Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
22


__ADS_3

Beberapa hari berlalu.


Dipagi hari yang sangat cerah dan indah tanpa adanya masalah satupun.


Diruang rapat.


Hari ini tidak ada rapat, hanya saja pembahasan kecil mengenai masalah bisnis. Dan itu juga selesai dengan cepat.


Beberapa menit setelah rapat selesai.


“Huh? Dipanggil oleh raja?” (Lucy)


“Iya.” (Famus)


“Lucy, apa ada sesuatu?”


“Famus bilang kalau aku dipanggil oleh raja untuk menghadap.”


“Hmmm, apa kau melakukan suatu kesalahan?”


“Mana ada, lagipula aku tidak pernah berkumunikasi dengan raja sebelumnya jadi tidak mungkin aku melakukan suatu kesalahan sampai harus menghadapnya.”


“Sebaiknya kau datang saja.”


“Kau juga ikut.”


“Eh, kenapa aku harus ikut? Yang dipanggil bukan aku, tapi kau.”


“Karena aku yang dipanggil kau harus ikut, jika sampai terjadi sesuatu padaku bagaimana nantinya. Tidak ada orang yang akan membelaku.”


“Kau berbicara seperti itu seolah sudah melakukan sesuatu yang salah. Haaa, baiklah aku akan ikut denganmu, tapi aku tak akan menghadap raja aku hanya akan menunggumu dipintu depan ruangan saja. Apa itu tidak masalah?”


“Siap, tapi jika sampai terjadi sesuatu padaku kau harus melakukan sesuatu.”


“Iya iya. Lagipula aku juga akan ikut mendengar apa yang akan raja bicarakan denganmu nanti, kau tak perlu khawatir.”


“Syukurlah, aku bisa selamat.”


“Hey, ucapanmu itu mencurigakan.”


“Sudah, ayo berangkat.” Kami pergi menuju istana.


Diperjalanan menuju istana.


“Oh ya, aku tak melihat Iona hari ini. Kemana dia?”


“Putri sedang sibuk, dia bilang karena posisinya saat ini sebagai Round dia harus menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan tentang ujian yang akan datang.”


“Hmmm, sepertinya dia sangat kerepotan. Tapi, mau bagaimana lagi dia yang mengambil hal itu dan pasti dia sudah siap akan masalah yang akan dihadapi karena pilihannya itu.”


“Ya, aku juga berfikiran hal yang sama denganmu. Tapi nyatanya tidak.”


“Huh? Apa ada masalah?”


“Dia tetap meminta bantuanku untuk meringankan tugasnya.”


“Hmmm, lalu apa kau membantunya?”


“Ya tentu saja, mana mungkin aku mengabaikannya. Lagipula aku tak bisa mengabaikannya.”


“Jika dia kerepotan, seharusnya dia berhenti saja. Kenapa dia masih memaksakan diri?”


“Kau pikir sudah berapa kali aku berkata seperti itu padanya, aku sampai bosan bilang hal itu terus menerus.”


“Apa yang sebenarnya ada dipikirannya sampai membuatnya kerepotan sendiri seperti itu?”


“Mungkin dia ingin terlihat seperti seorang yang bisa sedikit berguna.”


“Itu hanyalah opinimu, tak ada yang tau apa yang ada dipikirannya kenapa dia melakukan hal itu.”


“Iya iya, aku juga tau itu. Oh ya, bagaimana dengan uang yang didapat dari penjualan waktu itu?”


“Ahh, tentang anggur itu. Aku menggunakannya untuk bisnis lain, kau tau dengan uang sebanyak itu bisa membuat keuangan markas menjadi lebih baik dari sebelumnya. Lagipula bayaran dari raja belum cukup untuk kebutuhan kepentingan lain markas, bayaran dari raja hanya cukup untuk gaji para pasukan saja.”


“Kau mengetahui itu, kenapa kau tidak menggajiku juga menggunakan uang itu?!”


“Yang memengang uang markas bukan aku tapi bendahara markas.”


“Bendahara markas, apa kita punya yang seperti itu?”


“Lysia dan Ria sebagai yang mengatur bendahara, lalu Rine dan Sofia sebagai sekertaris.”


“1 tugas untuk 2 orang.”


“Jika dikerjakan sendiri akan memakan waktu cukup lama, oleh karena itu mereka bekerja sebagai kelompok. Aku pikir itu bisa mempercepat pekerjaan mereka.”


“Aku sama sekali tidak pernah mengetahui hal itu.”


“Karena hal seperti itu tidak pernah dibahas, lagipula aku juga baru tau karena Iona yang mengatakan hal itu padaku. Ngomong-ngomong hanya kita berdua yang tidak digaji, lo.”


“Eh, putri juga digaji?”


“Iya.”


“Kenapa hanya kita berdua yang tidak mendapatkan gaji.”


“Jangan mengeluh seperti itu. Aku masih ingat perkataanmu dulu, kau menjadi asistenku untuk mengambil pengetahuan dariku. Itu sudah cukup untuk bayarannya, dan kau setuju.”

__ADS_1


“Itu perjanjian denganmu, bukan dengan putri.”


“Begitu? Kalau begitu, nanti minta saja gajimu pada raja. Aku yakin raja akan memberikan banyak padamu.”


“Lalu, bagaimana denganmu?”


“Aku tak membutuhkan hal lain, lagipula tidak ada apapun yang aku inginkan. Selain itu, jika aku ingin sesuatu aku hanya tinggal memintanya pada Iona.”


“Aku jadi iri denganmu yang bisa mendapatkan keistimewaan itu.”


“Istimewa, ya. Sudahlah, jika kau masih mau mengungkit tentang gaji kau bisa bilang pada raja.”


“Mana mungkin aku berani.”


“Tidak masalah, bilang saja. Lagipula selama kau menjadi bagian dari pasukan khusus kau juga akan mendapatkan perlakuan yang istimewa, meskipun hanya sebagai seorang pembantu saja.”


“Kalimat terakhirmu itu menyakitiku.”


“Jangan dibawa kehati, itu hanyalah sebuah pengandaian saja. Sudahlah, ayo bergegas.”


“Baik-baik.”


Di istana.


Kami sudah sampai tapi ini sedikit berbeda dari apa yang aku bayangkan. “Hmmm, apa yang sedang mereka bicarakan saat ini, ya.” Aku tak bisa mendengar apa yang dibicarakan didalam. “Sepertinya aku harus bertanya tentang detailnya nanti pada Lucy.”


Beberapa saat menunggu.


“Ari, apa yang kau lakukan disini?” (Iona) Iona dan Risa datang kemari.


“Aku hanya menemani Lucy menghadap ke raja.”


“Menghadap raja? Memangnya ada masalah apa?” (Risa)


“Entahlah, aku juga tak tau tapi sepertinya ada sesuatu yang penting. Oh ya, Iona apa pekerjaanmu sudah selesai?”


“Pekerjaan? Eh, benar juga aku belum menyelesaikannya!!”


“Haaa, sudah kuduga. Kenapa kau berjalan-jalan seperti ini padahal kau masih memiliki tugas yang belum selesai.”


“M-maaf.”


“Kau tak perlu meminta maaf, sebaiknya segera selesaikan pekerjaanmu setelah selesai kau baru bisa bermain.”


“B-baik.” Iona pergi.


“Dia menuruti ucapanmu.” (Risa)


“Huh?”


“Aku tak pernah melihat Iona sepenurut itu jika disuruh untuk mengerjakan tugas.”


“Ya, sepertinya ada banyak hal darinya yang sudah mengalami banyak perubahan, terutama jika bersamamu.”


“Aku tak berfikir demikian, tidak ada orang yang mendorongnya ataupun membantunya dalam melakukan hal itu. Saat dia dalam kesusahan tidak ada orang yang membantunya, tapi bukannya meminta bantuan dia malah memendam masalah itu seorang diri.”


“Mau berbicara sebentar?”


Taman kerajaan.


“Pagi ini sangat tenang, benar’kan.” (Risa)


“Iya, pagi ini sangat damai.”


Tak ada pembicaraan selang waktu beberapa saat setelah itu.


“Aku dengar kerajaan ini hampir saja diserang oleh 30 ribu pasukan kerajaan Bagdist.”


“Jadi itu alasannya, ya.” Risa membahas hal itu, kemungkinan alasan raja memanggil Lucy adalah untuk menanyakan hal itu juga padanya. Memastikan apa hal itu benar atau tidak.


“Ada apa?”


“Tidak, aku hanya berfikir Lucy saat pasti sedang kerepotan.”


“Kau mengalahkan semua pasukan kerajaan Bagdist?”


“Aku bukan orang yang sehebat itu sampai bisa mengalahkan pasukan sebanyak itu, aku hanya seorang manusia yang memiliki sangat banyak kekurangan. Lagipula apa yang bisa aku lakukan seorang diri, semua itu berkat kerjasama tim dari pasukan khusus. Ngomong-ngomong, kenapa Risa-oneesama bisa tau hal itu?”


“Hehehe, aku juga memiliki pasukan khusus.”


“Eh, pasukan khusus?”


“Iya, tapi tidak sehebat pasukan milikmu. Pasukanku hanya terdiri dari belasan orang saja, dan tugas mereka hanya menyelidiki sesuatu yang terjadi dikerajaan ini saja. Ya, ada kalanya mereka juga menyelidiki apa yang terjadi diluar kerajaan.”


“Begitu.”


“Oh ya, Ari aku mengundangmu ke acara pertunanganku.”


“Huh? Pertunangan? Risa-oneesama, apa kau sudah menemukan pria yang tepat?”


“Iya, aku sudah menemukannya.”


Wajahnya terlihat senang saat membicarakan hal itu, itu berarti dia sudah sangat puas. “Begitu, baiklah aku akan datang.” Meskipun begitu, aku tetap khawatir padanya.


“Aku menantikan kehadiranmu.”


“Ya.” Suasana kembali tenang setelah pembicaraan itu berakhir.

__ADS_1


Beberapa menit setelah itu, sesuatu memecah ketenangan ini. “ARIII!!!!” (Lucy) Aku mendengar suara Lucy yang berteriak memanggil namaku. “Itu dia!!” Saat dia melihatku dia langsung menghampiriku.


“Ari, eh ada putri Risa juga disini.”


“Pangeran Lucy, selamat pagi.”


“S-selamat pagi juga. Ari, ada sesuatu hal yang penting yang ingin aku bicarakan.”


“Aku akan pergi.” (Risa)


“Putri, kau mau pergi? Padahal tidak masalah jika kau ingin mendengarnya.”


“Tidak terimakasih, aku masih ada pekerjaan lain.”


“Begitu.”


“Kalau begitu, aku pergi.”


“Ya, hati-hati dijalan.” Risa pergi.


“Lalu, ada masalah apa?”


“Hmmm, darimana aku mulainya, ya.”


“Mulai saja dari hal yang pertama kali kau ingin bicarakan.”


“Baiklah. Raja bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi beberapa hari yang lalu.”


“Hmmm, jadi raja juga sudah tau tentang insiden penyerangan itu, ya. Lalu, apa balasanmu?”


“Aku mengiyakannya, lalu raja bertanya kenapa raja Bagdist dilepaskan.”


“Kau juga menjelaskan alasannya?”


“Iya, tapi itulah masalahnya. Para petinggi raja sangat menyangkan tindakan itu, mereka sangat menyangkan karena kita melepaskannya.”


“Cih, para petinggi raja yang bilang seperti itu mendefinisikan bahwa masih ada orang rakus yang sudah tak tertolong lagi diantara para petinggi kerajaan. Jika tidak segera diobati aku khawatir dengan masa depan kerajaan ini akan hancur bukan karena serangan dari luar, tetapi karena kerakusan para petinggi kerajaan itu sendiri.”


“Lalu, apa yang akan kau lakukan?”


“Tidak ada, masalah kerajaan itu diluar tanggung jawabku. Tak ada yang harus aku lakukan, biarkan orang dewasa yang mengurus masalah pemerintahan. Aku cukup mengurusi masalah ini saja.”


“Jika kau berkata seperti itu, masalah ini seharusnya juga diurusi oleh orang dewasa. Bukan anak-anak seperti kita.”


“Hmmm, benar juga. Sudah, lalu apa lagi yang ingin kau sampaikan?”


“Mengenai gaji.”


“Eh? Kau serius meminta gajimu pada raja?”


“Kau yang bilang jika aku termasuk dalam pasukan khusus, meskipun hanya pembantu saja aku bisa mendapatkan perlakuan istimewa.”


Aku hanya bisa menghela nafas panjang mendengar apa yang ia katakan. “Lalu, berapa jumlah yang kau dapatkan?”


“250.”


“Ya, itu sudah lumayan.”


“Sebenarnya raja ingin memberikan lebih, tapi aku menolaknya.”


“Heee, ternyata kau murah hati juga.”


“Tidak juga, lagipula sebenarnya aku tak membutuhkan gaji. Aku ini adalah seorang pangeran, jika aku ingin sesuatu aku bisa mendapatkan itu dengan mudah.”


“Hmmm, benar juga, kau adalah seorang pangeran, ya. Aku lupa.”


“Kau lupa, bagaimana kau bisa lupa dengan hal penting seperti itu?”


“Sudah-sudah, hanya itu saja yang ingin kau sampaikan? Jika sudah, sebaiknya kita kembali. Berada disini terlalu lama dapat membuat kecurigaan pada orang lain.”


“Kecurigaan?”


“Ya, sudahlah ayo kembali.”


“Ehh…” Kami kembali ke markas.


Diperjalanan kembali.


“Kau tidak bertanya kenapa aku meminta gajiku pada raja?” (Lucy)


“Tidak, lagipula itu adalah urusanmu itu sama sekali tidak ada hubungannya denganku. Mau alasan apapun yang kau gunakan itu tidak akan berpengaruh terhadapku, itulah sebabnya kenapa aku tak bertanya hal yang tak penting seperti itu.”


“Begitu. Benar juga, itu sama sekali tak ada hubungannya denganmu.”


“Lucy, apa ada hal lain lagi yang raja bicarakan denganmu?”


“Tidak, hanya itu saja.”


“Begitu. Ya sudah.”


“Memangnya kenapa kau bertanya hal itu?”


“Tidak ada, lupakan saja. Setelah ini masih ada banyak urusan yang harus diselesaikan.”


“Hey, hari ini kita harus ke akademi, terutama kau. Kau hanya masuk ke akademi beberapa kali saja, nilai absenmu sangat jelek.”


“Haaa, baik-baik. Aku mengerti.” Akademi, entah kenapa aku sudah lupa alasanku masuk kesana. Alasan, sepertinya aku memang tak punya hal itu. “Masa muda, ya.”

__ADS_1


“Masa muda?”


“Ah tidak, abaikan saja apa yang aku ucapkan barusan.” Masuk ke akademi, aku ingin merasakan kehidupan sekolah sekali lagi. Kehidupan masa muda yang normal, itu yang aku inginkan dan nyatanya hal itu sulit untuk aku dapatkan diposisiku saat ini. “Aku harap tidak akan ada hal yang merepotkan terjadi selama beberapa hari kedepan.”


__ADS_2