Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
49


__ADS_3

Siang hari, istana langit.


Perpustakaan.


“Wakil komandan, anda sudah kembali?”


“Ya, aku sudah kembali.”


“Ari, bagaimana? Apa berjalan dengan lancar?”


“Entahlah, aku juga tak yakin. Mereka masih mengungkit tentang masalalu yang sudah lewat, aku tak yakin mereka akan menerima tawaranku ini.”


“Lalu, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”


“Aku akan melakukan seperti yang direncanakan.”


“Perjalanan menuju ke kerajaan Drawf masih 3 hari lagi sebelum istana langit ini berada tepat di tempat itu. Setelah itu, kau masih butuh waktu 2 hari lagi untuk istana langit ini bisa sampai ke benua halfhuman.”


“Haaaa, sepertinya aku masih punya banyak waktu untuk istirahat.”


“Ari, ambil ini.” Lucy memberiku sebuah buku yang cukup tebal.


“Buku apa ini?”


“Baca saja dulu, baru tanyakan.”


“Baik.” Aku membacanya.


Cukup lama setelah itu.


“Bagaimana menurutmu.”


“Hey Lucy, dari sekian banyak buku yang ada disini, kenapa kau memberikanku buku novel tentang komedi romantis ini.”


“Ya, aku pikir kau akan menyukainya. Oh ya, itu masih volume 1 lo, masih ada 4 volume lagi.”


“Haaaa, kau itu… Sepertinya akan ada hujan.” Langit yang tadinya terang sekarang mulai menghitam.


“Ari, apa istana langit ini akan baik-baik saja melawan badai ini?”


“Istana langit ini sudah berdiri lebih dari 300 tahun, pasti sudah mengalami hal seperti ini ribuan kali, jadi tidak masalah.”


“Begitu, jika kau bilang seperti itu ya sudah.”


Suara petir mulai bergemuru.


“Kyaaaaa!!!” (Ria)


“Ria, ada apa?!” (Lucy) Kami langsung menghampiri Ria.


“Suaranya, sangat keras.”


“Kau takut dengan petir?”


“M-maaf.”


“Tidak masalah, memiliki 1 atau 2 hal yang ditakuti itu wajar. Lagipula tempat ini berada cukup tinggi jadi sangat wajar jika suaranya terdengar lebih keras daripada biasanya. Lucy, sebaiknya kau temani Ria.”


“Tanpa dirusuh aku memang akan melakukannya.”


“Haaaa, baiklah. Karena hujan, saat ini kita berada dimana, ya?”


“Kemungkinan perbatasan antara benua elf dan juga iblis.”


“Hmmm, begitu, ya.” Aku ingin melihat keluar, tapi karena hujan aku tidak bisa melakukannya. “Benua iblis, ya.” Saat ada di benua Elf, banyak sekali pepohonan disana, itu mungkin sebagai benteng alami mereka. Dan jika dibenua iblis, aku pikir ada sesuatu yang menjadi ciri khasnya sendiri.


Cukup lama setelah itu.


“Hujannya deras juga.” Hujannya begitu deras dan suara petir semakin sering terdengar.


“Sepertinya cuaca di setiap bedua berbeda-beda.” (Lucy)


“Ya, kemungkinan seperti itu. Lagipula keadaan setiap benua juga pasti berbeda-beda… Haaaa, apa dia baik-baik saja, ya.”


“Kau mencemaskannya?”


“Iya. Sebenarnya aku ingin kau jugaikut untuk menemaninya, tapi dia menolaknya.”


“Kau bisa bayangkan jika aku yang datang kesana, aku yakin yang akan menyelesaikannya bukan putri melainkan aku. Jika seperti itu, dia pasti akan kesal pada dirinya sendiri karena merasa tidak berguna. Ya, lagipula ini adalah moment yang tepat untuk menunjukkan kalau dia bisa membantumu. Karena itu dia menolak kalau aku harus membantunya.”


“Tapi, aku sangat khawatir dengannya.”


“Tenang saja, percayakan semua padanya. Kita duduk tenang sambil minum teh saja disini.”


“Kalau begitu aku yang… Kyaaa!!” (Ria) Suara petirnya menggelar.


“Sudah, biarkan aku saja yang ambil. Kau tunggu disini saja.”


“B-baik.” Lucy pergi.


“Haaaa, Ria, aku ingin bertanya sesuatu padamu.”


“W-wakil komandan, apa yang ingin anda tanyakan?”


“Apa kau mencintai Lucy?”


“Eh?... I-iya.”


“Jika saja nanti, Lucy mati di pertempuran besar ini. Apa yang akan kau rasakan?”


Saat aku mengatakan itu, dia menunduk. “Maaf, aku, tak bisa menjawabnya. Membayangkannya saja sudah sangat membuatku sakit, aku tak bisa membayangkan jika hal seperti itu harus terjadi. Maaf.”


“Begitu, ya. Maaf sudah menanyakan hal seperti itu padamu.” Aku tak begitu mengerti apa yang dirasakan olehnya, tapi sepertinya itu merupakan sesuatu yang hanya dirasakan oleh seorang wanita saja.


Beberapa menit setelah itu.


“Yo, aku kembali.” Lucy kembali sembari membawa beberapa gelas teh. “Ria, apa kau diganggu oleh Ari?”


“T-tidak, wakil komandan tidak melakukan apa-apa.”


“Hey, tidak sopan, lagipula untuk apa aku melakukan hal itu.” Aku meminum teh yang dibawa olehnya. “Haaa, ini jadi sedikit hangat.”


“Tempat ini sudah hangat, kenapa kau masih bilang hal seperti itu.”


“Ayolah, ini hanyalah sebuah ungkapan manis yang biasa orang sebutkan, aku juga ingin mengucapkannya juga. Ya, memang kau ada benarnya sih. Ruangan ini memang hangat, jika diluar panas maka ruangan ini akan dingin. Aku sudah tak bisa mengucapkan apa-apa lagi terhadap istana langit ini, semuanya sangat luar biasa.”


Beberapa jam setelah itu.


Hujan deras sudah berakhir.


“Ria tertidur, kau tidak memindahkannya? Jika dibiarkan seperti itu, dia akan sakit, lo.” Ria tertidur pulas di kursi panjang.


“Ruangan disini hangat, jadi tidak perlu kau pikirkan. Selain itu, saat di desa elf gagal untuk selanjutnya rencana apa yang akan kau gunakan di bangsa Drawf?”


“Entahlah, mungkin aku akan menggunakan cara yang biasa.”


“Cara yang biasa, ya. Kalau begitu, semoga beruntung… Ari, ada apa? Kenapa kau terlihat cemas.”


“Seseorang ada yang menggunakan pengantar sihir milikku.”


“Apa dari mereka?”


“Tidak, ini dari bangsa elf.”


“Bangsa elf, kau memberikannya pada mereka?”


“Eh, iya. Hanya untuk membantu mereka saja, lagipula mereka sedang dalam kesulitan jadi aku merasa tidak nyaman jika orang yang memiliki kekuatan tidak membantu.”


“Kau sudah terlihat seperti seorang pahlawan saja.”


“Sayangnya aku bukan pahlawan, aku hanya seorang yang egois yang melakukan ini demi kepuasan diri saja. Selain itu, aku memang bukan seorang pahlawan. Kalau begitu, aku pergi.”


“Ya, jaga dirimu baik-baik. Jangan sampai mati, atau tidak aku akan membunuhmu.”


“Hahaha, lelucon yang bagus. Kalau Iona datang, katakan padanya kalau aku akan pulang terlambat.”


“Iya, aku mengerti.”


“Sampai jumpa lagi nanti.”


“Ya, sampai jumpa.”

__ADS_1


-----


Benua elf.


“Apa-apaan ini.” Aku berteleportasi ke dekat pengantar sihir yang aku berikan pada kepala desa elf, dan saat aku sampai aku langsung disambut oleh pemandangan yang cukup mengerikan. “Apa yang terjadi pada mereka semua?”


“Serangan dari para pasukan raja iblis semakin mengganas kau harus bergerak cepat, aku ingin memberitahumu tentang informasi itu.” (Ruie)


“Cih, setelah melihat ini apa kau pikir aku bisa pergi dengan tenang.” Aku mengenggunakan sihir penyembuhan khusus dengan skala yang besar untuk menyembuhkan mereka semua yang ada disini.


Beberapa saat kemudian.


“Haaaa, melelahkan.”


“K-kau tidak apa-apa?”


“Tidak masalah, hanya sedikit kelelahan saja.” Menggunakan sihir besar membuat staminaku terkuras. “Sepertinya keadaan semakin menjadi gawat disini. Aku akan pergi melihat keadaan dibaris depan.”


“Kau tidak perlu melakukan sampai sejauh itu, menyembuhkan mereka semua sudah sangat membantu.”


“Aku melakukan ini bukan karena aku ingin kau menerima ajakanku untuk membentu sebuah aliansi, tapi melainkan karena kita memiliki musuh yang sama.”


---


Garis pertahanan bagian depan benua elf.


“Haaaa, ini melelahkan.” Aku berlari cukup lama dan akhirnya aku sampai disini. “Aku butuh istirahat sebentar, tapi sepertinya tidak ada waktu untuk itu.” Kekacauan terjadi disini, aku melihat sesuatu yang sangat gawat sekali sudah terjadi. Aku sampai duluar hutan, dan cukup jauh didepan adalah tempat medan pertempuran.


“Siapa kau?! Apa tujuanmu datang kemari dasar monster!!”


Aku di hadang oleh cukup banyak pasukan elf yang ada disini. “Haaaa, tenanglah aku tak akan menyakiti kalian. Antarkan aku pada pemimpin kalian.”


“Ada perlu apa kau denganku?” Seorang elf yang terlihat gagah perkasa datang.


“Kau pemimpinnya, ya. Jika seperti itu, aku menyarankan untukmu mundur bersama pasukanmu yang lain.”


“Beraninya kau berbicara seperti itu!! Akan aku bunuh…”


“Sou, tenangkan dirimu. Manusia, apa tujuanmu yang sebenarnya? Kau tau, kami bertempur dibarisan ini untuk melindungi keluarga dan juga tanah kelahiran kami, meskipun harus harus mati setidaknya kami sudah berusahan untuk melindungi tanah kelahiran kami.”


“Itu sangat konyol.”


“Beraninya kau bicara seperti itu, apa kau sudah lupa dengan apa yang rasmu perbuat pada bangsa kami 500 tahun yang lalu!!”


“Haaa, kenapa kalian selalu mengungkit masa lalu yang sudah terjadi.”


“Kami tidak akan pernah lupa, saat kalian menjajah dan merampas semua milik kami 500 tahun yang lalu.”


“Aku tidak bisa bilang kalau aku tidak peduli, tapi jika kalian terus mempermasalahkan kejadian yang sudah terlewat aku yakin, kalian akan mati dan tidak akan ada yang tersisa dari ras kalian.”


“Apa kau bilang!!”


“Serangan raja iblis kali ini berbeda dari 500 tahun yang lalu, 500 tahun lalu ada para pahlawan yang dapat mengalahkan raja iblis tapi sekarang mereka tidak ada. Jika seperti ini terus, aku yakin hanya tinggal menunggu waktu sampai ras kalian benar-benar musnah.”


“Apa yang sebenarnya kau inginkan?”


“Pemimpin, pasukan raja iblis sudah tidak bisa ditangani lagi. Apa yang harus kita lakukan?”


“Moral pasukanmu semakin lemah, dan mental mereka pasti juga terganggu karena serangan raja iblis initak henti-henti. Bisa dibilang, saat ini memertahankan pasukanmu saja sudah sangat sulit. Oleh karena itu aku menyarankanmu untuk mundur.”


“Pemimpin…”


Dia masih bimbang. “Saat ini pasukanmu sedang dalam keadaan terburuk mereka, pilihannya hanya ada 2, mundur atau melawan dan mati sia-sia.”


“Jika kami mundur, maka para pasukan raja iblis pasti akan…”


“Untuk itu aku akan melakukan sesuatu, sekarang kau hanya perlu untuk membawa pasukanmu mundur. Percayakan semua ini padaku.”


“Aku akan percaya padamu. Semua pasukan, berikan mereka perintah untuk segera mundur.”


“Baik.”


Para pasukan elf mundur, dan dari belakang mereka ribuan pasukan iblis mengejar. “Haaaa, ini sangat merepotkan.” Aku menggunakan sihir cahaya degan skala besar, itu membuat sebuah lingkaran sihir raksasa terbentuk diatasku. “Hmmm, untuk namanya bagaimana dengan, tembakan cahaya.” Serangan peluruh cahaya yang melesat sangat cepat membunuh para pasukan raja iblis dengan mudah, meskipun begitu. “Mereka terus berdatangan. Setiap kali dikalahkan, muncul lagi yang lain, itu sangat menyebalkan.”


Beberapa menit kemudian.


Para pasukan elf sudah memasuki hutan. “Haaaa, aku sudah sangat lelah. Meskipun begitu, masih ada hal yang harus aku lakukan sekarang.” Aku menghentikan sihir tembakan cahaya milikku, dan menggantinya dengan sihir pelindung. “Hoaaammm, aku mengantuk.” Membuat sebuah lingkaran sihir yang melindungi seluruh hutan ini sangat menguras staminaku. “Setelah ini selesai, aku ingin segera tidur.”


Beberapa saat kemudian.


Di tempat kepala desa.


“Kau sudah kembali? Sihir apa yang kau gunakan barusan?” (Ruie)


“Aku sudah melindungi tempat ini menggunakan sihir, seharusnya untuk waktu dekat mereka tidak akan bisa menjamah tempat ini.”


“Kenapa kau sampai melakukan sejauh itu?”


“Sudah aku bilang, aku melakukannya demi kepuasan tersendiri. Oh ya, pasukan iblis memang tidak bisa masuk ke dalam sini, tapi jika kalian keluar maka efek sihirnya akan menghilang. Aku harap kau menyampaikan ini pada yang lain. Haaaa, setelah ini aku masih harus pergi ke kerajan Drawf, sungguh melelahkan.”


“Huh?”


“Tidak, aku hanya bicara sendiri. Kalau begitu, aku akan pergi.”


Istana langit.


Ruang istirahat.


“Ari, kau sudah kembali.” (Iona)


“Iona, ya. Kau sudah kembali.” Kepalaku terasa sedikit pusing, selain itu aku juga merasa sangat lelah.


“Ari, kau kenapa?”


Aku mendekat kearahnya, dan tidur dipangkuannya. “Aku, ingin tidur sebentar…” Aku memejamkan mata dan membiarkan rasa kantuk ini mengalahkanku. “Selamat tidur.”


\=\=\=\=


“Ari?” Dia tiba-tiba saja tidur dipangkuanku, dan dia juga terlihat sangat kelelahan. “P-panas sekali.” Saat aku menyentuh tubuhnya, rasanya panas sekali seperti terbakar. “Apa yang sebenarnya terjadi padamu?!”


“Putri, kenapa kau terlihat panik? Ari, aku sudah kembali, ya. Sepertinya dia tidur sangat nyenyak.” (Lucy)


“Ari, tubuhnya sangat panas.”


Saat aku bilang begitu padanya, dia menyentuh tubuh Ari. “Cih, apa yang dia lakukan sampai jadi seperti ini.”


“Kita harus segera membawanya ke…”


“Tidak, kita rawat dia disini, tempat ini adalah tempat untuk memulihkan diri. Meskipun begitu, kita harus tetap memberikan perawatan untuknya. Putri, bisa kau ambilkan air dan juga kain basah.”


“Baik, aku akan mengambilnya.”


Beberapa menit kemudian.


“Huft, untuk sekarang dia akan baik-baik saja. Putri, bisa kau mengganti kompresnya, aku akan pergi sebentar.”


“Baik, serahkan saja padaku.”


“Saat demamnya sudah turun, setelah istirahat 1 malam besok mungkin dia akan bangun.”


“Pangeran, apa yang sebenarnya terjadi padanya?”


“Gelajanya sama seperti orang yang kehabisan mana, dia akan lelah dan tidur semalaman, tapi dalam kasusnya sedikit berbeda. Putri, apa kau tau sesuatu menengai mana milik Ari?”


“Mana milik Ari. Aku mendengarnya dari kakek, katanya Ari memiliki mana yang tak terbatas.”


“Begitu, kemungkinan ini adalah sebagai ganti penggunaan mananya. Staminanya akan terkuras habis, dan juga daya tahan tubuhnya akan berkurang. Oleh karena itu, setelah dia menggunakan beberapa sihir dengan skala besar kejadiannya mungkin akan jadi seperti ini. Selain itu, sihir cahaya dan kegelapan memakan banyak sekali mana, jika menggunakannya secara berlebihan kemungkinan ini yang akan terjadi.”


Mendengar hal itu membuatku sangat khawatir. “Apa Ari akan baik-baik saja?”


“Tenang saja putri, kau tak perlu khawatir. Sebagaimana orang yang kehabisan mana, dengan istirahat yang cukup dia pasti akan segera pulih. Seperti yang aku katakan sebelumnya, mungkin besok dia sudah bangun.”


“Begitu, syukurlah.”


“Kalau begitu, aku akan pergi. Jaga dia dengan baik.”


“Tentu saja, lagipula aku ini adalah istrinya. Aku akan menjaganya dengan baik.” Disaat seperti ini, aku memang harus berada didekatnya dan merawatnya sampai dia sembuh. Itu karena, dia adalah orang yang paling berharga bagiku.


\=\=\=\=


Esok harinya, sore hari.

__ADS_1


“Hoaaaam.” Aku bangun dari tidurku. “Iona.” Iona tertidur begitu pulas disampingku. “Haaaa, jika kau mengantuk seharusnya kau tidur dengan benar.” Saat aku bangun, kain basah jatuh dari dahiku. “Jadi begitu, terimakasih.” Aku tak tau apa yang terjadi selama aku tidur, tapi sepertinya dia yang sudah merawatku. Aku menidurkannya di tempatku tidur barusan, dan setelah itu… “Haaaa, aku lapar.” Aku langsung menuju ke dapur untuk makan.


Di dapur.


“Wakil komandan, anda sudah bangun.” (Ria)


“Ria, apa yang kau lakukan disini?”


“Aku sedang memasak, Lucy bilang kalau kau akan segera bangun jadi dia menyuruhku untuk menyiapkan makanan untuk kau makan.”


“Begitu. Oh ya, apa kau tidak masalah dengan ini?”


“Huh?”


“Maksudku, menyiapkan makanan untuk orang lain.”


“Memangnya kenapa? Bukankah wakil komandan sendiri yang selalu bilang kalau semua yang ada di markas adalah keluarga, apa salahnya membuat makanan untuk keluarga?”


“Haaaa, aku mengatakan hal itu, ya?”


“Wakil komandan?”


“Ahhh, tidak ada apa-apa.”


“Ari, kau sudah bangun.” Lucy datang kemari.


“Ya, aku baru saja bangun.”


“Ria, apa makanannya sudah siap?”


“Sebentar lagi, tunggu sebentar.”


“Baiklah. Sambil menunggu makanannya siap, mau berbincang sebentar?”


“Ya, boleh.” Aku dan Lucy duduk di meja makan.


“Ari, aku ingin menanyakan sesuatu. Apa yang sebenarnya terjadi? Sepertinya pertanyaannya salah, tapi apa yang sebenarnya sudah kau lakukan? Keadaanmu sampai menjadi seperti itu, sepertinya kau melakukan sesuatu yang ceroboh.”


“Aku hanya memberikan bantuan pada bangsa Elf.”


“Bantuan?”


“Ya, membantu mengalahkan musuh dan juga membuat pelindung sihir. Haaaaa, setelah melakukan itu aku menjadi sangat lelah.”


“Sihir pelindung? Jenis elemen cahaya?”


“Ya. Aku terlalu banyak menggunakan elemen itu, kemungkinan itu yang membuatku dalam kondisi yang kau bicarakan itu.”


“Jika kau ingin melakukan sesuatu, seharusnya kau memikirkan dampaknya pada dirimu sendiri. Aku tak tega melihat putri yang semalaman tidak tidur hanya demi merawatmu, dia terus menerus mengganti kain basah yang kau gunakan itu. Meskipun aku sudah bilang kalau kau akan baik-baik saja setelah beristirahat, tapi dia tetap saja melakukannya.”


“Aku pikir putri sangat khawatir denganmu, wakil komandan.” (Ria)


“Huh?”


“Ya, jika dipikir-pikir lagi. Dia sangat mengkawatirkanmu, kau sudah pernah mati 1 kali, dan jika wakil komandan mati lagi aku yakin kali ini kau tidak akan bisa hidup lagi. Oleh karena itu dia ingin melihatmu sembuh secara langsung. Selain itu, kebahagiaan seorang wanita adalah jika bisa berguna bagi orang yang disayanginya. Setidaknya itulah yang aku rasakan.”


“Ria, aku tak menyangka kau bisa mengatakan hal seperti itu juga. Bagaimana jika kau mengatakannya juga padaku.” (Lucy)


“Aku selalu membantumu, jadi untuk apa aku mengatakannya.”


“Benar juga.”


“Kalian berdua terlihat sudah sangat dekat, kenapa tidak menikah saja?”


“M-menikah?! I-itu masih terlalu cepat.”


“Ya, itu benar. Lagipula aku’kan sudah pernah menjelaskan alasannya padamu sebelumnya.”


“Iya iya, aku mengerti.”


“Wakil komandan, aku memiliki sedikit saran untukmu.”


“Huh? Apa itu, akan aku dengarkan.”


“Sebaiknya kau memperhatikan perasaan putri, meskipun kau melakukan sesuatu demi kebaikannya aku yakin jika itu adalah hal yang berbahaya lebih baik kau tak melakukannya. Kau hanya akan membuatnya sedih, bukankah kau tak ingin jika melihat putri sedih atau menangis.”


“Iya.”


“Jika seperti itu, seharusnya kau lebih memikirkan apa resiko yang akan kau dapatkan dan juga apa yang akau putri rasakan jika kau melakukan suatu hal.”


“Terimakasih atas sarannya, akan aku ingat.”


“Jangan hanya diingat, tapi kau harus melakukannya juga.”


“Haaa, baik baik. Sikapmu itu sudah mirip dengan Lucy. Kau pasti yang mengajarinya.”


“Mana mungkin, dia hanya mengikutiku saja. Benar’kan Ria.”


“K-kenapa kau bertanya hal seperti itu padaku, aku tak bisa menjawabnya. Sudahlah, aku ingin melanjutkan memasak lagi.”


“Ya, akan kami tunggu.”


Beberapa menit setelah itu.


“Maaf membuat kalian menunggu, makanannya sudah siap.”Beberapa lama menunggu, makanannya sudah siap Ria menyiapkan makanan di meja.


“Wah, seperti biasa makanan buatanmu terlihat sangat enak.” (Lucy)


“Terimakasih, aku harap itu sesuai dengan selera wakil komandan.”


“Aku tidak pilih-pilih dalam hal makanan, selama bisa dimakan maka aku akan memakannya.”


“Oh ya, apa wakil komandan pernah memakan masakan putri?”


“Masakan Iona? Tidak, apa dia bisa masak?”


“Itu sudah jelas, masakannya sangat enak. Aku bahkan belajar memasak darinya, dia sangat hebat dalam hal ini.”


“Begitu, sepertinya lain kali aku juga ingin makan masakan buatannya.”


“Ria, aku masih punya pekerjaan, bisa kau tolong urus sisanya. Aku ingin membicarakan sesuatu dengan Ari.”


“Baik.” Ria pergi.


“Lalu, apa yang ingin kau bicarakan.”


“Ari, aku memiliki 1 saran tambahan untukmu sebagai temanmu, kau bisa menyebutnya saran ataupun peringatan.”


“Apa itu?”


“Kau pasti juga menyadarinya, kekuatan yang besar juga memerlukan sesuatu sebagai penggantinya.”


“Kau menyadarinya, ya.”


“Jika hanya panas dan sakit seperti itu, aku tidak akan mempermasalahkannya. Tapi, responmu saat berbicara dengan Ria sebelumnya membuatku menyadarinya.”


“Apa yang kau sadari?”


“Ingatanmu, menghilang, kan.”


“Kenapa kau bisa berfikir seperti itu?”


“Aku mengawasi pembicaraan kalian berdua, saat Ria bilang semua yang ada dimarkas adalah keluarga, kau kebingungan. Padahal itu adalah kata yang kau ucapkan sendiri.”


“Begitu, ya. Ternyata memang benar, aku melupakannya.”


“Sejauh apa yang kau lupakan? Bukan, tapi sebanyak apa peristiwa yang sudah kau lupakan?”


“Entahlah, tapi aku masih mengingat hal yang berhubungan denganmu, Iona dan juga markas. Aku tak bisa mengingat apa yang sudah aku lupakan.”


“Ya, itu wajar karena kau sudah lupa. Jika seperti itu, aku harap kau lebih berhati-hati dalam menggunakan kekuatanmu. Umumnya jika mana habis, maka energi kehidupan yang akan digunakan. Tapi dalam kasusmu, karena kau memiliki mana yang tak terbatas, maka setelah staminamu habis, ingatanmu yang akan menjadi bayarannya. Kau harus ingat itu, kau tau jika kehilangan ingatan itu merupakan hal yang lebih buruk daripada kematian. Kau akan melupakan orang yang dekat denganmu, kenangan yang sudah kau buat, dan juga hal lainnya. Oh ya, bagaimana dengan pengetahuanmu? Apa kau melupakannya juga?”


“Untuk itu, sepertinya tidak. Aku masih bisa mengingat itu.”


“Begitu, ya. Kemungkinan semua yang menghilang terkait ingatan yang terikat langsung dengan emosimu, ya ini hanya sebuah spekulasi aku tak tau ini benar atau tidak.”


“Terimakasih karena sudah memberitahuku. Aku akan mengingatnya.”


“Jangan hanya mengingatnya, tapi kau harus melakukannya. Gunakan sihirmu saat benar-benar dibutuhkan saja, terutama sihir cahaya dan kegelapan. Kedua sihir itu menguras banyak sekali mana dibandingkan elemen sihir yang lain.”


“Iya iya, aku mengerti. Lucy, aku juga memiliki 1 permintaan untukmu.”

__ADS_1


“Apa itu?”


__ADS_2