Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
38


__ADS_3

Markas khusus.


“Haaaa.”


“Kau kenapa? Mulai tadi menghela nafas terus, apa kau sedang tidak enak badan?” (Lucy)


“Aku hanya mengkhawatirkan Iona.”


“Wakil komandan, putri baru kau tinggalkan belum sampai 1 minggu tapi kau sudah merindukannya.” (Ria)


“Haaaa, mau bagaimana lagi. Aku mengkhawatirkannya, bagaimana jika dia tidak memiliki teman disana, bagaimana jika dia dibully disana. Aku mengkhawatirkan itu.”


“Itu sudah terlalu berlebihan, lo wakil komandan. Putri Iona itu adalah gadis yang hebat, aku yakin dia bisa mengatasi semua masalah seperti itu sendiri. Lagipula dia sudah banyak belajar hal darimu, jadi seharusnya kau tidak perlu mengkhawatirkannya.”


“Maaf mengganggu, wakil komandan ada yang ingin menemui anda.” (Grild)


“Huh?”


Beberapa saat kemudian.


Seorang gadis yang terasa tak asing bagiku. “Ari, akhirnya aku menemukanmu.”


“Wah, aku tak menyangka kalau wakil komandan akan berselingkuh secepat ini.” (Ria)


“Hmmm, aku juga tidak menduga.” (Lucy)


“Kalian salah paham!!”


“Apa kau tidak mengenaliku, aku adalah orang yang dipenjara bersamamu.”


“Dipenjara bersamaku?” Aku mencoba untuk mengingatnya. “Ahhh, Ritose.”


“Iya, syukulah aku pikir kau sudah lupa.”


“Ya, kau berbeda sekali dari sebelumnya jadi aku tidak menenalimu. Lalu, apa yang membuatmu jauh-jauh kemari?”


“Hey, setidaknya kenalkan dulu gadis ini pada kami.” (Lucy)


“Iya, itu benar. Apa jangan-jangan dia selingkuhanmu wakil komandan. A-aku tak menyangka kau akan melakukan itu padahal belum ada 1 minggu sejak putri pergi.” (Ria)


“Sudah aku bilang kalian salah paham. Ya, seperti yang kalian dengar kami bertemu dipenjara.”


“Dipenjara?” (Ria)


“Maksudmu saat penyelamatanmu di kerajaan Victoria?” (Lucy)


“Yup, aku bertemu dengannya disana.”


“Ngomong-ngomong, dari kerajaan mana kau?”


“Aku berasal dari kerajaan Norwn.”


“Kerajaan Norwn, bukankah itu jaraknya sangat jauh darisini.”


“Sangat jauh? Seberapa jauh?”


“Kerajaan itu mungkin jika menggunakan Dravin akan sampai setelah 3 minggu dan jika menggunakan kereta kuda akan memakan waktu berbulan-bulan.”


“Wah, eh... Lalu, ada perlu apa kau datang jauh-jauh kemari? Dan lagi, darimana kau tau kalau aku ini ada dikerajaan ini?”


“Aku tau dari beberapa prasukan yang menyelamatkanmu, dan juga nama putri Iona serta pangeran Lucy.”


“Hmmm, jadi begitu. Lalu, apa tujuanmu datang kemari?”


“Menikahlah denganku!!!”


“Eh?!”


“EHH!!!!!” Bukan hanya aku, tapi Ria dan juga Lucy terkejut mendengar hal itu.


“T-tunggu sebentar, kenapa kau bisa dengan mudah mengucapkan itu?”


“Kau sudah punya pasangan?”


“Iya.”


“Kalau boleh tau, siapa?”


“Putri kerajaan ini.”


“Begitu, ya.”


“Weew, aku tak menyangka kau akan mengatakan itu.” (Lucy)


“Aku juga.” (Ria)


“Selama liburan, apa ada sesuatu yang terjadi diantara kau dan putri Iona?”


“Eh? T-tidak ada’kok. Tidak ada yang terjadi, iya tidak ada yang terjadi.”


“Kau mengulanginya sampai 2 kali, pasti ada sesuatu yang terjadi… Kau menelan ludah, sudah kuduga pasti ada yang terjadi diantara kau dan putri.”


“S-sudahlah, jangan membahas hal itu. Ritose, apa sebenarnya tujuanmu datang kemari, tidak mungkin kau jauh-jauh kemari hanya untuk mengatakan itu.”


“Kau mengalihkan pembicaraan.”


“Sebenarnya…” Ritose mulai menceritakannya, alasan kenapa dia datang jauh-jauh kemari.


Cukup lama setelah itu.


“Hmmm, begitu, ya. Jadi saat ini kerajaan tempatmu tinggal sudah hancur, kau datang kemari untuk menemui Ari dan ingin meminta bantuannya, seperti itu.” (Lucy)


“Iya.”


“Bisa atau tidak aku membantumu, kerajaanmu sudah hancur adalah sebuah hal yang berbeda. Saat ini mungkin semua rakyat yang ada dikerajaan itu yang selamat pergi menuju ke kerajaan lain untuk meminta perlindungan.”


“Begitu, ya.”


“Jika kau ingin tempat tinggal, aku bisa memberikannya, tapi jika melakukan hal yang mustahil seperti membantu mengalahkan kerajaan yang menghancurkan kerajaanmu. Lupakan saja.”


“T-tidak, itu sudah cukup. Terimakasih.”


“Ria, bisa antarkan dia kedapur, berikan dia makanan.”


“Baik, ikut denganku.”


“Ya.” Mereka berdua pergi


“Hey, kau menyuruh kekasih orang untuk melakukan tugas...”


“Lucy, bagaimana menurutmu?”


“Hmmm, dia cukup manis dan juga lumayan cantik dia juga punya tubuh yang bagus.”


“Bukan itu, dasar otak mesum. Tapi tentang ceritanya tadi, bagaimana menurutmu?”


“Ohhh, itu. Jika dia kesini hanya untuk mencari tempat tinggal, itu sangat mencurigakan. Selain itu, kerajaan ini tidak memiliki hubungan dengan kerajaan yang ada ditimur. Jika hanya karena dia mengenalmu, itupun juga aneh. Menurutku, dia menyembunyikan sesuatu. Itu hanya menurutku, benar atau tidaknya aku juga tidak tau. Tapi sebaiknya kau waspada dengannya, dan yang lebih penting jangan sampai hatimu berpindah kelain hati.”


“Dasar, kau itu.”


“Hahaha, tapi aku sedikit penasaran. Kau dan putri sudah melakukannya?”


“A-apa yang kau katakan. Mana mungkin mela…”


“Hmmm, seperti yang aku duga. Tak kusangka ternyata putri agresif juga.”


“Hey, aku belum selesai bicara.”


“Mau bicara atau tidak, aku sudah tau dari wajahmu. Meskipun kau tak mau bicara atau tidak, aku sudah tau. Selain itu aku yang menyarankan kau untuk pergi, jadi aku sudah tau hal seperti itu akan terjadi.”


“Kau menyeramkan.”


“Itu tidak semenyeramkan orang yang ingin menghancurkan sebuah kerajaan dengan sangat mudahnya.”


“Kau mengetahuinya.”


“Para ketua regu membicarakannya, kejadian aneh yang terjadi dikerajaan Guil. Aku pikir itu ulahmu, lagipula saat ini tidak aneh jika kau bisa melakukan hal seperti itu. Lalu, apa alasanmu melakukan itu?”


“Raja itu membuat Iona terluka.”


“Begitu, aku mengerti.”


“Kau mengerti?”

__ADS_1


“Aku juga memiliki Ria, jika sampai orang lain melukainya aku pasti juga akan melakukan hal yang sama denganmu. Untuk itu aku mengerti alasanmu melakukan hal itu. Tapi, sepertinya ini menjadi sedikit rumit. Kau paham maksudku’kan.”


“Kerajaan lain akan mulai mewaspadai Thorwn.”


“Kau bisa menghancurkan kerajaan dengan mudah, itu adalah faktanya. Tapi kabar baiknya, mungkin mereka akan lebih berhati-hati jika ingin melawan kerajaan ini, selain memiliki pasukan yang hebat wakil komandannya juga memiliki kekuatan yang besar. Seperti itu.”


“Aku harap bisa semudah itu.”


Sore hari.


Aku mengajak Ritose untuk sedikit berbicara. “Ritose, kalau boleh tau orang tuamu ada dimana?”


Saat berkata seperti itu ia menundukkan kepalanya. “Mereka sudah…” Dari ekpresinya aku sudah tau.


“Begitu, maaf sudah menanyakan hal itu.”


“Tidak apa-apa.”


“Hmmm, jadi kau datang kemari sendiri, ya. Biasanya kau meningap dimana?”


“Aku biasanya tidur dihutan, jika ada orang baik aku dibiarkan tidur dirumahnya.”


“Kau kemari berjalan kaki?”


“Iya, kadang juga aku diberikan tumpangan jika arahnya sama.”


“Sepertinya kau sudah banyak mengalami hal yang sulit.” (Lucy)


“Jika boleh, aku juga ingin bekerja.”


“Bekerja?”


“Iya, aku tidak ingin hanya ingin mendapatkan semuanya dengan percuma. Berikan aku pekerjaan, apapun akan aku lakukan.”


“Hmmm, memangnya apa yang bisa kau lakukan?”


“Membunuh.”


“M-membunuh.” Ria dan juga Lucy terkejut mendengar hal itu.


“Haaaa, dia adalah seorang mata-mata, dan dia juga lumayan hebat dalah hal membunuh. Alasannya dia ditanggap dikerajaan Victoria karena ingin membunuh raja, tapi aku melihat keahliannya. Cukup mengesankan.”


“Kenapa kau tidak mengatakan hal itu dari awal!!!”


“Kalian tidak ada yang bertanya.”


“Mana mungkin kami sempat berfikiran untuk menanyakan hal seperti itu.”


“Haaa, sudahlah. Ritose, kalau mau kau bisa bekerja dibawah bimbingan para ketua regu, tentu saja selain dibayar kau juga akan dilatih oleh mereka.”


“Dilatih? Aku sudah banyak berlatih.”


“Hmmm, kau terlihat percaya diri. Bagaimana kalau kita lihat kemampuanmu?”


“Boleh.”


Area latihan.


“Baiklah, siapa yang akan melawannya?” Para ketua regu berkumpul dan ini dilihat oleh semua pasukan yang ada disini.


“Grild, kau saja yang maju.” (Laren)


“Eh, aku tidak mau. Famus, kau saja.” (Grild)


“Aku sedang tidak enak badan, bagaimana dengan Dirk?” (Famus)


“Baiklah, kalau begitu aku saja.” Famus berdiri dan masuk kearena.


“Jadi Dirk, ya yang akan maju.”


“Wakil komandan, bolehkah aku bertanya sesuatu?”


“Silahkan.”


“Tujuan pertandingan ini, untuk apa?”


“Hmmm, gadis yang akan kau lawan dia akan menjadi murid kalian, jadi aku ingin kalian menunjukkan perbedaan kemampuan kalian.”


“Begitu.”


“Eh? Kalau aku, biasanya menggunakan pedang.”


“Pedang, ya. Karena menggunakan pedang bisa berbahaya, gunakan pedang kayu saja. Itu sudah cukup’kan.”


“Iya.”


Mereka berdua mulai mengambil posisi. “Hmmm, baiklah. Persiapkan diri kalian. Siap, mulai!!”


Serangan pertama dimulai oleh Ritose. Serangan yang tiba-tiba dan cukup cepat, tapi Dirk berhasil menahannya dengan mudah. “Gerakannya lumayan juga. Sepertinya dia terbiasa melakukan hal seperti ini.” (Lucy)


“Iya, aku pikir juga seperti itu.” Setiap gerakan yang dia lakukan begitu kuat dan juga ia terlihat seperti sudah terbiasa menebas senjata seperti itu.


“Tapi, gerakannya terlihat begitu kasar dan mudah ditebak. Sepertinya tidak ada yang melatihnya, meskipun ada kemungkinan besar diadilatih karena gerakannya terirama tapi dia tidak begitu diperhatikan oleh orang yang melatihnya.”


“Kau hebat sampai bisa menduga seperti itu hanya dengan melihat sedikit.”


“Aku hanya menilai dari beberapa faktor yang aku lihat, benar atau tidaknya aku tidak berani untuk menjaminnya.”


Tak berlangsung lama, pertandingannya berakhir dan Ritose kalah.


“Kau memiliki bakat, tapi sangat disayangkan kau tidak memiliki guru yang tepat. Tapi tenang saja, kami akan melatihmu menjadi seorang yang hebat. Benar’kan wakil komandan.”


“Iya.”


“K-kalau begitu, mohon bantuannya untuk kedepannya.”


Hari ini para ketua regu mendapatkan 1 murid baru yang memiliki bakat, membantu mengasah sebuah pedang agar tajam milik muridnya adalah tugas dari seorang guru. Aku ingin melihat sejauh apa perkembangan yang akan ditunjukkan oleh Ritose selama berada dibawah pelatihan para ketua regu.


Beberapa minggu setelah itu.


Di ruang rapat.


Kami sedang membahas sesuatu tentang bisnis, dan pembahasan itupun berlangsung dengan sangat cepat. Rapatnya sudah selesai tanpa aku sadari.


“Haaaaa, harus berapa lama lagi aku menunggu!! Jika lebih lama dari ini aku tidak akan bisa bertahan!!”


“Hey, ayolah. Setiap hari kerjaanmu mengeluh terus, ini baru 1 bulan sejak putri pergi dan sikapmu berubah jauh seperti ini.” (Lucy)


“Putri pergi?” (Ritose)


“Iya, putri saat ini sedang berada di kerajaan Guil.”


“Kerajaan Guil? Kenapa?”


“Bisa dibilang untuk mengejar impiannya.”


“Begitu.”


“Haaaaa, apa aku masih belum boleh melihatnya?”


“Jangan seperti itu wakil komandan, jika kau mendatanginya terlalu sering nanti putri tidak akan betah berada disana. Bagaimana nanti jika dia tiba-tiba saja ingin pulang karena terlalu sering bertemu denganmu?” (Ria)


“Tentu saja aku akan membawanya kembali, memangnya apalagi..”


“Dasar. Pokoknya untuk saat ini kau tidak boleh pergi kemana-mana, ingat itu.”


“Aaaaaahhhh!!! Ini menyebalkan.”


“Tenanglah, saat waktunya sudah tiba aku akan memberitahumu. Sebaiknya untuk mengisi waktu luang, kerjakan pekerjaanmu.”


“Aku sudah mengerjakan semuanya.”


“Begitu. Hey, mau kemana kau.”


“Menenangkan diri, aku akan kembali sebelum sore hari.”


---


Di tengah hutan.


“Haaaa, setidaknya disini aku bisa sedikit tenang.” Aku berada ditempat dimana aku pernah mengajak Iona kemari, aku berbaring dibawah pohon besar itu dan menikmati angin yang berhembus tenang. “Ini, menyebalkan.” Pikiranku tidak bisa tenang sejak saat aku meninggalkan Iona di kerajaan itu.


Yang dikatakan oleh Lucy memang benar, jika aku terlalu sering kesana mungkin itu akan mempengaruhi pembelajaran Iona, tapi aku sendiri tak bisa menahannya. “Haaaa, aku ingin istirahat sebentar disini. Setidaknya untuk sementara waktu, aku bisa menahannnya.”

__ADS_1


Sore hari.


Di markas.


“Kemana saja kau!! Kau bilang akan pulang sebelum sore.” (Lucy)


“Ahahaha, maaf aku ketiduran.”


“Dasar. Aku baru saja mendapatkan pesan dari putri.”


“Dari Iona? Apa yang dia tulis, apa dia merindukanku?”


“Ya, setidaknya ada kata itu yang dia tulis dalam surat ini. Tapi yang lebih penting.”


Wajahnya menjadi sedikit cemas. “Lucy, ada apa? Apa ada sesuatu?”


“Kerajaan Guil ingin memulai penyerangan.”


“Penyerangan? Ke kerajaan apa?”


“Tania.”


“Tania?”


“Iya, kalau tidak salah kejadiannya beberapa tahun yang lalu. Kemungkinan besar Guil ingin kembali mengambil alih area miliknyayang sudah direbut oleh kerajaan Tania.”


“Abaikan saja hal itu, lagipula itu tidak ada hubungannya denganku. Itu adalah urusan kerajaan itu, aku tak peduli.”


“Setelah aku bilang kalau siswa akademi yang ada dikerajaan itu juga akan ikut serta, kau masih bilang tidak ada hubungannya denganmu.”


“Cih, menyeret siswa untuk melakukan hal yang tak seharusnya mereka lakukan. Raja itu, sepertinya aku memang harus membunuhnya.”


“Itu menyeramkan, kau tak perlu melakukan itu. Ada 2 pilihan yang bisa kau lakukan, dan pilihan itu akan berdampak pada kehidupan putri di kerajaan Guil.”


“Hmmm, membawanya kembali sampai perang mereka mereda, atau mengancam raja untuk tidak melakukan hal itu. Seperti itu?”


“Untuk point yang pertama benar, tapi untuk yang kedua sepertinya sulit, dan kenapa kau bisa berfikir seperti itu? Selain itu, mereka ingin merebut kembali tanah yang sudah seharusnya menjadi milik mereka, jadi sangat sulit untuk menghentikannya.”


“Maksudmu aku harus ikut turun tangan dalam masalah yang bukan aku buat, seperti itu?”


“Ya. Jika kau punya pilihan lagi, kau bisa melakukannya tapi seperti yang aku bilang tadi itu akan berdampak pada kehidupan putri dikerajaan itu.”


“Hmmm, jika aku membantu aku kemungkinan akan dianggap sebagai seorang penyelamat, tapi karena aku dan Iona memiliki hubungan ada kemungkinan akan ada yang memanfaatkan hal itu. Lalu, jika aku menghentikan itu, selain nama kerajaan ini Iona yang belajar disana kemungkinan besar juga akan mendapatkan perlakuan yang buruk. Seperti itu yang kau bilang berdampak?”


“Ya, semua pilihan itu tidak ada yang tidak akan berdampak pada putri. Tapi, semua itu tergantung pada pilihanmu.”


“Katakan saja, kau ingin aku membantu kerajaan itu’kan.”


“Hahahaha, apa salahnya membuat kerajaan itu berhutang pada kita. Bukankah itu hal yang bagus, dengan begitu kau tak perlu khawatir lagi dengan keadaan putri disana. Ya, seperti yang kau bilang, mungkin saja akan ada yang memanfaatkan hal itu tapi aku yakin dia juga akan dilindungi. Tentu saja karena jika sampai terjadi sesuatu padanya, kau pasti akan melakukan sesuatu, benar’kan.”


“Jika membahas hal seperti ini kau bisa memikirkannya sampai sejauh itu.”


“Pikiranmu saja yang tidak tenang, jika kau tenang seperti biasa mungkin masalah ini bisa kau selesaikan dengan mudah.”


“Kalau begitu, aku akan pergi.”


“Heeeeeiiii, tunggu. Jangan terburu-buru seperti itu, besok kau akan pergi. Sekarang siapkan pasukan dulu sebelum berangkat.”


“Aku harus menggunakan pasukan?”


“Tugasmu adalah untuk mengambil alih, bukan meratakan. Oleh karena itu pasukan dibutuhkan, bukan hanya soal kekuatan tapi ini juga termasuk dalam hal penting lainnya yang dibutuhkan dalam mengambil alih kekuasaan.”


“Hmmm, benar juga.”


Malam hari, diruang rapat.


Lucy, Ritose dan para ketua regu berkumpul disini.


“Hmmmm, baiklah, sesuai dengan kabar yang aku dengar dari Lucy yang dikirimkan oleh Iona. Kerajaan Guil ingin menyerang kekusaan kerajaan Tania untuk merebut kembali bagian kerajaan mereka.”


“Wakil komandan.” (Famus)


“Ya.”


“Bukankah itu urusan pribadi kerajaan Guil, kenapa kita membahasnya?”


“Hmmm, Iona menyukai kerajaan itu. Selain itu, para siswa juga harus ikut serta dalam pertempuran itu yang berarti Iona juga ikut.”


“Komandan ikut perang?!!”


“Aku ingin mencegah hal itu, tapi setelah memikirkan semua hal buruk yang akan terjadi, aku mendapatkan sebuah ide yang cukup bagus.”


“Ide yang cukup bagus?” (Grild)


“Ya, kita bisa membuat kerajaan itu berhutang pada kita.”


“Begitu, itu adalah ide yang bagus.”


“Aku akan bertindak seperti biasa, sebagai seorang yang mengatur strategi, jika ada sesuatu yang diluar kendali aku baru akan turun tangan.”


“Wakil komandan, apa kita akan menggunakan cara biasa?”


“Cara biasa?” (Ritose)


“Ahhh, kau belum tau, ya. Cara biasa, menghabiskan para penyihir musuh setelah itu menyerang mereka. Itulah cara yang biasa dilakukan.”


“Begitu, jika penyerang inti mereka habis makadampak serangan mereka akan sangat berkurang dratis dari seharusnya.”


“Ya. Jika kau mau, kau bisa ikut serta dalam pertempuran kali ini. Aku tidak akan memaksa, selain itu ini adalah waktu yang tepat untuk melihat hasil latihanmu.”


“Baik, aku akan ikut.”


“Bagus, kita akan menggunakan rencana biasa. Membunuh pasukan penyihir musuh dan menghabisi mereka, jika ada sesuatu yang diluar kendali atau hal lain yang membuat penyergapan gagal kalian harus mundur.”


“Baik.”


“Ritose, kau ingin masuk bagian regu mana? Para assassin atau ikut dengan ketua regu?”


“Tugas para assassin apa?”


“Mengeksekusi penyihir musuh dengan cepat tanpa terdeteksi. Setelah selesai, peran assassin berakhir dan mundur.”


“Lalu jika ketua regu?”


“Mengeksekusi seluruh pasukan musuh yang tersisa bersama dengan prajurit lain.”


“Kalau begitu, aku akan ikut dengan para ketua regu saja.”


“Baiklah. Kalau begitu sudah diputuskan. Famus, Laren, Grild, dan Dirk, seberapa cepat kalian bisa sampai ke kerajaan Guil?”


“Jika tidak ada hambatan mungkin sekitar 2 hari.” (Laren)


“Tapi, karena kita akan menggunakan hampir keseluruhan pasukan, mungkin akan memakan waktu 2 kali-lipat dari itu.” (Dirk)


“4 hari, ya.”


“Hey, kenapa kau tersenyum jahat seperti itu? Itu sangat menjijikkan. Pasti kau sedang memikirkan sesuatu yang kotor.” (Lucy)


“M-mana mungkin, sudahlah. Kita akan berangkat besok, aku akan menunggu kalian di kerajaan Guil, setelah sampai disana kalian bisa beristirahat sampai ada perintah lebih lanjut.”


“Baik.”


“Rapat hari ini selesai. Kalau begitu, kalian boleh bubar.”


“Baik.” Mereka semua pergi dan hanya tinggal aku dan Lucy disini.


“Lalu, dalam waktu 4 hari itu apa yang akan kau lakukan?”


“Hmmm, memikirkan rencana.”


“Memikirkan rencana atau menghabiskan waktu dengan putri.”


“T-tidak, tidak seperti yang kau pikirkan.”


“Haaaa, sekarang kau jadi mudah ditebak.”


“Iya, itu memang salah satunya. Tapi prioritasku adalah untuk membuat sebuah rencana yang matang disana.”


“Kau mengakuinya, tapi kenapa harus disana?”


“Aku belum tau berapa jumlah musuh yang ada ditempat yang akan kita serang, dan yang paling penting berapa banyak jumlah penyihir yang ada disana, aku tidak mengetahuinya. Setidaknya aku ingin mendapatkan informasi penting itu dari para petinggi atau tidak raja itu sendiri.”


“Begitu. Kau sudah kembali seperti biasanya.”

__ADS_1


“Karena ini menyangkut dengan Iona. Aku akan memikirkan rencana lebih lanjutnya disana, hari ini aku ingin istirahat dulu. Kalau begitu, sampai jumpa lagi besok.”


“Ya, sampai jumpa.”


__ADS_2