
Siang hari.
“Baiklah.” Aku mencoba untuk menerimanya, selain itu jika aku sedih kakek kemungkinan akan menertawaiku disana. “Semoga kau bahagia dengan pilihanmu, ya.” Aku merasa ada sesuatu makna yang begitu dalam pada kalimat itu. “Sudahlah, waktunya untuk bekerja.” Tujuanku kali ini adalah bertemu dengan raja dari kerajaan Drawf.
Cukup lama setelah itu, istana kerajaan Drawf.
Aku sudah sampai di gerbang pintu masuk istana Drawf. “Berhenti, apa tujuanmu datang kemari.” (Penjaga)
1 hal yang aku pelajari dari cerita kakek pahlawan. “Aku ingin menemui raja, ada sesuatu yang harus segera disampaikan.”
Malam hari, istana langit.
Aku kembali seteleh menyelesaikan tugasku. “Ari, kau sudah kembali. Bagaimana, apa berhasil?” (Lucy)
“Iya, setidaknya ini lebih mudah dari sebelumnya. Aku berhasil membujuk raja Drawf untuk ikut dalam aliansi ini.”
“Ari, kenapa kau terlihat sedih?”
“Aku ingin mencari udara segar diluar.”
Di luar.
“Sial... Kenapa?!” Kejadian itu tetap teringat jelas dikepalaku, moment terakhir saat kakek mengucapkannya. Itu bukan kalimat biasa, itu adalah sesuatu yang spesial, meskipun begitu aku tak tau kenapa. “Disaat-saat terakhirnya dia memberiku sesuatu yang sulit.” Kehidupannya yang berat, serta 500 tahun dia hidup sendirian setelah berpisah dengan teman-temannya, aku tak bisa membayangkan betapa sedihnya dia. Dan disaat terakhirnya, dia tersenyum melepaskan semua beban yang selama inidiatanggung seorang diri. “Aku, memang tidak bisa menjadi orang hebat sepertinya.” Aku memiliki kekuatan, tapi aku tidak memiliki sesuatu yang dimiliki oleh kakek, sesuatu itu adalah hal yang sangat berharga. “Kepercayaan pada yang lain.” Aku sama sekali tidak memilikinya.
-----
“Lucy, dimana wakil komandan?” (Ria)
“Dia sedang mencari udara segar diluar, tapi ada sedikit yang berbeda darinya.”
“Apa?”
“Kepribadiannya berubah.”
“Eh, bukankah itu gawat?”
“Iya, itu memang benar. Aku tak tau apa yang membuatnya menjadi seperti itu, tapi jika dibiarkan dia akan menjadi seorang yang ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Aku bisa menjamin hal itu.”
“Apa kau punya ide untuk membuatnya kembali seperti semula?”
“Sayangnya tidak ada, tapi jika dibiarkan itu akan semakin memburuk. Kita butuh seseorang yang bisa mengawasinya kemanapun dia pergi.”
“Bagaimana dengan putri, aku yakin dia pasti mau. Lagipula ini menyangkut dengan wakil komandan, dan kau yang mengurus soal aliansi kerajaan. Paling tidak memakan waktu lama, 1 atau 2 minggu saja sudah cukup’kan. Selain itu, aku pikir kalau wakil komandan sebenarnya sedang kesepian tapi karena terlalu sibuk dia tidak menyadarinya.”
“Kenapa kau berfikir seperti itu?”
“Kau bisa lihat, saat bersama dengan putri sifat wakil komandan tiba-tiba saja berubah begitupula saat tidak bersamadengan putri. Lagipula wakil komandan tidak bisa melakukan teleportasi karena alasan putri yang sedang berjuang, oleh karena itu aku pikir saat ini wakil komandan sedang kesepian.”
“Kau ada benarnya.”
“Dan lagi, waktu itu bulan madu mereka berantakan, jadi waktu yang seharusnya mereka habiskan bersama malah mereka habiskan untuk berpisah dan melakukan tugas mereka masing-masing. Bukankah itu kejam, pasangan suami-istri yang baru menikah bukannya mendapatkan jatah waktu untuk bersama malah berpisah. Itu sangat kejam’kan.”
“Ahhh, iya. Aku mengerti, lalu bagaimana denganmu? Jika aku melakukan tugas putri apa kau akan tetap disini, atau ikut denganku?”
“Aku akan menunggu disini saja, selain itu kita semua’kan sudah mendapatkan kunci dari wakil komandan.”
“Ahhh, benar juga.”
“Jangan-jangan kau menghilangkan kuncimu.”
“T-tidak, ada kok hanya saja aku lupa taruh dimana. Tapi tenang saja, mungkin nanti ketemu.”
“Kau menghilangkannya, ya… Ini, aku tadi menemukannya diantara tumpukan buku yang sudah kau baca.”
“Wah, terimakasih banyak.”
“Lalu… Begini.” Ria mengaitkan kunci itu pada benang lalu. “Nah, begini saja biar tidak hilang.” Dia mengaitkannya pada sebuah kalung dan memberikannya padaku.
“Ini buatanmu?”
“Iya, berada disini agak sedikit bosan jika tidak melakukan apa-apa, jadi aku putuskan untuk membuat sesuatu.”
“Begitu, terimakasih.”
“Pastikan untukmu menjaganya, jika hilang kau sendiri yang akan repot nantinya.”
“Ria, mendekat kemari.”
“Huh? Ada apa?”
“Sudah, kesini.” Saat dia sudah cukup dekat.
Kiss.
Aku menciumnya. “A-apa yang kau lakukan, bagaimana jika ada yang melihatnya.” Dia tersipu malu.
“Setiap aku melakukannya, responmu itu yang selalu membuatku senang, kau sangat imut. Terimakasih, pemberianmu ini akan aku jaga. Dan lagi, memangnya kenapa jika ada yang lihat? Biarkan mereka, yang melihat mungkin iri.”
“Dasar kau itu.”
---------
Sementara itu.
“Putri, untuk rapat pertemuan besok…” (Naila)
“Haaaaaa, aku ingin istirahat sekarang, mulai tadi saat sampai disini aku sama sekali tidak dapat kesempatan untuk istirahat. Oh ya, Marie dan Paul kemana?”
“Mereka bilang ingin jalan-jalan sebentar.”
“Aku ingin bertemu dengan Ari.”
“Putri, anda harus tetap fokus, aku yakin sekarang Ari juga berusaha dengan keras. Pekerjaan yang kita lakukan bisa dibilang mudah dibandingkan dengan apa yang dilakukannya.”
“Itu benar, membujuk ras lain untuk membuat aliansi tidak semudah yang dibayangkan. Aku yakin dia pasti saat ini berjuang keras. Naila, berapa lama lagi kita akan berada disini?”
“Besok adalah rapat terakhir, mereka akan menunggu persetujuan dari para petinggi dan saat itulah waktunya untuk meyakinkan mereka.”
“Haaaa, sepertinya itu akan melelahkan. Sebaiknya aku berjuang untuk besok.”
---------
Esoknya.
Siang hari, diperpustakaan.
Aku masih memiliki waktu 2 hari sebelum istana langit ini berada tepat di benua halfhuman.
“Haaaaa, ini menyebalkan.” Saat ini aku sedang berada diantara sebuah dilema.
“Ari, aku merindukanmu!!”
Iona yang datang entah darimana tiba-tiba saja langsung memelukku. “Iona, kau sudah datang. Bagaimana, apa semuanya berjalan lancar.”
“Mooo, apa itu yang kau bicarakan setelah melihat istri cantik dan manismu ini pulang setelah 2 hari berpisah.”
“Maaf.”
__ADS_1
“Ari, kau kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?”
“Tidak ada apa-apa.”
Iona berdiri didepanku dan memegang pipiku menggunakan kedua tangannya. “Kau tak bisa berbohong padaku, katakan apa yang sebenarnya sudah terjadi?”
“Kalau begitu putri, kami ingin beristirahat dulu.” (Naila)
“Iya.” Naila dan yang lainnya pergi. “Ari, kau bisa bicara denganku apa yang sebenarnya sudah terjadi. Kenapa kau terlihat sedih seperti itu.”
Aku menceritakannya, tentang apa yang terjadi pada kakek pahlawan.
“Begitu, ya. Jadi kakek sudah pergi, itu alasanmu sedih?”
“Dia adalah orang pertama yang aku kagumi selama aku hidup, lalu dia lenyap tepat dihadapanku.”
Iona memelukku. “Ari, jangan sedih. Jika kau sedih, kakek pasti akan sedih juga. Bukankah dia sudah terlalu lama hidup dalam kesendirian, seharunya kau senang karena sekarang kakek sudah tidak perlu meraskan hal itu lagi. Aku sangat yakin, kakek pasti merasa sangat senang karena semua yang dia miliki ada ditangan yang tepat, bahkan sampai kematiannyapun dia masih tersenyum padamu. Kau tidak boleh sedih, lagi.” Beberapa saat kemudian, Iona melepaskan pelukannya. “Bagaimana, apa kau sudah baik-baik saja?”
“Terimakasih, aku sudah baik-baik saja.”
Cukup lama setelah itu.
“Ahhh, putri kau sudah kembali.” (Lucy)
“Pangeran Lucy, kau membaca buku lagi?”
“Ya, tidak ada yang bisa aku lakukan jika ada disini selain membaca buku. Oh ya, aku ingin memberitahu sesuatu. Tapi sebelum itu, Ari bisa kau menyingkir.”
“Iya iya, aku mengerti.” Aku tak tau apa yang akan dibicarakan olehnya, tapi sepertinya itu sesuatu yang penting dan karena itu aku menurutinya.
Di perpustakaan.
“Wakil komandan Ari.”
“Ria, kau masih ada disini? Aku pikir kau sudah pulang.”
“Ahhh, saat aku bilang ingin pulang Lucy bilang kenapa tidak menginap disini saja. Ya, sepertinya jika ditinggal sendirian dia akan kesepian.”
“Hmmm,begitu.”
“Wakil komandan, apa anda mau teh?”
“Tidak, terimakasih.”
“Bagaimana kalau cemilan?”
“Tidak juga, terimakasih atas tawarannya.”
“Ummm, wakil komandan, apa kau punya masalah?”
“Apa aku terlihat seperti orang yang memiliki masalah?”
“Iya, nafasmu menjadi berat dan juga kau tidak begitu fokus seperti biasanya, aku pikir kau ada masalah.”
“Haaaa, sampai kau juga menyadarinya. Sepertinya masalahku ini mempengaruhi kehidupanku.”
“Wakil komandan, apa anda baik-baik saja?”
“Aku tidak bisa bilang kalau aku baik-baik saja, ada sesuatu yang membuatku merasa bimbang.”
“Jika tidak keberatan, anda bisa bercerita denganku. Aku akan mendengarnya.”
Aku tersenyum. “Topik yang akan aku bahas ini sangat berat, aku yakin kau tak akan bisa memahaminya.”
“B-begitu, maaf.”
“Jika seperti itu, bagaimana kalau membicarakannya dengan Lucy, dia pasti bisa membantu.”
“Soal itu, aku juga sudah membicarakan hal itu dengannya, tapi sayangnya dia juga kebingungan.”
“Begitu. Apa masalahnya sangat sulit, sampai-sampai membuat anda dan juga Lucy kebingungan?”
“Tidak juga, hanya saja ini melibatkan sebuah pilihan.”
“Pilihan? Pilihan apa?”
“Hmmm, pilihan yang sulit tapi harus diambil.”
“Begitu, aku mengerti.”
“Kau mengerti?”
“Ya, yang anda bicarakan itu semua jauh diluar apa yang bisa aku pahami, meskipun dilanjutkan aku tak yakin bisa memahaminya lebih jauh atau tidak. Lagipula aku tau kalau pilihan yang harus dipilih sangat sulit sampai wakil komandan menjadi kebingungan seperti ini. Jika orang yang hebat seperti anda bisa seperti ini, apalagi orang biasa sepertiku.”
“Entah kenapa semakin hari sikap dan sifatmu mulai mirip dengannya.”
“Eh? B-benarkah?”
“Kau terlalu sering bersamanya, kau meniru sifat dan sikapnya tanpa kau sadari. Ya, itu sama seperti yang terjadi pada Iona.”
“Putri juga?”
“Kau tak menyadarinya? Saat aku sedang lelah, tenang, stress atau bosan, aku selalu menghela nafas panjang dan sekarang Iona juga melakukannya.”
“Ehhh, aku pikir itu kebiasaan putri. Aku tak tau kalau dia meniru wakil komandan.”
“Ya, itu hanya sedikit dari apa yang dia tiru dariku. Tapi kau tau kenapa seseorang bisa meniru sifat dan sikap orang lain?”
“Huh? Memangnya kenapa?”
“Yang aku tau, orang yang ditiru itu memiliki peran penting bagi orang yang meniru, orang yang meniru ingin menjadi seperti orang yang ditiru oleh karena itu dia meniru setiap hal kecil dari orang yang ditiru.”
“Begitu. Jadi, aku ingin meniru Lucy.”
“Ya, tapi bisa juga seseorang meniru orang lain karena dia ingin merasa lebih dekat dengannya.”
“Oh ya wakil komandan, siapa orang yang menjadi panutan anda?”
“Siapa, jika kau bilang seperti itu. Hanya 1 orang saja.”
“Siapa?”
“Salah satu dari pahlawan masa lalu. Pemimpin yang hebat, dan juga berwibawa, serta semua orang yang ada didekatnya percaya padanya. Seperti itu orang yang aku kagumi.”
“Hmm, jika dipikir-pikir, orang itu mirip sekali dengan anda.”
“Huh?”
“Ya, wakil komandan adalah seorang pemimpin yang hebat yang menyaingi putri, dan anda juga berwibawa serta semua orang yang ada didekat anda mereka semua mempercayai anda.”
“Hahaha, tapi sayangnya aku tak merasa seperti itu. Aku ini hanyalah seseorang yang naif, orang sepertiku tidak bisa menjadi seperti itu.”
“Yang menilai bukan wakil komandan, tapi orang-orang yang ada disekitar anda. Menurutku, anda itu hebat dan mirip seperti orang yang anda ceritakan.”
“Terimakasih sudah menghiburku. Haaaa, baiklah.”
“Wakil komandan, anda ingin pergi?”
__ADS_1
“Iya, pekerjaanku masih banyak di markas. Tak mungkin aku menyerahkan pekerjaanyang banyak itu pada mereka ber-3 benarkan.”
“Begitu.”
“Oh ya, jika ada yang mencariku bilang aku ada di markas.”
“Baik.”
\=\=\=\=\=\=
Sementara itu.
“Putri, bagaimana? Apa kau setuju?” (Lucy)
“Tapi, apa Ari akan menyetujuinya? Bukankah itu hanya akan menggangunya saja.” Lucy memberitahuku kalau aku harus bersama dengan Ari untuk beberapa waktu.
“Sudah aku bilang sebelumnya, mau kau ganggu dia sebanyak apapun dia tidak akan merasa terganggu selama itu kau. Selain itu…”
“P-pangeran Lucy, apa yang aku lakukan?!! Cepat angkat kepalamu.” Dia menundukkan kepalanya.
“Aku mohom putri, aku yang akan mengurus aliansi dipihak manusia. Jadi, aku mohon dengan sangat. Tolong memani Ari, jika tidak aku merasa akan ada sesuatu hal buruk yang akan akan dia lakukan jika tidak ada seorangpun yang bersamanya. Oleh karena itu, aku mohon.”
“Baik aku mengerti, tapi tolong angkat wajahmu.”
“Terimakasih.”
Sampai bersikap seperti itu, aku sedikit penasaran apa yang sebenranya sudah terjadi. “Pangeran, apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Ari? Tadi aku juga melihat sikapnya yang aneh tidak seperti biasanya.”
“Dia sudah menceritakannya, ya.”
“Tentang kematian kakek, iya dia menceritakannya.”
“Begitu, ya. Aku mengerti. Jika putri ingin tau lebih jelas, ada baiknya tanyakan saja padanya. Aku tak berani bila harus menggungkapkan sesuatu yang bahkan tidak boleh aku ucapkan.”
Berkata seperti itu membuatku semakin penasaran. “Kalau begitu, aku akan menanyakannya.”
“Iya, lagipula jika kau menanyakannya aku yakin dia akan membertahumu.”
“Begitu, terimakasih.”
Di perpustakaan.
“Ari, dimana kau?!” Aku memanggilnya tapi tidak ada jawaban.
“Putri, ada apa?”
“Ari, dia ada dimana?”
“Ahhh, dia ada di markas. Dia bilang ingin mengerajakan perkejaannya disana.”
“Begitu, terimakasih.”
Setelah itu.
Dimarkas.
Aku menggunakan kunci istana langit untuk kembali ke markas.
“Ternyata berhasil.” Aku belum pernah mencobanya, tapi ternyata ini berhasil seperti yang dikatakan oleh Ari.
Di ruang komandan.
“Ari!!!”
“Eh?! I-iona, ada apa? Jangan berteriak, ini tempat yang sunyi.”
“M-maaf, eh dimana yang lain?”
“Aku menyuruh mereka untuk kembali.”
“Huh? Kenapa?”
“Tidak ada, aku hanya ingin sendirian saja.”
“Begitu. Oh ya Ari, aku ingin menanyakan sesuatu padamu.”
“Apa itu?”
“Pangeran Lucy tidak mau memberitahu, tapi dia bilang kalau aku bertanya padamu kau akan memberitahuku.”
“Dasar orang itu.”
“Jadi, kau akan memberitahuku?”
“Haaaa, baiklah. Tapi sebelum itu.” Ari mendekat kearahku dan menyentuh tanganku. “Kita cari tempat yang nyaman dulu.”
“Tempat ini.” Kami berpindah tempat. “Sudah lama sekali aku tak datang kemari.” Tempat yang dipenuhi oleh bunga yang sangat indah dan di tengah hutan dengan 1 pohon besar.
“Tempat ini tidak banyak berubah meskipun sudah agak lama tak dikunjungi.”
“Ya, itu benar, ini masih terlihat sama seperti pertama kali aku kemari.”
Aku berjalan mendekat kearah pohon besar yang ada ditengah. “Disini sejuk. Ari, kemari.”
“Iya iya.” Ia menyusulku.
Aku duduk dibawah pohon dan Ari juga duduk disampingku. “Haaaa, udaranya sangat sejuk. Ini sangat menenangkan, benarkan Ari.”
“Iya.”Aku menatap tajam kearahnya. “I-iona, ada apa?”
“Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa pangeran Lucy bertindak sampai sejauh itu, kau tau aku jadi sangat khawatir. Apalagi melihat pangeran Lucy yang sampai bertindak seperti itu.”
“Haaaa, apa yang sebenarnya dia katakan padamu.”
Aku akan menggunakan trik rahasia yang sangat ampuh untuknya. “Kau tak ingin membicarakannya denganku, ya.”
“J-jangan murung seperti itu, baik akan aku beritahu.”
Berhasil. “Terimakasih.” Trik ini selalu berhasil padanya, saat dia sedang menyembunyikan sesuatu hanya dengan bersikap seperti itu dia pasti akan langsung mengatakannya. “Lalu, apa alasannya?”
“Hmmm,Iona, apa kau pikir semua mahluk hidup memiliki perasaan?”
“Tentu saja, semua mahluk hidup pasti memilikinya. Memangnya apa yang salah dengan hal itu?”
“Tidak, hanya saja. Bagaimana dengan iblis? Apa mereka juga memiliki perasaaan?”
Aku tak begitu mengerti dengan apa yang ingin Ari sampaikan. “Eh, aku tidak tau. Mereka menghancurkan kerajaan dan juga membunuh orang-orang, apa tindakan mereka masih bisa dibilang kalau mereka memiliki perasaan.”
“Jika kau bilang seperti itu, bukankah itu berarti kita sama saja dengan mereka.”
“Huh? Apa maksudmu?”
“Dalam perang, kita juga membunuh dan yang lebih parahnya lagi membunuh sesama ras kita.”
“T-tunggu, Ari apa yang sebenarnya ingin kau katakan?”
“Iona, sebenarnya aku mulai ragu. Apa yang aku lakukan ini, benar atau tidak.”
__ADS_1
Pertama kali aku melihatnya, sikap Ari yang berbedadari apa yang pernah aku lihat sebelumnya. ‘Dia, ragu.’