Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
43


__ADS_3

Esok harinya.


Istana kerajaan Thorwn, ruang tahta.


Karena Iona bilang ada sesuatu yang ingin dia katakan pada ayahnya, aku mengantarkannya kemari. Meskipun begitu, para petinggi juga ada disini. ‘Seharusnya ini jadi pembicaraan pribadi antara putri dan juga ayahnya.’


“Ayah.”


“Iona, ada apa? Kenapa kau kembali, bagaimana dengan akademimu?”


“Ayah, aku ingin meminta izin untuk menjadi perwakilan kerajaan ini.”


“Perwakilan kerajaan, untuk apa?”


“Membuat aliansi dengan kerajaan lain.”


“Putri, apa kau sudah tidak waras. Untuk apa kau ingin membuat aliansi, apa kau ingin menyulut perang baru lagi!!” (Petinggi)


“Inilah alasanku membenci orang dewasa yang cepat naik darah, bahkan tidak mendengar alasannya dan malah menuduh yang tidak-tidak. Orang seperti kalian memang harus…”


“Tahan Ari, jangan marah dulu. Biarkan saja mereka.”


“Jika kau bilang seperti itu, mau bagaimana lagi.”


“Iona, bisa beritahu alasanmu ingin melakukan itu?” (Raja)


“Baik, akan aku jelaskan.” Iona mulai menjelaskan semuanya, tentang penyerangan besar yang akan terjadi nanti dari serangan raja iblis. Awalnya mereka semua sedikit terkejut dan tidak percaya, tapi setelah Iona menjelaskan semua detailnya dia mereka semua mulai paham dengan situasinya.


“Kalau begitu, ayah mengizinkamu. Sebagai raja, aku mengizinkanmu untuk menjadi perwakilan dari kerajaan ini. Buatlah aliansi besar dan menangkan perang bersar ini.”


“Terimakasih.”


Iona terlihat sangat senang, meskipun begitu entah kenapa aku sangat bangga dengannya. Mungkin karena ia melakukannya sendirian tanpa bantuanku. ‘Dia sudah berkembang.’ Melihat perkembangannya ini aku sangat senang. “Iona, ayo pergi.”


“Tunggu, ada 1 hal lagi yang ingin aku sampaikan.”


“Huh? Masih ada?”


“Iya, ini adalah hal yang penting dan tujuan utamaku kemari.”


“Jadi bukan ini tujuan utamamu.”


“Iya. Yang akan aku bicarakan ini adalah tujuan aku datang kemari.”


“Iona, katakanlah.” (Raja)


“Ayah, aku ingin meminta restumu untuk menikahi Ari.”


“Eh?” Aku terkejut dia akan mengatakan itu.


“P-putri, apa yang kau katakan!!!” (Petinggi)


“Putri, pikirkan baik-baik. Jika anda menikahi pemuda biasa itu, kerajaan ini hanya akan mendapatkan rasa malu. Pikirkanlah hal itu.”


“Cih, disaat seperti ini masih saja memikirkan hal seperti itu.”


“Ari, tenanglah. Ayah, aku mohon restumu.”


“Kalau begitu, mau bagaimana lagi. Raja, aku juga meminta izin dan juga restumu untuk menikahi putrimu.”


“Ari…”


Iona menatap ke arahku. “Ini yang kau inginkan, bukan.”


“Apa yang kau bisa berikan pada putriku?”


“Semuanya. Hal yang dia butuhkan, aku bisa memberikan semuanya padanya.”


“Apa kau sanggup menjaga putriku?”


“Bahkan jika harus mengorbankan nyawaku sekalipun, aku akan melakukannya. Karena bagiku, Iona adalah orang yang paling berharga dalam hidupku.”


“Begitu, baiklah.”


“Yang mulia.Tolong pertimbangkan lagi, ada banyak orang yang mau menikahi putri dan kehidupan putri juga bisa terjadi. Jika bersama dengannya, bagaimana mungkin. Tolong yang mulia, pikirkan lagi. Ini demi kepentingan rakyat dan juga kerajaan.”


“Itu adalah pilihannya sendiri, selama dia bahagia itu tidak masalah.”


“Ayah, terimakasih.”


“Yang mulia.”


Para petinggi terlihat kecewa dengan hal yang diungkapkan oleh raja, meskipun begitu disisi lain raja terlihat senang. “Mulai saat ini, tolong rawat putriku.”


“Baik, serahkan padaku.”


Cukup lama setelah itu, surat sebagai perwakilan kerajaan dibuat dan langsung diserahkan kepada Iona. Rapat selesai.


Di luar ruangan.


“Iona, tunggu.” (Raja) Saat kami ingin kembali, raja menghampiri kami.


“Ayah, ada apa?”

__ADS_1


“Ada sesuatu yang ingin ayah bahas dengan kalian berdua.”


“Aku?”


Ruang makan.


Karena belum makan, kami membicarakannya sambil makan. “Ibu juga ada disini.”


“Iya, sudah lama kita tidak makan bersama seperti ini. Lalu, sepertinya keluarga ini akan bertambah itu membuat ibu cukup senang. Sepertinya kau sudah menemukan lelaki yang cocok untukmu.”


“Iya.”


“Ehem… Ari, pertanyaan ini sebenarnya untukmu.” (Raja)


“Eh? Untukku?”


“Iya, ini mengenai pernikahan untuk kalian berdua.”


“A-ayah, i-itu terlalu cepat dan lagi kondisinya kurang pas. Aku yakin Ari juga memikirkan hal yang sama.” (Iona)


“Tidak masalah kok.”


“Eh? Aku tidak salah dengar?”


“Iya, tidak masalah. Meskipun serangan raja iblis belum diketahui kapan akan muncul kesini, ada kemungkinan saat ini perjalanan mereka kemari terhambat. Tapi, jika kau yang ingin menentukan waktunya aku juga tidak masalah.”


“T-tunggu, kenapa?”


“Jika kau bilang seperti itu, bukankah ini yang kau inginkan?”


“Hahahahaha, kau sunggu menemukan lelaki yang menarik putriku.”


“Sayang, jaga cara bicaramu.”


“Ahhh, maaf. Jadi, kapan?”


“Aku, tidak tau. Ari, kalau kau bagaimana?”


“Iona, aku akan pergi, ada sesuatu yang sedikit diluar rencana. Untuk hal itu terserah kau saja, aku akan menrutimu. Kalau begitu aku pergi.”


“T-tunggu.”


\=\=\=\=


Ari pergi. “Sihir itu.” (Ibu)


“Ahhh, Ari mempelajarinya dari kak Risa. Sihir teleportasi.”


“Sepertinya dia pemuda yang hebat.”


“Iya.”


“Maafkan dia ayah, tapi ada sesuatu yang penting yang harus dia lakukan.”


“Sesuatu apa yang lebih penting dari pembicaraan ini.”


“Mungkin, ini menyangkut masalah pasukan khusus yang aku pimpin. Dia akan pergi jika ada masalah, mungkin sudah terjadi masalah.”


“Pasukan khusus, milikmu. Apa yang mereka lakukan?”


“Ari bekerja sama dengan raja dari kerajaan Guil untuk mengambil alih daerah kekuasannya kembali, karena itu dia memerintahkan pasukanku untuk melakukannya. Mungkin dia pergi untuk membantu mereka.”


“Merebut wilayah? Kenapa dia melakukan hal itu?”


“Begini.” Aku menjelaskannya, apa yang sudah Ari katakan padaku mengenai sesuatu yang ada di daerah itu kenapa ayah.


“Rune khusus tempat dimana para pahlawan tertidur?!” (Ibu)


“Iya, tapi karena beberapa alasan Ari mengatakan kalau melakukan hal itu sia-sia. Meskipun begitu raja tetap memaksa, oleh karena itu Ari melakukannya. Sisanya dia akan menyerahkan pada kerajaan Guil.”


“Begitu, sepertinya dia sudah menjadi orang yang sibuk padahal dia masih muda. Tidak seperti ayahmu yang kelakuannya hanya berlatih pedang setiap hari, tapi tidak ada hasilnya. Aku yakin dia pasti bisa mengurus kerajaan ini dengan baik, benar’kan begitu sayang.”


“Iya. Meskipun begitu, sikapnya itu harus dirubah. Iona, kau harus mengajarkan banyak hal mengenai kerajaan padanya.” (Ayah)


“Aku rasa jika aku melakukan itu, hanya akan merepotkannya. Selain itu, dia tidak suka dengan hal-hal semacam ini. Saat aku bilang, pasti dia akan mengatakan seperti ini. Aku masih memiliki banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan, dan lagipula aku tak punya waktu untuk mengurusi hal yang merepotkan semacam itu. Begitu.”


“Wah, sungguh pria yang bebas.” (Ibu)


“Begitu, itu berarti kau butuh seseorang yang akan menggantikan posisi ayah sebagai seorang raja.” (Ayah)


“Pengganti?”


“Iya, bagaimana dengan seorang anak?”


“Wah, ibu tidak sabar ingin melihat cucu ibu.”


“Eh?!! I-itu terlalu cepat, aku bahkan belum memikirkan hal seperti itu.”


“Apa yang kau katakan, ibu dan ayahmu menikah saat berumur 15 tahun. Setelah itu 2 tahun kemudian ibu melahirkanmu, saat ini seharusnya kau sudah bisa memiliki seorang anak.”


“Tapi…”


“Mau bagaimana lagi, jika tidak ada yang menjadi raja keajaan ini akan menjadi kacau. Disitulah suatu saat anakmu yang akan menjadi penguasa kerajaan ini, sampai saat itu tiba ayah yang akan mengurus semua urusan kerajaan ini. Sebisa mungkin ayah ingin segera menggendong seorang cucu, ayah sudah tak sabar.”

__ADS_1


“Moooo. Kenapa kalian seenaknya sendiri.”


Tak berlangsung lama setelah itu, Ari kembali.


“Ari, kau sudah selesai?”


“Iya.”


“Apa yang terjadi?”


“Ada sedikit masalah saat penyerangan tadi, untung saja aku menyadarinya dengan cepat jika tidak mungkin akan ada korban dipihak kita.”


“Begitu, lalu bagaimana kondisinya sekarang?”


“Daerah itu sudah berhasil direbut, dan sisanya hanya terserah pada raja itu saja.”


“Begitu.”


“Oh ya, bagaimana dengan pembicaraannya? Apa berjalan dengan baik?”


“Ahhh, kami baru saja membahasnya. Ari, bagaimana kalau pernikahan kalian diadakan minggu depan?” (Ibu)


“I-ibu, itu terlalu mendadak.” Perkataan yang diungkapkan oleh ibu membuatku terkejut.


“Baiklah, jika Iona tidak mempermasalahkannya aku juga tidak akan mempermasalahkannya.”


“Eh?”


“Berarti sudah diputuskan.”


“Ari, saat kau menikahi putriku, kau akan menjadi raja. Apa kau setuju dengan hal itu?” (Ayah)


“Hmmmm, bagaimana, ya. Menjadi raja itu adalah tugas yang berat, dan pastinya itu pasti akan merepotkan. Selain itu, aku memiliki banyak sekali pekerjaan yang harus aku selesaikan, dan lagipula aku tak punya waktu untuk mengurusi hal merepotkan semacam itu.” (Ari)


“Wah, ternyata yang dikatakan Iona benar.” (Ibu)


“Aku sudah bilang tadi.”


“Huh? Apa yang kau bicarakan pada mereka tentangku?”


“Tidak ada, hanya membicarakan kebiasaanmu saja.”


“Tapi Ari, apa kau siap untuk terlibat dalam hal urusan kerajaan?”


“Jika hanya menjadi orang yang bekerja dibalik layar aku siap, lagipula aku tak begitu suka jika harus berhadapan dengan orang banyak secara langsung apalagi jika harus membahas hal yang tak aku sukai. Tapi tenang saja, aku bisa melakukannya.”


“Itu benar, Ari adalah orang yang hebat. Aku yakin dia bisa membuat kerajaan ini lebih maju lagi dari saat ini.” Aku percaya kalau dia bisa melakukannya, oleh karena itu aku sangat bangga mengatakan hal ini.


“Begitu, kalau begitu pembicaraan ini selesai. Ingat, minggu depan adalah pernikahan kalian.” (Raja)


“Oh ya, bagaimana dengan pertunangan putri Risa?” (Ari)


“Benar juga, pertunangan kak Risa sudah sering ditunda karena banyak masalah yang terjadi. Aku pikir tidak baik jika menundanya terus menerus.”


“Tidak masalah, aku tidak mempedulikan tentang hal itu.” (Risa) Kak Risa datang kemari.


“Risa, kau sudah datang.” (Ibu)


“Ahhh, maaf aku terlambat. Ngomong-ngomong Iona, jangan khawatirkan tentang pertunanganku, aku akan baik-baik saja. Selain itu, seharusnya kau bersiap akan pernikahanmu minggu depan. Ahhhh, akhirnya aku bisa melihat Iona menggunakan gaun pengantin yang anggun, dan untukmu Ari…”


“Aku?”


“Kau harus terlihat tampan dan keren saat pernikahanmu dimulai. Ingat itu.”


“B-baik.”


“Aku tak sabar untuk menantikannya, aku ingin segera cepat-cepat melihat Iona menggunakan gaun pengantin. Kau pasti akan jadi gadis yang sangat cantik jika menggunakannya.”


“Kau terlalu berlebihan kak Risa.”


“Iona, sudah waktunya.”


“Eh, iya benar juga. Ayah, ibu, kak Risa kami akan pergi dulu.”


“Kalian mau pergi kemana?” (Risa)


“Istana langit, aku dan yang lain ingin membahas tentang rencana selanjutnya yang akan digunakan untuk membuat aliansi kerajaan.”


“Istana langit?! Maksudmu istana para pahlawan yang terbang dilangit itu?”


“Eh? Kak Risa tau?”


“Aku pikir itu hanya sebuah dongeng belaka, aku tak menyangka kalau itu benar-benar ada.”


“Kalau begitu, apa kak Risa juga mau ikut?”


“Eh, benarkah? Apa boleh?”


“Ari, boleh’kan?”


“Tentu saja, lagipula tempat itu juga sudah menjadi milikmu.”


“Kalau begitu, kak Risa, ayo.” Aku memengang tangan kak Risa, sedangkan Ari memengang tanganku. “Ayah, Ibu, kami pergi.”

__ADS_1


“Ya.”


“Sampai jumpa lagi nanti.” Kami pergi menuju ke kerajaan langit bersama dengan kak Risa yang sangat antusias.


__ADS_2