Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
29


__ADS_3

Di markas khusus.


“Ahhh, aku sangat malu.” Mengatakan hal seperti itu dan bersikap seperti itu, tidak menunjukkan karakterku yang sebenarnya. Itu membuatku sangat malu. Orang yang tak ingin terlihat mencolok sepertiku mengatakan hal seperti itu, dan lagi meluapkan kemarahanku. Itu sangat memalukan.


“Apa lagi itu pas moment itu. Raja, jika kau ingin kerajaan ini sejahtera, petinggi yang hanya memikirkan kekuasaan dan kepentingan pribadi seperti mereka hanya akan menghalangi jalan. Itu bagian kerennya, benar’kan putri.” (Lucy)


“I-iya.”


“Ahhh, hentikan. Aku bisa mati karena malu.”


“Kau tak akan mati karena malu. Selain itu, kau berani juga berbicara seperti itu langsung dihadapan mereka.”


“Aku hanya kesal, Lucy apa kau melihat laporan pajak yang dikeluarkan pemerintah?”


“Hmmm? Belum, tunggu akan aku lihat.”


Beberapa saat kemudian.


“Yang benar saja, naik sampai 20%. Bagaimana bisa?”


“Para petinggi itu mengira kalau kerajaan ini sudah berkembang, oleh karena itu pajaknya dinaikan hingga 20%. Mereka tidak tau kalau masih ada orang yang menderita dikerajaan ini. Mereka hanya melihat bagian yang terlihat saja, sedangkan yang tak terlihat akan mereka abaikan.”


“Jika seperti itu memang masuk akal. Tapi, aku tak menyangka mereka akan menaikkannya sampai setinggi ini.”


“Pajak memang diperlukan untuk membangun kerajaan, tapi jika sampai membuat rakyat menderita maka pajak itu sudah tidak bisa jadi alasan untuk membuat kerajaan berkembang.”


“Apa kau punya rencana?”


“Aku bukan orang dari pemerintahan, aku tak bisa melakukan apapun. Selain itu aku juga sudah membenci orang-orang itu dari dulu.”


“Sepertinya kau benar-benar membenci mereka.” (Iona)


“Aku sudah banyak melihat kebusukan mereka sejak dulu, tapi karena tidak terlalu berdampak besar aku mengabaikannya.”


“Begitu.”


“Tapi, mungkin dengan kau mengatakan hal seperti itu raja akan melakukan sesuatu.”


“Dia pasti akan melakukan sesuatu, kita tunggu saja. Haaa, aku malu. Aku ingin mencari udara segar dulu untuk menenangkan diri.”


“Aku ikut.” (Iona)


“Lucy, bagaimana denganmu?”


“Aku masih ada hal yang harus dilakukan, selain itu aku juga ingin merasakan hal yang berbeda disini.”


“Begitu, kalau begitu selamat menikmati kehidupanmu yang menyedihkan itu.”


“Itu kasar, tapi kau juga. Bersenang-senanglah.”


Di belakang markas khusus.


Cuaca yang mendung dan udara disini cukup dingin untuk siang hari seperti ini.


Aku tengah berbaring dengan nyaman, dan Iona duduk didekatku.


“Sepertinya musim dingin akan segera tiba.” (Iona)


“Musim dingin, ya.” Jika musim dingin, berarti sebentar lagi pergantian tahun. “Iona, bagaimana dengan akademimu?”


“Semuanya sudah aku selesaikan, projek yang aku buat juga sudah menemui titik terang. Dengan begitu aku bisa lulus.”


“Begitu. Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah itu?”


“Hidup bersamamu.”


“Hmmmm, terlalu blak-blakan.”


Iona tersenyum. “Maaf, aku hanya ingin mengatakannya.”


“Kau itu…”


“Sebenarnya aku sedikit tertarik dengan sihir, aku juga berencana ingin belajar sihir lebih dalam dikerajaan lain yang lebih mengenal sihir.”


“Sihir, ya.” Sesuatu yang berada diluar kemampuanku. “Iona, bagaimana rasanya memiliki sihir?”


“Huh? Tidak ada, semuanya sama saja. Mungkin tidak ada bedanya daripada orang lain pada umumnya. Hanya saja, aku tak ingin menjadi orang yang menyakiti orang lain karena sihir ini.”


“Oleh karena itu kau ingin belajar lebih banyak tentang sihir, begitu?”


“Iya, kak Risa bilang. Jika seseorang yang memiliki sihir berkembang, maka sihir yang ada ditubuhnya juga akan ikut berkembang. Jika tidak bisa mengendalikannya, maka yang ada hanyalah malapetaka.”


“Seperti itu, ya. Kalau begitu, berjuanglah. Aku akan selalu mendukungmu.”


“Terimakasih.”


Selang beberapa waktu.


“Begini Iona, apa kau menginginkan sesuatu?”


“Huh? Kenapa tiba-tiba?”


“Saat malam tahun baru, aku berencana ingin memberikan sesuatu padamu tapi aku tak tau apa yang akan cocok.”


Iona tersenyum. “Kau aneh, seharusnya kau tau apa yang sangat aku inginkan.”


“Hmmm, b-bukan itu. Tapi yang lain, hal yang lain.”


“Hal yang lain?”

__ADS_1


“Ya, seperti benda atau semacamnya.”


“Kalau itu, terserah padamu. Apapun yang berikan aku akan menyukainya.”


“Jika seperti itu aku semakin bingung. Haaaa, sudahlah.”


“Kalau kau? Apa ada yang kau inginkan?”


“Aku? Sepertinya tidak ada.”


“Mana mungkin, pasti ada 1 atau 2 hal yang kau inginkan.”


“Tidak ada, selama kebutuhan hidupku terpenuhi aku tak menginginkan apapun.”


“Kau yakin?”


Beberapa saat kemudian.


“Hmmm, sepertinya ada.”


“Benarkah? Apa itu?”


“Sini mendekat.”


“Huh? Baiklah.” Iona mendekat.


Aku merebahkan kepalaku dipahanya. “Eh?”


“Haaa, hanya ini yang aku inginkan untuk saat ini.” Sensasinyabegitu nyaman, mataku mulai terasa berat. ‘Sepertinya aku terlalu banyak memaksakan diri hari ini.’ Baru saja sembuh dan langsung bekerja, setelah itu marah-marah sudah jelas aku sangat lelah. “Jika kau susah bergerak atau sudah tidak nyaman, kau bisa membangunkanku. Selamat tidur.”


\=\=\=


“Dia tertidur.” Ari tertidur dipangkuanku, meskipun baru sebentar tapi dia sudah tertidur sangat nyenyak. “Kau ternyata memiliki sisi imut juga.” Wajah tidurnya sangat lucu.


“Kau pasti sangat lelah, istirahatlah sebanyak yang kau mau.” Aku mengelus kepalanya dengan lembut, ini membuatku sangat nyaman. Aku tak pernah berfikir kalau hal seperti ini akan terjadi, aku sangat senang.


“Kau sangat keren tadi.” Dia menunjukkan sisi kerennya, dan itu membuatku sangat berdebar. Aku mengingat kembali moment dimana saat Ari memarahi semua petinggi yang berkumpul di ruang tahta.


Sore hari.


“Ari, kau sudah bangun?”


“Hoaaamm… Aku, ketiduran, ya. Maaf, apa kau baik-baik saja?” Ari beranjak bangun dari pangkuanku.


“Tidak masalah, lagipula kau tidur sangat nyenyak jadi aku tak ingin membangunkanmu.”


“Tapi, apa kau yakin baik-baik saja? Aku sudah tidur cukup lama dipangkuanmu, lo.”


“Iya, aku baik-baik saja. Lalu, bagaimana denganmu? Kau baru saja sembuh, tapi sudah bekerja keras seperti ini? Kau baik-baik saja?”


“Iya, beristirahat sebentar sudah membuat tubuhku lebih baik.”


“Tenang saja, aku dalam kondisi yang sangat baik sekarang. Baiklah, ayo kembali ke markas. Lucy ditinggal terlalu lama, dia pasti saat ini sedang mengoceh sendirian.”


“Baik.” Kami kembali ke markas.


\=\=\=


Di markas.


“Lucy, apa ada yang terjadi selama kami pergi?”


“Hmmm, tidak ada. Semuanya berjalan dengan baik.”


“Pangeran, dokumen ini mau ditaruh dimana?” (Ria)


“Biar aku saja yang menaruhnya, jam kerjamu sudah selesai kau bisa pulang sekarang.”


“Tapi masih ada beberapa dokumen lagi yang harus aku periksa.”


“Hari sudah semakin gelap, sebaiknya kau segera pulang. Untuk sisanya biar aku yang mengurusnya.”


“B-baik, terimakasih.” Setelah itu Ria pulang.


“Pangeran, kau terlihat sangat dekat dengannya.”


“Benar’kah? Aku tak menyadarinya.”


“Kau terlalu sibuk dengan khayalan dan pengawasanmu, sampai kau melupakan kehidupanmu sendiri.”


“Aku hanya membantunya, tidak lebih dari itu.”


“Haaa, sekali-kali cobalah untuk menikmati masa mudamu.”


“Jangan katakan itu padaku jika kau menjauhi masa mudamu juga. Selain itu, masih banyak hal yang ingin aku ketahui dan aku juga ingin belajar banyak hal. Hubungan asmara hanya akan membuat semua itu terhambat.”


“Ya, aku mengakuinya. Pendapat itu tidak salah, tapi…”


“Ahhh, aku tak ingin membahasnya lagi.”


“Begitu. Kesampingkan tentang kedudukan, Lucy jika kau bisa mendapatkan kekasih dalam waktu 1 bulan, 50% aset yang aku miliki akan aku berikan padamu.”


“Heeee, memangnya seberapa banyak itu sampai kau ingin memberikannya? Mendapatkan kekasih itu hal mudah untukku, lo.”


Aku mengambil kertas hasil penjualan dan keuntungan penjualan usaha milikku, lalu memberikan itu padanya. “Bagaimana?”


“Woi woi, apa-apaan dengan jumlah ini.”


“Jumlah itu akan terus bertambah, semakin banyak cabang maka aset yang aku miliki juga akan bertambah. Mungkin, jumlah itu sudah setara dengan seluruh kekayaan sebuah kerajaan kecil. Dengan jumlah itu, kau tak perlu lagi repot-repot…”

__ADS_1


“Kenapa kau melakukan sampai sejauh itu?”


“Kenapa? Jika kau bertanya seperti itu, anggap saja agar tidak ada penyesalan di masa mudamu itu. Penyesalanku sudah terlalu banyak, aku tak ingin orang sepertimu juga ikut mengalaminya.”


“Kau peduli denganku?”


“Kita adalah teman, hal seperti itu wajar. Oh ya, aku hanya akan memberikan 1 syarat untukmu.”


“Hanya 1? Kau yakin?”


“1 syarat ini saja aku yakin sudah akan membuatmu kesulitan.”


“Kau bercanda, tidak ada hal yang akan membuatku kesulitan didunia ini. Lalu, apa syaratnya?”


“Saling mencintai.”


“Huh? Ehhh?!!”


“Masih tidak jelas, sudah sewajarnya jika sepasang kekasih saling mencintai. Jika hanya mencintai sepihak, itu bukan cinta namanya, itu hanya memanfaatkan.”


“T-tunggu sebentar, mana mungkin bisa seperti itu!!”


“Hooo, kau tidak mampu?”


“A-aku siap, akan aku buktikan padamu kalau akubisa. Lalu dengan begitu, 50% aset milikmu akan jadi milikku.”


“Iya iya, terserah kau saja. Berusahalah dengan baik.”


Malam hari, masih di ruang komandan.


Disini hanya ada aku dan Iona, Lucy pergi untuk persiapan mencari pasangan.


“Ari, apa kau yakin?”


“Huh?”


“Tentang pangeran, bukankah memaksanya seperti itu tidak baik.”


“Meskipun begitu, orang itu sudah lama jauh dari hal seperti itu. Saat ini aku yakin dia akan kesulitan.”


“Tapi, dia itu pangeran pasti banyak wanita dari para bangsawan ataupun kerajaan lain yang menginginkannya. Selain itu, pangeran Lucy sudah terkenal karena dia adalah orang yang jenius.”


“Jenius, ya.” Jika diingat-ingat, aku sama sekali tak pernah melihatnya melakukan sesuatu yang dimataku terlihat seperti itu. “Meskipun begitu, itu hanya akan jadi sebuah langkah politik. Sudah aku katakan sebelumnya, saling mencintai. Jika seperti itu, persyaratan dariku tidak terpenuhi dan dia tidak akan mendapatkan hadiahnya.”


“Apakah kau yakin dengan hal itu? Bukankah itu jumlah yang banyak.”


“Aku tak membutuhkan apapun, aku sudah pernah bilang’kan.”


“Eh, iya. Tapi, paling tidak ada satu atau dua hal yang pasti kau inginkan.”


“Hal yang aku inginkan bukan berupa materi, tapi hal lainnya. Uang bisa aku dapatkan dengan mudah, tapi yang aku inginkan tidak bisa dibeli dengan itu. Aku ingin Lucy juga merasakannya, mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari apapun.”


“Lalu menurutmu, siapa yang akan jadi pasangannya?”


“Dia tidak akan menyadarinya, orang yang dia cari sebenarnya berada didekatnya tapi karena sifatnya yang seperti itu dia akan sulit untuk sadar.”


“Berada dekat dengannya?”


“Sama halnya seperti teman masa kecil, saat sudah dewasa mereka tidak akan menyadari kalau mereka sedang jatuh cinta satu sama lain. Kau tau kenapa?”


“Kenapa?”


“Alasannya mudah, karena mereka selalu bersama. Kebersamaan itu membuat benih-benih cinta itu tumbuh subur tanpa mereka sadari.”


“Jadi, karena terlalu sering bersama tidak ada dari mereka yang menyadarinya, seperti itu?”


Aku tersenyum mendengarnya. “Sepertinya kau sudah mulai paham.”


“Tapi, dari mereka ber-4, bukankah pangeran Lucy dan juga mereka ber-4 sama sekali tidak pernah berbicara 1 sama lain.”


“Mereka berbicara, kok. Ya, meskipun dalam konteks apa yang mereka kerjakan, tapi itu sudah cukup. Selain itu, Lucy juga berperan penting dalam hal membantu mereka. Dari apa yang aku bayangkan, Lucy selalu membantu mereka jika ada yang mereka tidak tau, kau bisa lihat seperti apa yang baru saja dia lakukan.”


“Begitu.”


“Meskipun tidak tanpak, tapi Lucy selalu memperhatikan mereka semua. Sisanya hanyalah menunggu siapa yang akan dipilih olehnya.”


“Tapi, mereka semua dari kalangan bawah. Aku takut jika mereka…”


“Aku sudah mengatakannya. Kesampingkan tentang kedudukan, begitu.”


“Tapi, jika ingin menjadi pengantin seorang pangeran setidaknya harus menjadi seorang bangsawan terlebih dahulu.”


“Itu memang benar kau tidak salah. Tapi, apa kira-kira yang akan Lucy lakukan jika dia sudah mendapatkan hal yang paling berharga dalam hidupnya?”


“Dia akan mengabaikannya.”


“Yup, itu benar. Meskipun harus keluar dari anggota kerajaan, aku yakin dia pasti akan melakukannya, lalu disitulah peran ini berlangsung.”


“Dengan uang yang akan dia terima, dia bisa hidup dengan tenang. Aku tak meyangka kau akan memikirkan sampai sejauh itu.”


“Itu hanyalah sedikit dari apa yang bisa aku prediksi. Untuk sisanya, tergantung padanya.”


“Begitu… Ngomong-ngomong, Ari. Apa kau mencintaiku?”


“Eh? K-kenapa tiba-tiba?”


“Kau dan aku sudah hidup bersama cukup lama, jadi aku pikir hal seperti yang kau bicarakan tadi juga akan sama seperti itu.”


“Kau bukanlah orang yang tidak akan menyadarinya, tapi ya. Masih ada hal yang harus aku lakukan, jadi tunggulah sampai waktunya tiba, aku akan mengatakannya.”

__ADS_1


“Ya, aku akan menunggu.”


__ADS_2