Princess In Another World : New Story

Princess In Another World : New Story
56


__ADS_3

Beberapa hari berlalu.


Di perpustakaan pagi hari yang cerah, mungkin.


“Haaaa, masih hujan, ya.” Hujan sudah beberapa hari terjadi dan tidak ada tanda-tanda ingin berhenti.


“Jika seperti ini terus mungkin kita bisa sampai lebih cepat ke benua iblis.” (Lucy)


“Ya, itu bagus tapi tidak ada pemandangan yang bisa dilihat selain awan hitam dan suara petir disini.”


“Mau bagaimana lagi.”


“Ari, pangeran Lucy, aku membuatkan cemilan untuk kalian.” (Iona)


“Wah, terimakasih. Hmm, ini enak.” (Lucy)


“Terimakasih.”


“Kau membuatnya sendiri?”


“Iya, aku bosan tidak melakukan apapun selain itu semua tugas markas sudah selesai jadi sekarang aku punya banyak waktu luang.”


“Hmmm, Lucy bagaimana dengan tugas aliansi yang diserahkan padamu?”


“Semuanya masih berjalan lancar-lancar saja sampai sekarang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.”


“Pangeran, kau tidak mengajak mereka bertiga?”


“Aku mengajak mereka, tapi mereka tak sanggup mengikutiku jadi saat mereka sudah mencapai batas mereka aku biarkan untuk kembali kemari.”


“Kau menyelesaikan sendirian?”


“Ya, ada ataupun tidaknya bantuan semua bisa aku lakukan sendirian.”


“Kau memang hebat dalam hal-hal seperti menghasut orang.”


“Aku terima itu sebagai sebuah pujian.”


“Itu sindiran, kau tau.”


“Iya aku tau, oh ya. Jika keadaannya seperti ini terus, kemungkinan istana ini akan lebih cepat sampai ditujuan selanjutnya.”


“Itu bagus.”


“Oh ya, putri, jika bisa tolong ajari Ria membuat cemilan ini juga.”


“Eh, kalau itu…”


“M-maaf, aku juga membuat sesuatu untuk kalian.” Ria datang sembari membawa makanan.


“Wah, cemilan buatan Ria, ini pasti sangat enak.”


“Ini pertama kali aku mencoba untuk membuatnya, aku membuatnya dengan sepenuh hati. Aku harap kalian menyukainya.”


“Makanan yang dibuat sepenuh hati, ini pasti sangat enak. Kalau begitu, aku akan mencobanya.” Lucy mengambilnya dan memakannya, seketika itu wajahnya berubah.


“Apa tidak enak?”


“T-tidak kok, ini sangat enak. Sungguh.” Dia menyembunyikan fakta. “Nah Ari, ayo kau juga coba.” Ia menjulurkan cemilan itu kearahku.


“H-hey, jangan bawa-bawa aku. Aku makan punya Iona sajw…” Ia memasukkannya secara paksa kemulutku.


“Hey hey, jangan menolak seperti itu. Ini rasanya sangat enak, lo.”


Rasa pertama yang aku rasakan. ‘Makanana apa ini?!’ Aku tak tau apa yang sebenarnya dia masak, tapi meskipun bentuknya mirip seperti makanan yang dibuat Iona, tapi rasanya sangat berbeda jauh. ‘Sialan orang ini!!’


“Bagaimana? Apa enak?” Dengan wajah polosnya, Ria menanyakan hal itu.


“E-enak kok, ya setidaknya tidak kalah enak dengan buatan Iona.”


“Benarkah? Syukurlah, aku belum mencobanya tapi karena aku meniru semua yang dibuat oleh putri seharusnya rasanya juga sama.”


“B-begitu.”


“Nah, Ari. Ayo makan lagi.” Lucy berbicara seperti itu sembari menjulurkan cemilan yang dibuat oleh Ria padaku.


[Kau ingin membunuhku!!] [Bahasa isyarat]


[Mana mungkin, jangan membuatnya sedih. Cepat makan!]


[Sialan kau, kalau begitu.] Saat Lucy menjulurkan cemilan itu kemulutku, aku juga melakukan hal yang sama.


Setelah itu.


“Gwaaahhhh…”


“A-aku sudah tidak kuat lagi.” Cemilan yang dibuat Ria habis.


“Cemilannya habis, jika kalian berdua menyukainya aku akan membuatkannya lagi.”


“T-tidak perlu. Lagipula masih ada cemilan milik putri. Sayang jika harus buat lagi jika masih ada’kan.”


“Jika seperti itu, mau bagaimana lagi. Oh ya, kalian haus’kan aku akan mengambil minuman sebentar.” Ria pergi.


“Kalian berdua, kenapa berbohong seperti itu.”


“M-mau bagaimana lagi putri, aku tak ingin melihat wajahnya yang senang itu memudar.”


“J-jika itu tujuanmu, jangan mengajakku bodoh. Sialan kau. S-sial. A-aku ingin ketoilet sebentar.”


“A-aku juga.”


Siang hari.


Toilet.


“Ari, bagaimana denganmu apa sudah mendingan?”


“Mana mungkin, ini gara-gara kau. Sakit perut ini, membuatku tersiksa.”


“Sebaiknya aku tak menyuruh dia untuk membuat cemilan, cukup masakannya saja yang enak aku tidak keberatan dengan hal itu.”


“Aku setuju.”


Cukup lama setelah itu.


“Ari, pangeran Lucy, apa kalian berdua baik-baik saja?”


Suara Iona terdengar dari luar toilet. “Y-ya, kami baik-baik saja.”


“Kalian lama sekali, apa ada sesuatu yang terjadi?”


“K-kami sedang membuat rencana disini, tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Putri, sebaiknya kau kembali saja dulu.”


“Rencana? Rencana apa yang kalian buat di toilet?”


“Begini Iona, jika seseorang berada ditoilet dia bisa memikirkan hal baru karena toilet adalah tempat dimana pemikiran jenius tercipta.”


“Begitu, aku baru tau. Kalau begitu, aku akan menunggu kalian di perpustakaan. Jangan lama-lama, ya.”


“Iya.”

__ADS_1


“Hey, kau serius berkata seperti itu?!”


“Sudahlah, jangan menggangguku saat ini aku sedang fokus.”


“Ugh sial, kambuh lagi.”


Ya, kami berdua menghabiskan cukup banyak waktu disini.


Sore harinya.


Ruang istirahat lantai 3.


“Ari, kau sudah mendingan?”


“Haaaa, semua isi perutku sudah keluar, jika masih sakit lagi aku tak tau apa yang akan keluar selanjutnya.”


“Aku juga. Kenapa kau tidak mengeluarkan sihir penyembuhanmu, sial.”


“Mengeluakan sihir butuh konsentrasi, bagaimana aku bisa konsentrasi jika keadaannya seperti itu.”


Kami diam dan tak melakukan apapun untuk membuat keadaan kami lebih baik.


“Wakil komandan, Lucy, maafkan aku.” Tanpa aku sadari Ria dan juga Iona datang kemari. “Jika membuat sesuatu lagi aku pastikan akan mencobanya terlebih dahulu, aku mohon maafkan aku.” Ia menunduk dengan menunjukkan rasa penyesalannya. “Aku benar-benar menyesal.”


“Haaaa, Lucy sudah tidur. Dia kemungkinan sangat lelah, sejak tadi pagi sampai sekarang kami baru keluar dari toilet.”


“Tapi, istana ini kan bergerak, bukankah waktu yang digunakan juga tidak sesuai.”


“Meskipun begitu Iona, berjam-jam di toilet itu bukan hal yang bagus.”


“Oh ya, kau tadi bilang sedang membuat rencana? Saat kau buang air besar tadi, rencana apa yang kalian berdua buat?”


“Aku tadi mengatakannya, ya?”


“Iya, dengan jelas.”


“Begitu. Haaaa, aku sangat lelah sekarang. Aku ingin tidur.”


“Ari, sebelum tidur minum obat ini dulu.”


“Obat?”


“Aku tadi pulang ke kerajaan untuk membelinya untukmu. Ini bisa meredakan gejala penyakitmu.”


“Haaa, terimakasih.”


“Aku akan mengambil air jadi tunggu sebentar.” Beberapa saat kemudia Iona kembali. “Ari, minumlah.”


Aku memakan obatnya dan setelah itu meminum air. “Pahit.”


“Namanya juga obat, sudah pasti pahit. Tapi, apa kau sudah mendingan?”


“Ini obat bukan sihir, efeknya tidak akan langsung bisa dirasakan tepat saat obatnya dimakan.”


“Benar juga. Ria, berikan juga obat ini pada pangeran.”


“Apa aku harus membangunkannya?”


“Dia mungkin tidak akan bangun meskipun kau mencoba sekeras apapun, dia tertidur sangat lelap sekarang.”


“Lalu, wakil komandan apa yang harus aku lakukan?”


“Hmmm, kenapa tidak kau saja yang memberikan obatnya secara langsung.”


“Huh? Secara langsung?”


“Ari, maksudnya secara langsung itu bagaimana?”


“Umh…”


Aku memasukkan lidahku kemulutnya, membiarkan dia merasakan pahitnya obat yang masih tersisa.


“Sekiranya seperti itu.”


“Ueekkk, pahit, a-aku mau muntah.”


“A-awww…” Iona memukulku.


“Rasakan!! Melakukan hal itu lagi, akan aku pukul lebih keras.”


“Hahaha, maaf.”


“I-itu, sangat berani sekali. Selain itu kalian berdua sudah menjadi suami istri, jadi tidak masalah melakukan hal seperti itu.”


“Huh? Bukannya kalian berdua sudah sering melakukannya, berciuman?”


“T-tidak, hanya beberapa kali saja itupun yang memulai duluan adalah Lucy.”


“Hmmm, jadi begitu. Jika seperti itu, kenapa kau tidak melakukannya sekarang. Selain itu, jika obatnya tidak diberikan kemungkinan dia akan kesakitan lagi. Aku yakin kau tak ingin melihat dia tersiksa lagi akibat apa yang sudah kau lakukan padanya.” Ia terlihat ragu-ragu. “Haaaa, aku akan istirahat. Iona, jika ada apa-apa kau bisa bangunkan aku.”


“Baik.”


“Hoaaaam, kalau begitu selamat tidur.” Aku perlahan mulai menutup mataku, dan membiarkan rasa lelah ini menguasaiku. ‘Hari ini hari yang sangat melelahkan.’


Esoknya.


Di pagi hari yang cerah di perpustakaan.


Aku dan Lucy sedang membaca buku di perpustakaan untuk menghabiskan waktu.


“Hujannya sudah berhenti.”


“Iya, mungkin dalam beberapa hari lagi kita akan sampai di benua iblis.”


“Beberapa hari lagi, ya.”


“Ya, sekitar 2 sampai 4 hari lagi, mungkin.”


“Badai itu memberikan tambahan tenaga untuk membuat istana langit ini bergerak lebih cepat, itu sedikit bagus.”


“Oh ya, Ari apa kau alasan kenapa Ria selalu menghindariku?”


“Huh? Dia menghindarimu?”


“Ya, seperti itulah. Apa aku berbuat salah? Tapi, jika dipikir-pikir lagi aku sama sekali tidak membuat kesalahan apapun.”


“Mungkin dia membencimu.”


“Hey, jangan katakan hal menakutkan seperti itu. Candaanmu itu tidak lucu.”


“Kenapa kau tidak tanya saja padanya.”


“Dia saja menjaga jarak dariku, bagaimana caranya aku bisa mendekatinya.”


“Mungkin kau terkontaminasi kuman atau virus berbahaya, jika seperti itu jangan dekat-dekat denganku.”


“Kau itu.”


“Hahahaha, kenapa kau tidak tanyakan saja pada Iona, dia mungkin tau sesuatu.”


“Hmmm, benar juga. Kalau begitu, aku akan menanyakannya setelah ini. Mungkin nanti malam saja, hari ini aku harus pergi ke berbagai kerajaan.”

__ADS_1


“Mau aku bantu?”


“Kau memangnya mau membantu?”


“Tidak juga sih, aku lebih suka disini menghabiskan waktu sambil bersantai.”


“Sekali-kali bantu aku, aku juga kadang kesulitan.”


“Hah, kau kesulitan, rintangan mancam apa yang bisa menghentikanmu. Bahkan sebuah gunung yang tinggi bisa kau lewati dengan mudah.”


“Sudahlah, aku akan pergi sendiri. Hari ini aku akan mendapatkan banyak sekali kerajaan untuk masuk aliansi, lihat saja.”


“Kau akan pergi sendirian?”


“Mau banyak ataupun sendirian itu tidak akan merubah apapun, selain itu aku lebih suka menyelesaikannya sendiri. Jika mereka ber-3 ingin ikut aku persilahkan.”


“Jika kau berkata seperti itu mereka ber-3 akan merasa hanya menjadi beban.”


“Aku tak akan menyangkalnya, selain itu mereka memiliki bakat mereka tersendiri dan tentu saja bukan dalam hal ini.”


“Bakat mereka?”


“Sama seperti putri Iona dan juga teman-temannya yang lain, mereka juga memiliki bakat.”


“Aku sudah tau, tapi apa bakat mereka?”


“Hmmm, aku masih belum mengetahuinya dengan pasti, selain itu tidak ada yang melatih bakat mereka jadi bakat mereka terpendam tanpa ada yang tau. Jika saja mereka menunjukkan kebolehan mereka dalam bidang tertentu, kau pasti bisa memberikan latihan yang sesuai.”


“Hey, kenapa kau membawa-bawa aku.”


“Hanya kau yang bisa melakukannya, ini bukan bidangku. Jika saja ini adalah bidangku aku pasti yang akan melakukannya.”


“Haaaa, terserah kau saja.”


“Baiklah, waktunya pergi.”


“Kau sudah mau pergi?”


“Ya, mungkin di Thorwn sekarang malam. Aku harus berangkat secepat mungkin ke berbagai kerajaan, oleh karena itu aku tak boleh membuang-buang waktu.”


“Kalau begitu, hati-hati dijalan.”


“Ya.”


Cukup lama setelah itu.


“Wakil komandan, Lucy kemana?” Ria datang menghampiriku.


“Lucy, diaberangkat melakukan pekerjaannya.”


“Begitu, ya.”


“Oh ya, aku dengar kau menjauhi Lucy. Memangnya apa yang sudah terjadi?”


“D-dia bilang seperti itu?”


“Ya, dia kebingungan dan dia pikir dia sudah membuat kesalahan. Tapi jika dipikir-pikir lagi, memangnya dia membuat kesalahan yang sampai membuatmu menjauhinya?”


“B-bukan begitu, hanya saja. I-ini soal kemarin.”


“Kemarin?”


“Ari, aku menemukan sesuatu. Cepat kemari!!”


“Iya iya, sebentar. Ria, maaf aku akan menghampiri Iona sebentar.”


“Ya.”


Beberapa saat kemudian.


“Ada apa?”


“Lihat buku ini.”


“Hmmm, ada apa dengan buku ini?”


“Tulisannya sama seperti tulisan diduniamu sebelumnya.”


“Huh?” Aku tak begitu memperhatikannya dengan jelas, tapi saat aku melihatnya kembali itu memang benar.


“Apa ini sejenis buku harian?”


“Jika ditulis dengan tulisan duniaku sebelumnya, seharusnya ini memang benar buku harian.”


“Kalau begitu, Ari, bisa kau bacakan? Awww…”


Aku menjitak dahinya. “Ini adalah privasi seseorang, jika membacanya maka kita akan termasuk pada orang yang sudah ikut campur masalah orang lain.”


“Tapi, ini hanya tulisan.”


“Kadang ada sebuah kata yang tidak bisa diungkapkan melalui kata-kata dan hanya bisa ditulis, tapi saat ada yang membacanya orang yang menulis itu akan sangat malu karena sudah menulis hal itu. Pengandaiannya seperti ini, saat kau sedang ganti baju tiba-tiba saja aku masuk dan melihatmu. Saat kau menyadarinya kau pasti akan malu, benar’kan.”


“Tidak juga, lagipula kau suamiku. Kau sudah banyak sekali melihat tubuhku, aneh jika aku malu hanya karena kau melihatku sedang mengganti baju.”


“Ternyata kau berani juga. Y-ya, seperti itulah contohnya. Jika ingin membacanya, setidaknya kita harus mendapatkan izin dulu dari orang yang membuatnya.”


“Begitu, tapi aku sangat penasaran dengan isinya.”


“Meskipun begitu, tetap tidak boleh.” Aku mengambil buku itu dari tangannya dan menaruhnya di ruang dimensi milikku. “Dengan begini kita bisa anggap buku itu tidak pernah ada.”


“Eh?! Kembalikan, kembalikan, aku ingin membacanya.”


“Tidak boleh.”


“Aku mohon.” Iona memegang tanganku dengan kedua tangannya dan menunjukkan mata yang berkaca-kaca serta waja imutnya padaku. “Sayang, aku mohon, berikan padaku.”


‘Sial.’ Melihatnya seperti itu membuatku sulit untuk menolaknya. “Haaaa, hanya sebentar saja, ya.”


“Horee, terimakasih.”


Aku mengambil bukunya. “Ini, bukankah kau ingin membacanya.”


“Ehh, bacakan, aku tidak bisa membaca tulisan itu. Selain itu aku adalah istrimu, jika aku menginginkan sesuatu kau harus mengabulkannya.”


“Eh, kenapa seperti itu.”


“Sudah, ayo cepat bacakan. Aku penasaran dengan isinya.”


“Haaaa, iya iya aku mengerti.” Aku membukanya dan saat dibuka ada sebuah tulisan kecil dibalik sampul bukunya. “Jika kau membaca buku ini karena tidak ada buku lain lagi yang bisa dibaca, sebaiknya jangan baca buku ini. Tapi, jika kau penasaran dengan isinya sejak awal melihat buku ini kau bisa membacanya.” Aku tak menyangka akan ada tulisan seperti itu.


“Asyik, kita sudah mendapatkan izin. Lagipula saat aku pertama kali melihatnya aku sudah penasaran dengan isinya. Sayang, ayo bacakan untukku.”


“Iya. Tapi orang yang membuat buku ini pasti sudah tau kalau akan ada orang yang membacanya suatu hari nanti, oleh karena itu dia menulis hal seperti ini.”


“Mungkin saja ada hal yang penting yang ditulis dibuku ini, oleh karena itu pembuat buku ini memberikan pesan seperti itu.”


“Tapi, buku ini ditulis dengan tulisan duniaku sebelumnya, jadi tidak akan ada orang yang bisa membacanya didunia ini.”


“Abaikan hal itu, ayo cepat bacakan untukku.”


“Haaaa, iya iya. Sebentar.” Aku duduk dilantai dan Iona ikut duduk disampingku. Setelah itu aku mulai membacanya, apa yang sebenarnya ditulis dibuku ini dan entah kenapa aku juga mulai penasaran dengan apa yang ditulis didalamnya.

__ADS_1


Cerita tentang seorang putri yang mendengar cerita hebat dari ayahnya, itulah yang tulisan yang ada dijudulnya.


__ADS_2