
“Aku senang kau mau mengantarku.” (Iona)
“Maaf karena aku menahan diri sebelumnya.” Aku dan Iona dalam perjalanan menuju ke kerahaan Guil, barang-barang yang dibawa oleh Iona ada dikereta kuda dan akan sampai dalam 3 hari.
“Tidak masalah, yang penting kau mau mengantarku. Itu sudah cukup.” Iona memelukku dengan erat. “Terimakasih.”
Beberapa jam setelah itu.
Kami sampai disekitaran kerajaan Guil.
Dan seperti biasa, kami turun cukup jauh dari kerajaan. “Hmmm, baiklah. Ayo berangkat.”
“Kau tidak kembali?” (Iona)
“Mana mungkin aku meninggalkanmu sendirian dikerajaan yang asing, aku akan menemanimu sampai waktu pendaftaran selesai dan setelah itu aku baru akan pulang.”
“Begitu, terimakasih.”
Kami berjalan menuju ke kerajaan Guil.
Setelah cukup lama berjalan akhirnya kami sampai di gerbang utama.
“Permisi, kami dari kerajaan Thorwn.”
“Kerajan Thorwn? Ada perlu apa kalian kemari?”
“Hmmm, untuk mengikuti ujiam masuk akademi sihir.”
“Begitu, kalau begitu silahkan masuk.”
“Terimakasih. Ngomong-ngomong 3 hari setelah ini akan ada kereta kuda dari kerajaa Thorwn, itu adalah barang bawaan kami. Tolong izinkan mereka untuk masuk.”
“Huh? Kalian berdua kemari menggunakan apa?”
“Naga.”
“J-jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda, jika kalian tidak percaya. DRAVIN!!!” Aku berteriak memanggil namanya.
“Hah, jangan membohongi kam…”
GROAAARRRR.
Suara raungan Dravin menggelegar dan terdengar cukup keras sampai kemari. “Benar’kan aku tidak bohong, oh ya selain itu. Aku juga memiliki ini.” Aku mengeluarkan kartu pedagang khusus. “Dengan begini, kami bisa masuk’kan.”
“Y-ya.” Meskipun terlihat kebingungan, para prajurit penjaga itu membiarkan kami masuk.
Di dalam kerajaan Guil.
“Suasanya tidak berbeda jauh dengan kerajaan Thorwn.” Setidaknya itulah kesan pertamaku pada kerajaan ini.
“Ari, bagaimana kalau kita cari tempat untuk menginap terlebih dahulu?”
“Baiklah.”
Beberapa lama kemudian.
Kami menemukan sebuah penginapan.
“Emmm, 1 kamar untuk sepasang kekasih, ya. Kalian akan mendapatkan diskon potongan biaya, ini kamar kalian.”
“P-pasangan?!” (Iona)
“Bukan’kah?”
“T-tidak, kami ini pasangan, ya kami ini pasangan.”
Di kamar.
“Jadi ini, ya kamarnya. Tapi kasurnya hanya satu meskipun begitu cukup itu besar.”
“Kau tak perlu memaksakan diri.”
“Aku tidak memaksakan diri’kok, aku hanya sedang senang saja.”
“Begitu.”
“Ari, ada apa? Kenapa kau terus melihat keluar jendela? Apa ada sesuatu?”
“Ahh, tidak, tidak apa-apa tidak usah kau pikirkan.”
“Begitu, wah lihat ada kamar mandinya juga dan juga cukup besar. Penginapan ini memang mewah, aku menyukainya.”
“Jika kau menyukainya itu bagus.”
“Ari, bagaimana kalau kita jalan-jalan.”
“Jalan-jalan, ya.”
“Ayo.” Iona menarikku dan membawaku keluar.
Beberapa lama setelah itu.
“Waaah, lihat. Ada banyak makanan khusus yang hanya ada dikerajaan ini.”
“Jika kau mau kau bisa membeli apapun yang kau mau.”
“Benarkah?”
“Iya.”
“Asyik, kalau begitu.” Kami pergi dan mencoba beberapa makanan khas yang ada dikerajaan ini.
Setelah itu.
__ADS_1
“Wooaahhh, lihat itu aku tak pernah melihatnya sebelumnya.”
“Meriam, ya.” Sebuah meriam raksasa, kemungkinan untuk pertahanan kerajaan, tapi dilihat dari strukturnya sepertinya itu sudah tak terpakai dan menjadi pajangan saja.
“Meriam?”
“Iya, itu bisa menembakkan bola besi dengan sangat cepat.”
“Sama seperti senapan sihir milikmu?”
“Ya, setidaknya cara kerjanya sama. Tapi, apa yang dilemparkan itu yang menjadi pembeda.”
“Hooo, anak muda. Aku tak tau kalau kau mengenal baik meriam pelindung kerajaan ini.” Seorang kakek tua datang dan tiba-tiba saja ikut dalam pembicaraan.
“Meriam pelindung kerajaan?” (Iona)
“Iya, meriam ini sudah sering sekali melindungi kerajaan ini dari segala jenis serangan, mulai dari serangan musuh dan juga naga. Tapi saat ini meriam ini sudah rusak dan tidak ada yang bisa memperbaikinya lagi, orang yang membuatnyapun sudah lama meninggal.”
“Begitu, jadi karena tidak bisa diperbaiki lagi makanya dia dijadikan pajangan.”
“Iya. Itu juga sebagai penghormatan untuk pembuatnya yang sudah membuat senjata hebat seperti itu.”
“Oh ya, aku dengar kerajaan ini dikenal sebagai kerajaan penyihir.”
“Ahh, itu memang benar. Orang yang membuat ini adalah orang yang berhasil mengajarkan sihir pada beberapa orang, dan sampai saat ini kerajaan ini memiliki jumlah penyihir yang lebih banyak dari keraajan lain. Karenanya kerajaan ini menjadi aman saat ini. Semua orang yang memiliki sihir ingin belajar disini agar dapat meningkatkan kemampuan mereka, tetapi seleksinya sangat ketat. Butuh kekuatan yang besar dan juga pengendalian yang sempurna untuk bisa masuk kedalam akademi sihir, oleh karena itu tidak banyak yang bisa masuk kedalam akademi sihir.”
“B-begitu.” Mendengar penjelasan dari kakek ini Iona menjadi murung.
“Tenanglah, bukankah kau sudah berlatih selama ini, kau pasti bisa melewatinya. Aku yakin kau pasti bisa melewatinya dengan mudah, kau hanya perlu percaya dengan dirimu sendiri.”
“Nona, kau memiliki mana yang cukup besar dibandingkan dengan orang diseuisamu. Aku pikir itu sudah cukup.”
“Lihat, kakek ini juga bilang begitu…” Tapi, disanalah aku merasa bingung. “Anda juga bisa merasakan sihir?”
“Hahahaha, sudah lama sekali aku tak menggunakannya, aku tak yakin masih bisa atau tidak jika harus menggunakan sebuah sihir sekarang. Tapi, jika hanya merasakan mana itu hal yang sangat mudah.”
“Begitu.”
“Ngomong-ngomong nak, mana milikmu terlihat sangat berbeda daripada yang pernah aku lihat seumur hidupku.”
“Huh? Berbeda?”
“Iya, aliran mana yang kau miliki, jenis mana yang kau miliki dan juga aura mana yang kau pancarkan. Semuanya berbeda daripada orang yang memiliki sihir pada umumnya. Dan yang paling penting, aku tak melihat berapa banyak mana yang bisa kau tampung atau bisa dibilang mana yang kau miliki tidak terbatas.”
“I-itu hebat.” (Iona)
“Aku tak tau bagaimana kejadian seperti ini dapat terjadi. Tapi tenang saja, aku adalah orang yang bisa menyimpan rahasia, kau tak perlu khawatir akan hal itu anak muda. Lagipula diumur yang sudah setua ini aku masih bisa melihat sesuatu yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, jika aku mati sekarang aku akan mati dengan tenang.”
“T-terimakasih, dan jika bisa jangan mati.”
“Hahahaha, kalian berdua memang pasangan yang cocok. Aku mendoakan kebahagiaan kalian berdua. Kalau begitu, aku izin untuk pergi, sampai jumpa lagi wahai pasangan muda. Hahahaha.”
“Orang tua yang bersemangat.” (Iona)
“Iya.” Aku tak tau harus meresponnya seperti apa, tapi orang tua itu sangat baik.
“Terserah kau saja, aku akan ikut.”
“Kalau begitu…”
Malam hari.
“Haaaa, melelahkan.”
“Ari, pelayan bilang makan malamnya sudah siap? Apa kau mau makan atau mandi dulu atau di ri k…”
“Haaaa, aku ingin pergi sebentar. Jika kau mau makan, makan saja duluan ada sesuatu yang harus aku lakukan.”
“B-begitu, ya. Eh? (terkejut)”
---
“Hey, siapa yang menyuruhmu dan apa tujuan kalian?” Menggunakan sihir cahaya untuk melakukan teleportasi, aku langsung berada dibelakang orang yang mencurigakan yang mengawasi kami sejak sampai disini. Aku mengarahkan senapan sihirku kearahnya untuk membuatnya semakin terintimidasi.
Tidak ada respon. “Hooo, kau tau, senjata ini bisa membunuhmu dengan cepat lo. Hanya dengan sekali ‘Dor’ kau akan mati.” Mendengar ancaman itu membuatnya menelan ludah. “Masih ingin tutup mulut? Atau berbicara?”
“A-aku…” Sebuah pisau menancap kelehernya.
“Cih…” Seseorang melempar pisau dan itu membuatnya terbunuh seketika. “Kalian kejam juga, membunuh sesama rekan kalian.” Aku melihat 2 orang berpakian tertutup yang ada diatas perumahan ini. Tanpa berbicara sedikitpun setelah melakukan itu, mereka pergi. “Haaaa, sudahlah. Waktunya kembali.” Mereka bukan hanya ada 2, tapi aku yakin mereka lebih dari itu. Jikamelawan 2 masih bisa, tapi jika lebih dari itu aku tak memiliki kesempatan. Selain karena sihir seranganku yang membutuhkan waktu, senapan sihir juga membutuhkan waktu untuk mengisi peluru meskipun hanya butuh beberapa detik tapi dalam pertempuran setiap detik itu sangat berharga.
Di penginapan.
“Ari, sihir apa yang kau gunakan barusan??!” Matanya berbinar dan terlihat sangat penasaran. “Kau tiba-tiba menghilang, apa itu sihir teleportasi?”
“Iya, itu adalah sihir cahaya. Teleportasi.”
“H-hebat, kau juga bisa menggunakan sihir yang sama seperti kak Risa.”
“Ya, karena dia yang mengajariku.”
“Lalu, apa yang kau lakukan tadi, kenapa tiba-tiba menggunakan sihir teleportasi?”
“Tidak ada, aku pikir melihat seseorang yang mencurigakan.”
“Lalu?”
“Ya, ternyata itu hanya sebuah tikus.”
“Begitu. Oh ya, aku sudah mengambil makanan untukmu tadi itu ada dimeja.”
“Terimakasih, tapi aku tidak lapar. Aku sangat lelah hari ini, banyak yang sudah terjadi hari ini dan aku sangat lelah.” Aku perlahan mulai menutup mataku. “Selamat tidur.”
\=\=\=
“Ari? Ari? Dia sudah tidur, ya.” Dia tertidur dengan sangat cepat, aku yakin dia sangat kelelahan hari ini. “Jadi makanan ini tidak dibutuhkan, ya.” Aku mengambilnya dan mengenbalikannya kedapur, setelah itu kembali lagi kekamar. “Haaa, tidurlah yang benar.” Aku membenahi posisi tidurnya agar tidak memakan banyak tempat.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
“Hmmm, begini lebih baik. Ahhh, aku ingin mandi dulu, aku berkeringat tadi. Tapi, bajuku hanya ini.” Semua pakaian yang aku bawa ada dikereta kuda, dan masih 2 hari lagi sebelum itu sampai disini. Tapi jika tidak mandi. “Sudahlah, lakukan saja.” Aku putuskan untuk mandi agar tubuhku bersih.
Di kamar mandi.
Aku berendam dan menikmati malam ini dengan suasana tenang dan damai.
“Haaaaa, aku tak menyangka akan tidur diatas kasur yang sama dengan Ari. Selama ini meskipun aku sering tidur dikamarnya, tapi dia selalu tidur di kursi padahal masih ada tempat untuknya tidur dikasur, tapi malam ini dan 6 malam selanjutnya aku bisa tidur diatas kasur yang sama.” Entah kenapa memikirkan hal itu membuat jantungku berdegub kencang. “T-tidak-tidak, aku harus tetap tenang. Tapi… Ahhhh, a-a-apa yang aku pikirkan. Ingat, aku ini seorang putri aku harus bisa menjaga martabatku. Tapi, jika bersama dengannya aku tidak… AHhhhh, k-kenapa aku memikirkan hal seperti itu.” Meskipun begitu, aku tau kalau Ari tidak akan pernah melakukan hal seperti itu dia selalu menjagaku, ya meskipun jika dia mabuk dia akan lepas kendali tapi dia tidak pernah melakukan hal lain selain ciuman ini.
Aku menyentuh bekas ciuman dileherku. “Tanda, ya.” Sebuah tanda kalau aku sudah menjadi miliknya, tanda ini tidak akan menghilang apapun yang terjadi. Mendengar hal itu dari Dewi membuatku senang, karena aku sudah menjadi miliknya tapi nyatanya. Aku tak pernah mendapatkan perhatian lebih seperti yang aku inginkan, aku ingin dimanja olehnya tapi karena dia selalu sibuk dengan pekerjaannya aku tak bisa meminta hal seperti itu, selain itu jika aku meminta hal seperti itu aku takut kalau dia pikir aku ini adalah gadis yang nakal, aku tak ingin dia sampai berfikir aku adalah gadis yang seperti itu.
Cukup lama setelah itu aku selesai.
“Celana dalamku sudah kotor, tapi jika aku tidak menggunakannya… Ahhh, benar juga Ari juga tidak akan berani melakukan hal seperti itu jadi tidak masalah. Besok aku bisa beli yang baru untuk aku gunakan. Kalau begitu.” Aku bergegas menuju ke kasur, tapi… “A-ada apa ini?!” Aku merasa tidak berani untuk melakukan ini. “T-tenang saja, aku sangat yakin Ari tidak akan melakukan hal buruk. Aku sangat yakin.”
Setelah memutuskan selama beberapa saat, aku putuskan untuk segera tidur. ‘Aku harap tidak terjadi apa-apa, aku harap tidak terjadi apa-apa.’
Beberapa menit setelah itu.
“A-Ari…” Tangannya menyentuhku. Aku mencoba untuk melepasnya, tapi… “E-ehhhh!!” Aku berakhir dengan dipeluk olehnya. ‘T-terlalu dekat.’ Ini pertama kalinya aku melihat wajahnya sedekat ini. “Ahhh~… A-apa yang kau sentuh itu.” Dia menyentuh tubuh bagian belakangku, karena aku tak memakai ****** ***** aku merasakan kehangatan tangannya secara langsung. “H-hentikan… Ari, bangunlah.” Tepat saat aku berkata seperti itu, dia membuka matanya. Dan aku terdiam karenanya. Tapi…
Seketika kami berpindah tempat, ke tempat meriam berada.
“Ari…”
“Cih, untung saja aku sempat jika terlambat sedikit saja mungkin akan gawat.”
“Ari, ada apa?”
“T-tidak, bukan apa-apa. Maaf sudah menggangu tidurmu.”
“T-tidak apa-apa, tapi apa yang sebenarnya terjadi?”
Dia menceritakannya padaku, apa yang sebenarnya terjadi.
“Begitu, tapi apa tujuan mereka yang sebenarnya? Kenapa mereka mengincar kita?”
“Entahlah, aku juga tak tau. Untuk sementara waktu kita akan diam disini dulu sampai mereka pergi, aku malas jika harus melawan mereka dimalam hari. Kau baik-baik saja’kan, kau tidak kedinginan’kan.”
“Aku baik-baik saja, hanya saja.”
“Hanya saja?”
“T-tidak apa-apa.” Aku tak bisa mengatakan kalau tubuh bagian bawahku kedinginan, itu sangat memalukan.
“Oh ya, tadi aku merasakan sesuatu yang empuk. Apa kau tau?”
“E-empuk, m-mungkin hanya perasaanmu saja.”
“Begitu’kah?”
“I-iya, lagipula kau’kan tadi sempat tertidur, jadi mungkin saja itu hanya perasaanmu.”
“Hmmm, bisa jadi. Ngomong-ngomong, kakimu gemetar? Apa kau baik-baik saja?”
“A-aku baik-baik saja.” Rasa dingin mulai masuk melalui rok yang aku gunakan, dan itu membuatku kedinginan. Tapi aku terlalu malu untuk mengatakannya.
“Hmmm, tunggu sebentar.” Ia mengambil sebuah mantel dari ruang dimensi miliknya lalu melingkarkannya kebagian tubuh bawahku. “Hmmm, kalau tidak salah seperti ini. Bagaimana? Apa sudah lebih baik?”
Aku merasa lebih hangat, tubuhku menjadi lebih hangat. “Iya, apa itu sihir?”
“Iya, aku mempelajarinya sebelumnya. Ya aku tak menyangka kalau hal seperti ini akan berguna disaat seperti ini.”
“T-terimakasih.”
Setelah cukup lama.
“Hmmm, sepertinya mereka sudah pergi sekarang. Ayo kembali.”
“Ya.” Menggunakan sihir teleportasi, hanya dalam hitungan detik kami sudah sampai di penginapan.
“Iona, kau bisa tidur di kasur, aku akan tidur disini.”
Dia melakukannya lagi, dia menjauhiku. Jika seperti ini, itu berarti tanda ini sama sekali tidak berguna. Dia tetap saja menjauh dariku. “A-Ari, k-kau boleh t-tidur disini, bersamaku.”
“Eh?! Tidak-tidak, itu terlalu cepat, lagipula…”
“Aku mohon…”
“Haaa, baiklah. Tapi untuk kali ini saja, ya.”
“Terimakasih.” Meskipun terdengar egois tapi dia mengabulkannya, ini membuatku senang.
Kami akhirnya bisa tidur dikasur yang sama.
“Ari, bisa genggam tanganku.”
“Kau itu banyak meminta, ya.” Meskipun terdengar sedikit memaksa, dia melakukannya.
“Terimakasih, sudah menuruti semua keegoisanku. Aku senang karena kau mau mengantarkanku sampai kemari, dan aku juga senang karena kau mau menemaniku. Terimakasih.”
“Aku hanya khawatir saja, meskipun aku menyuruh para ketua regu dan juga para assassin untuk ikut mengantarmu aku masih khawatir dengan hal lain.”
“Dengan hal lain?”
“Iya, contohnya seperti malam ini. Aku tak tau apa tujuan mereka, tapi aku yakin para komandan dan para assassin tidak akan bisa berbuat banyak jika mereka tidak dapat masuk kedalam kerajaan untuk melindungimu. Oleh karena itu aku khawatir.”
“Terimakasih, karena sudah mengkhawatirkanku.” Tangan lainnya menyentuh lembut wajahku. “Ari.”
“Ya?”
“Berikan aku ciuman selamat malam.”
“Hari ini kau banyak sekali meminta, ya.” Dia menciumku, tepat dikeningku.
__ADS_1
“Terimakasih, dengan begini mungkin aku bisa tidur dengan nyenyak. Ari, selamat malam, aku mencintaimu.”
Hari pertamaku dikerajaan baru bersama dengan Ari sangat menyenangkan, tapi waktuku hanya tersisa 6 hari lagi sebelum aku berpisah dengannya. Aku ingin membuat kenangan dengannya agar aku tidak lupa dengannya, dan rasa rindu itu akan terobati hanya dengan mengingatnya.