Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
44


__ADS_3

“Haaaa, kita sudah sampai. Ini melelahkan.” Menggunakan teleportasi untuk yang ke-4 kalinya hari ini membuat staminaku terkurang. Meskipun jumlah manaku tak terbatas, tapi tetap saja stamina yang aku miliki terbatas.


“Wah, jadi ini istana langit milik para pahlawan, ya. Luar biasa.”


“Iona, aku ingin pergi menemui Lucy.”


“Pangeran Lucy ada disini?”


“Iya, dia juga mengajak Ria agar tidak kesepian katanya.”


“Eh? Lalu, bagaimana dengan markas?”


“Teman-temanmu yang lain sedang mengurusnya, aku yakin Lucy juga sudah memberitahukan hal yang penting yang harus mereka lakukan. Sebagai tambahan, aku juga sudah menulis apa saja yang harus mereka ketahui, dan jika tidak mereka boleh untuk tidak mengerjakannya.”


“Begitu.”


“Kalau begitu aku akan masuk kedalam, kau bisa mengajak Risa-oneesama untuk berkeliling tempat ini.”


“Baik.”


Ruang perpustakaan.


“Lucy, bagaimana?”


“Haaaa, membaca buku ditemani seorang gadis memang yang terbaik.”


“Hey, aku bertanya tentang hal yang sudah kau temukan disini.”


“Tentang itu, ya. Karena aku dapat menghabiskan waktu lebih lama disini, aku menemukan banyak hal. Terutama tentang sihir terlarang.”


“Sihir terlarang?”


“Iya, sihir yang menghilangkan keberadaan sihir bagi umat manusia, lalu sihir yang digunakan untuk menidurkan para pahlawan, serta sihir yang bisa menghancurkan 1 benua dengan mudah.”


“Hooo, itu bagus.”


“Tapi, ya. Aku cuma menemukannya, bisa atau tidaknya digunakan aku tidak tau. Aku juga tak tau apakah sihir ini memiliki syarat atau tidak.”


“Begitu’kah?”


“Lucy, ini buku yang ka… Ahh, a-ada wakil komandan, ya. S-sejak kapan anda kembali? P-pangeran, ini buku yang kau cari.” (Ria)


“Baru saja, dan lagi bersikaplah seperti biasa. Aku sudah tau hubungan kalian sudah sampai sejauh apa.”


“Kau mengintip?”(Lucy)


“Jika ketahuan aku akan dibunuh olehmu. Tenang saja, aku tak melakukan hal seperti itu. Hanya saja, jika kau sepertiku itu berarti pemikiranmu tidak jauh beda denganku.”


“Heh, begitu. Oh ya Ari, setelah ini bisa antarkan aku dan Ria kembali?”


“Kalian sudah mau kembali?”


“Kau tidak lupa’kan kalau kita masih ada kegiatan akademi setelah ini. Tidak sepertiku, kau jarang masuk ke akademi.”


“Hmmmm, benar juga. Tapi, karena reputasiku sepertinya sudah rusak akibat kejadian itu, aku ingin berhenti saja. Jika ingin melanjutkan pendidikan, aku akan lebih memiliki belajar dikerajaan lain selain itu aku membenci kepala akademi itu.”


“Iya iya, aku tau perasaanmu. Untuk hal itu aku tak akan ikut campur, itu adalah urusan pribadimu sendiri. Tapi ingat, setelah ini antarkan kami pulang.”


“Iya. Setelah selesai, panggil saja aku.”


“Baik.”


Ruang istirahat.


“Haaaa, melelahkan. Staminaku terkuras habis.” Aku berbaring di kursi panjang dan beristirahat.


“Ari, kau habis darimana?” (Iona)


“Mengantarkan Lucy dan Ria pulang.”


“Begitu. Aku akan mengambilkan minuman untukmu, tunggu sebentar, ya.”


Beberapa lama kemudian Iona kembali sambil membawakan minuman.


“Ini minumanmu.”


“Terimakasih.” Aku meminumnya. “Haaaa, rasanya sangat nyaman. Risa-oneesama kemana?”


“Dia masih berkeliling, dia terlihat sangat antusias. Karena tak ingin menggangunya aku membiarkannya sendiri.”


“Begitu. Sepertinya dia senang.”


“Aku pikir juga begitu, selain itu tempat ini dikenal hanyalah dari sebuah dongeng. Jika bisa ditemukan wajar saja membuat orang sangat antusia dan juga penasaran, apa yang sebenarnya para pahlawan buat dan hal luar biasa apa saja yang ada di tempat ini.”


“Ya, hal seperti itu memang akan terjadi. Oh ya, dimana yang lain?”

__ADS_1


“Mereka masih tidur, mungkin karena terlalu bersemangat menjelajahi tempat ini mereka sekarang kelelahan.”


“Seperti itu, ya. Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau sudah menjelajahi tempat ini juga?”


“Aku pikir itu tidak perlu aku lakukan secara terburu-buru, lagipula kau bilang tempat ini sudah menjadi milik kita. Jadi tak perlu buru-buru untuk melakukannya.”


“Benar juga.” Dalam keadaan duduk, aku perlahan mulai memejamkan mata. “Haaaa, aku tak pernah membayangkan tempat berharga seperti ini akan menjadi milikku. Dan lagi, ini adalah warisan dari pahlawan yang diberikan untukku.”


“Kau harus menjaganya, benar’kan.”


“Iya, meskipun begitu tidak banyak yang bisa aku lakukan. Mekanisme yang ada di rumah ini hampir semuanya terbuat dari sihir.”


“Itu memang benar, perkebunan yang ada dibelakang, dan juga peralatan yang dibutuhkan berkerja dengan sendirinya. Bahkan disini juga dipenuhi sihir yang selalu membuat tempat ini tetap bersih. Sepertinya pahlawan memang sangat sibuk sampai tidak bisa mengurusi tempat ini.”


“Mereka menggunakannya sebagai bantuan untuk meringankan beban mereka. Tugas asli mereka adalah mengalahkan musuh, membuat hal seperti ini kemungkinan hanyalah sesuatu untuk mengisi waktu luang mereka.”


“Hmmm, Ari apa kau tak keberatan tentang apa yang dibicarakan oleh ayah tadi?”


“Tentang pernikahan? Tidak, aku sama sekali tidak keberatan. Lagipula, jika tidak seperti itu kemungkinan akan ada rumor buruk yang akan beredar tentangmu.”


“Rumor buruk?”


“Iya, aku hanya ingin menghindarinya. Jika sampai itu terjadi, kemungkinan besar raja tidak bisa berbuat banyak. Oleh karena itu aku melakukannya.”


“Begitu… Ari, kenapa tiba-tiba?”


“Huh? Apa maksudmu?”


“Kau bilang akan untukku menunggu, tapi bukankah ini terlalu cepat?”


Aku tersenyum. “Ternyata kau peka juga, ya. Iya, ini memang lebih cepat dari apa yang aku harapkan. Setidaknya, tugasku masih belum selesai. Tapi, ya aku bisa menyelesaikannya nanti.”


“Kenapa kau melakukannya?”


“Hmmmm, jika kau bilang seperti itu. Begini saja, aku tak mau bilang. Jika perang ini selesai aku akan menikahimu, seperti itu. Itu berarti aku menerima apa yang akan terjadi padaku setelah itu.”


“Apa yang terjadi padamu setelah itu?”


“Kebanyakan orang yang mengatakan itu akan mati dimedan perang, oleh karena itu aku tak ingin mengatakannya. Setidaknya itulah yang aku tau.”


“B-begitu.”


“Ya, meskipun begitu aku tak bisa berbohong kalau ini memang terlalu cepat. Paling tidak aku ingin menunggu sampai usiamu mencapai 19 tahun.”


“Memangnya kenapa? Ayah dan ibu menikah diumur 15 tahun.”


“Jika kau sampai berkata seperti itu, apa perang kali ini memang sangat berbahaya?”


“Mereka adalah ras yang pernah mencoba untuk menguasai dunia ini pada zaman dulu dan dihentikan oleh para pahlawan, jika mereka kembali lagi kemungkinan itu akan sangat sulit untuk digangani. Selain itu, karena keserakahan manusia pada jaman itu membuat para pahlawan tidak ingin membantu umat manusia lagi. Itu sudah jelas akan sangat memperburuk keadaan.”


“Begitu, ya.”


“Sejujurnya, aku ragu meskipun seluruh kerajaan yang ada dibenua ini bersatu akan bisa mengatasi serangan raja iblis itu.”


“Itu berarti kita sama sekali tidak memiliki kesempatan menang, ya.”


Sepertinya aku mengatakan sesuatu yang membuat usahanya akan terlihat sia-sia. “Tidak juga, lagipua kita belum bisa mengukur kekuatan pasukan raja iblis. Karena raja iblis sudah pernah dikalahkan sebelumnya, aku yakin kekuatannya tidak akan sekuat dulu saat para pahlawan mengalahkannya. Jadi kemungkinan kita masih bisa memiliki kesempatan menang, meskipun itu cukup sulit didapatkan. Oleh karena itu Iona, tugasmu kali ini cukup sulit tapi aku percaya kau bisa melakukannya. Jika kau butuh bantuan, aku akan memberikan bantuan untukmu.”


“Terimakasih, aku sangat menghargainya. Tapi, aku ingin mencoba untuk melakukannya sendiri. Tentu saja, jika aku dalam kesulitan aku akan minta bantuanmu, tapi jika aku bisa menyelesaikannya sendiri aku akan melakukannya.”


“Ya sudah, tapi ingat jangan memaksakan diri.”


“Baik.”


“Kalau begitu, aku akan tidur sebentar. Jika semuanya sudah bangun, kau bisa bangunkan aku.”


“Ari…”


“Huh?”


“Sini.” Dia menepuk pahanya.


“Mau bagaimana lagi.” Aku tidur dipahanya. “Haaaa, selamat tidur.”


Sore hari.


“Baiklah, ini memakan waktu cukup lama dari apa yang aku bayangkan.” Aku ketiduran, dan parahnya lagi Iona tidak membangunkanku alhasil rapat yang seharusnya dimulai mulai tadi pagi atau siang hari baru bisa dimulai sore hari. “Haaaa, untuk rencananya, kalian bertiga akan membantu Iona untuk melakukan negosiasi. Jika kalian ingin memiliki sedikit pengetahuan tentang hal itu, kalian bisa mencarinya diperpustakaan yang ada dilantai atas.”


“Maaf, apa tugas kita hanya membantu?” (Marie)


“Iya, untuk masalah negosiasi bisa kalian serahkan pada Iona. Lalu jika ada sesuatu yang gawat.” Aku memberikan sesuatu pada mereka semua termasuk Iona. “Gunakan ini.”


“Apa ini? Apa sejenis alat sihir?” (Naila)


“Iya, aku sudah memberikan sedikit sihirku pada benda itu. Dengan begitu aku bisa tau lokasi kalian dimana dan aku bisa langsung kesana.”

__ADS_1


“Tapi, bukankah lebih baik memberinya kepada 1 orang saja? Kenapa kami semua diberikan benda ini?” (Marie)


“Anggap saja sebagai pencegahan, jika saja dalam keadaan terburuknya salah satu dari kalian diculik atau menghilang aku bisa langsung mengetahuinya.”


“Begitu, benda ini cukup berguna juga.” (Paul)


“Ingat, gunakan benda itu jika kalian dalam kesulitan atau kalian sedang menemui suatu masalah. Kalian mengerti?”


“Baik.”


“Kalau begitu, kerajaan yang akan dijadikan sebagai aliansi untuk perang ini aku serahkan pada Iona. Iona, katakanlah pada mereka.”


“Baik. Untuk kerajaan pertama, aku akan memilih kerajaan Ruens.”


“Maaf putri, tapi aku pikir bukannya Thorwn tidak memiliki hubungan baik dengan kerajaan Ruens? Kenapa anda memilih kerajaan itu? Jika boleh tau, apa alasanmu memilih kerajaan itu. Selain itu dari kabar yang pernah aku dengar, dulu kerajaan Ruens berencana ingin menyerang kerajaan Thorwn, jika ingin membuat aliansi seperti itu dengan kerajaan yang ingin menyerang kerajaan anda dulu, bukankah itu sedikit aneh?” (Paul)


“Aku sudah memikirkannya, lagipula itu adalah kejadian masalalu. Mengungkitnya tidak akan merubah apa-apa selain hanya menambah luka, itu sama seperti orang yang menggaruk lukanya sendiri. Selain itu, aku membutuhkan pasukan mereka yang terkenal itu. Kemungkinan itu bisa jadi awal untuk kita bisa memenangkan perang melawan raja iblis.”


“Putri, kau berencana untuk melatih para pasukan kerajaan lain menggunakan metode yang digunakan kerajaan Ruens, begitu?”


“Iya.”


“Kenapa tidak menggunakan metode latihan yang biasa digunakan oleh pasukan khususmu saja? Bukankah latihan mereka akan jauh lebih efektif.”


“Paul, ya. Haaaa, kau tak tau seberapa sulit latihan yang akan diberikan oleh para ketua regu. Selain itu, aku yakin para pasukan biasa tidak akan sanggup untuk melakukan latihan itu. Yang bisa melakukan latihan itu hanyalah orang yang memiliki keteguhan hati serta dia ingin melindungi sesuatu yang sampai ingin membuatnya mengorbankan nyawa mereka sendiri demi hal itu. Jika para prajurit tidak memiliki hal itu, maka aku yakin mereka akan menyerah hanya dalam waktu kurang dari setengah hari latihan saja.”


“S-sekeras itu?!”


“Iya, yang dikatakan Ari memang benar. Oleh karena itu aku memilih untuk menggunakan metode latihan milik kerajaan Ruens, untuk itu aku harus berhasil membuat kerajaan itu masuk ke aliansi ini.”


“Lalu setelah itu putri? Kerajaan mana yang akan menjadi targetmu setelah berhasil beraliansi dengan kerajaan Ruens?” (Marie)


“Kalau itu, aku sudah memikirkan semua rencananya.”


Malam hari.


Teras depan.


Aku tengah duduk berdampingan bersama Iona saat ini. “Aku tak menyangka kau akan menyiapkan rencana seperti itu dalam waktu yang cukup cepat.”


“Tapi bagaimana? Apa rencana yang aku buat itu bagus?”


“Rencananya memang bagus, tapi yang paling penting kau harus berhasil untuk menghasut mereka masuk ke aliansimu. Itu adalah tujuan utamanya.”


“Iya, aku mengerti. Ari, aku ingin bertanya kapan rencana ini sebaiknya dimulai?”


“Sebenarnya jika bisa secepatnya, tapi karena minggu depan kita masih ada acara lain jadi untuk minggu ini kau tidak bisa melakukan hal itu.”


“Lalu, kapan aku bisa mulai?”


“2 hari setelah pesta selesai, kau bisa langsung mulai rencananya.”


“Eh, secepat itu?”


“Iya, memangnya kenapa? Apa terlalu cepat? Jika iya, kau bisa memutuskan waktunya sendiri.”


“K-kalau begitu,1 minggu setelah pesta bagaimana?”


“1 minggu, ya. Sejujurnya itu terlalu lama, tapi aku rasa waktu itu bisa digunakan untuk memperbaiki beberapa rencana yang aku buat. Baiklah, tidak masalah.”


“Kenapa kau malah memikirkan hal itu?!!”


“Eh? M-memangnya kenapa? Apa ada yang salah?”


“Bulan madu.”


“Bulan madu?”


“Minggu depan kita akan jadi suami istri, tapi kau akan sibuk dengan rencanamu. Bukankah itu sangat menjengkelkan.”


“Hmmm, ternyata hanya itu.”


“Hanya itu? Kau membuatnya terlihat biasa, itu adalah hal yang spesial tau. Kenapa kau menganggap itu seakan adalah hal yang enteng.”


“Ahahaha, maaf-maaf.” Iona memukuliku, meskipun begitu ia tidak benar-benar melakukannya dengan kuat.


“Dasar, kau itu.”


“Hmmmm, Iona kau menyukai lautan atau pegunungan?”


“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”


“Sudah, jawab saja.”


“Jika disuruh untuk memilih, aku lebih suka lautan. Lagipula kerajaan ku berada cukup dekat dengan pantai, tidak ada alasan untukku tidak menyukainya. Tapi, kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu? Apa jangan-jangan…”

__ADS_1


“Haaaa, udara sudah mulai dingin. Ayo masuk kedalam.”


“T-tunggu, jangan mengabaikanku.”


__ADS_2