
Beberapa hari berlalu, di akademi.
“Hey, apa maksudnya ini?”’
“Entahlah, aku tak tau.” (Lucy)
Aku dan Lucy saat ini berada diruang kepala sekolah, aku pikir aku melakukan kesalahan atau apapun itu tetapi karena Lucy juga dipanggil sepertinya ada hal lain.
Beberapa lama setelah itu.
“Wah, maaf membuat kalian berdua menunggu.” (Kepsek) Kepala sekolah masuk.
Seorang lelaki yang berusia mungkin, 28 tahun. Tapi sudah menjadi seorang kepala sekolah diakademi ini. ‘Sungguh hebat.’
“Kalian pasti bertanya-tanya alasan kenapa kalian berdua dipanggil kesini.”
“Tidak juga.” (Lucy)
“Palingan juga masalah tentang lomba.”
“K-kalian mengetahuinya, ya.” Ia terlihat cukup terkejut. “Sudah kuduga, aku tidak salah memilih kalian.”
Alasan kami tau adalah karena Iona memberitahu kami sebelumnya. Setidaknya hanya sebatas lomba saja, untuk lebih lengkapnya ia juga tidak diberitahu lebih detail. “Kepala sekolah, aku ingin bertanya sesuatu pada anda.” (Lucy)
‘Weew, dia sudah mulai bertindak.’ Aku tak tau apa yang akan dia katakan, tapi sepertinya ini cukup menarik untuk disimak, lagipula sangat jarang melihatnya berinisiatif untuk memulai pembicaraan serius seperti ini.
“Ya, silahkan saja.”
“Kenapa anda memilih kami berdua, bukannya ada siswa yang lebih baik dan berbakat dibandingkan kami.”
Mendengar hal itu entah kenapa membuatku merasa sedikit kecewa dengan apa yang dia tanyakan. ‘Haa, sudahlah setidaknya dia sudah bertanya.’ Aku mengharapkan dia bertanya sesuatu yang lebih dari itu, seperti alasan akademi ini menjadi tuan rumah dari lomba itu, atau semacamnya.
Dari yang pernah Iona katakan, ini adalah pertama kalinya kepala sekolah menerima usulan untuk diadakan perlombaan dan akademi ini yang menjadi tuan rumahnya, padahal sebelumnya kepala sekolah selalu menolak hal itu. Meskipun aku tak tau apa alasan ataupun penyebabnya, tapi mungkin itu bukan hal yang baik.
“Dikadidat yang dipilih oleh para guru, kalian berdua memiliki jumlah suara terbanyak. Jadi, itu adalah alasan kalian dipilih.”
“Hanya itu?” (Lucy)
“Ya, hanya itu.” Mendengar jawaban itu, bukan hanya Lucy tapi aku juga sedikit malas dengan hal ini.
Bukan karena ditunjuk, tapi karena diundi, itulah alasannya. “Haa, sudahlah.” Semuanya sudah terjadi. “Lalu kepala sekolah, apa saja yang harus kami lakukan?”
“Hmm, benar juga ini adalah tahun pertama kalian, ya. Beberapa senior kalian akan memberitahu apa saja yang harus kalian lakukan, nanti akan aku panggilkan mereka.”
“Mereka, ya.” Jumlah yang lebih dari 1 orang. ‘Ini merepotkan.’
Cukup lama setelah itu.
Kami sedikit berbincang tentang masalah lomba yang akan diadakan disini, setidaknya aku mengetahui sebagian kecil tugas yang harus kami lakukan. Untuk lebih jelasnya kepsek bilang kalau para senior yang akan mengajar kami akan memberitahunya.
“Aku harap kita dapat senior yang cantik dan baik, bagaimana denganmu?” (Lucy) Saat ini kami masih berada didalam kantor, kepala sekolah pergi karena ada urusan, kami disuruh untuk menunggu disini karena para senior akan segera muncul,katanya.
“Kau bertanya tentang pendapatku?”
“Ya.”
“Seseorang yang baik, setidaknya mudah untuk diajak bicara.”
“Hanya itu?”
“Kau meminta pendapatku, aku mengemukakan pendapatku, apa ada masalah?”
“Hmm, tidak juga sih, tapi aku lebih memilih senior yang cantik dan baik hati.”
__ADS_1
“Haa, iya iya.”
Setelah itu.
“Jadi mereka, ya. Siswa pilihan dari para guru.” (???) Suara terdengar dari belakang kami, dan dengan spontan aku dan Lucy melihatnya.
‘Mereka, ya.’ 2 orang laki-laki, dan juga seorang gadis, usianya mungkin lebih tua dariku.
“Hey, yang gadis cukup cantik.” (Lucy) Bisik-bisik.
“Haa, iya iya.” Aku tak tau harus meresponnya seperti apa.
“Hmm, pangeran Lucy beserta… Siapa?” (gadis)
“Ari.”
“Ari, ya. Maaf aku lupa.”
“Ya, tidak masalah.” Bukan lupa, dia memang tak berniat untuk mengingat namaku, sepertinya karena faktor kekuasaan. Ya, setidaknya hanya itu yang biasa terjadi, orang yang memiliki pangkat tinggi akan mudah diingat dibandingkan dengan orang yang tak memiliki pangkat apapun.
“Sebelum itu, kami akan memperkenalkan diri. Namaku Arel Liostin, lalu dia adalah Naomi Elona, dan dia adalah Aurela F. Drika.”
“Begitu, salam kenal.” (Lucy)
“Salam kenal juga pangeran.” (Aurela)
Saat ini aku sudah bisa melihat sebuah perbedaan yang cukup mencolok, dimana seseorang yang memiliki kekuasan lebih dihormati padahal disini semuanya setara tidak ada hal seperti itu. ‘Sepertinya hal seperti ini memang tidak bisa dipisahkan.’
“Ari, aku dengar kau dekat dengan tuan putri.” (Naomi)
“Tidak juga. Memangnya ada apa?”
“Tidak, lupakan saja.”
“Begitu.”
“Kalian pernah dipilih juga?” (Lucy)
“Ya, tapi kami ditunjuk sebagai pembantu saja. Itupun di akademi lain sebagai support, dan mencari pengalaman. Aku sangat iri dengan kalian yang bisa menjadi peserta langsung dalam perlombaan yang akan dilaksanakan itu.”
“Kalau boleh tau, perlombaan apa yang akan dilangsungkan?”
“Jika aku tidak salah ingat, ada beberapa perlombaan yang bisa kalian ikuti. Penelitian sihir, adu strategi, benteng kerajaan, pertarungan…”
“T-tunggu sebentar, kenapa ada pertarungan? Dan lagi, penelitian sihir. Lomba macam apa itu?” Aku belum pernah mendengar lomba yang ia sebutkan ini sebelumnya, bahkan aku tak tau apapun.
“Hmm, kau bisa ikut atau tidak dalam lomba itu. Tapi ya, karena kau ditunjuk secara khusus pasti semua tenaga pengajar di akademi termasuk Round kalian ingin melihat kalian mengikuti semua lomba.”
“Itu tidak masuk akal, dipilih hanya untuk mengemban tanggung jawab besar.”
“Terdengar merepotkan.”(Lucy) Untuk hal ini, aku setuju dengannya. “Jika hanya ingin melimpahkan semuanya pada orang jenius, seharunya hanya Ari saja yang ditunjuk bukan aku.”
“Hey, kau ingin aku pukul.”
“Ahaha, kau lebih jenius dibandingkan aku jadi wajar aku berkata seperti itu.”
“Dia jenius? Hahaha, pangeran anda bisa bercanda juga.” (Naomi)
“Sudahlah, aku ingin kalian berdua mendengarkan apa yang akan kami sampaikan setelah ini pada kalian. Aku juga berharap kalian bisa mengingatnya.”
Cukup lama setelah itu.
Di kelas.
__ADS_1
“Haaa, terlalu banyak informasi yang aku dapatkan hari ini. Itu membuat kepalaku sakit.” (Lucy)
“Setidaknya kau tidak akan mati hanya dengan mendapatkan beberapa informasi saja.”
“Apa-apaan orang itu, sekali berbicara dia langsung mengatakan semuanya sampai aku tidak ****** mengingat apa yang dia katakan. Sudahlah, lalu bagaimana denganmu? Ari, apa kau ingat dengan apa yang dia katakan?”
“Tidak, lagipula aku hanya terseret dalam masalah ini.”
“Kau juga tidak mendengarkannya, ya.”
“Teori seperti itu tidak penting, setidaknya untukku.”
“Kau orang yang lebih memilih untuk mengerjakan secara langsung, ya. Pantas saja kau terlihat seperti seorang yang memiliki wibawa dan kepercayaan diri yang tinggi.”
“Aku tak merasa seperti itu.”
“Kau tak merasa, tapi orang-orang disekitarmu yang sudah lama bersamamu pasti menyadarinya.”
“Haa, kenapa arah pembicaraan ini mengarah ke hal lain.”
“Hahahaha, jadi lomba apa yang ingin kau ikuti?”
“Apapun selain pertarungan dan sesuatu yang berhubungan dengan sihir.”
“Huh? Kalau untuk sihir aku bisa mengerti, tapi pertarungan. Kau ingin melewatkannya? Aku dengar diantara lomba yang lain lomba itu yang paling meriah.”
“Aku tidak bisa melakukannya.”
“Meskipun kau sudah banyak sekali memberikan pelatihan pada pasukan dibawah kepemimpinan tuan putri?”
“Ya, lagipula mereka semua bisa jadi seperti ini bukan hanya karena latihan dariku, tapi kemauan mereka sendiri yang ingin berubah.”
“Hmmm, bilang saja kalau kau tidak ingin mencolok.”
“Hahaha, ya itu adalah alasan utamaku. Aku tidak ingin terlihat mencolok. Jika aku sampai melakukan hal seperti itu, kemungkinan itu akan menjadi sebuah serangan balik untukku.”
“Serangan balik? Dari apa?”
“Entahlah, tapi setidaknya memilih untuk tidak mencolok untukku adalah pilihan yang bagus.”
“Aku tak mengerti dengan cara pikirmu, apa yang sebenarnya kau pikirkan ataupun apa yang sebenarnya kau ingin lakukan.”
“Kau tak perlu mengerti, kau hanya perlu melihatnya saja. Lagipula selain Iona, orang yang bisa membaca apa yang aku pikirkan adalah kau.”
“Putri? Apa ia bisa membaca pikiranmu?”
“Dia sudah tau apa yang ingin aku lakukan, tapi dia hanya mengikutinya saja. Ya, meskipun begitu dia tidak bisa mengetahui semuanya. Sejujurnya, selain kau, Iona adalah orang yang sangat jenius.”
“Kau menganggapku sebagai seorang jenius, itu berlebihan bagiku.”
“Ya, meskipun begitu masih ada 1 orang lagi.”
“Huh? Siapa?”
“Haaa, sudahlah lupakan. Aku tidak ingin membahasnya sekarang.”
“Begitu.”
Perkembangan otak remaja dapat berkembang sangat pesat, dan itu bisa menjadi sebuah keberuntungan dan juga awal dari sebuah kekacauan. ‘Apa yang akan dia rencanakan selanjutnya.’ Kira Anash Victoria, pangeran dari kerajaan Victoria yang membuatku terluka parah. “Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu yang besar.” (Bergumam)
“Huh? Kau berkata sesuatu?”
“Tidak ada.” Mulai dari kejadian itu, kerajaan Victoria menjadi kerajaan yang tertutup. Penyerangan yang biasa kerajaan itu lakukan terhenti, itu bukan kabar bagus melainkan sebuah kabar yang cukup mengkhawatirkan. ‘Aku harap pangeran itu tidak melakukan sesuatu yang bodoh.’
__ADS_1