
Esoknya.
“Lucy, kau masih saja membaca buku itu?”
“Hmmm, aku masih penasaran dengan sesuatu.”
“Ya, yang kau cari semuanya ada disini. Aku ingin menjemput Iona dulu.”
“Menjemput Putri? Kau mengajak putri untuk pulang?”
“Mana mungkin, dia sendiri yang minta selain itu kepala akademinya juga mengizinkannya dan dia juga diberikan tugas khusus.”
“Tugas khusus? Tugas apa itu?”
“Membuat sebuah aliansi kerajaan yang besar untuk melawan raja iblis.”
“Itu tugas yang cukup sulit, tapi jika ada kau aku yakin dia bisa melakukannya.”
“Ya, kalau begitu sampai jumpa lagi nanti. Aku akan kembali secepatnya.”
“Iya.”
Didepan akademi sihir.
“Ari, kami sudah menunggumu.” (Iona)
Iona, Naila, Marie dan juga Paul, mereka menunggu didepan akademi. “Maaf membuatmu menunggu. Oh ya, bisa tunggu sebentar lagi, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting pada raja.”
“Baik, akan kami tunggu.”
Cukup lama setelah itu, aku kembali.
“Kau bilang tadi sebentar.”
Iona marah. “Aaah, maaf. A-aku tak menyangka akan memakan waktu membicarakan hal itu. Kau mau memaafkanku,kan?”
“Kau pikir aku akan memaafkanmu semudah itu, kau sudah membuatku menunggu.”
“Haaaa.” Aku mengelus kepalanya. “Kau imut saat marah.”
“K-kau, masih bisa berkata seperti itu. Saat ini aku sedang marah, lo.”
“Iya iya, aku tau. Baiklah, apa kalian semua sudah siap?”
“J-jangan mengabaikanku.”
Aku memegang tangan Iona. “Kalian semua bepeganganlah pada Iona.”
“B-baik.” Mereka semua menyentuh Iona.
“Baiklah.”
----
Aku menggunakan telportasi untuk pergi ke rumah pahlawan. “D-dimana ini?”
“Awas, jangan terlalu kepinggir, nanti kalian bisa jatuh, lo.”
“Jatuh?” Mereka semua melihat kebawah. “T-tinggi sekali!!” (Naila)
“Tempat ini, melayang.” (Marie)
“Ari, tempat apa ini?” (Iona)
“Ahhh, aku baru saja mendapatkannya dari kakek.”
“Kakek itu?”
“Iya. Semuanya, ayo masuk.”
Didalam.
“Luas sekali didalam.”
“Kalian bisa beritirahat di lantai 3 jika lelah. Aku ingin membicarakan hal penting dulu dengan Lucy.”
“Pangeran Lucy ada disini?” (Iona)
“Iya.”
“Aku ikut.”
“Baiklah. Kalian bagaimana? Apa mau bersantai atau ikut?”
“Aku mau melihat-lihat.” (Naila)
“Aku ingin berkeliling.” (Marie)
“Aku ingin istirahat, sudah lama sekali aku tidak istirahat dengan tenang.” (Paul)
“Kalau begitu anggap seperti rumah sendiri, dan ingat jangan sampai terjun kebawah.”
“Tidak akan, lagipula kita tidak akan melakukan hal berbahaya seperti itu.” (Naila)
“Kalau begitu, Iona ayo.”
“Iya.”
Setelah itu.
Kami sampai di perpustakaan.
“Rumah ini luas sekali, aku tak menyangka ada tempat seperti ini.”
“Ya, aku tau perasaanmu.”
“Putri, Ari, ada apa?” (Lucy)
Kami langsung pergi menghampiri Lucy yang tengah duduk santai sambil membaca buku.
“Aku sudah mendapatkan jawaban dari Raja.”
“Huh? Apa katanya?”
“Meskipun sudah dijelaskan, tapi raja tetap saja ngotot ingin mengambil dan mengaktifkan rune itu.”
“Lalu, bagaimana? Apa kau akan melakukannya? Itu hanya akan membuang-buang waktu, kau tau.”
“Iya, aku tau itu hanya membuang-buang waktu. Tapi raja bilang kalau jika ada kesempatan untuk membangkitkan mereka. Jujur saja aku tidak ingin menggangu tidur mereka, meskipun berhasil dibangunkan sekalipun aku pikir seorang pahlawan yang tidak dihargai akan mengabaikan permintaan untuk menyelamatkan dunia ini lagi.”
“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”
“Hmmm, sepertinya rencananya masih sama. Pasukanku akan menyerang benteng itu, untuk sisanya aku tak peduli apa yang akan raja itu lakukan.”
“Begitu.”
“Iona, kau lapar?” Perut Iona berbunyi.
“M-maaf, aku belum sarapan pagi ini.”
“Putri, diruang makan ada makanan, kau bisa makan disana.”
“Benarkah?”
“Iya, kalau tidak salah tempatnya ada di lantai 3.”
“Terimakasih, kalau begitu aku akan pergi.”
“Ya.” Iona pergi.
“Tidak biasanya dia seperti itu.”
“Lalu, Ari, apa ada penolakan tentang rencanamu itu dari raja?”
“Sebenarnya yang menolak bukan raja, tetapi petinggi kerajaan. Aku sudah menduga hal itu, tapi tetap saja meskipun begitu perintah raja hanya ingin menyelamatkan penduduknya saja dari bahaya yang akan datang. Oleh karena itu meskipun kesempatannya sangat kecil dia ingin mencobanya.”
“Kau memiliki rencana?”
“Aku sudah menyiapkannya, rencananya tidak beda jauh dari penyerangan yang pernah dilakukan sebelumnya. Dan perkiraan selesai, kemungkinan 1 hari.”
“Kau tidak akan ikut pertempuran itu’kan?”
“Tentu saja, itu hanya akan membuat para pasukan menjadi kurang kreatif. Jika aku turun tangan, dengan kekuatan ini aku bisa menyelesaikan itu dengan mudah, tapi aku ingin melihat komando langsung dari para ketua regu. Aku ingin mereka tidak mengandalkan rencanaku terus, aku ingin mereka membuat rencana mereka sendiri.”
__ADS_1
“Mereka akan kesulitan, lo.”
“Aku tau akan hal itu, tapi itu adalah resikonya. Aku sudah banyak memberikan strategi untuk mereka, aku ingin melihat keberhasilan mereka tanpa mengandalkan rencana yang aku buat.”
“Terserah kau saja jika seperti itu, itu adalah pilihanmu.”
“Aku akan menemui para ketua regu dulu, untuk menjelaskan rencana awal setelah itu rencana pengembangan biarkan mereka yang mengurusnya.”
“Ya, aku akan membaca buku disini.”
---
Hutan dekat dengan kerajaan Guil.
“Wakil komandan.” (Famus)
“Famus, segera panggil ketua regu yang lain.”
“Baik.”
Beberapa menit setelah itu.
Semua ketua regu berkumpul.
“Aku akan menjelaskan rencananya.”
Setelah itu.
“Pengembangan rencana?” (Dirk)
“Iya, setelah rencanaku selesai kalian lakukan maka kalian harus membuat rencana sendiri.”
“Tapi komandan, bagaimana jika rencana anda gagal?”
“Kalian harus membuat ulang rencananya, aku tidak akan membantu dalam hal ini karena ada hal yang lebih penting yang harus aku lakukan. Aku harap kalian mengerti. Selain itu, aku sudah menunjukkan banyak sekali rencana yang bisa digunakan disegala situasi, aku yakin kalian pasti bisa mengatasinya dengan mudah. Jadi berjuanglah.”
“Baik.”
“Serangan bisa kalian mulai besok untuk sekarang kalian bisa istirahat ataupun mengintai untuk mengetahui lebih jelas tenang musuh yang akan kalian hadapi ini, dan ingat jangan sampai kalah.”
“Baik.”
“Kalau begitu, aku akan pergi.”
----
“Kau sudah selesai?” (Lucy)
“Iya.” Aku kembali ke ruang perpustakaan.
“Apa respon mereka?”
“Mereka terlihat sedikit khawatir.”
“Ya, mau bagaimana lagi. Selama ini mereka melakukan rencana yang kau buat, dan sekarang mereka harus membuat rencana mereka sendiri. Aku yakin mereka belum siap dengan hal itu.”
“Aku juga tau akan hal itu, tapi mau bagaimanapun kondisi saat ini sudah berbeda. Akan ada waktunya aku tak bisa memberikan perintah ataupun membuatkan mereka rencana lagi, oleh karena itu aku ingin para ketua regu itu mulai membiasakannya sekarang.”
“Terkait dengan perang melawan raja iblis?”
“Iya, ada kemungkinan kalau aku yang akan menghadapinya. Oleh karena itu, saat itu terjadi para pasukan tidak akan berada dibawah komandoku.”
“T-tidak boleh!!” (Iona)
“K-kau mendengar percakapan kami?”
“Tidak boleh!! Kau tidak boleh melawan raja iblis, tidak boleh!!”
“Haaaa, ya sudah. Jika kau berkata seperti itu mau bagaimana lagi.”
“Tidak!! Aku yakin kau akan melakukan hal yang sama seperti waktu itu, aku tak mau itu…”
“Menurutku itu juga termasuk hal bodoh, melawan raja iblis yang kau tidak tau kekuatannya seorang diri. Untuk hal ini aku akan menghentikanmu jika kau memang berencana untuk melakukannya.” (Lucy)
“Baik-baik, aku tidak akan melakukan hal seperti itu.”
“Benarkah?” (Iona)
“Iya.”
“Tapi, kemungkinan kita butuh kekuatan yang lebih banyak untuk menghadapi serangan ini.”
“Kalau begitu, aku akan berusaha untuk mengumpulkan sekutu sebanyak mungkin.”
“Iona semoga berhasil.”
“Aku akan berusaha.”
“Tapi jangan memaksakan dirimu.”
“Baik.”
“Haaaa, kenapa aku tidak mengajak Ria saja kemari. Aku bosan berada disini sendirian.”
“Itu salahmu membiarkan dia mengurus markas.”
“Ahhhh, aku akan menyelesaikan ini setelah itu kirim aku pulang. Aku sudah merindukan Ria.”
“Iya iya, baik.”
Sore hari.
Aku dan Iona duduk di teras sambil menikmati matahari sore. “Ari, rumah ini ada dimana?”
“Aku tak tau, karena rumah ini terbang keseluruh penjuru dunia aku tak tau dimana tempatnya.”
“Begitu.”
“Hoaaaammm, ini sedikit melelahkan.” Hari ini aku sedang sangat lelah karena menghadapi raja dan juga karena menggunakan teleportasi berulang kali.
“Ari.” Iona menarik kepalaku dan menidurkannya dipahanya. “Bagaimana? Apa terasanya nyaman?”
“Haaaa, setidaknya ini lebih nyaman daripada bantal apapun yang pernah aku gunakan.”
“Hehehe… Terimakasih, dan jangan banyak bergerak, rambutmu membuatku geli.”
“Ahh, maaf.” Tak ada pembicaraan lagi setelah itu.
Beberapa menit kemudian.
“Kau pasti sangat lelah.”
“Ya, seperti itulah. Aku terlalu sering menggunakan teleportasi hari ini, meskipun aku memiliki jumlah mana yang banyak tapi mentalku sangat lelah.”
“Begitu, kalau begitu beristirahatlah.”
“Haaaa, keadaan seperti ini terasa seperti surga saja.”
“Kau berlebihan.”
“Dipanggu oleh gadis yang cantik, dan juga menikmati matahari sore. Aku merasa bahagia.”
“Terimakasih.”
“Ari!! Woy!! Antar aku pulang.” (Lucy) Dia berteriak dari lantai 4 dan itu membuat moment ini terganggu.
“Cih, dasar orang itu.”
“Kau sudah berjanji tadi, pergilah.”
“Haaaa, baik.” Aku bangun dari bantal paha empuk itu dan langsung menuju ke tempat Lucy.
Di perpustakaan.
“Ayo cepat antar aku pulang.”
“Kau mengganggu saja.”
“Aku tidak terima jika hanya kau yang bermesraan, aku ingin segera… Ahhh, lupakan cepat antar aku kembali.”
“Baik-baik, kau bawel.”
----
__ADS_1
Markas khusus.
Ruang komandan.
Malam hari.
“Pangeran, wakil komandan, kalian sudah pulang.”
“Disini sudah malam, ya.”
“Ria, kenapa kau masih ada disini?”
“Ahhh, aku masih mengurus pekerjaan yang belum selesai.”
“Sudah aku bilang jangan berlebihan, jika kau sakit bagaimana?”
“Maaf membuatmu khawatir, tapi aku tidak apa-apa kok.”
“Ya, nikmati kemesraan kalian. Aku akan pergi.”
---
Di rumah pahlawan.
“Kau sudah kembali?” (Iona)
“Iya. Haaaaa, kali ini aku benar-benar sudah lelah.” Aku kembali berbaring dan tidur dipahanya.
Suasananya kembali tenang.
“Ari, apa kau ingat saat upacara pertunangan kak Risa dulu.”
“Ahhh, aku ingat. Itu adalah acara yang kacau.”
“Benar, jika saja kau tidak melakukan sesuatu saat itu pasti ayah, ibu dan juga paman beserta bibi akan celaka.”
“Aku hanya melakukan yang seharusnya aku lakukan. Jika tidak seperti itu, aku khawatir dengan masa depanmu.”
“Benar juga, sedari awal kau memang tidak suka pertunagan atas dasar politik, ya.”
“Iya, aku memang membencinya. Memang itu bisa berubah menjadi saling menyukai satu sama lain jika dijalani, tapi aku tetap tidak menyukainya. Itu terlihat seperti sebuah pernikahan hanyalah alat untuk memperkaya suatu pihak saja tanpa memikirkan perasaan orang yang menikah. Oleh karena itu aku selalu menentang keras hal itu.”
“Begitu.”
“Bisa dibayangkan jika salah satu dari mereka memiliki pasangan, tapi karena pernikahan politik mereka harus berpisah. Memikirkan hal itu saja sudah membuatku kesal.”
“Kau orang yang baik.”
“Aku sendiri tak tau apa aku ini orang baik atau tidak, tapi semua yang aku lakukan itu hanya demi kepuasan diri saja.”
“Meskipun begitu, kau tetap baik. Karena kepuasanmu itu banyak orang yang sudah terbantu, dan juga karena kepuasanmu itu pangeran Lucy mendapatkan sesuatu yang berharga. Kepuasanmu itu sangat berharga, karenanya kau bisa membantu banyak orang. Menyelamatkan banyak nyawa.”
“Aku tak berfikir demikian.”
“Apa kau ingat saat kau menyelamatkan Dravin dulu?”
“Itu hanyalah sebuah eksperimen saja, aku tak berniat untuk menyelamatkannya.”
“Meskipun begitu, fakta bahwa kau menyelamatkannya adalah benar. Karena itu dia membantu kita menghadapi masa-masa sulit sampai saat ini.”
“Begitu. Iona, orang seperti apa aku dimatamu?”
“Baik hati, memikirkan orang lain, rela berkorban demi sesuatu yang berharga baginya, perhatian, tampan, keren, pintar, jenius, banyak disenangi orang, mudah bergaul dengan orang asing…”
“Itu kebanyakan.”
“Jika harus membahas hal itu memang sangat banyak, tapi yang pasti kau adalah orang yang berharga bagiku. Itu adalah apa yang aku lihat sekarang dari dirimu.”
“Jika kau mengatakan itu, aku jadi malu.”
“Dasar, seharusnya aku yang berkata seperti itu.”
“Hahaha…” Aku menatap ke arah Iona. “Iona, apa yang kau sukai dariku?”
“Semuanya, mulai dari sifat baik dan burukmu, saat kau menjadi berani dan juga penakut, baik dan buruk kelakuanmu aku menyukainya. Semuanya yang kau miliki, aku menyukainya. Sikapmu yang ramah kadang juga suka usil, aku menyukainya. Kau yang mempedulikanku tanpa memikirkan dirimu sendiri, aku menyukainya. Kau selalu memprioritaskan diriku dari apapun, aku menyukainya. Aku menyukai semua hal darimu.”
“Sepertinya aku sudah menanyakan hal yang memalukan.”
“Aku tidak malu jika mengatakan itu, karena semua itu adalah hal yang aku sukai darimu.”
“Begitu. Iona, aku mencintaimu.”
“Eh? K-kenapa ti-tiba-tiba…”
“Hehehe..”
“Kau curang. Lalu Ari, apa yang kau sukai dariku?”
“Jawabannya mudah, kau adalah bagian dari hidupku, jika aku tidak menyukaimu itu berarti aku tidak menyukai sebagian hidupku.”
“Curang, aku tak tau kalau kau akan menjawab seperti itu.”
“Berbeda dari yang kau harapkan?”
“Iya, tapi jawaban itu lebih baik dari apa yang aku harapkan.”
“Begitu, syukurlah.” Aku melihat matahari yang perlahan mulai terbenam.
“Ari, apa kita bisa bertahan?”
“Bisa, meskipun tidak bisapun aku akan tetap menyelamatkanmu. Iona, apa yang kau harapkan untuk dunia ini kedepannya?”
“Tidak ada perang, dan juga semua orang bisa hidup sejahtera dengan damai tanpa takut lagi akan perang.”
“Jika seperti itu, aku akan berusaha mengwujudkannya.”
“Aku akan menantikannya.”
“Iona…”
“Ari…” Perlahan bibir kami mulai bertemu dan kami berciuman. “Ari, kau menyukainya? Dadaku?”
“K-kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal seperti itu?”
“Itu karena, setiap kali kita berciuman. Kau selalu mengambil kesempatan untuk memegang dadaku.”
“Ahhh, m-maaf, itu reflek.”
“Jadi, apa kau menyukainya?”
“Eh? J-jika kau bilang seperti itu, iya. Aku menyukainya.”
“Begitu. Kalau mau, kau boleh menyentuhnya.”
“Benarkah?”
“T-tapi, hanya jika kita berdua saja. Jika kau melanggar, kau tidak boleh mekakukannya lagi. Paham.”
“Haaaa, iya iya. Aku mengerti. Tapi, ternyata kau agresif juga, ya Iona.”
“A-apa yang kau katakan!! A-aku tidak mungkin seperti itu.”
“Iya iya, aku paham. Iona, ada 1 hal yang ingin aku tanyakan.”
“Apa itu?”
“J-jika saja. Ini hanya sebuah pengandaian saja, jika saja, andai suatu saat nanti aku… Ahhh, lupakan saja. Aku tak bisamengucapakannya sekarang.”
“Ehhh, kenapa bisa seperti itu. Ayo cepat bilang, aku ingin dengar.”
“Tidak bisa, aku masih belum siap.”
“Kau membuatku penasaran, ayo cepat katakan. Jangan membuat seorang gadis menunggu.”
“Ehh, j-jangan menggoyangkan tubuhku. Aku bisa pusing.”
“Itu salahmu membuatku pensaran, jika ingin berhenti cepat katakan hal yang ingin kau katakan itu.”
“Baik-baik, jadi berhentilah.” Dia berhenti. “Haaaaa, tunggu sebentar, aku ingin menguatkan mentalku dulu.” Aku mengambil nafas lalu membuangnya. “Iona.”
“Y-ya.”
Aku baru saja menyadari sesuatu, alasan kenapa aku tak lenyap setelah mengutarakan cintaku padanya. Kotrakku dengan dewi, sudah berakhir sejak aku mati. “Maukah kau, menjadi pengantinku?” Sisanya adalah, aku yang mau menyelesaikan tugas ini, atau tidak. Itu tergantung pilihanku, dewi akan tetap memberikan tempat dimana 3 barang langkah yang tersisa itu berada.
__ADS_1