Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
19


__ADS_3

“Kerajaan Bagdist? Lucy, apa kau tau kerajaan itu?”


“Hey hey, kau tidak tau?”


“Tidak, aku saja baru mendengarnya.”


“Itu adalah kerajaan yang dijuluki sebagai surga para pedangan dan juga tempat paling subur.”


“Heem, lalu kenapa kerajaan itu menyiapkan pasukan sebanyak itu?”


“Haaa, kerajaan itu saat ini sedang terancam.”


“Maksudmu kerajaan itu sedang dalam kondisi kritis ekonomi, seperti itu?”


“Ya.”


“Lalu, apa hubungannya dengan persiapan perang itu?”


“Saat ini yang menjadi pusat perdangangan adalah kerajaan ini, jadi wajar saja jika akan terjadi hal seperti ini.”


“Hmmm, masuk akal.” Kerajaan ini berkembang cukup pesat hanya dalam waktu beberapa tahun terakhir, jadi mungkin saja ada yang iri.


“Dimana komandan, kita harus segera memberitahu hal ini pada komandan.”


“Tidak, tugas ini kami yang akan mengambil kendali. Lagipula saat ini komandan sedang bersenang-senang, bukahkan tidak sopan jika harus mengganggunya. Lalu, persiapkan pasukan dan tunggu perintah lebih lanjut.” (Lucy)


“Baik.” Famus pergi.


“Hey, kenapa kau sepercaya diri itu untuk mengambil tugas ini?”


“Kau tau kalau putri Iona tidak akan bisa mengatasi ini, lagipula hal ini tidak akan bisa diatasi oleh aku seorang diri.”


“Haa, sudahlah. Berikan aku informasi tentang berapa jumlah pasukan yang kita miliki saat ini.”


“1600 prajurit. Terdiri dari 400 orang pasukan khusus, lalu 1200 prajurit tempur yang terbagi lagi menjadi 4 regu pemanah dan kesatria.”


“Hmm, sepertinya itu sudah cukup.”


“Kau memiliki rencana?”


“Meskipun menggunakan rencana, jika melawan 30 ribu pasukan hanya dengan 1200 pasukan saja. Apa yang bisa dilakukan.”


“Jadi kita tetap membutuhkan bantuan, ya. Tapi, apa maksudmu dengan cukup?”


“Bergerak dengan pasukan besar pasti akan memakan waktu lama, tapi jika dilihat dari laporan Famus sepertinya rencana mereka sudah dimulai sejak lama.”


“Jadi, rencanamu?”

__ADS_1


“Haaa, sebenarnya aku ingin melakukan hal lain hari ini. Tapi mau bagaimana lagi.”


“Eh, mau kemana kau?”


“Mencari udara segar untuk menenangkan pikiran.” (Pergi)


“Itu bahkan tidak menjawab pertanyaanku barusan, dasar. Sepertinya kali ini akan sedikit menyusahkan.” (Lucy)


Di belakang markas khusus.


“Haaa, apa yang harus aku lakukan sekarang. Haaa, udara pagi hari memang yang terbaik.” Aku berbaring disini, mencoba untuk menenangkan diri. “30 ribu pasukan, ya.” Sebuah serangan besar ditujukan dan parahnya tak ada rencana yang bisa digunakan disaat seperti ini.


“Sepertinya untuk kali ini bantuan memang diperlukan.” Bukan bantuan dari pasukan ini, tapi bantuan dari kerajaan aliansi.


“Mengandalkan kekuatan kerajaan ini saja tidak akan cukup untuk mempertahankan kerajaan ini, seperti itu.” (Lucy)


“Siapa kau, seenaknya mengambil kalimatku.” Entah kapan tapi Lucy menyusulku kemari.


“Kau tak menggunakan strategi gilamu itu untuk mengalahkan mereka?”


“Posisi mereka belum diketahui, dan lagi jumlah mereka banyak. Meskipun memasang jebakan ataupun perangkap yang ampuh sekalipun tidak akan banyak berpengaruh.”


“Bagaimana dengan naga itu?”


“Tidak, saat ini kondisi Dravin sedang kurang baik jika dibawa kedalam pertempuran. Selain itu, kabar bahwa kerajaan ini memiliki naga pasti sudah tersebar keseluruh penjuru tempat. Mereka pasti sudah mengantisipasi jika hal seperti itu terjadi.”


“Jadi pilihannya hanya meminta bantuan pada pihak luar, ya. Dilain sisi, jikapun permintaan itu disetujui, pasukan yang datang kemari akan memakan waktu agar bisa sampai kemari. Lagipula, kau tak lupa’kan tentang rapat yang pernah dilakukan dulu untuk mengantisipasi penyerangan kerajaan Victoria. Dengan adanya hal itu, aku ragu jika mereka akan meminjamkan pasukan untuk anak-anak seperti kita lagi.”


“Apa ada yang salah?”


“Tidak, itu memang benar. Meskipun mengirim surat darurat sekalipun para dewan aliansi akan mempertimbangkannya dan itu akan memakan waktu.”


“Jadi, apa rencanamu? Jika jebakan dan hal lainnya tidak efektif, kesampingkan dulu masalah bantuan, tapi bukannya kita bisa menggunakan itu.”


“Itu? Itu apa?”


“Itu, sesuatu yang pernah kau katakan. Pasukan pembunuh kalo tidak salah.”


“Ahh, pasukan Assassin.”


“Nah itu, bukankah mereka sudah mendapatkan latihan yang sangat keras dan ketat. Selain itu kemampuan mereka diatas rata-rata pasukan yang lain, mereka pasti bisa.”


“Pasukan itu hanya akan efektif jika dalam penyergapan, ini bahkan tidak bisa dibilang penyergapan. Dengan jumlah pasukan sebanyak itu, rotasi patroli pasukan musuh pasti tidak akan memiliki celah. Meskipun ada, itu akan sangat berbahaya.”


“Jadi, ini sudah jalan buntu, ya. Tak ada cara lain lagi untuk melepaskan diri dari peristiwa ini. Haaa, jika saja ada suatu keajaiban.”


“Kau mengharapkan keajaiban? Keajaiban itu diciptakan bukan diharapkan.”

__ADS_1


“Keajaiban itu diciptakan, ya. Diciptakan, hmmm..”


“Lucy, ada apa?”


“Aku dengar jika gunung merapi di bagian selatan adalah gunung yang aktif, apa kita bisa menggunakannya?”


“Gunung merapi, ya. Jika saja lokasinya dekat dengan kerajaan musuh, itu tidak masalah.”


“Kalau untuk itu,tenang saja. Kerajaan Bagdist itu ada disekitar gunung itu, ya tidak dekat dan tidak jauh juga lokasinya.”


“Begitu.” Entah kenapa aku mengetahui alasan kerajaan itu dijuluki sebagai tempat paling subur. “Baiklah, kita akan memanfaatkan hal ini.”


“Tapi, apa yang bisa dilakukan?”


“Memicu gunung itu untuk meletus, tapi kemungkinan besar dampaknya juga akan sampai kemari. Aku belum memperhitungkan seberapa besar dampak yang akan diakibatkan dari hal itu, tapi untuk saat ini menjaga kedamaian kerajaan ini menjadi prioritas pertama.”


“Lalu caranya, bagaimana cara memicunya?”


“Bagaimana, ya. Hal yang bisa aku pikirkan hanyalah dari faktor alam, dan pemicunya juga adalah alam itu sendiri.”


“Faktor alam, itu berarti sama saja rencana ini tidak akan berfungsi. Faktor alam bukan hal yang bisa dipicu.”


“Haaa, sepertinya untuk masalah ini aku sudah mencapai jalan buntu.”


“Jadi, tidak ada harapan, ya.” Lucy menghela nafas panjang.


“Tidak, aku tidak bilang tidak ada harapan. Hanya mencapai jalan buntu saja.”


“Itu sama saja. Tunggu, jangan bilang kalau kau memikirkan hal yang gila?”


“Mana mungkin, hanya saja ini sedikit beresiko.” Aku sedikit tersenyum.


“Hey, senyumanmu itu sangat mencurigakan. Kau pasti sedang merencanakan sesuatu yang gila!!”


“Sudahlah, abaikan itu. Saat ini prioritas utama adalah kerajaan ini. Aku akan diam disini sebentar, Lucy siapkan pasukan khusus dan juga suruh para komandan menunggu di ruang rapat.”


“Kau memiliki rencana?”


“Jangan banyak bicara, cepat lakukan saja.”


“Iya iya, aku paham.” Lucy pergi.


Aku menepuk kedua pipiku untuk meyakinkan. “Ini adalah perang, ini adalah perang. Cara apapun yang digunakan dalam perang adalah termasuk sebuah strategi. Ini adalah perang, semua yang dilakukan adalah untuk mencapai sebuah kemenangan. Ini adalah perang, apapun akan dilakukan untuk menang meskipun harus menggunakan cara kotor. Ini adalah perang, pertempuran dimana aku tidak boleh kalah. Ini adalah perang, ini adalah perang. Baik. Sudah kuputuskan.” Karena ini adalah perang, aku tidak boleh memikirkan hal lain jika tidak, semua orang yang mempercayakan hidupnya padaku akan mati. Aku harus tetap fokus dan tenang.


Beberapa saat kemudian.


Aku sudah kembali tenang, dan santai. “Waktunya kembali.”

__ADS_1


Di markas khusus, ruang rapat.


Semuanya sudah berkumpul. “Baiklah, akan aku bahas rencananya.”


__ADS_2