
Di pagi hari yang cerah, maksudku sedikit mendung.
‘Aku tidak bisa tidur.’ Sejak aku bangun semalam, aku tidak bisa tidur sampai pagi ini. Meskipun begitu, yang bisa aku lakukan hanya melihat Iona yang sedang tertidur begitu pulas. Tubuhku tidak bisa aku gerakkan, kemungkinan karena keadaanku masih belum pulih seutuhnya. “Haaa, ini sangat tidak nyaman.”
Beberapa saat setelah itu.
Perlahan Iona mulai membuka matanya. “Kau sudah bangun. Sepertinya tidurmu kurang nyenyak, apa ada yang mengganggumu?”
“A-Ari… Ari! Aku pikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi!!” Iona menangis.
Beberapa lama setelah itu, keadaan Iona sudah mulai tenang.
“Iona, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Aku tidak tau pastinya, tapi saat kak Risa bilang kalau dia akan mengambil sesuatu, dia menemukanmu tergeletak di tak sadarkan diri. Dia memeriksa keadaanmu dan ternyata kau terkena demam yang sangat tinggi. Tepat saat itu keadaanku juga membaik, aku tak tau kenapa.”
“Begitu, lalu kenapa aku berada disini?”
“Aku dan kak Risa yang membawamu kemari, kami sudah mencoba untuk memanggil ahli obat-obatan terbaik dan juga dokter terbaik yang ada disini. Tapi tidak ada satupun yang tau apa penyebab penyakit yang sedang kau alami itu.”
“Hmm, ngomong-ngomong. Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?”
“Hampir 1 bulan.”
“Eh? Selama itu?”
“Aku dan kak Risa sudah mencoba segala macam cara untuk menyembuhkanmu, tapi semuanya tak berhasil. Demammu sama sekali tidak turun, dan semakin hari demammu semakin parah…”
‘Wah, sepertinya aku sudah melewati masa kritis.’
“Aku sangat sedih karena aku pikir aku tidak akan pernah melihatmu lagi. Tapi, aku sangat senang karena sekarang kau sudah baik-baik saja.”
“Maaf karena membuatmu cemas.”
“Tidak apa-apa, yang penting sekarang kau sudah baik-baik saja.”
“Ehem… “ (Risa)
“Kak Risa.” (Iona)
Risa berada didepan pintu dan sedang melihat kami. “Iona, bisa kau ambilkan kain dan juga air bersih. Aku ingin mencoba untuk memeriksa keadaannya lagi.”
“Baik. Ari, tunggu aku akan segera kembali.”
“Ya.”
Iona pergi dan perlahan Risa mendekat kearahku.
“Aku pernah mendengar sebuah cerita, tentang seorang laki-laki yang sangat mencintai seorang gadis.”
“Huh?” Risa datang dan tiba-tiba bercerita, itu membuatku kebingungan.
__ADS_1
“Laki-laki itu rela melakukan apapun demi membuat si gadis senang, bahkan dia rela mengorbankan dirinya menderita dan mengambil berlipat-lipat penderitaan si gadis yang sangat dia cintai itu. Meskipun sudah tau resikonya, tapi dia tetap melakukannya. Apa kau pikir itu sebuah cerita yang sangat gila, seseorang yang rela menanggung beban dari orang lain.”
“Ya, aku juga pikir itu adalah hal yang gila.”
Kemudian Risa duduk tepat disampingku. “Aku pikir seseorang seperti itu cuma ada didunia dongeng, tapi tak kusangka aku bisa melihatnya sendiri.”
“P-putri Risa apa yang anda katakan?”
“Mengambil penyakit Iona, dan membiarkan dirimu mengalami rasa sakit yang dialami olehnya. Kenapa kau sampai berpikiran bodoh seperti itu?”
“A-apa yang anda katakan, aku sama sekali tidak mengerti.”
“Jangan berpura-pura bodoh. Tidak mungkin sebuah penyakit bisa tiba-tiba lenyap tanpa sebab, dan lagi sangat aneh jika orang yang sehat tiba-tiba terkena penyakit yang parah dalam waktu bersamaan.”
“I-itu mungkin hanyalah sebuah kebetulan.”
“Dan lagi, aku merasakan sebuah energi sihir saat kau menyentuh Iona waktu itu. Ari, kenapa kau melakukan hal itu?”
Sebelumnya, aku tak menyangka kalau hal seperti itu dapat memicu energy sihir. ‘Sudahlah, lagipula jika aku berbelit-belit dia pasti akan terus menghantuiku dengan berbagai macam pertanyaan.’
“Kenapa kau diam?”
“Aku hanya tidak bisa melihatnya menderita. Aku mengenalnya lebih dari siapapun, dan aku juga sangat menyanginya. Oleh karena itu aku tak bisa melihatnya dalam kondisi seperti itu. Dan lagi, seharusnya kau sudah menyadarinya. Benar’kan Risa-Oneesama.”
“Aku sebelumnya tidak pernah menyangka, tapi setelah melihatnya itu ternyata memang dirimu. Sebelum itu, terimakasih karena sudah menolong Iona.”
“Tidak masalah, lagipula ini hanyalah keegoisanku semata.” Aku perlahan mulai turun dari kasur.
“Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, jadi…” Penglihatanku mulai buram dan aku tak bisa menahan beban tubuhku.
“Kau masih belum pulih, kau seharusnya beristirahat sampai kau benar-benar pulih.” Risa kembali membaringkanku keatas tempat tidur. “Kau itu, apa kau selalu memaksakan diri? Setidaknya perhatikan kondisi tubuhmu. Jika terjadi sesuatu padamu, dia pasti akan cemas.”
Mendengar hal itu aku hanya bisa menghela nafas panjang. “Benar juga.”
“Oh ya, seluruh tugas kemiliteran sudah diserahkan pada pangeran Lucy, jika seperti itu kau tidak khawatir lagi’kan.”
“Begitu, Lucy, ya. Jika dia, seharusnya semua akan baik-baik saja. Ngomong-ngomong Putri…”
“Panggil saja aku seperti biasa kau memanggilku, lagipula aku sudah terbiasa dengan panggilan itu.”
“Begitu… Jika seperti itu, Risa-oneesama.”
“Ya?”
“Apa raja mengetahui keberadaanku?”
“Tidak, paman sama sekali tidak mengetahuinya. Lagipula, jika dia mengetahuinya dia pasti yang akan berada disini bukan aku.”
“Huh? Kenapa seperti itu?”
“Ya, karena kau sudah menyembuhkan putrinya. Mungkin paman akan mengucapkan banyak terimakasih dan mungkin saja dia akan memberikanmu sebuah imbalan.”
__ADS_1
“Itu kedengarannya sangat merepotkan.”
“Ya, itu memang merepotkan. Lagipula, keberadaanmu saat ini hanya sedikit orang yang tau dan lagi…”
“Dan lagi?”
“Kau adalah satu-satunya orang yang membuat Iona sampai pada titik ini, bukan hanya itu tapi kau sudah banyak membawa perubahan pada kerajaan ini. Dulu kerajaan ini adalah kerajaan yang bisa dibilang diambang kehancuran, tapi kau memperbaiki semuanya sampai bisa berkembang seperti ini. Jika semua orang tau itu adalah kau, kau pasti akan dihormati semua orang.”
“Hahaha, tapi itu akan sangat merepotkan. Lagipula aku tak begitu suka menjadi pusat perhatian.”
“Itu alasanmu memilih bertindak dibalik layar.”
“Ya. Setidaknya itu jika dalam kondisi berbahaya.”
“Kondisi berbahaya? Seperti saat kau menyusup ke kerajaan Victoria?”
Risa terlihat seperti sudah mengetahui semuanya. “Ehhh, Risa-oneesama. Apa Iona sudah menceritakannya padamu?”
“Iya, dia sama sekali tidak menyembunyikan apapun padaku. Dia menceritakan semua yang dia alami padaku, bisa dibilang kalau aku adalah tempatnya untuk berbagi cerita.”
“Begitu ternyata.”
“Lalu, yang membuat aku penasaran, alasanmu pergi ke kerajaan Victoria seorang diri. Apa sebenarnya tujuanmu melakukan hal nekat seperti itu?”
“Pencegahan.”
“Pencegahan?”
“Ya, kerajaan Victoria dipimpin oleh pangeran yang cukup jenius. Didalam peperangan, dia dapat membalikkan keadaan dengan sangat mudah.”
“Bukankah itu sangat..”
“Menjadikannya rekan munkin akan sangat bagus, tapi karena dia sudah pernah menyerang kerajaan ini sebelumnya. Melakukan gencatan senjata hanya akan membuat harga dirinya hancur. Oleh karena itu, pangeran bodoh itu akan melakukan segala cara agar bisa menaklukan kerajaan ini. Dengan begitu, semuanya akan dia dapatkan.”
“Jadi, pencegahan yang kau maksud itu, seperti itu, ya. Jika orang lain mungkin tidak akan sadar akan hal itu.”
“Sudah aku katakan, itu hanyalah sebuah pencegahan saja. Pangeran bodoh itu pasti akan kembali kemari, tapi tidak untuk waktu dekat.”
“Kau terlihat seperti sudah menyiapkan sesuatu.”
“Tidak, aku sama sekali tidak menyiapkan apapun. Setidaknya untuk saat ini.”
“Aku kembali, ini kain bersihnya.” Tepat saat pembicaraan kami selesai Iona kembali.
“Iona, terimakasih.”
“Apa yang sedang kalian berdua bicarakan?”
“Tidak ada yang penting. Sudah, kita biarkan dia istirahat untuk sementara waktu. Kalau begitu, istrahatlah yang cukup sampai kau pulih. Kami akan datang lagi nanti.” Mereka berdua pergi.
“Untuk saat ini, ya.” Pencegahan yang aku lakukan kemungkinan tidak akan bertahan lama, lagipula sudah hampir 1 bulan aku tak sadarkan diri dan pasti persiapannya sudah dimulai lagi. “Sepertinya setelah ini aku akan kembali sibuk.”
__ADS_1