
Dihutan dekat dengan lembah kematian.
“Cih, tidak ada habisnya. Berapa banyak lagi yang harus aku basmi.” Monster yang datang semakin lama semakin banyak dan tidak ada habisnya. Mereka adalah binatang, tapi dengan berbagai bentuk yang tak pernah aku lihat sebelumnya dan mereka juga memiliki kekuatan yang lumayan besar.
“Merepotkan.” Aku tak bisa bergerak mendekat lebih jauh lagi karena mereka semua menghadangku. “Sepertinya tidak ada cara lain lagi.” Aku tak bisa mendekat lebih jauh lagi dari ini, mereka selalu menghalangiku.
Sebuah ledakan besar terdengar olehku.
“Ari.” Entah kenapa aku merasa kalau Ari yang melakukan hal itu. “Aku harap kau baik-baik saja.”
“Putri, ada korban lagi disini bisa tolong bantu aku.” (Ria)
“Baik.” Aku sangat sibuk disini, setiap saat ada saja orang yang terluka meskipun ada bantuan dari tim medis tapi jika seperti ini terus aku tak yakin mereka akan bertahan.
Esok harinya.
Matahari belum terbit.
“Putri, sebaiknya kau istirahat dulu. Kau tidak tidur semalaman, bagaimana kalau kau sakit?”
“Tenang, aku baik-baik saja. Selain itu aku tak bisa membiarkan mereka yang terluka, aku memiliki kekuatan untuk membantu mereka jadi aku ingin menggunakannya.”
“Tapi…”
“Tenang saja. Aku tidak apa-apa.” Mana yang aku miliki cukup banyak, dan para medis yang ada disini juga bekerja keras. Aku tidak ingin menghambat mereka. “Aku harus berusaha lebih keras lagi. Aku akan kesana, disana masih ada yang perlu diobati.”
“Putri…”
Berjam-jam kemudian.
Siang hari.
Tenda istirahat.
“Haaaaa, aku sudah sangat lelah.”
“Putri, kau terlalu bekerja keras. Ini minuman untukmu.”
“Terimakasih banyak Ria. Oh ya, dimana pangeran Lucy?”
“Dia bilang akan kembali lagi nanti, mungkin ada hal yang harus dia kerjakan.”
“Begitu. Ari masih belum kembali, ya.” Aku sama sekali tidak mendengar kabarnya sejak kemarin saat kami berpisah. “Aku harap dia baik-baik saja.”
“Putri, tenang saja. Wakil komandan adalah orang yang hebat dan sangat kuat, aku yakin dia pasti akan baik-baik saja.”
“Ya, kau benar.” Meskipun begitu, aku benar-benar sangat mencemaskannya.
Cukup lama setelah itu.
“Yo.” Pangeran Lucy kembali.
“Lucy, tugasmu sudah selesai?”
“Ya, lumayan banyak tapi aku menyelesaikannya. Putri, apa Ari sudah kembali?”
“Belum, dia belum kembali.”
“Begitu, padahal jika sudah aku ingin meminta bantuannya untuk mengerjakan sesuatu.”
“Jika nanti sudah datang, kau bisa mengatakan hal itu padanya.”
“Hahaha, ya. Tapi aku sudah tau apa yang akan dia katakan nanti.”
“Haaaa, sungguh merepotkan.” Suara yang tak asing terdengar, dan perlahan dia masuk kedalam.
“Ari, kau sudah kembali. Aku sangat mencemaskanmu.”
“Maaf sudah membuatmu cemas.”
“Apa kau baik-baik saja, apa kau terluka?”
“Ya, aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja.”
“Ari, bisa bantu aku.”
“Lucy, ya. Apa yang harus aku lakukan?”
Tepat saat mengatakan hal itu, Ari yang lain muncul.
“Eh? Ari, ada 2.” Disini, ada 2 Ari. Tidak ada yang berbeda dari mereka, semua terlihat begitu mirip atau bahkan sangat mirip satu sama lain.
“Salah satu dari kalian palsu.” (Lucy)
“Dia Ari yang palsu, percayalah padaku.” (Ari 1)
“Haaa, iya iya. Aku palsu, kau sudah puas. Aku sangat lelah sekarang. Aku tak punya waktu untuk meladeni hal yang tak bermanfaat seperti ini.” (Ari 2)
Dia menunjukkan sikap yang khas darinya, yang hanya dimiliki oleh Ari yang asli.
“Ari, bisa bantu aku.” (Lucy)
“Kau menyuruhku, aku lelah sekarang. Apa kau gila!! Aku ini sudah melawan monster semalaman, dan sekarang aku sudah sangat lelah dan dengan santainya kau bilang bantu aku. Biarkan aku istirahat, aku sangat lelah.” (Ari 2) Dia masuk kedalam tanpa menghiraukan apapun.
“Sepertinya kita sudah tau siapa yang palsu.” (Lucy)
“Tak kusangka akan ketahuan semudah ini.” Karena penyamarannya terbongkar dia menunjukkan wujudnya yang asli.
“Demon Elf.” (Lucy)
“Untuk sekarang aku akan mundur, nantikan pertemuan kita selanjutnya.” Dia lenyap.
“Demon Elf, ya.” Masih termasuk dalam ras elf dan yang paling penting adalah mereka sangat hebat dalam hal sihir ilusi. “Benar juga, Ari.” Aku menyusul Ari yang masuk ke dalam.
Di tempat istirahat.
Dia tertidur sangat pulas. “Apa dia Ari yang asli?”
“Kau meragukanku?”
Dia menjawabku. “Kau belum tidur?”
“Mana mungkin aku bisa tidur ditempat yang berisik seperti ini.”
“Begitu, kenapa tidak menggunakan teleportasi saja.”
“Staminaku sudah habis, bahkan aku menggunakan sisatenagaku untuk bisa sampai kemari. Bisa dibilang sekarang aku sangat lemah dan lelah.”
“Begitu, ya.”
“Iona, aku ingin tidur dipangkuanmu.”
“Eh, b-baiklah.” Aku menurutinya. Aku duduk didekat kepalanya dan ia menaruh kepalanya di pahaku.
“Haaa, begini lebih baik. Ini adalah tempat istirahat favoriteku.”
“Jika kau berkata seperti itu, aku jadi malu.”
“Hahaha…”
“Ari, apa yang sebenarnya terjadi dimedan perang? Kenapa kau baru kembali sekarang? Dan kenapa ada orang yang menyamar sebagai dirimu?”
“Haaaa, untuk hal yang terjadi dimedan perang, sebenarnya bukan medan perang tapi medan tempur.”
“Memangnya apa bedanya?”
“Perang adalah tempat 2 kubu untuk beradu strategi untuk memenangkan peperangan, sedangkan pertempuran adalah tempat untuk mengalahkan dan membuktikan siapa yang terkuat.”
“Begitu, aku baru tau.”
“Ya, anggap saja itu pengetahuan baru bagimu.”
“Iya, lalu apa yang terjadi?”
“Hmmm, Leiava membuat banyak sekali monster. Meskipun berusaha sekuat tenaga, aku tak bisa mendekatinya. Hasilnya, tenagaku habis sebelum aku bisa mendekat ke tubuh Leiava dan bagian terburuknya aku terpaksa harus mundur dengan sisa tenagaku tanpa mendapatkan informasi apapun.”
“Lalu, kenapa ada yang menyamar sebagai dirimu?”
“Untuk itu aku tak tau, dan aku juga tak peduli. Selain itu, aku ini tidak akan bisa ditiru. Baik sifatku, emosi, sikap, dan juga semua hal tentangku tidak akan ada yang bisa menirunya. Seharusnya Lucy sudah mengatakan hal itu padamu saat melihat peniru itu pertama kali.”
“Ya, aku baru menyadarinya saat dia menjawab pertanyaanku. Itu berbeda dari respon yang akan kau berikan.” (Lucy)
“Jadi, siapa yang menyamar itu?”
“Demon Elf.”
“Demon Elf, ya. Jadi wajar saja penyamarannya sempurna.”
“Hanya penyamarannya saja sempurna, jika orang lain pasti akan tertipu dengan mudah.”
“Itu sudah jelas.”
“Ari, kenapa demon Elf melakukan hal itu?”
__ADS_1
“Aku baru menyadari sesuatu saat dalam perjalanan kembali tadi.”
“Menyadari apa?”
“Ada ras yang mendudukung dan membantu Leiava.”
“Mendukung, kenapa? Bukankah Leiava ingin meluluhlantahkan semua yang berdiri didaratan ini.”
“Aku tak tau motifnya yang sebenarnya, tapi untuk sekarang demon elf adalah ras yang harus diwaspadai. Kita masih belum tau ras apa saja yang mendukung Leiava, setidaknya kita harus waspada dengan hal itu.”
“Baik.”
“Haaaa, aku ingin tidur sebentar. Jika ada sesuatu kalian bisa bangunkan aku, Iona jika kau sudah tidak nyaman kau bisa memindahkanku.”
“Tenang saja, aku akan baik-baik saja.”
“Begitu, jangan memaksakan diri… Hoaam, aku mengantuk. Selamat tidur.”
“### Ya, mimpi indah.” Ari memejamkan matanya dan saat ini dia terlihat sangat lelah. “Terimakasih atas kerja kerasnya.” Aku mengelus kepalanya dengan lembut. Aku menciumnya tepat di bibirnya. “Aku mencintaimu.”
Sore hari.
Aku terbangun dengan Iona yang tertidur pulas disampingku, tapi 1 hal yang pasti. “Lenganku kram.” Iona menjadikan lenganku kananku sebagai bantal untu kepalanya, aku tak tau sudah berapa lama tapi keseluruhan lengan kananku sudah mati rasa.
Aku perlahan memindahkan kepalanya dari lenganku. “Haaaa, ini sedikit menyakitkan.” Aku tak bisa merasakan lenganku untuk sementara waktu karena aliran darahnya tidak berjalan lancar akibat tertahan oleh kepala Iona.
Di luar.
“Sudah sore, ya.”
“Ari, kau sudah bangun. Bagaimana? Kau terlihat begitu lelap tidur dipangkuan putri. Pasti sekarang kau sudah bertenaga.” (Lucy)
“Istirahatku masih belum cukup, mana mungkin aku bisa pulih. Suasana disini terlalu berisik, aku tak bisa tidur dengan tenang.”
“O ya, kau padahal kau tadi tidur sangat pulas kenapa kau bisa berkata seperti itu.”
“Aliran sihir, percobaan sihir, dan juga gangguan sihir. Merasakan semua itu aku tidak bisa tidur dengan tenang, meskipun terlihat lelap sebenarnya aku bisa dibilang hanya tidur selama beberapa menit saja.”
“Begitu. Sepertinya kepekaanmu terhadap sihir semakin meningkat.”
“Apa yang sebenarnya terjadi disini?”
“Ya, ada beberapa penyihir yang menggunakan sihir untuk menyembuhkan prajurit yang terluka, dan ada yang mencoba sihir mereka, dan ada juga yang berlatih untuk mempersiapkan diri saat serangan selanjutnya datang.”
“Begitu, pantas saja.”
“Jika berada disini, sebaiknya kau biasakan dirimu.”
“Aku tidak akan terbiasa dengan hal seperti ini. Saat Iona bangun, katakan padanya kalau aku ada di aliansi ras.”
“Kau mau istirahat disana?”
“Iya, mungkin saja aku juga bisa mendapatkan informasi lain dari mereka.”
“Disini kau tidak mendapatkan informasi apapun, ya.”
“Seperti itulah. Kalau begitu, sampai jumpa lagi nanti.”
“Ya, sampai jumpa.”
Ditempat aliansi ras.
“Nak, kau datang.” (Reans)
“Ya.” Entah kenapa aku yang berencana untuk tidur malah pergi ke tenda rapat. “Apa yang sedang kalian bahas?”
“Leiava sudah mulai menampakkan dirinya.”
“Begitu, ya.”
“Nak, apa kau mendapatkan sesuatu saat mendekat kesana?”
“Tidak sama sekali. Jalur darat ditutup sangat rapat oleh monster, dihabisi satu muncul yang lain. Itu merepotkan, mereka tidak ada habisnya.”
“Bagaimana dengan jalur udara?”
“Jalur udara sekarang sudah tidak bisa ditembus, ada banyak sekali monster terbang yang berjaga diudara, para pasukan nagaku bahkan tidak bisa mendekat.” (Homura)
“Begitu. Lalu nak, apa kau memiliki rencana lain?” (Reans)
“Untuk sekarang tidak ada, lagipula saat ini kita sedang sibuk dengan serangan monster yang dibuat oleh Leiava.”
“Itu benar. Selain itu, bocah matamu merah kau kurang tidur dan kantung matamu terlihat.” (Homura)
“Iya, kau sudah bekerja keras setidaknya istirahatlah dulu. Tidak akan ada orang yang protes jika kau beristirahat, kau adalah kunci kemenangan perang ini. Kau harus tetap sehat.”
“Begitu, ya.” Aku kesini memang berniat untuk beristirahat, tapi malah menghabiskan waktu untuk berdiskusi.
“Saat kami mendapatkan informasi lain akan kami katakan padamu, jadi istirahatlah.” (Utarus)
“Terimakasih banyak, kalau begitu aku… terima tawaran kalian.”
“Nak, apa kau baik-baik saja?”
“A-aku baik-baik saja.” Tubuhku sempat goyah tapi aku berhasil bertahan. “Aku, akan istirahat se…” Pandanganku seketika menjadi gelap, dan aku tak tau apa yang terjadi padaku setelah itu. ‘Sepertinya aku terlalu memaksakan diri.’
“Bocah!!” (Homura) Mereka yang melihat Ari terkapar langsung memeriksa keadannya, Ruie yang memiliki keahlian dalam bidang medis mencoba untuk memeriksa keadaan Ari.
“Ruie, bagaimana keadaannya?” (Utarus)
“Tubuhnya sangat panas tapi aliran mana ditubuhnya masih normal, selain itu dia terlihat sangat kelelahan. Beban sihir yang bisa diterima oleh tubuhnya sudah melampaui batas. Jika dibiarkan ini akan sangat berbahaya baginya.”
“Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu?”
“Ada 1 cara, yaitu menyerap mana yang berlebihan itu. Tubuhnya panas akibat dia kelebihan mana, dan lagi anak ini berbeda dari mahluk lain yang memiliki mana. Mana yang dia miliki tidak dapat dihitung, atau tidak terbatas.”
“Benar juga. Istrinya, dia pasti bisa melakukan sesuatu.” (Homura)
“Kalau begitu aku akan pergi menjem…” (Utarus)
“Jangan bodoh, kau adalah raja iblis. Pertikaian manusia dengan iblis tidak mungkin berakhir secepat itu, biar aku saja yang melakukannya.” (Homura)
“Baiklah. Kalau begitu, guru tolong. Anak ini harus tetap bertahan.”
“Aku mengerti, satu-satunya harapan kita ada padanya. Kita tidak boleh membiarkan dia mati karena hal konyol seperti ini.”
Di aliansi kerajaan.
“Putri, putri…” (Ria)
“5 menit lagi.” Iona yang tertidur nyenyak dibangunkan oleh Ria.
“Putri, bangun ada yang ingin bertemu dengan anda.”
“Ria, ya. Ada apa? Hoaamm…” Dia membuka matanya, dan melihat Ari yang sudah tidak ada disampingnya. “Dimana Ari?”
“Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda.”
“Huh? Siapa?”
“S-sebaiknya anda datang menemuinya dulu.”
“Iya iya. Ngomong-ngomong, dimana Ari?”
“Tentang itu…”
Beberapa saat kemudian.
Iona menemui orang itu dan dia adalah Homura.
“Raja naga.”
“Nona.”
“Kenapa anda terlihat panik, apa yang sudah terjadi?” Melihat Raja naga yang panik Iona menjadi sedikit penasaran.
“Nona, ikutlah denganku.”
“Huh? Ada apa?”
“Ada sesuatu yang penting.”
“Begitu. Oh ya, dimana Ari? Apa dia juga ada disana?”
“Mengenai itu…”
Beberapa menit setelah itu.
Di tempat aliansi ras.
Mereka berdua akhirnya sampai dan saat sampai disana Iona langsung menuju ke tempat yang dikatakan oleh Homura saat terbang barusan.
Di tenda perawat.
__ADS_1
“Ari!!” Iona melihatnya, Ari yang sedang terkapar lemah dan wajahnya terlihat sangat pucat. “Ari… Ari.” Ia mendekat dan memeluk tubuh Ari, bersamaan dengan itu air matanya menetes.
“Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Kenapa dia bisa jadi seperti ini?”
“Kemungkinan terbesarnya karena dia terlalu banyak menggunakan sihir, jumlah mananya memang sangat besar tapi kapasitas sihir yang bisa digunakan terbatas. Itulah yang membuat keadaanya menjadi seperti sekarang.”
“Meskipun begitu, kenapa dia bisa sampai seperti ini.”
“Mana yang ada ditubuhnya diluar kendali begitu juga sihirnya. Aku sudah mencoba berbagai macam cara untuk menghentikannya, tapi tidak ada yang berhasil.”
“T-tidak mungkin.”
“I-iona, ya.” Ari yang terkapar lemah membuka matanya perlahan dan menggerakkan tangannya untuk menghapus air mata Iona. “Selama kau disini, aku akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir. Aku hanya sedikit lelah saja, jika istirahat sebentar, 2 jam tidak 4 jam saja sudah cukup.”
“Apa yang kau katakan, keadaanmu sangat parah kenapa kau bisa bicara seperti itu?!!”
“Sudah, percaya saja padaku. Aku akan baik-baik saja, dan jangan pergi untuk sementara waktu. Setidaknya, sampai aku bangun.” Setelah mengatakan hal itu, ia kembali memejamkan matanya.
“Ari!!... Awww.”
Ari menjitak dahi Iona. “Hey, jangan berisik. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak jika kau berteriak keras seperti itu.”
“M-maaf.”
“Haaaa, sudahlah. Selamat tidur.” Ia kembali memejamkan matanya dan saat ini dia sudah sepenuhnya terlelap.
“Ari.”
“Nona, sebaiknya kau ikuti saja ucapannya. Selain itu, sepertinya saat kau berada didekatnya kondisinnya semakin membaik.”(Ruie)
“Heh? Bagaimana bisa?” (Utarus)
“Hiasan yang digunakan olehmu, itu adalah artefak’kan.”
“Y-ya.”
“Aku tak menyangka kalau ada manusia yang memilikinya di zaman sekarang.”
“Sebenarnya ini buatannya, dia memberikan ini semua untukku. Untuk melindungiku.”
“Begitu, sepertinya kau memang gadis yang sangat beruntung nona. Kalau begitu, untuk kedepannya sampai dia sembuh. Tolong jaga dia, kami memohon padamu.”
“Ya, dia adalah orang yang memulai semua ini. Jika sampai dia sakit seperti itu, ini tidak akan menarik.” (Reans)
“Aku juga memohon padamu nona muda, tolong rawat dia. Dia adalah masa depan yang cerah untuk kami semua.” (Utarus)
“Tanpa disuruh aku memang akan melakukannya, aku adalah istrinya aku akan merawatnya sampai dia pulih.”
“Kalau begitu, tolong.”
“Ya, serahkan saja padaku.”
“Kami akan pergi untuk mengerjakan tugas kami masing-masing, jika nona butuh sesuatu katakan saja.”
“Baik.” Mereka semua pergi dan ditempat ini hanya ada Iona dan juga Ari. “Aku akan berada didekatmu sesuai keinginanmu, jadi aku mohon. Aku mohon, sembuhlah.”
Malam hari.
Beberapa jam berlalu dan Iona masih mengawasi Ari.
Dan tak lama setelah itu, Ari mulai membuka matanya. “Ari, syukurlah kau sudah bangun.”
“Huh? D-dimana ini?”
“Ari, syukurlah.” Karena senang, Iona langsung memeluknya. “Akhirnya kau bangun juga, aku sangat senang. Terimakasih.”
“K-kau…”
Seketika Iona langsung melepaskan pelukannya. “Ari, ada apa?”
“I-ona…”
“Ari?” Melihat tingkahnya yang aneh Iona menjadi khawatir. “Apa yang terjadi denganmu?” Saat berkata seperti itu, Ari memegang kepalanya seakan menahan rasa sakit.
“A-aku tidak apa-apa, hanya merasa sakit sedikit saja. M-mungkin efek samping.”
“Kau serius baik-baik saja?”
“Iya, kau tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Iona bisa ambilkan aku air minum, aku haus.”
“Baik, akan aku ambilkan. Kau tunggu sebentar disini, jangan bergerak.”
“### Iya aku mengerti.” Iona pergi.
Aku hampir melupakannya. ‘Sialan.’ Entah sudah berapa banyak ingatakn yang hilang dikepalaku, tapi sepertinya ingatan yang penting masih bisa aku ingat. “Sepertinya, aku memang sudah berlebihan.” Menggunakan banyak sekali sihir dapat menyebabkan ingatan terhapus, dan itulah yang terjadi padaku sekarang. Sebanyak apa ingatan yang hilang, aku tak tau tapi aku sangat bersyukur karena ingatanku dengan Iona masih ada.
“Ari, maaf membuatmu menunggu, ini minumannya.”
“Terimakasih.”
Beberapa menit kemudian.
“Ari, kau terlihat berbeda.”
“Huh? Iyakah? Apa yang berbeda dariku?”
“Entahlah, tapi aku merasa kalau kau memang terlihat berbeda dari biasanya.”
“B-begitu, ya.”
Suasana menjadi hening selama beberapa waktu dan Iona memecah keheningan itu dengan sebuah kata.
“Ari, apa kau ingat saat pertama kali kau membuat pasukan khusus.”
“Pasukan khusus?”
“Ari… Apa kau benar-benar Ari?”
Ia mulai meragukanku, aku tak tau tapi sepertinya aku melupakannya. “P-pasukan khusus, ya. A-aku ingat.”
“Jika memang benar, siapa kerajaan pertama yang kau hadapi dulu dan kenapa kau membuat pasukan khusus. Jika kau memang Ari, kau pasti bisa menjawabnya.”
“I-itu…”
“Kau tidak bisa menjawabnya. Dimana Ari!!”
“A-aku Ari, Touji Ari, itu aku.”
“Tidak, kau terlihat berbeda. Meskipun sama kau terlihat sangat berbeda.”
Saat dia berkata seperti itu, aku merasakan rasa sakit didadaku. “Maafkan aku. Aku sangat minta maaf.” Aku tak bisa menatap wajahnya.
Dia menghilang.
“Ari…” Aku bingung, dia tidak bisa menjawab pertanyaanku tapi dia menggunakan sihir yang sama seperti milik Ari. “Pangeran Lucy, dia pasti tau sesuatu tentang ini.”
Cukup lama setelah itu.
Aku meminta raja naga untuk mengantarku kembali ke tempat aliansi kerajaan, dan setelah sampai aku langsung pergi untuk mencari pangeran Lucy.
Setelah itu.
Tenda rapat.
“P-putri, ada apa?”
Aku sampai tapi nafasku terengah-engah karena berlari. “P-pangeran, aku ingin bertanya sesuatu padamu.”
“Tapi, sekarang aku sedang rapat. Bisa kita bicarakan nanti, setidaknya setelah…”
“Ini tentang Ari, sikapnya tiba-tiba saja aneh.”
“Aneh? Begitu. Rapatnya akan dilanjutkan besok, kalian semua bisa istirahat malam ini.”
“Baik.” Mereka semua yang ada disini pergi dan hanya tersisa aku dan juga pangeran Lucy.
“Putri, sikap aneh seperti apa yang kau lihat?”
“Aku tak begitu mengerti, tapi saat aku bertanya sesuatu padanya dia tidak bisa menjawabnya.”
“Mungkin itu demon Elf yang sedang menyamar.”
“Meskipun begitu, dia bisa menggunakan sihir teleportasi milik Ari. Aku sangat bimbang dengan hal itu.”
“Begitu, ya. Ternyata sudah separah itu.”
Melihatnya seperti itu, aku yakin dia mengetahui sesuatu. “Pangeran Lucy, jika kau mengetahui sesuatu tolong katakan padaku.”
“Haaaa, sebenarnya dia ingin aku menyembunyikannya tapi jika keadaannya separah ini mungkin sudah waktunya mulutku ini untuk terbuka.”
“Apa yang sebenarnya terjadi padanya?”
“Haaaa, sebenarnya…”
__ADS_1