
Esoknya, siang hari.
Istana langit, perpustakaan.
“Eeee, Iona kau serius mau ikut?”
“Iya, aku ingin ikut. Apa tidak boleh?” Seperti yang dikatakan oleh Lucy kemarin, Iona ingin ikut denganku ke benua HalfHuman.
“Ehhh, ini mungkin akan sangat berbahaya lo.”
“Aku bisa menjaga diri.”
“Bukan itu maksudku.”
“Sudahlah Ari, kau tidak menolaknya ajak saja dia bersamamu.” (Lucy)
“Haaaa, baiklah. Kalau begitu, Iona ayo.”
“Ya.” Aku dan Iona keluar.
Diluar istana langit, di tepi halaman.
“Haaaa, apa kau sudah siap?”
“Iya.”
“Kalau begitu…” Aku menggendongnya.
“T-tunggu, apa kita akan melompat?”
“Tentu saja, sudahlah. Jika terlalu lama kita akan terlalu jauh, kalau begitu pegangan yang erat.”
“T-tung…”
Sebelum menyelesaikan ucapannya aku melompat.
Beberapa saat kemudian, aku mendarat dengan mulus.
Aku menurunkan Iona. “Iona, teriakanmu membuat telingaku sakit.”
“H-habisnya itu menyeramkan!!” Ia berteriak sekencang-kencangnya saat terjun barusan.
“Begitu, apa kau baik-baik saja? Apa ada yang terluka?”
“Tidak, hanya saja jantungku berdetak sangat kencang.”
Kakinya gemetar. “Kau bisa berjalan?”
“T-tentu saja.” Ia mencoba untuk menggerakkan kakinya. “M-maaf, sepertinya…”
“Sudah kuduga.” Karena tidak bisa berjalan akibat ketakutan barusan, aku kembali menggendongnya. “Jika kau sudah mendingan, bilang saja aku akan menurunkanmu.”
“T-terimakasih.”
“Hmmm, ini agak sedikit jauh dari tempat seharusnya kita turun.” Kami turun terlalu cepat dan alhasil kami turun sebelum berada dekat dengan kerajaan HalfHuman. “Sedikit olahraga sepertinya tidak masalah.”
Beberapa menit setelah itu.
Area hutan yang cukup berbahaya, kemungkinan ada monster yang sedang mengintai kami. “Ari, apa kau tidak takut saat terjun tadi?”
“Hmmmm, jika tidak bisa mendarat dengan selamat mungkin aku akan takut. Selain itu, jika aku tak memiliki sihir aku mungkin tak akan melakukan hal nekat seperti ini dan lagi sampai melibatkanmu dalam bahaya seperti ini. Aku tak mungkin akan melakukannya.”
“Begitu, ya.” Suasana menjadi hening selama beberapa saat, sampai kemudian. “Ari, ada sesuatu yang bergerak disemak-semak itu.”
“Huh?” Iona menunjuk kearah sebuah semak belukar. “Abaikan saja, mereka hanya monster yang ada dihutan ini. Selama kita waspada, mereka tak akan berani untuk menyerang.”
“Mereka berbahaya, kan.”
“Apa kau takut?”
“Hanya sedikit.”
“Hmmm. Iona, ambil ini.” Aku mengeluarkan senapan angin menggunakan sihirku.
“Ini.”
“Kau tau’kan cara menggunakannya.”
“Ya, sepertinya.”
“Pelurunya ada 5, jika kau takut kau bisa menembakkannya pada mereka.”
“B-baik.”
Dor.
“Bagaimana? Apa kena?”
“Sepertinya meleset, ini lebih susah daripada apa yang aku pikirkan.”
“Hmmm, begitu. Tapi sepertinya mereka sudah kabur.” Aku kembali melanjutkan perjalanan.
“Benarkah?”
“Iya.”
“Ari, bagaimana caramu menggunakan senjata ini dengan baik?”
“Jika kau bilang seperti itu, aku juga tak begitu tau. Tapi aku merasa saat memegang sesuatu aku bisa melakukannya.”
“Hanya itu?”
“Ya, hanya itu.”
“Curang, aku juga ingin tau cara menggunakannya. Ari, tolong ajari aku.”
“Hmmm, sepertinya itu sedikit sulit selain itu aku tak punya peluru karet, berbahaya jika menggunakan peluru asli.”
“Begitu, ya.”
“Jangan murung seperti itu, aku akan mengajarimu.”
“Benarkah?”
“Iya, tapi kau janji harus hati-hati.”
“Baik.”
“Kalau begitu, senapan sihir itu aku berikan padamu.”
“Eh, serius? Kau ingin memberikannya padaku, apa tidak apa-apa?”
“Iya, ambil saja. Selain itu aku sudah jarang memakainya, jadi aku tidak begitu membutuhkannya.”
“Terimakasih, aku akan merawatnya.”
“Iya, itu sudah jelas.”
“Eh?”
“Jika kau tidak merawatnya dengan benar senapan itu akan cepat rusak.”
“Tapi, kau jarang mengeluarkannya dan membersihkannya.”
“Aku menaruhnya di ruang dimensi milikku, tidak ada putaran waktu disana dan karena itu aku tak perlu repot-repot untuk selalu membersihkannya.”
“Itu curang.”
“Hahahaha, jika mau aku bisa mengajarimu caranya.”
“Tapi, aku tak memiliki sihir elemen kegelapan.”
“Hmmm, benar juga, ya. Sihirmu air dan angin’kan.”
“Iya.”
“Angin, ya.” Aku terpikirkan sesuatu. Aku memunculkan gerbang dimensi. “Iona, taruh senapan sihir itu kedalam ruang dimensiku.”
“Baik.”
“Nah, baiklah.” Setelah senapan sihirnya di taruh, aku mulai mencoba sesuatu. “Iona, pegangan.”
“Eh?”
Mengalirkan sihir angin keseluruh tubuh, dan menambahkan ledakan angin untuk membuat sebuah gaya dorong yang besar. “AAAAAHHH!!!!”
Beberapa saat kemudian.
“I-Iona, kau tidak apa-apa?” Aku terlempar karena eksperimen kecil barusan.
“Aku tidak apa-apa, terimakasih karena sudah menolongku.”
“Begitu. Kalau begitu, bisa pindah sebentar, aku tidak bisa bergerak.” Iona pindah dari atas tubuhku dan setelah itu aku mulai bangkit.
“Ari, apa kau baik-baik saja?”
“Y-ya, setidaknya tidak ada yang patah. Haaa, sepertinya barusan itu cukup berhaya.”
“Itu sudah jelas. Apa yang sebenarnya kau pikirkan, kenapa kau melakukan hal berbahaya seperti itu?! Jika terjadi sesuatu padaku bagaimana.”
Iona marah padaku. “Haaaa, maaf aku menyesal.”
“Kau tidak terlihat seperti orang yang sedang menyesal.”
“Ahahaha, tenang saja. Pelindung itu akan selalu aktif saat kau berada dalam bahaya, termasuk hal seperti tadi, jadi tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi padamu.”
“Kau tidak menyesal.”
“Haaa, baiklah. Ayo lanjutkan perjalanan.”
“Jangan mengabaikanku!!”
Setelah berjalan cukup lama kami akhirnya sampai di kerajaan HalfHuman.
Seperti biasa, ada pos penjagaan di gerbang masuk utama. “Cukup ketat juga pemeriksaannya.” Beberapa prajurit manusia setengah hewan menjadi penjaga gerbang masuk.
“Ari, bagaimana ini?”
“Hmmm, biar kupikir sebentar.” Aku mencoba untuk memikirkan beberapa cara yang bisa aku gunakan untuk masuk kedalam.
__ADS_1
“Ari, kenapa tidak pura-pura menjadi seorang pedagang keliling saja?”
“Aku rasa itu tidak akan berhasil, lagipula sebelumnya aku hampir ketahuan berbohong akibat menggunakan alasan itu.”
“Haaaa, jika seperti itu biar aku saja yang urus.”
“Eh? Kau serius?”
“Tentu saja, ayo cepat. Akan aku perlihatkan kemampuanku.”
Ini membuatku sedikit terkejut karena ia mulai berubah. ‘Sepertinya hal yang dia lakukan sebelumnya membuatnya sedikit berubah.’ Itu bukan hal yang buruk, malah itu adalah hal yang bagus.
Kami berjalan menuju ke pintu masuk.
“Berhenti.” Seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya, penjaga mencegat kami saat ingin masuk kedalam sebuah kerajaan.
“Maaf, tapi apa tujuan manusia seperti kalian datang ketempat ini?”
Mereka terlihat sopan. “Kami ingin berlibur, aku dengar disini banyak sekali tempat wisata aku ingin melihatnya. Selain itu, pengembara seperti kami sudah sangat banyak mengalami hal sulit sebelum mencapai tempat ini.”
‘Pengembara?’
“Kalian pengembara?”
“Iya.”
“Tapi pakaian kalian meragukan jika dikatakan sebagai pengembara.”
“Ahh, tentang itu pakaian ini adalah pakaian khusus yang kami buat untuk membuat dirikami merasa aman saat berada dalam bahaya sekalipun.”
“Meskipun begitu, sebagai seorang pengembara kalian tidak membawa barang apapun. Itu mencurigakan.”
“Tentang hal itu juga, sebenarnya suamiku ini adalah seorang penyihir dengan elemen gelap, jadi semua barang yang kami butuhkan ditaruh di ruang dimensi miliknya. Oleh karena itu kami terlihat seperti tidak membawa barang, tapi sebenarnya barang bawaan kami cukup banyak, sihir suamiku memang sangat membantu untuk hal seperti ini.”
‘Wah, pintar sekali dia bersilat lidah.’
“Kalian sudah menikah?”
“Iya.”
“Begitu, maaf sudah menggangu hari indah kalian. Kerajaan ini selalu terbuka untuk pasangan yang ingin menikmati liburan mereka, jika seperti itu selamat menikmati bulan madu kalian.” Kami dibiarkan masuk begitu saja.
“Berhasil, kan. Bagaimana, apa aku hebat?”
“Iya, kau hebat.”
“Hehe. Sebenarnya aku sudah tau kalau akan jadi seperti ini.”
“Huh?”
“Aku juga membacanya, sejarah tentang benua HalfHuman. Selain itu, benua ini juga dibentuk oleh seorang manusia dan satu-satunya benua yang aman dari serangan manusia, selain karena tempatnya jauh raja pertama kerajaan ini juga melarang adanya pertikaian dikerajaan ini. Peraturan itu digunakan sampai sekarang dan hasilnya semuanya terasa aman dan damai disini. Oleh karena itu benua ini juga bisa dibilang tempat untuk menikmati liburan yang tenang, meskipun begitu yang ada disini hanyalah beberapa bukit dan juga pegununangan hijau serta hutan yang luas, tidak ada hal lain lagi.”
“Ternyata kau mengetahui banyak tentang ras ini.”
“Iya, aku sedikit tertarik dengan ras ini karena ras ini yang adalah ras yang unik. Mereka memiliki tubuh seperti manusia serta bisa berfikir seperti manusia dan memiliki setengah tubuh hewan kebanyakan sih seperti itu, tapi sifat alami hewan mereka tetap ada dan kadang jika ada sesuatu sifat liar para HalfHuman muncul. Hmmm, contohnya seperti itu.”
Iona menunjuk ke arah sebuah kerumunan yang cukup ramai.
“Ada apa disana?”
“Sepertinya sifat alami mereka muncul, sayang ayo lihat.”
“Huh?” Ia menarikku.
“Lihat mereka.”
Aku melihatnya, HalfHuman banteng mereka seperti sedang berkelahi. “Pertarungan yang cukup sengit.”
“Itu bukan pertarungan biasa, saat sifat alami mereka muncul mereka akan bertindak sama seperti hewan umumnya.”
“Nona, sebagai seorang manusia ternyata kau tau banyak juga.” (???)
Salah satu HalfHuman singa ikut dalam pembicaraan. “Ya, sebelum kesini aku membaca beberapa buku tentang ras HalfHuman jadi aku sedikit mengetahui tentang kalian.”
“Jadi, apa yang sebenarnya mereka lakukan?”
“Mempertahankan wilayah kekuasaan mereka, kau tau’kan jika ada hewan lain yang masuk kedalam wilayan hewan lainnya maka mereka akan dianggap akan mengambil wilayah mereka. Oleh karena itu mereka bertarung.”
“Ya, yang dikatakan nona memang benar. Tapi saat mereka sadar mereka akan melupakan apa yang terjadi.”
“Eh, benarkah? Aku tidak mengetahuinya.”
“Itu bisa dibilang sebagai anugrah atau juga bisa dikatakan sebagai kutukan dari raja pertama.”
“Anugrah dan kutukan, ya.”
“Ari, kau mengetahui sesuatu?”
“Aku hanya bisa memikirkan beberapa hal saja.”
“Hoo, itu menarik nak kau bisa katakan, jika ada kesalahan aku yang akan menjelaskannya.”
“Baik. Jika dibilang anugrah, kemungkinan karena bisa melupakan hal yang sudah terjadi maka itu adala sebuah anugrah, lagipula tidak ingat apa yang sudah terjadi itu merupakan hal bagus dibandingkan harus merasa malu dengan hal konyol yang sudah dilakukan.”
“Hooo, lalu kutukan.”
“Menurutku, ini adalah masalah utamanya. Karena tidak sadar, kemungkinan seorang HalfHuman akan melukai orang lain atau yang paling buruk membunuh orang lain tanpa dia sadari, selain itu seorang HalfHuman tidak tau kapan dirinya akan kehilangan kendali dan sifat alami mereka muncul, jadi aku pikir kejadian terburuk adalah jika tidak ada orang yang melerai itu maka dipastikan akan ada nyawa yang melayang.”
“Ummm, apa ada semacam metode khusus untuk melakukan hal itu?”
“Nona, jika ada metode khusus maka aku yakin semua orang yang ada disini sekarang bisa mengendalikan sifat alami mereka, tapi nyatanya tidak. Setiap orang memiliki latihan yang berbeda-beda, meskipun begitu tak ada yang tau mereka bisa atau tidak mengatasinya. Kebanyakan orang berlatih untuk mengendalikan sifat alami mereka di hutan agar menghindari adanya korban.”
“Hutan.”
“Ari, jangan-jangan yang tadi.”
“Hmm, tapi kau meleset seharusnya tidak masalah.”
“Ada apa?”
“Tidak, hanya saja tadi saat perjalanan menuju kemari aku tak sengaja merasakan sesuatu yang aneh dan menyerangnya. Aku harap itu bukan salah satu dari kalian.”
Aku mencoba untuk menenangkannya dengan mengelus kepalanya. “Tenanglah, seranganmu tadi meleset’kok aku menjaminnya.”
“Hmmm, sepertinya orang itu lagi.”
“Orang itu?”
“Ya, manusia serigala yang selalu diam dihutan. Dia mencoba untuk mengendalikan sifat alaminya dan selalu berada dihutan sejak beberapa bulan terakhir.”
“Dia sampai melakukan itu, apa ada sesuatu yang terjadi sebelumnya?”
“Iona, kau tak sebaiknya menanyakan hal itu. Kemungkinan itu bukan hal yang bisa dibicarakan.”
“Begitu, ya. Aku minta maaf.”
“Tidak perlu minta maaf nona, selain itu kejadian itu sudah sangat lama.”
“Hmmmm, aku mengerti keadaannya. Jika hewan buas kehilangan kendali atas sifat alami mereka pasti sesuatu yang buruk akan terjadi.”
“Kau mengetahuinya.”
“Ya, naluri hewas yang buas lebih menyeramkan dibandingkan hewan yang lain. Seperti itulah.”
“Jika seperti itu, bukankah anda sendiri.” Menyadari hal itu, Iona menjadi sedikit ketakutan.
“Tenang saja nona, kau tidak perlu takut seperti itu. Aku sudah bisa mengendalikan sifat alamiku, jadi aku tidak akan kehilangan kendali seperti mereka.”
“Hmmm, begitu.”
“Ari, lihat sepertinya sudah selesai.”
Aku melihatnya, kedua banteng itu terkapar tak sadarkan diri. “Apa itu efek sampingnya?”
“Iya, itu benar. Sifat alami yang lepas kendali akan membuat semua tenaga yang ada pada orang yang kehilangan kendali habis, setelah selesai kebanyakan orang pasti akan pingsan dan melupakan apa-apa yang sudah terjadi.”
“Begitu.”
“Ahhh, kalian berdua mau minum sebentar, akan aku traktir.”
Di sebuah kedai kecil.
“Bos, minuman seperti biasa untukku.” Seorang HalfHuman kucing sedang membersihkan gelas di belakang meja.
“Syiap.”
“Kalian berdua mau minuman apa?”
“Ehh, yang bisa kami minum saja.”
“Kalau begitu, teh dinginnya 2 bos.”
“Oke, segera datang.”
“Tempat yang unik.”
“Syukurlah jika kau menyukainya nona. Pelayanan disini cukup bagus untuk tempat sekelas yang seperti ini, selain itu semua pegawai yang ada disini cukup ramah.”
“Hmmm, ya aku bisa melihatnya sendiri. Mereka ramah pada setiap pengunjung yang datang.”
“Hahahaha, kau dengar itu bos, dia memuji pekerjamu.”
“Aku tidak akan memberikan diskon jika kau yang menyuruhnya.”
“Tenang, aku sama sekali tidak memaksanya, dia mengatakannya dengan sendirinya.”
“Ummm, oh ya sebelum itu maaf karena terlambat memperkenalkan diri. Namaku Iona, dan dia adalah suamiku Ari.”
“Kalian sepasang suami-istri, ya. Apa kalian datang kemari untuk berlibur?”
“Ya, seperti itulah.”
“Keadaan sekarang sebenarnya kurang tepat jika harus berlibur.”
“Kurang tepat?”
“Pasti ada hubungannya dengan raja iblis dan pasukannya.”
“Jika kau sudah tau sepertinya kalian berdua bukan orang biasa. Selain itu, sikap kalian saat melihat sifat alami tadi sangat biasa saja jika dibandingkan dengan manusia yang lain.”
__ADS_1
“Eh, i-itu karena…”
“Tidak ada yang bisa disembunyikan lagi, ya.”
“Ari.”
Aku menggengam tangan Iona, ini membuatku sedikit menjadi waspada. “Seperti yang kau lihat, kami memang bukan orang biasa.”
“Tenang, jangan waspada seperti itu. Aku ini bukan orang jahat, jadi tenang saja.”
“Apa aku bisa memegang ucapanmu itu?”
“Sedari awal aku sudah tau kalau kalian bukan orang biasa, begitu juga bos. Benar’kan bos.”
“Kau memanggilnya bos, kau bekerja untuknya?”
“Tidak, itu hanya sebuah ungkapan formalitas saja. Abaikan hal itu, biar kutebak tujuan kalian datang kemari. Apa kalian ada hubungannya dengan aliansi yang dibuat oleh bangsa Drawf dan juga manusia.”
“Woy, kalo ingin membicarakan hal yang penting jangan disini. Ayo kesini.” Sibos berteriak dan setelah itu menggiring kami kesebuah tempat. “Ini adalah ruangan khusus, kalian bisa berbicara hal rahasia disini sepuas kalian.”
“Bos, kau tidak ingin ikut berbincang disini?”
“Pekerjaanku masih banyak.”
“Begitu.”
“Kalau begitu aku akan pergi, minuman kalian akan datang sebentar lagi jadi tunggu.”
“Ya, terimakasih.” Pemilik tempat ini pergi. “Lalu, tentang pembicaraan yang tadi. Apa kalian memang ada hubungannya dengan kerajaan manusia yang membuat aliansi itu?”
“Ari.”
Iona menatap kearahku. “Hmmm, jangan menatap mataku seperti itu.”
“M-maaf.”
“Haaaa, ya jika sudah dicurigai seperti ini mau bagaimana lagi. Gadis ini, Iona L. Thorwn, seorang yang sudah diberikan izin khusus sebagai seorang perwakilan kerajaan dari kerajaan Thorwn dan juga seorang putri. Dan aku Touji Ari.”
“Tunggu, aku juga mau menggunakan namamu. Aku’kan istrimu.”
“Ehhh? Haaaa.” Dia mengatakannya. “Ya, seperti itulah. Aku yang memulai aliansi kebenua Drawf, anda pasti tau tentang pasukan raja iblis. Pasukan aliansi itu untuk melawan balik serangan raja iblis, aku sudah mencoba ke bangsa Elf tapi belum mendapatkan respon yang pasti, tapi sepertinya mereka tidak akan ikut berpartisipasi.”
“Jadi tujuanmu datang kemari untuk membentuk aliansi dengan ras HalfHuman, seperti itu.”
“Iya.”
“Hmmm, sepertinya itu akan sedikit sulit.”
“Ya, itu akan sulit.”
“Wah, bos kau datang.”
“Aku mengantarkan minuman untuk kalian.”
“Hooo, terimakasih.”
“Mengenai aliansi yang ingin kalian buat dengan kerajaan ini. Sebaiknya kalian berdua harus tau hal ini lebih awal sebelum melakukan hal itu.”
“Huh? Memangnya kenapa?”
Bos kucing duduk. “Keadaan bangsa ini sebenarnya kacau sejak kebangkitan raja iblis beberapa bulan yang lalu. Saat ini para pasukan yang bisa bertempur sedang menahan pasukan raja iblis dibaris depan.”
“Bukankah akan lebih baik jika beraliansi. Itu bisa memberikan banyak keuntungan.”
“Itu memang benar, aku mengakui hal itu, tapi tidak seperti yang kau pikirkan. Karena beberapa alasan kerajaan ini menutup diri dari hal semacam itu.”
“Para pertinggi, ya.” Entah kenapa saat berkata seperti itu pemikiran tentang ini muncul.
“Setidaknya seperti yang kau pikirkan, mereka menolak untuk melakukan kerjasama dengan kerajaan ataupun ras lain.”
“Mereka menjujung sebuah harga diri bodoh.”
“Ya, aku tidak akan menyangkalnya.”
“Kenapa semua petinggi yang hanya memikirkan dirinya sendiri bertindak senekat itu sampai rela mengorbankan rakyatnya.”
“Mungkin karena mereka pikir bisa mengatasi masalah ini sendiri, oleh karena itu mereka menolak bantuan ataupun kerajaan maupun ras yang ingin mengajukan sebuah aliansi.”
“Bos, aku tak menyangka kau tau banyak tentang hal seperti ini.”
“Jangan meremehkanku, aku ini juga pernah bertugas diistana sebagai penasehat.”
“H-hebat.”
“Hmmm, jadi begitu. Apa ada cara yang bisa digunakan untuk melakukan sebuah negosiasi?”
“Sepertinya tidak ada, sudah aku bilang sebelumnya kerajaan ini tertutup dengan hal seperti itu.”
“Haaaa, ini merepotkan.”
“Ari, bagaimana ini?”
Aku mencoba untuk memikirkan sesuatu, tapi itu sulit. “Haaaa, sepertinya memang tidak bisa.”
“Begitu, ya.”
“Nak, jika kau butuh bantuan aku bisa membantumu. Meskipun kerajaan ini tidak mau menerima aliansimu, aku bisa membantumu. Bagaimana bos?”
“Aku bisa memberikan bantuan, jika kau butuh orang yang bisa bertarung aku bisa memberikannya. Aku memiliki banyak kenalan yang bisa bertarung.”
“Terimakasih atas tawarannya, aku sangat menghargainya. Tapi, setidaknya aku ingin mencobanya terlebih dahulu, jika memang tidak berhasil baru aku akan menyerah.”
“Begitu, semoga berhasil. Oh ya, malam ini kalian akan menginap dimana?”
“Kami belum memutuskannya, lagipula kami belum menemukan penginapan.”
“Kalau begitu, bos boleh mereka menginap disini?”
“Ya, silahkan saja.”
“Eh, itu akan merepotkan.”
“Tidak masalah, lagipula kebanyakan penginapan didesain untuk para HalfHuman, jadi aku pikir manusia seperti kalian kurang cocok dengan hal itu. Berbeda dengan tempat bos ini, bos menyediakan tempat untuk manusia yang menginap disini seperti kalian. Tempat ini bisa dibilang cocok untuk tempat kalian menginap untuk malam ini.”
“Aku tak akan memaksa, jika kalian ingin kalian bisa menerimanya tapi jika tidak maka tidak masalah.”
“Terimakasih banyak.”
Malam hari.
Penginapan di kedai kecil.
“Tempatnya cukup bagus, ya. Ari, bagaimana menurutmu?”
“Ya, lumayan.”
“Ari, apa tidak masalah menerima tawaran mereka?”
“Aku sudah memikirkan semua kejadian buruk yang akan menimpa kita seandainya sesuatu terjadi, aku sudah menyiapkan semuanya dengan matang, jadi tidak ada masalah.”
“Bukan itu maksudku, tapi tentang mereka berdua. Bukankah mereka terlalu baik untuk pendatang baru seperti kita.”
“Ya, aku tak bisa berbohong hal itu sebenarnya juga menggangguku.”
“Maaf, apa aku boleh masuk.” Suara yang tak asing terdengar didepan pintu kamar.
“Silahkan.”
Si bos pemilik kedai ini masuk. “Bagaimana, apa kalian menyukainya.”
“Iya, ini mungkin lebih nyaman.”
“Begitu, syukurlah. Oh ya, aku belum memperkenalkan diri dan maaf atas kelalaian ini. Namaku Reasn dan HalfHuman yang membawa kalian kemari dia adalah Ornel, seperti yang kau tau aku adalah pemilik kedai ini. Aku datang kemari karena ingin sedikit berbincang-bincang dengan kalian.”
“Berbincang-bincang?”
“Mengenai pembicaraan tentang aliansi yang ingin kau buat dengan ras HalfHuman. Apa sebenarnya hal yang ingin kau capai dengan membuat aliansi ini?”
“Kedamaian untuk semuanya, mungkin seperti itu. Mungkin ini terdengar sangat naif, tapi setelah pertempuran melawan iblis selesai yang aku inginkan adalah keharmonisan seluruh ras, tidak ada lagi permusuhan ataupun hal lain yang bisa memecah sebuah keharmonisan ini.”
“Tujuan untuk mengalahkan raja iblis, tapi kau terlihat bimbang. Apa ada yang menggangumu?”
“Apa anda tau tentang para pahlawan.”
“Kisah tentang 6 pahlawan yang mengalahkan raja iblis 500 tahun yang lalu, kalau tidak salah para pahlawan itu juga dijunjung tinggi disini karena sudah berjasa menyelamatkan banyak sekali HalfHuman dari serangan raja iblis. Sudah banyak hal yang mereka lakukan untuk benua ini, para pahlawan itu sangat berjasa dan begitu diangungkan.”
“Begitu, ya.” Itu sangat berbeda dengan kenyataan bahwa manusia sendiri sudah melupakan tentang para pahlawan itu sendiri. Para ras yang lain sangat menjunjung tinggi dan menghormati para pahlawan. “Seharunya mereka juga mendapatkan perlakuan itu ditempat mereka dipanggil.” Tanpa sadar mulutku.
“Huh? Apa kau mengatakan sesuatu?”
“Tidak ada apa-apa. Aku sudah mendengarkan cerita yang cukup mengejutkan dari salah satu pahlawan yang masih tersisa.”
“Pahlawan yang masih tersisa, yang benar saja!!”
“Ya, tapi sayangnya dia sudah beristirahat dengan tenang sekarang.”
“Begitu. Lalu, apa yang kau dengar dari ceritanya.”
“Kenyataan bahwa sebenarnya penyerangan raja iblis bukan bertujuan untuk menguasai dunia, melainkan untuk memperluas kekuasaan mereka sebagai bentuk cara agar penduduk ras iblis tetap bisa bertahan hidup. Aku juga sudah menemukan beberapa hal yang cukup penting mengenai setiap ras, seperti bangsa Elf yang hidup dihutan, Drawf yang hidup didekat tebing, lalu HalfHuman yang tinggal di dekat pegunungan dan juga bukit, serta manusia yang kebanyakan hidup di dekat pantai. Dengan semua itu, aku yakin penyerangan raja iblis dimulai karena sedari awal mereka tidak mendapatkan tempat yang sesuai untuk mereka hidup oleh karena itu penyerangan dilakukan.”
“Jadi itu yang membuatmu bimbang.”
“Aku tak bisa membunuh tanpa ada alasan yang jelas, jika mereka berniat untuk menaklukan dunia maka aku siap untuk melakukannya tapi jika tujuan mereka hanya untuk menyelamatkan penduduk mereka maka aku akan membantunya.”
“Kau berfikir seolah menjadi seorang pemimpin.”
“Ya, jika berfikir seperti itu aku bisa mengetahui apa yang sebenarnya raja iblis itu inginkan. Sejujurnya jika aku berada diposisinya aku mungkin juga akan melakukan hal itu, bukan hanya demi rakyat tapi juga demi keluargaku. Selain itu, mana mungkin seorang suami ingin melihat anak dan istrinya menderita.”
“Itu pemikiran yang bagus, lalu jika penyerangan dihentikan kau juga akan membuat sebuah aliansi dengan ras iblis begitu.”
“Ya, kunci keharmonisan sesama ras yang aku inginkan harus melibatkan semua ras, dengan begitu keharmonisan yang aku kedamaian yang aku impikan bisa terwujud, sebuah dunia tanpa adanya perang dan pertumpahan darah. Itu adalah hal yang ingin aku ciptakan. Dunia dimana semua ras bisa hidup berdampingan tanpa ada rasa khawatir, aku ingin hal itu bisa terwujud.”
“Sunggu impian yang sangat besar. Jika seperti itu impianmu, aku akan membantumu.”
“Benarkah?!”
“Tentu saja, diumurku yang sudah tua ini aku masih bisa merasa bangga karena bisa mengwujudkan anak muda yang memiliki impian setinggi langit. Selain itu, saat kau sudah berhasil mngwujudkan impianmu itu nanti, aku bisa dengan bangga bilang pada semua orang yang ada disini kalau aku adalah orang yang pernah membantumu. Seperti itu.”
“Begitu, terimakasih banyak.”
__ADS_1
Hari ini, aku mendapatkan beberapa kenalan dan yang membuatku senang adalah karena mereka bukan manusia.