Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
34


__ADS_3

Hari kelulusan tiba.


Aku dan Lucy naik kelas, dan Iona lulus dengan nilai yang tinggi. “Sudah kuduga, putri pasti juga memiliki kecerdasan yang sama denganmu.” (Lucy)


“Kau terlalu berlebihan memujinya.”


“Meskipun begitu, soal ujian khususmu belum keluar.”


“Sudahlah, aku tak peduli dengan hal itu. Yang lebih penting saat ini…”


“Ari, aku berhasil mendapatkan nilai terbaik.”


“Ya, aku sudah menduganya. Tapi tetap saja, selamat atas pencapaianmu.”


“Terimakasih.” Waktunya tidak banyak, hanya tinggal beberapa minggu lagi sebelum Iona masuk kedalam akademi sihir. Dan saat itu tiba, kami akan berpisah dan baru akan bertemu setelah 1 tahun saat liburan. “Ari, apa kau baik-baik saja?”


“Y-ya, aku baik-baik saja.” Saat ini, sepertinya aku yang tidak siap akan hal ini. Banyak hal yang sudah aku alami bersama dengannya, tapi dia adalah seorang gadis yang memiliki sebuah impian. Meskipun berat, aku ingin membantunya menggapai impiannya itu. “Baiklah, ayo.”


Kami berkumpul diruang siswa untuk mendengar ucapan selamat bagi yang sudah lulus dan naik kelas, dan juga membuka pendaftaran siswa baru.


Di ruang siswa.


Kami mendengar kata pengantar dari masing-masing Round, memberikan pendapat dan misi yang ingin dicapai oleh akademi ini.


“Sangat membosankan.”


“Ari, sebaiknya kau menyimaknya.” (Iona)


“Haaa, baik.” Aku sangat bosan berada disini, hanya duduk dan mendengarkan ocehan tidak jelas mereka disini.


Dan sampai juga, dimana kepala akademi yang turun langsung untuk mengucapkan sepatah kata sebelum upacara ini berakhir.


“Saya sangat bangga dengan kalian para siswa…”


“Ya ya, aku tau aku tau.” Aku tak ingin mendengar apapun yang dikatakannya, semuanya hanyalah untuk ambisinya. “Haaa, kapan ini akan selesai.”


Beberapa lama setelah itu.


“Lalu, ucapan penutup khusus yang akan disampaikan oleh siswa dengan prestasi tertinggi diakademi ini.”


“Lucy, majulah.”


“Hey hey, tidak semudah itu. Nilaiku tidak tinggi, aku jarang belajar jadi aku ketinggalan banyak hal. Aku hanya berada diposisi ke-2 saja.”


“Posisi-1 siapa?”


“Hmmm, entahlah. Aku dengar dia dari putra bangsawan yang cukup terkenal.”


“Heeee, seperti itu. Jika seperti itu, aku ingin kembali. Palingan hanya sebuah ocehan yang tak penting yang akan dia ucapkan.”


Tepat saat aku ingin pergi.


“Siswa dengan nama Ari, silahkan untuk memberikan ucapan penutup sebagai pengakhir upacara ini.”


Seketika semua orang melihat kearahku. ‘Yang benar saja.’ Nilaiku paling kecil, jika dibantu dengan ujian khususpun itu tidak masuk akal sampai aku harus menjadi siswa terbaik. Selain itu, aku juga jarang masuk ke akademi jadi hal itu sangat mustahil untukku.


“Ari, cepat maju. Semua orang menunggu.” (Iona) Iona berbicara dengan suara berbisik padaku.


“Haaaa, dasar kepala akademi sialan. Aku memang membencimu.” Karena sudah menjadi tugas, mau tak mau aku harus melakukannya. Akupun maju, lalu setelah itu. “Hmmmm, upacara penutupan kali ini berakhir. Kalian bisa bubar.”

__ADS_1


“Eh?” Seluruh siswa kebingungan.


“A-anu, Ari… Bukankah seharusnya kau menyampaikan sesuatu pada mereka, untuk memotivasi mereka.” Salah satu Round menasehatiku.


“Itu tidak perlu, jika memang mereka ingin termotivasi yang harus mereka lakukan adalah praktek bukan hanya mendengarkan ceramah. Ahhh, begini saja. Jika kalian ingin berjasil, berikan bukti bukan hanya ucapan saja. Itu sudah cukup.” Aku ingin segera kembali.


Tapi…


Aku dengan cepat menyadarinya dan segera menghindari. “Hei hei kepala akademi, kenapa kau melakukan itu, itu berbahaya tau.” Dia mencoba untuk menyerangku menggunakan sihir angin. Dan tanpa sadar aku mengeluarkan senapan sihirku dan mengarahkan itu padanya. ‘Cih, menyebalkan.’ Sihir ruang jenis sihir kegelapan. Aku mempelajarinya dari Risa, dia bilang aku memiliki sihir aku tak tau kenapa bisa jadi seperti itu tapi yang pasti karena hal itu aku bisa menggunakannya, meskipun begitu benda yang bisa aku masukkan kedalam sihir ruang terbatas. Sesuatu yang aku sembunyikan dibongkar olehnya.


“Kau memiliki senjata yang unik.”


“Ayolah, ini upacara yang saktral jangan dihancurkan hanya karena ada 1 murid yang bermasalah disini.”


“Aku sudah mendapatkan semua identitasmu, komandan pasukah khus…”


Dorr.


Tanpa sadar aku menembaknya, itu menimbukan kepanikan ditempat ini. “Cih, penghalang sihir angin, ya.” Dia menggunakan penghalang sihir untuk menahan tembakanku. “Aku bilang jangan usik kehidupan pribadiku.”


“Lihat, akibatmu semuanya jadi kacau.”


“Heeee, kau yang mulai malah menyalahkan semua ini padaku.” Aku membencinya, sangat-sangat membencinya. “Jangan kacaukan kehidupanku lagi, atau aku tak yakin bisa menahan kemarahanku yang selanjutnya.” Aku perlahan mulai keluar dari ruangan itu.


Di markas.


“SIALAN ORANG ITU!!!”


“Ari, kenapa kepala akademi melakukan hal seperti itu padamu?” (Iona)


“Entahlah, aku sudah memiliki firasat kalau aku memang membenci orang seperti itu dari awal. Haaaa, sudahlah. Kehidupan sekolahku hancur sudah. Aku tak memiliki kesempatan untuk menikmati masa sekolah yang indah.”


“Haaaa, sudahlah. Aku sudah tidak peduli.”


“Oh ya, kau bisa menggunakan sihir? Kenapa kau menyembunyikan hal itu?!”


“K-kalau untuk itu, aku juga tak tau. Tapi waktu itu Risa-oneesama bilang kalau aku memiliki sihir, dan karena itu aku sedikit belajar darinya.”


“Hmmm, jadi itu alasanmu lebih sering ke istana akhir-akhir ini.”


“Y-ya, seperti itulah.”


“Lalu, apa atribut elemen yang kau miliki?”


“Untuk itu, aku juga tak tau.”


“Eh, bagaimana bisa? Tapi kau tadi mengeluarkan sihir kegelapan’kan.”


“Iya, karena aku yang minta untuk diajari oleh Risa-oneesama. Tapi, saat aku tanya dia bilang kalau aku tidak memiliki atribut elemen apapun.”


“Tapi, kau bisa menggunakan sihir, itu aneh.”


“Tapi yang lebih aneh, bagaimana caramu bisa menggunakan sihir?” (Iona)


“Itu benar, aku juga penasaran.”


“Apa karena waktu itu, ya?” Aku mengingat kembali peristiwa saat mati, kemenanganku bermain shogi melawan seorang dewa, tapi itu hanyalah sebuah candaan saja. Jika memang benar seperti itu. “Hmmm, entahlah.” Untuk saat ini aku ingin mencoba untuk melatih diri. Meskipun begitu, aku sudah cukup banyak berlatih selama beberapa minggu terakhir ini atau lebih tepatnya saat aku tau kalau aku memiliki sihir. “Jika seperti ini, tidak akan menarik.” Tidak ada lagi tantangan yang bisa aku dapatkan, selama ini tantangan yang aku dapatkan adalah dapat mengalahkan musuh dengan jumlah yang sedikit dan menang, itu memberikanku kepuasan tersendiri, tapi jika seperti ini rasanya curang.


“Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah ini?” (Lucy)

__ADS_1


“Yang akan aku lakukan, ya. Mungkin berlatih, sembari menunggu Iona pergi.”


“Lalu setelah itu?”


“Menyelesaikan masalah yang akan datang.”


“Begitu, masih seperti biasanya, ya. Kalau begitu tidak masalah.”


“Oh ya, kenapa kelapa akademi bisa tau identitasmu? Dan lagi, aku yakin dia tadi menyebutkan komandan pasukan khusus.” (Iona)


“Haaa, untuk itu aku tak tau. Tapi dia orang yang menyebalkan. Sudahlah, aku tak ingin membahasnya lagi.”


“Kalau begitu, baiklah.”


Beberapa minggu kemudian.


Markas khusus.


Pagi hari.


“Sudah waktunya, ya.” Hari ini adalah waktunya Iona untuk berangkat menuju ke kerajaan Guil demi mencapai impiannya.


“Aku akan tiba disana sekitar 3 hari, jadi…” (Iona)


“Kenapa tidak naik Dravin saja? Bukankah itu akan lebih cepat, benarkan.” (Lucy)


“Eh?” (Iona)


“Itu benar, kenapa tidak menggunakan Dravin saja. Itu bisa membuat perjalanan ke kerajaan Guil lebih cepat.” (Ria)


“Itu benar.” Lysia dan yang lainnya juga menyetujuinya.


“Kalau begitu, sudah diputuskan.”


“T-tunggu, kenapa kalian seenaknya sendiri. Siapa yang akan…”


“Tentu saja dia, benar’kan Ari.”


“Jangan libatkan aku dalam keegoisan kalian. Aku sedang sibuk.”


“Hei hei, janga dingin seperti itu. Aku tau kau kesepian karena akan ditinggal oleh putri, karena itu setidaknya antarlah dia sampai ke kerajaan Guil. Oh ya, karena pendaftarannya akan dimulai minggu depan, kalian bisa menikmati liburan selama 1 minggu disana sebelum pendaftaran dibuka.”


“K-kalian seenaknya sendiri! Jika itu hanya akan menggangunya, lebih baik aku berangkat sendiri. Kalau begitu, sampai jumpa semuanya. Aku akan merindukan kalian.” Iona pergi.


“Hei hei, kau yakin membiarkannya. Apa kau tidak takut jika terjadi sesuatu yang buruk padanya saat dalam perjalanan.”


“Dia dilindungi oleh pasukan yang berpengalaman, selain itu para ketua regu dan juga para assassin aku sudah menugaskan mereka untuk mengikuti mereka dan membantu mereka jika terjadi sesuatu pada mereka. Semuanya akan baik-baik saja.”


“Meskipun begitu, dia terlihat sedih. Seharusnya kau tau hal itu, kau membiarkan orang yang paling berharga bagimu sedih.”


“Apa yang bisa aku lakukan, saat ini aku juga sedang dilanda dilema. Aku juga tak mau dia pergi, tapi dia memiliki impian yang ingin dia capai. Aku tak bisa berbuat apapun.”


“Kau itu masih terlalu kaku, anggap saja ini sebagai liburanmu. Pergilan dan antar putri sampai kekerajaan Guil dengan selamat.”


“Pekerjaanku masih banyak.”


“Aku yang akan mengerjakan semua pekerjaanmu, sekarang pergilah. Nikmati waktu berhargamu itu dengan putri, aku tau kau tak ingin membiarkannya pergi. Oleh karena itulah, buat sebuah kenangan indah dengannya yang membuatmu ingat terus dengannya jika seperti itu aku yakin kau tak akan kesepian lagi.”


“Haaaa, baiklah. Jika kau memaksa.”

__ADS_1


“Bagus, semoga berhasil, kami akan selalu mendukungmu.”


__ADS_2