
Ari menjadi ragu-ragu dengan apa yang dia lakukan sekarang. “Ari, ada apa denganmu? Kau tidak seperti yang biasanya.”
“Aku sekarang dalam sebuah dilema.”
“Dilema?”
“Aku mendengar cerita dari kakek pahlawan tentang para iblis.”
“Cerita tentang para iblis dari kakek?”
“Iya. Mereka tidak ada bedanya dengan kita, mereka sama seperti kita.”
“Tapi mereka menyerang kita, itu adalah sebuah kesalahan.”
“Iona, apa kau tau tentang keadaan yang terjadi dibenua iblis?”
“Jika kau bertanya seperti itu, aku tidak mengetahuinya.”
“Begitu. Bagaimana jika benua iblis itu sebenarna adalah tempat yang tak layak untuk ditempati.”
“Apa maksudmu?”
“Mereka menyerang untuk mencari tempat yang lebih layak, mereka menyerang untuk bisa bertahan hidup. Tempat mereka yang tak layak ditinggali, mereka sudah tidak bisa bertahan lagi oleh karena itu mereka mulai menyerang. Jika kejadiannya seperti itu, apa yang akan kau pilih? Membunuh para iblis karena mereka ingin menyelamatkan penduduk mereka sendiri dari keadaan sulit yang mereka hadapi, atau membiarkan mereka menguasai beberapa daerah?”
Mendengar pernyataan itu sudah jelas aku terkejut.“Tunggu, jadi sebenarnya tujuan mereka bukan untuk menguasai dunia? Tapi hanya untuk mencari kesejahteraan bagi rakyatnya saja, begitu?”
“Iya.”
“Tapi, bagaimana jika mereka memiliki tujuan lain?”
“Oleh karena itu aku ingin melakukan sesuatu.”
Aku memegang tangannya dengan erat. “Jangan.” Saat dia berkata seperti itu, aku merasa kalau dia akan melakukan hal yang bisa membahayakan dirinya. Aku mengerti sekarang, kenapa pangeran ingin aku mengawasinya.
“Aku ingin memastikan hal itu, sebelum aku mengambil keputusan.”
“Meskipun begitu, mereka adalah iblis mereka adalah musuh.”
“Aku mengerti dengan hal itu, tapi jika aku tidak memastikan tujuan mereka aku hanya akan jadi seorang pembunuh yang tak kenal ampun jika sampai aku membunuh mereka. Jika alasan mereka hanya ingin mengsejaherakan ras mereka, aku akan memberikan bantuan, tapi jika tujuan mereka berbeda, aku memiliki alasan untuk melakukannya.”
“Tapi, itu sangat berbahaya kau tau.”
“Aku sudah tau’kok.”
“Jika kau sudah tau kenapa kau masih ingin melakukannya?!”
“Aku tak ingin membunuh orang lain tanpa alasan, aku tak ingin menjadi pembunuh yang membunuh karena rasa akan haus darah. Jika harus membunuh, setidaknya aku ingin tau apa yang sebenarnya mereka inginkan dan alasan mereka.”
“Jika seperti itu, bukankah kau juga memiliki alasan. Kau harus melindungi orang-orang yang mempercayaimu dan juga keluargamu. Bukankah kau memiliki alasan untuk bertarung, kenapa kau ingin melakukan hal berbahaya seperti ini?!”
“Tapi…”
“Aku membencimu!! Sikapmu yang seperti ini, aku sangat membencinya.” Aku mengucapkannya, kata yang seharusnya tidak aku ucapkan.
“Begitu, ya. Maafkan aku.”
Ia menunjukkan ekspresi yang tidak ingin aku lihat darinya. “M-maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk…”
“Tidak masalah, lagipula disini aku juga yang salah. Haaaaa, baiklah. Sepertinya, pemusnahan memang harus dilakukan.”
Mendengar hal itu membuat dadaku terasa sakit. “Aku mohon, maafkan aku.”
“Kau tidak salah, kenapa harus meminta maaf.”
“Maaf, maaf, aku minta maaf.” Tanpa aku sadari air mataku menetes. “Aku minta maaf, maafkan aku. Aku mohon, maafkan aku.”
Ari memelukku dan mengelus kepalaku. “Tidak masalah, kau tidak salah. Kau benar, aku memiliki alasan untuk melawan merek, tapi kau tau, sepertinya dosa karena kematian mereka nanti sepertinya akan dilimpahkan padaku.”
Bukan hal semacam ini yang aku inginkan, dia akan menjadi seorang yang tercatat karena memusnahkan sebuah ras. “Maafkan aku atas keegoisanku, kau bisa melupaknnya. Aku mohon.” Bukan seperti ini yang aku inginkan.
“Iona.”
“Tidak apa-apa, jika kau ingin melakukannya aku tidak akan melarangmu. Tapi tolong, jangan tujukkan wajah seperti itu. Aku tidak bisa menatapmu jika kau seperti itu, itu sangat menyakitkan. Aku mohon…”
Kiss.
Dia menciumku. “Bagaimana sekarang, apa kau sudah bisa kembali menatapku?”
Aku menatap wajahnya. Dia tersenyum, wajah dengan kesedihan yang mendalam yang ia tunjukkan lenyap digantikan dengan sebuah senyuman yang begitu hangat. “Terimakasih. Aku mencintaimu.”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Esok harinya.
Di pagi hari yang cerah, markas khusus.
Di markas, hanya ada aku dan juga Lucy disini. Besok adalah hari dimana aku akan berangkat menuju ke benua HalfHuman.
“Kau terlihat lebih bahagia hari ini, apa yang sudah terjadi?” (Lucy)
“Tidak ada, mungkin hanya perasaanmu saja.”
“Perasaanku atau tidak, wajahmu itu membuatku tidak tenang. Jika memang tidak terjadi apa-apa berhenti senyum-senyum sendiri seperti itu. Itu menjijikkan.”
“Hey, jangan bicara seperti itu. Itu menyakitiku.”
“Lalu, apa yang terjadi?”
“Tidak ada yang spesial, hanya sesuatu yang biasa dilakukan oleh suami istri.”
“Hmmmm, mencurigakan. Tapi sudahlah, setidaknya aku sudah mengerti garis besarnya.”
“Oh ya, tumben kau tidak ke perpustakaan.”
“Ria sedang tidak ada, dia ada tugas akademi jadi dia tidak bisa datang hari ini.”
“Hmmm, kau kesepian, ya.”
“Aku tak akan mengelak dari penyataan itu.”
“Hoooo…”
“Ngomong-ngomong, tentang hal yang pernah kita bicarakan sebelumnya. Apa pilihanmu?”
“Kau membahasnya lagi, rahasiakan hal itu darinya.”
“Aku bisa melakukannya, tapi jika kondisinya semakin memburuk dan kau melakukan hal konyol aku akan memberitahunya.”
__ADS_1
“Iya iya, aku mengerti. Lakukan saja sesukamu.”
“Ya, ini juga adalah sebuah perjanjian, aku tak akan mengingkarinya.”
“Begitukah?”
“Kau meremehkanku.”
Tepat saat ini, sebuah goncangan besar terjadi. Karena hal itu kami berdua bergegas keluar dari ruangan.
Beberapa saat kemudian.
Goncangan besar itu berhenti.
“Hmmm, gempa yang cukup besar.”
“Ari, kau menyadarinya?”
“Ya, tapi aku harap itu bukan seperti yang aku bayangkan.”
“Sebuah kisah tentang monster legendaris yang pernah hidup di daratan dunia ini, itu hanyalah sebuah cerita saja tak ada yang bisa membuktikannya. Konon langkah kakinya dapat menyebabkan getaran yang hebat dan kibasan ekornya dapat meluluhlantahkan daratan dengan sangat mudah.”
“Kau juga membacanya.”
“Itu adalah salah satu kisah yang aku suka, seorang ksatria berhasil menyegelnya dan mengurungnya didalam tanah. Besarnya hampir menyamai sebuah pulai besar dan kekuatannya sangat kuat.”
“Haaaa, aku harap monster seperti itu tidak muncul sekarang disaat-saat seperti ini.”
“Ari, ini mengenai soal hal yang pernah kau bicarakan kemarin, tentang ras iblis yang mirip dengan manusia. Apa kau sudah mendapatkan jawabannya?”
“Iya, aku akan pergi untuk menanyakan hal itu langsung. Lagipula sepertinya aku mengetahui cara yang cocok untuk bisa berbincang dengannya.”
“Begitu, kau sudah meminta izin putri?”
“Ya, meskipun awalnya dia menolak tapi entah kenapa dia mengizinkanku. Tapi, dengan syarat aku harus kembali secepatnya setelah selesai, dan tidak boleh terluka sedikitpun.”
“Begitu. Jika itu kau, pasti akan mudah. Kalau begitu, aku yang akan mengurus sisanya. Kapan kau akan berangkat?”
“Setelah aku menyampaikan kabar aliansi di benua HalfHuman.”
“Aku memiliki sedikit perubahan rencana tentang hal itu.”
“Huh?”
Beberapa menit setelah Lucy menjelaskan padaku.
“Eh?!!! Iona akan ikut?!”
“Ajak saja dia, aku yang akan mengurus aliansi di kerajaan lain.”
“Tunggu, itu sangat berbahaya. Aku tak tau apa yang akan aku alami disana, aku takut kejadiaanya sama seperti saat berada di bangsa elf. Saat itu aku sendirian dan aku bisa mengatasinya, tapi jika ada orang lain…”
“Kau berarti tidak bersedia mengajak orang yang sudah bersumpah setia padamu?”
“B-bukan begitu, hanya saja aku takut itu hanya akan membahayakannya.”
“Itu sudah menjadi tugasmu untuk melindunginya. Lagipula saat aku bilang kalau dia bisa pergi bersamamu dia terlihat senang, apa kau rela membiarkan kesenangannya itu hancur.”
“Kau itu, sialan.”
“Ya, terima saja. Kau sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Serahkan yang ada disini padaku, aku bisa mengurusnya.”
“Kalau begitu, sudah diputuskan kalau putri akan ikut denganmu besok.”
“Iya iya, terserah kau saja.”
Sore hari.
“Lucy, kapan istana langit akan tiba di benua iblis?”
“Hmmm, cukup lama. Sekitar 15 hari lagi jika itu sesuai dengan jadwal, jika ada perubahan kecepatan angin mungkin bisa diperpendek sekitar 2-4 hari tergantung kecepatan dan lama durasi anginya.”
“Hmmm, sekitar setengah bulan, ya.” Dengan Istana langit memakan waktu yang lama, sedangkan jika memaksa menaiki Dravin, kemungkinan akan sangat lama.
“Tidak perlu terburu-buru, masih ada banyak hal yang bisadilakukan sebelum istana langit sampai di benua iblis. Oh ya, bagaimana dengan hal itu?”
“Huh? Hal itu apa?”
“Itu, yang pernah aku bahas sebelumnya.”
“Yang mana? Memangnya kau pernah membahas apa denganku?”
“Itu, saat sebelum acara pernikahanmu dimulai.”
“Huh? Yang mana? Aku tidak mengingatnya.”
“Jangan-jangan ingatan itu juga ikut hilang.”
“Kemungkinan.”
“Kenapakau bisa santai seperti itu, kaget dikit kek.”
“Mau bagaimana lagi, aku sendiri tidak ingat. Untuk apa aku kaget dengan hal yang aku lupakan.”
“Sudahlah.”
“Kalau boleh tau, waktu itu apa yang kau bahas?”
“Tentang siapa yang akan menjadi raja selanjutnya untuk kerajaan ini.”
“Hmmm, jadi itu.”
“Kau ingat?”
“Tidak, sudah aku bilang aku lupa.”
“Kenapa responmu seperti itu?”
“Ya, jika aku menjadi suami Iona aku harus mengurus kerajaan, tapi karena itu merepotkan…”
“Stop, aku sudah pernah mendengar hal itu darimu.”
“Begitu, jadi apa yang sebenarnya waktu itu kita bahas?”
“Anakmu dan juga putri, jika kau tidak ingin menjadi raja maka yang akan menjadi raja selanjutnya adalah anakmu.”
“Hmmm, jadi itu yang kita bahas sebelumnya, ya.”
__ADS_1
“Untuk orang yang lupa, kau sama sekali tidak terkejut.”
“Ya, mau bagaimanapun cepat atau lambat hal seperti itu memang harus terjadi.”
“Hoooo, jadi kau sudah membulatkan tekatmu. Jadi, kapan aku bisa jadi seorang paman? Aku tak sabar menantikannya.”
“Sialan kau, jadi itu tujuanmu menanyakan hal ini.”
“Hahahaha, setidaknya responmu masih sama seperti yang sebelumnya. Ngomong-ngomong tentang anak, kau ingin berapa?”
“Kau yakin menanyakan hal itu, itu bukan sesuatu yang harus dibicarakan dengan orang lain, lo.”
“Hmmm, kalau begitu aku ganti pertanyaannya. Apa Iona akan menggunakan nama keluargamu?”
“Eh? Kau bertanya hal itu?”
“Ya, jika seorang gadis menikah maka dia akan menggunakan nama keluarga dari suaminya. Tapi dalam kasus ini, kau tidak memiliki keluarga didunia ini, bukankah itu sedikit membingungkan. Selain itu, prfff… Ari L. Thorwn terdengar konyol jika digunakan olehmu.”
“Maaf jika manaku tidak cocok dengan hal itu. Untuk itu, mungkin terserah padanya.”
“Terserah padanya?”
“Jika dia masih ingin menggunakan nama keluarganya, aku tidak akan mempermasalahkannya sebaliknya jika dia ingin menggunakan nama keluargaku aku juga tidak masalah. Selain itu, Touji Ari itu adalah namaku meskipun aku sangat membenci orang tuaku tapi nama keluarga ini tidak ada hubungannya dengan hal itu.”
“Hmmm, begitu, aku mengerti. Tapi, aku tak pernah tau kalau kau membenci orang tuamu sendiri.”
“Bagaimana bilangnya, ya. Mereka mungkin tak sengaja melahirkanku, dan merawatku tanpa cinta. Selain itu, sejak kecil aku tidak pernah mendapatkan yang namanya kasih sayang, sejujurnya aku baru merasakan sebuah kehangatan keluarga didunia ini, saat aku berada ditubuh Iona. Saat itu aku sempat berfikir, ahhh, jadi ini ya sesuatu yang tak pernah aku dapatkan dari orang tuaku. Begitu.”
“Ceritamu menyedihkan, aku tak menyangka kalau kau mengalami hal sulit seperti itu.”
“Ya, sejak usiaku 15 tahun, aku sudah mulai bekerja sampingan. Masuk ke sekolah dengan biaya yang murah dengan hasil kerja paruh waktuku, aku kehilangan hal yang seharusnya anak-anak dapatkan pada saat itu. Bermain, bersenang-senang, memiliki seorang pacar, menikmati masa muda. Aku kehilangan kesempatan untuk menikmati semua itu.”
“Jadi itu alasanmu menyuruhku untuk mencari pasangan.”
“Ya, bisa dibilang seperti itu. Sebenarnya aku baru menyesalinya setelah kematianku.”
“Hmmm… Oh ya, kalau boleh tau sejak kapan kau mulai menyukai putri?”
“Aku harus menjawabnya?”
“Tentu saja. Aku penasaran.”
“Haaaa, Iona saja belum mengetahuinya.”
“Kau tidak memberitahunya?”
“Dia tidak pernah menanyakannya, jadi aku anggap dia tidak tertarik.”
“Bisa-bisanya kau berkata seperti itu. Sudahlah jadi cepat katakan, sejak kapan kau mulai menyukai putri?”
“Jika kau bilang seperti itu. Sejak kapan aku menyukainya, aku tak tau kapan.”
“Eh, bisa seperti itu?”
“Hmmm, ya sejujurnya aku tak ingat kapan. Tapi, mungkin sejak pertama kali aku melihatnya.”
“Itu berarti saat kau pertama kali berada didunia ini? Atau saat kau datang sebagai Ari kedunia ini?”
“Pertama kali kedunia ini, saat aku melihat diriku sebagai Iona, aku selalu memikirkannya.”
“Memikirkannya?”
“Iya. Setelah hidup sebagai dirinya selama beberapa tahun aku selalu berfikir, apa gadis ini bisa bahagia, ya. Siapa yang bisa membuatnya bahagia, apa dia bisa merawatnya, apa dia mampu untuk menjaganya, apa dia siap untuk selalu membuatnya senang, dan yang paling penting, apa dia bisa selalu memberikan cintanya padanya. Itu adalah hal yang selalu aku pikirkan, sebelumnya aku bertemu denganmu aku pikir kau adalah orang yang cocok.”
“Heee, aku berfikir seperti itu.”
“Ya, sebelum akhirnya kau membongkar identitasku, sejak saat itu dibandingkan menjadi kekasihnya kau akan lebih baik jika menjadi temannya. Seperti itu.”
“Hmmm, jika aku juga boleh jujur. Ketertarikanku pada putri lenyap saat mengetahui hal itu, ya meskipun sedikit sakit hati karena sudah tertipu tapi ternyata kesenangan yang aku dapat jauh lebih hebat. Mungkin, jika aku menjalin kasih dengan putri aku tak akan mendapatkan pengalaman yang luar biasa seperti itu.”
“Selain itu, seandainya Iona mendapatkan kekasih aku juga berencana untuk tak menggangu kehidupannya saat dia menemukan orang yang dia cintai. Saat dia menemukan orang yang dia suka, aku berencana untuk pergi dari tubuhnya tapi nyatanya saat kesempatan itu datang aku malah memilih untuk hidup disini. Itu terlihat seperti aku memang tak bisa meninggalkannya.”
“Kau sangat mencintainya?”
“Sama sepertimu yang mencintai Ria, seperti itulah. Ayolah, kau dan aku ini memiliki kemiripan, setidaknya dalam beberapa hal. Kau bisa tau apa yang aku pikirkan hanya dengan melihatku.”
“Itu juga berlaku padaku.”
Cukup lama setelah itu.
Goncangan besar terjadi lagi dan beberapa saat kemudian goncangan itu berhenti.
“Ari…”
“Cih, ini menyebalkan.” 2 gempa besar terjadi dalam 1 hari.
“Sepertinya sudah ada sesuatu yang akan terjadi.”
“Sepertinya segelnya sudah mulai melemah.”
“Monster yang disegel?”
“Kau pasti tau kalau apa yang ada di perpustakaan semua itu adalah sebuah kisah nyata, baik novel ataupun bacaan yang ada disana termasuk kisah tentang monster itu juga.”
“Aku ingin mengabaikan fakta itu, tapi setelah merasakannya sendiri sepertinya sesuatu yang lebih berbahaya akan segera muncul.”
“Perang melawan iblis, dan kebangkitan monster legendaris. Ini semakin menyusahkan saja.”
“Lalu Ari, bagaimana?”
“Hmmm, melawan raja iblis, jika bisa aku ingin menghindari penyerangan itu dan lebih memilih untuk memfokuskan diri pada monster yang sudah pasti akan dapat meluluhlantahkan seluruh daratan ini.”
“Kau ingin membatalkannya?”
“Itu adalah sesuatu yang sulit dilakukan, selain itu aku sudah mendapatkan dukungan dari bangsa Drawf. Satu-satunya cara hanyalah mengancam raja iblis untuk menghentikan penyerangan.”
“Kau bisa melakukannya? Meskipun kau kuat, bukankah raja iblis jauh lebih kuat dan pengalamannya pasti jauh lebih banyak.”
“Ya, aku mengakui itu. Pengalamanku dalam bertarung hampir tidak ada, semua yang aku gunakan selama ini hanyalah membuat sebuah strategi dan saat aku ikut terjun dalam pertempuran semuanya jadi kacau.”
“Lalu?”
“Ya, kau bisa bayangkan. Saat semua ras bertarung melawan raja iblis, ada musuh lain yang datang dan membasmi mereka semua. Bukankah lebih baik jika bersatu dan mengalahkan musuh yang sudah pasti.”
“Aku mengerti, kalau begitu lakukan apa yang ingin kau lakukan dan jangan membahayakan dirimu.”
“Iya, tentu saja, jika sampai terjadi apa-apa padaku Iona pasti akan sedih, benar’kan.”
__ADS_1
“Ya.”
“Kalau begitu, sepertinya aku harus bersiap-siap untuk kepergianku besok.” Besok adalah waktunya, aku akan pergi ke benua HalfHuman.