
“Touji Ari, apa kau yakin ingin kembali kedunia itu?”
“Ya, aku ingin menemaninya lebih lama lagi.”
“Aku bisa mengabulkannya, tapi karena kau sedari awal sudah mati dan jasadmu tidak berada didunia ini, aku hanya bisa membuatkanmu tubuh baru yang sama persis dengan milikmu.”
“Terimakasih.”
“Meskipun begitu, aku memiliki beberapa syarat untukmu.”
“Syarat?”
“Jika kau bisa menyanggupinya kau bisa tinggal bersamanya.”
“Ya, aku siap.”
“Kalau begitu… Syaratnya adalah…”
Aku perlahan mulai membuka mataku. “Kenapa harus mimpi seperti itu.” Itu adalah ingatanku, awal pertemuanku dengan dewi dan juga awal perjanjianku dengannya.
Aku melihat kearah luar jendela. Matahari masih belum terbit, tapi ini sudah waktunya. “Lucy, cepat bangun kita akan segera pergi.”
“Matahari masih belum terbit, biarkan terbit sebentar saja. Aku sangat lelah karena perjalanan kemarin.”
“Kalau begitu aku akan meninggalkanmu disini.”
“Haaa, baik aku bangun.”
“Bersiap-siaplah, aku akan membangunkan Iona dan setelah itu kita akan segera pergi.”
“Iya iya.”
Didepan kamar Iona.
“Iona, bangunlah kita akan berangkat.”
Beberapa menit kemudian.
“Iona, bangun, kita akan segera berangkat lo. Jika tidak aku akan meninggalkanmu.” Tak ada jawaban, ini membuatku sedikit khawatir.
Aku putuskan untuk mendobrak pintu kamar, tapi saat aku menyentuh gagang pintunya. “Yang benar saja.” Tidak dikunci, dan ini sudah jelas sangat membuatku khawatir.
Aku masuk kedalam. “Iona, dimana kau? Iona!!” Aku melihat sekitar tapi aku tak menemukannya.
“Ari, apa ada masalah?” (Lucy)
“Iona menghilang.”
“Eh, yang benar saja?!!”
“Kemungkinan ada yang mendengar pembicaraan kalian berdua tadi malam, bisa dikatakan kalau ini adalah penculikan.”
“Apa maksudmu?”
“Kau selalu menyebut Iona dengan panggilan putri, karena hal itulah ada orang yang mengincarnya. Meskipun tidak tau dari kerajaan mana tapi menangkap seorang putri merupakan sebuah hal yang besar.”
“Jadi kau ingin menyalahkanku atas kejadian ini.”
“Tenangkan dirimu, aku tidak akan menyalahkanmu karena hal ini.” Aku sedikit melihat sekitar dan memastikan keadaan. “Berdebat tidak akan menyelesaikan masalah, jika terpecah disini maka masalah akan semakin parah.” Setidaknya itulah hal terbaik untuk saat ini, jika sampai terpecah maka keadaan akan menjadi semakin sulit. “Untuk langkah pertama, Lucy segera tanyakan siapa saja yang keluar saat tengah malam kemarin pada penjaga penginapan.”
“Baik.” Lucy pergi.
Aku kembali berkeliling ditempat ini sembari mencari sebuah pentunjuk.
Beberapa menit kemudian.
“Bagaimana, apa kau sudah dapat?”
“Mereka bilang tidak ada seorangpun yang keluar tadi malam.”
“Hmm, kalau begitu segera periksa gudang di penginapan ini.”
“Huh? Untuk apa?”
__ADS_1
“Jangan banyak tanya, cepat lakukan.”
“Baik.”
“Jika kau menemukan sesuatu, segera beritahu aku dan jangan bertindak gegabah.”
“Iya, aku mengerti.”
Lucy kembali pergi.
Saat ini aku tidak memiliki banyak pentunjuk, tapi saat ini aku hanya memiliki 2 kemungkinan saja, yaitu Iona disekap penginapan ini atau ada jalan rahasia untuk keluar dari penginapan ini dan mereka menggunakannya untuk pergi tanpa ketahuan. “Ini salahku, seharusnya aku tak membiarkannya sendirian.” Kecerobohanku menyebabkan hal seperti ini terjadi.
Setelah itu.
“Ari, aku menemukannya.”
“Bagus.”
“Kita harus segera pergi menyusulnya. Ayo cepat.”
“Jangan terburu-buru, tenangkan dirimu.”
“Apa yang kau tunggu, jika terlambat kita akan kehilangan jejak penculik itu.”
Aku perlahan mulai menghela nafas panjang. “Kita sudah kehilangan jejak penculik itu, meskipun begitu jika jalan itu adalah jalan rahasia untuk keluar dari kerajaan ini pasti saat ini Iona akan baik-baik.”
“Apa yang membuatmu yakin akan hal itu, jika sampai terjadi sesuatu pada putri bagaimana?!!”
“Rendahkan suaramu, disaat seperti ini kita harus bisa mengontrol emosi.”
“Ari… Kau sangat menghawatirkannya, tapi kenapa kau masih mencoba untuk membohongi dirimu sendiri.”
Lucy melihat kearah tanganku dan dengan spontan aku juga melihatnya. “Bergetar.” Kedua tanganku entah kenapa bergetar.
“Tubuhmu sendiri tidak bisa mengatasinya. Kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri lagi kali ini. Putri, sandiwaranya sudah selesai kau bisa keluar sekarang.”
Iona yang bersembunyi perlahan mulai keluar. “Sihir, ya.” Sesuatu hal yang berada diluar akal sehat, sangat memungkinkan untukku tidak menyadari keberadaannya. “Haa, lalu apa ini sebuah ujian untukku atau apa.”
“Haaa, jika kalian berdua ingin membuatku cemas maka sandiwara kalian berhasil.”
“Ari…”
“Baiklah, kita harus segera pergi. Sudah cukup banyak waktu yang dibuang untuk sandiwara seperti ini.”
Cukup lama setelah itu.
Kami sudah sampai tepat dibawah gunung Juinds.
“Ari, kau marah.” (Iona)
“Jangan bahas lagi tentang hal itu lagi.”
“Kau benar-benar marah, ya.” (Lucy)
“Ari, aku minta maaf.” (Iona)
“Sudah hentikan, aku tak ingin mendengar apapun lagi.”
Beberapa saat kemudian.
“Kalian tetap disini, jangan ikuti aku.”
“Kau marah.”
“Haaa, kenapa kalian berdua memikirkan hal seperti itu. Apa kalian pernah melihatku marah?”
“Hmm, kalau aku sih belum pernah. Kalau kau putri?” (Lucy)
“Tidak tau.”
“Huh?”
“Aku tidak tau.”
__ADS_1
“Sudahlah, masalah itu jangan bahas lagi.”
“Kau melarang kami untuk ikut, itu berarti kau masih marah.” (Lucy)
“Hey, darimana kau mendapatkan kesimpulan seperti itu?”
“Aku hanya menebak.”
“Jika seperti itu, sayang sekali tebakanmu salah.”
“Lalu, apa alasanmu?” (Iona)
“Tidak ada, aku hanya ingin pergi sendirian kalian bisa mengawasi saja disini saja. Aku tidak akan lama, aku akan segera kembali.”
“Tapi…”
“Aku pergi. Tolong awasi daerah ini.” Aku meninggalkan mereka berdua.
Beberapa menit setelah itu.
Aku menemukan sebuah jalan masuk kedalam gunung ini, dan aku putuskan untuk memasukinya.
Didalam gunung.
Disini aku bisa melihatnya. “Tempat persembahan, ya.” Gunung ini dijadikan sebagai tempat persembahan, untuk siapa aku juga tak tau. “Sudahlah, bukan itu tujuanku berada disini. Aku harus segera menemukannya.”
Cukup lama setelah itu.
“Ini dia.” Aku mendapatkannya, sebuah Kristal berwarna merah yang berada disini. “Sepertinya keputusanku datang kemari disaat perayaan memang tepat.” Nanti malam aka nada perayaan tahunan, dan karena itu semua tempat untuk berkumpul dikosongkan, aku tak tau apa alasannya tapi ini cukup menguntungkan. Dan lagipula tempat ini cukup jauh dari kerajaan, penjagaannya juga kurang, atau bisa dibilang kalau tempat ini adalah tempat yang tidak terdaftar ataupun illegal.
“Sudahlah, aku sudah mendapatkannya. Waktunya kembali. Eh?” Kristal yang aku pegang perlahan mulang lenyap. “Ahh, ini juga bagian dari prosesnya, ya.”
----
“Aku menugaskanmu untuk mencari 6 benda, Kristal ruby, Koin emas pahlawan pertama, Batu Kristal emas, Kuku naga Ashura, permata bara, dan juga berlian api murni.” (Dewi)
“Sepertinya itu benda yang sangat berharga.”
“Masing-masing hanya ada 1 didunia itu, bisa dibilang kalau benda itu termasuk benda keramat.”
“Lalu untuk lokasinya?”
“Aku akan memberitahumu nanti.”
“Tidak tau tempatnya, ya.”
“Bukan, jika kau mengetahui semua lokasinya kau akan melakukannya secara terburu-buru. Kau tidak akan dapat menikmati prosesnya.”
“Haa, baik baik terserah saja. Sebelumnya, terimakasih dewi karena sudah mau mengabulkan keinginan egoisku ini.”
“Tidak masalah, oh ya 1 hal lagi. Semua bahan yang sudah kau dapatkan akan langsung terkirim padaku, jadi jangan khawatir jika barang yang kau dapat tiba-tiba lenyap atau menghilang.”
“Baik.”
Setidaknya itulah sedikit percakapanku dengan dewi mengenai tugasku untuk mengumpulkan berbagai macam item yang langkah ini.
--
“Hanya ada 1 didunia ini, ya.” Aku tak tau sampai kapan ini akan berlangsung, meskipun begitu sesuai dengan petunjuknya aku harus menikmati setiap prosesnya tanpa perlu terburu-buru.
Di luar.
“Ari, kau sudah kembali, bagaimana?” (Iona)
“Sudah selesai. Ayo kembali.”
“Sudah? Cepat sekali.” (Lucy)
“Iya, sudah ayo cepat.”
Perjalanan kali ini berakhir, 1 barang sudah aku dapatkan dan tersisa 5 barang lagi. ‘Setelah ini kira-kira kemana lagi, ya.’ Tujuan masih belum ditetapkan, dan aku harus menunggu.
Perjalanan pertama memang mudah, tapi setelah ini mungkin akan menjadi sulit.
__ADS_1