnya apa yang kau katakan pada mereka?”
“Bukan apa-apa.”
Yang Lucy katakan.
“Para prajurit yang pemberani, sampaikan pada teman seperjuangan kalian. Pertempuran kali ini sangat sulit, dan saat ini kondisi kita sedang terpuruk dalam kelalahan. Oleh karena itu, disaat seperti ini aku akan memberikan kalian 2 pilihan. Diam dan mati membeku disini, atau melompat dan berusaha untuk tetap hidup.”
“I-itu gila!! Jika melompat kami akan mati, itu sama saja!!”
“Haaaa, ada orang yang sudah menunggu kalian dibawah. Jika beruntung kalian akan jatuh tanpa luka, tapi jika tidak kemungkinan hanya akan patah tulang saja. Bagaimana? Meskipun begitu, aku tak bisa meyakinkan kalau akan ada yang mati dalam hal ini. Oleh karena itu aku membebaskan kalian semua untuk memilih. Mati konyol tanpa berusaha, atau berusaha untuk hidup meskipun harus melewati kematian.”
“Panglima perang bilang masih ada kesempatan untuk selamat, itu lebih baik daripada harus mati ditempat seperti ini.”
“Iya, aku akan tetap hidup. Aku punya keluarga yang menungguku untuk pulang.”
“Ya, aku juga. Aku harus pulang dengan selamat.”
“Meskipun terluka, setidaknya bisa kembali pulang itu adalah hal yang baik.”
“Yaaa!!!!!”
“Sepertinya berhasil.”
Kembali ke waktu semula.
“Kenapa kau tersenyum seperti itu, menjijikkan tau.”
“Hahahaha, aku hanya memikirkan sesuatu.”
Cukup lama setelah itu.
“Haaaa, waktunya sudah tiba.”
“Benar juga. Kita sudah kehabisan waktu.”
“Woy, apa yang kalian katakan?!”
“Lucy, maaf. Tapi, aku serahkan tugas ini padamu. Dan untuk prajurit pemberani yang tidak memiliki kesempatan untuk hidup, maafkan kami.”
“Woy, kenapa? Ada apa dengan kalian. Tubuh kalian mulai lenyap.”
“Hahaha, tenanglah. Dia membutuhkan kami, untuk mengalahkannya dia membutuhkan semua kekuatan.”
“Mungkin, ini akan jadi perpisahan. Aku harap kau bisa menjaga Ari setelah ini selesai, mungkin selama beberapa bulan atau tahun.”
“A-apa yang kalian katakan, kenapa kalian mengatakan hal seperti itu?!!”
“Ini hanya perpisahan sementara, tidak perlu kau pikirkan. Lucy Groem, setelah perang ini selesai. Tolong jaga Ari, tolong jaga Touji Ari dan Touji Iona untuk kami. Dan ini adalah salam terakhir dari Ari, jaga dirimu dan Ria serta, tolong jaga anakku dengan baik.”
“T-tunggu!!!” Bayangan Ari lenyap dan setelah itu. “S-sial!!” Lucy mencoba untuk menggantikan posisi mereka berdua dalam membuat sebuah jaring raksasa untuk menangkap pasukan yang melompat kebawah. “S-sialan, aku tidak akan sanggup jika sihir sebesar ini.”
“Kami akan ikut membantu.” Para penyihir dari manusia dan seluruh ras ikut membantu.
“Terimakasih… Sial, kau harus kembali dengan selamat. Jika tidak…” Air matanya menetes.
Sementara itu.
“Ahahaha, sepertinya waktuku sudah habis.”
“T-tubuhmu, perlahan mulai lenyap. Apa yang terjadi.”
“Haaaa, waktunya perpisahan.”
“Perpisahan?”
“Ini pesan terakhir dari suamimu, Ari. Jaga anak kita dengan baik, jangan biarkan dia meniru sifat buruk ayahnya. Jika dia perempuan, aku harap dia bisa secantik dan manis sepertimu. Tapi jika dia laki-laki, aku harap dia bisa mewarisi sifat tenang ayahnya. Selain itu, aku juga berharap mereka memiliki kecerdasan yang sama seperti ayahnya.”
“T-tunggu, kenapa kau tiba-tiba berkata seperti itu. Apa yang akan terjadi pada Ari!!?”
“Dan 1 hal lagi, aku sangat mencintaimu. Haaa, sepertinya sudah semua.”
“T-tunggu.”
“Hmmm, sebelum pergi. Aku ingin memberikanmu sebuah hadiah, anggap saja sebagai hadiah pelengkap yang dia berikan sebelumnya.”
“Hadiah pelengkap.” Dia mencium kening Iona.
“Dengan begini, kau pasti bisa melakukannya. Mungkin butuh waktu yang sedikit lama, tapi aku yakin kau bisa melakukannya. Berjuanglah, bukankah kau adalah istri dari seorang paling jenius didunia ini. Kau pasti bisa. Lalu, selamat tinggal, Iona.” Dia lenyap.
“Ari… ARIIIIII!!!!”
-------
“Huh?” Aku seakan mendengar suara Iona dari atas sini. “Hanya perasaanku saja mungkin, tapi yang pasti.” Aku sudah menemukannya, kelemahan dari Leiava.
Diatas kepala, lebih tepatnya tepat dibagian tengkorak kepalanya terdapat 2 buah pedang yang menancap dan aku mengetahui pedang itu. “Shirame dan Ryuga.” Pedang yang digunakan oleh pahlawan Shiori dan juga Arima. Tapi… “Bukan, pedang ini berbeda.” Kedua pedang ini terlihat berbeda selain itu Shirame dan Ryuga ada di ruangan itu tidak mungkin ada disini, jadi aku hanya bisa memikirkan 1 orang. “Hiroaki.” Kedua pedang ini adalah miliknya. “Kenapa ada disini, dan jika seperti itu pedang apa yang dia gunakan?”
__ADS_1
Aku tak ingin memikirkannya, saat ini adalah hal yang paling penting. “Pahlawan pertama Hiroaki, terimakasih. Berkat bantuanmu, aku mungkin bisa mengalahkannya sekarang.” Aku memegang kedua pedang itu. “Hahaha, ternyata memang tidak bisa dicabut. Tapi itu lebih baik.”
Setelah menghela nafas panjang, aku memulai merapalkan mantra. Sebuah mantra khusus yang hanya bisa digunakan dengan mengorbankan sesuatu. “Oigi.” Sebuah sihir pelindung, sihir sebuah sihir khusus yang akan membentang mengurung apapun benda yang menjadi targetnya mau sebesar apapun. “Haaaa, ini sedikit menguras tenagaku.” Seluruh bayanganku sudah aku ambil dan ini memakan sekitar 80% dari keseluruhan stamina yang aku miliki saat ini hanya untuk menggunakan Oigi. “Haaa, seharusnya sekarang sudah selesai.” Sihir pelindung Oigi sudah selesai. Tahap selanjutnya…” Dengan menggunakan sihir yang selanjutnya, hal yang pasti adalah ingatanku akan lenyap dan aku berharap Leiava bisa dikalahkan. Meskipun begitu, aku sedikit menyesal karena tidak bisa bertemu dengan Iona untuk yang terakhir kalinya, setidaknya sebagai suaminya. “Ruote.”