
Masih dimalam yang sama.
“Yo, kalian sudah kembali.” Lucy dan juga Ria sudah kembali. “Aku sudah menyiapkan minuman untuk kalian berdua, minumlah itu bisa membuat tubuh kalian menjadi hangat.”
“Terimaka… Accoooh.”
“Hmmm, sepertinya sudah telat. Tapi, minum saja. Oh ya, gunakan ini.” Aku memberikan mereka berdua selimut yang cukup tebal.
“Kau sudah tau akan jadi seperti ini.” (Lucy)
“Mana mungkin, aku hanya menebak saja. Karena ditempatku tidak ada, jadinya aku kembali kesini.”
“Kau itu.”
“Sudah-sudah, kalian duduk dulu disana dan nikmati minumannya. Aku masih harus menyelesaikan dokumen ini.”
Pintu terbuka.
“Kalian sudah kembali, ya.” (Iona) Iona datang sembari membawa 2 mangkuk bubur.
“Putri, anda tidak pulang?”
“Aku rencananya mau pulang, tapi karena cuacanya semakin parah aku menginap disini.”
“Ya, meskipun tidak parah juga kau sering menginap disini.”
“I-itu hal yang berbeda.”
“Iya iya.”
“Ini untuk kalian berdua, makanlah selagi masih hangat”
“Terimakasih.” (Ria)
Mereka berdua memakannya, lalu setelah itu mereka tertidur.
“Mereka terlihat sangat romantis, sepertinya rencanamu berjalan dengan baik.” (Iona)
“Itu bukan rencana, itu hanyalah sebuah situasi yang tak terduga.”
“Jadi itu bukan rencanamu?”
“Ya, tapi itu sesuai dengan apa yang aku harapkan. Meskipun begitu, mereka pasti akan menyembunyikannya dari orang lain.”
“Demi kepentingan?”
“Bukan, tapi demi menjaga perasaan satu sama lain.”
“Menjaga perasaan satu sama lain?”
“Bisa kau bayangkan jika sampai ada yang tau kalau seorang pangeran memiliki hubungan dengan rakyat biasa, aku yakin Lucy juga sudah menyadarinya. Jika sampai terbongkar, maka dia harus melindunginya mati-matian, atau bahkan hal yang lebih buruk lagi.”
“Melepas gelarnya sebagai seorang pangeran, itu yang ingin kau katakan.” (Lucy)
“Pangeran Lucy, kau bangun?”
“Sedari awal dia memang tidak tidur, dia hanya memejamkan mata saja. Kau sudah menyadarinya, ya. Jika kau sudah tau, apa yang akan kau lakukan?”
“Kau tau, untuk pertama kalinya aku merasa mendapatkan sesuatu yang sangat berharga lebih dari apapun, aku ingin menjaganya meskipun harus mengorbankan semua yang aku miliki.”
Aku tersenyum. “Itu yang ingin aku dengar.” Sesuatu yang sudah lama aku tunggu akhirnya dia ucapkan saat ini. “Karena aku yang memulai, jika ada sesuatu diluar kendalimu atau yang membuatmu kesulitan, mintalah bantuan dariku aku akan membantu.”
“Aku terima tawaranmu itu.”
“Oh ya.” Aku mendekat kearah Lucy, dan menyerahkan sebuah kertas padanya. “Jika kau menandatangani itu, sesuai perjanjian 50% asetku akan jadi milikmu.” Tapi, dia membuat pilihan yang tak terduga. “Hooo, kau merobeknya.” Dia merobek kertas yang aku berikan padanya.
“Jika sampai dia tau kalau ini adalah taruhan diantara kita, aku yakin dia akan merasa dirinya dimanfaatkan saja olehku.”
“Oleh karena itu kau menolaknya, agar menjaga perasaannya, seperti itu?”
“Bukan hanya itu, seperti yang aku bilang padamu sebelumnya. Aku sudah mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari apapun, itu sudah cukup untukku. Jika harus memulai, setidaknya aku ingin memulai dari awal lagi, memulai dari sesuatu yang kecil bersama dengannya.”
Mendengarnya berkata seperti itu sudah membuatku sangat senang, itu melebihi apa yang aku bayangkan. “Haaaa, kau sudah membuatku kagum dengan perubahanmu itu dalam waktu yang sangat singkat ini. Jika kalian ada masalah, katakan saja padaku. Aku akan membantu, kita adalah teman’kan.”
“Iya.”
“Kalian beristirahatlah, aku tak ingin menggangu waktu istirahat kalian.” Aku membawa dokumen yang belum selesai ke kamar. “Sampai jumpa besok.”
“Ya, sampai jumpa.” Aku dan Iona kembali ke kamar.
Di kamar.
“Hmmm, ini masih kurang.”
“Ari, kau tidak tidur?”
“Masih ada beberapa berkas lagi yang lupa aku selesaikan, kalau kau mengantuk tidur saja duluan.”
“Kalau begitu, selamat malam.”
“Selamat malam.”
Cukup lama setelah itu, Iona sudah tertidur pulas.
“Baiklah.” Aku perlahan mulai berjalan keluar dari kamar. “Ternyata benar, ini bukan salju biasa.” Suhu dinginnya tidak normal, jika dianggap sebagai kejadian alam maka hal ini tidak wajar. Selain itu volume dari salju ini juga berbeda, dan yang paling penting hujan saljunya hanya lebat di bagian kerajaan saja. Saat mencari Ria, aku memeriksa dibagian luar kerajaan dan disana cuacanya tidak separah disini. “Jika dibiarkan terus, maka semua hasil panen yang sudah disimpan akan cepat rusak.” Jika sampai hal itu terjadi, maka penghasilan dan juga bahan makanan untuk musim dingin akan lenyap.
“Hmmmm, kira-kira siapa, ya.” Dari kerajaan mana, itulah yang aku pikirkan saat ini. Jika harus mengimpor barang dari kerajaan lain, harganya pasti akan melonjak tinggi. Dengan keadaan seperti ini meskipun keuangan kerajaan sedang dalam kondisi yang stabil, tapi ekonomi masyarakat bawah akan terancam. Mereka kemungkinan besar tidak akan bisa membeli bahan pangan jika harganya melonjak tinggi.
“Hiiiiii, dingin.” Tubuhku mulai mengigil. “Aku harus memikirkan sesuatu yang hangat agar tubuhku bisa tetap hangat. Ya, meskipun itu hanyalah hal yang bohong.” Meskipun begitu aku tetap melakukannya. “Eh, tidak dingin.” Tubuhku merasa hangat. “Aku tak menyangka hayalan seperti itu akan beguna disini.” Aku tak tau kenapa tapi ini adalah hal yang bagus.
“Hmmm, apa yang bisa aku lakukan untuk mengatasi ini. Ini adalah sihir, sesuatu yang berada diluar jangkauanku.” Ini adalah jalan buntu untukku. “Haaaa, jika saja aku bisa menggunakan hal yang tak masuk akal itu. Sudahlah, tidak ada waktu untuk menghayal. Aku harap orang yang melakukan ini mendapatkan balasan yang setimpal.”
Beberapa saat kemudian.
Saljunya mulai mereka. “Eh? Permintaanku terkabul, i-ini hebat.” Aku tak tau ini kebetulan atau apa, tapi ini sudah sangat membantu. “Untuk masalah ini, sepertinya bisa aku anggap sudah selesai. Hoaaaam, sudah tengah malam waktunya untuk istirahat.”
Esoknya.
Pagi hari.
Semua prajurit hari ini sedang sibuk membersihkan salju yang menumpuk disekitar markas.
Di ruang komandan.
“Hoaammm.”
“Ari, kau kurang tidur?” (Iona)
“Entahlah, aku sangat lelah hari ini.”
“Apa kau sakit?” Iona menyentuh dahiku. “Tidak panas.”
“Haaaa, aku hanya lelah saja. Mungkin karena semalam aku kebanyakan bekerja.”
“Begitu.”
“Sebelum aku tidur, Lucy, bisa periksa tambang? Berikan aku infonya saat sudah bangun nanti.”
“Baik.”
“Kalau begitu, selamat tidur.” Aku tidur dimeja komandan.
\=\=\=
“Dia sudah tidur.”
“Putri, aku akan pergi dulu.”
“Ya, hati-hati.” Lucy pergi.
Aku mengambil selimut dan menyelimuti Ari. “Hmm, setelah ini apa yang harus aku lakukan?” Disaat seperti ini aku tak tau apa yang harus aku lakukan. Karena bingung aku putuskan untuk kembali mengerjakan tugasku.
Beberapa menit setelah itu.
Pintu terbuka.
“Pangeran kemana?” (Ria)
“Dia pergi ketambang, jika kau mau menyusulnya sepertinya masih sempat.”
“Begitu, putri aku ingin menyerahkan laporan ini.”
“Ya, terimakasih. Kau tak menyusulnya?”
“Aku mungkin hanya akan menggangunya.”
“Kenapa kau berfikiran seperti itu, itu bisa jadi hal yang bagus. Itu bisa menjadi kencan pertama kalian.”
“K-kencan pertama, a-apa yang anda katakan.”
“Cincin itu, kau tidak bisa menyembunyikannya. Kau dan pangeran Lucy sudah…”
“Ahhhh!! Aku mengerti. Baik, aku akan menyusulnya.”
“Ya, semoga berhasil.” Ria pergi.
“Ria, mau kemana?” (Rine)
“Eh, aku mau pergi sebentar.”
“Dia terlihat terburu-buru.” (Sofia)
“Kalian kembali, bagaimana pekerjaan kalian?”
“Sudah selesai, dia tertidur?” Sofia melihat kearah Ari yang tertidur pulas.
“Iya, karena mengerjakan pekerjaannya sampai larut malam dia jadi kurang tidur.”
“Bukankah wakil komandan terlalu banyak bekerja, yang aku tau dia sama sekali jarang mendapatkan waktu untuk liburan. Putri, bukankah kau juga sepemikiran.” (Rine)
“Eh, i-iya. Kemarin dia juga bilang ingin berlibur, tapi karena cuaca yang seperti ini jadinya tidak bisa.”
“Begitu. Ngomong-ngomong, kenapa Ria terlihat terburu-buru? Memangnya apa yang ingin dia lakukan?” (Lysia)
“Ahhh, untuk itu…”
\=\=\=\=
“Haaaa, accoh. Dingin.” Aku sedang dalam perjalanan menuju ke tambang. “Haaaa, apa yang harus aku periksa sesampainya disana?” Aku dengar sudah tidak ada lagi monster disana, dan tambang disana sudah siap untuk digunakan.
“Pangeran!!” (Ria)
“Huh?” Aku berbalik dan melihat Ria yang sedang mengejarku. “Ada apa? Kenapa kau kemari?”
__ADS_1
“T-tidak ada, aku hanya ingin ikut.”
“Tapi ini cukup berbahaya, lo. Kau yakin?”
“Iya.”
“Ya sudah.”
Cukup lama setelah itu, kami sampai.
“Hmmmm, tidak ada yang aneh.”
“Anu…”
“Huh? Ya, apa ada masalah?”
“Apa kita benar-benar menjadi… Sepasang kekasih?”
“Iya, kau tidak puas? Apa harus diadakan pertunangan juga?”
“T-tidak perlu, aku hanya ingin tau saja. B-begitu, ya. Jadi kita sudah menjadi sepasang kekasih, pangeran.”
“Hmmm, cara bicaramu padaku itu terlalu kaku, dan lagi. Jika hanya ada kita berdua, kau bisa memanggil namaku.”
“Eh?! T-tapi…”
“Kau tidak suka?”
“B-bukan begitu, baiklah. Kalau begitu, tolong panggil namaku juga.”
“Baik, Ria.”
“Terimakasih.”
“Hmmm, Ria, bisa periksa bagian sana. Aku ingin memeriksa bagian lain.”
“Baik.”
“Oh ya, jika ada sesuatu yang membahayakan kau bisa langsung pergi.”
“Bagaimana denganmu?”
“Aku akan baik-baik saja, selain itu jika sampai terjadi sesuatu yang buruk padamu. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri, aku harap kau mengerti.”
“Baik.”
“Kita akan bertemu lagi disini seletah 1 jam.”
“Baik, aku mengerti.” Kami berpisah.
Beberapa menit setelah itu.
“Pangeran, ada apa?”
“Hmmm, aku sudah bilang apa tadi. Panggil namaku saat kita hanya berdua saja.”
“Eh, m-maaf. Kenapa datang kemari?”
“Aku hanya khawatir denganmu, aku pikir tak baik membiarkan seorang gadis berjalan sendirian. Jadi aku menyusulmu.”
“Begitu, terimakasih karena sudah memperhatikanku, Lucy.”
\=\=\=
“Hey putri, bukankah mereka itu sangat dekat.” (Lysia)
“Meskipun putri sudah bilang kalau mereka berdua sepasang kekasih, tapi aku masih tidak menyangka hal seperti itu bisa terjadi.” (Rine)
“K-kenapa kalian mengikuti mereka.” Aku, Lysia, Rine dan juga Sofia membuntuti mereka berdua.
“Kami penasaran. Aku dengar sikap asli seorang laki-laki akan muncul saat mereka hanya berdua saja, oleh karena itu aku penasaran.”
“Meskipun begitu, aku tak menyangka kalau pangeran akan memilihnya. Aku pikir selera pangeran adalah gadis cantik dan kaya raya. Benar’kan Sofia.” (Lysia)
“Iya, aku pikir juga seperti itu.” (Sofia)
“Tapi, aku dan Ari juga dari kalangan yang berbeda.”
“Putri dan wakil komandan Ari memang dari kalangan yang berbeda, tapi kalian berdua terlihat sangat dekat. Dan lagi, wakil ketua Ari itu adalah pria yang hebat, wajar jika putri menyukainya. Tapi dalam kasus ini, Ria yang bahkan tidak memiliki apapun bisa mendapatkan hati seorang pangeran yang tampan dan jenius, aku iri dengannya.”
“Wooah, Ria ingin memengang tangan pangeran… Eh, kenapa? Kenapa tidak jadi.” (Rine)
“Mungkin karena malu, aku juga pernah merasakannya. Saat ingin menyentuh tangannya, aku sangat malu.”
“Tapi akhinya putri bergandengan tangan dengan wakil komandan Ari,kan.”
“Y-ya, seperti itulah.”
“Ngomong-ngomong putri, bekas ciuman dilehermu itu, tidak hilang?” (Lysia)
“Eh? K-kenapa membahas hal itu?”
“Bekas ciuman dileher, putri sudah sejauh apa hubunganmu dengan wakil komandan Ari?!” (Rine)
“H-hal seperti itu mana mungkin aku jawab. I-itu memalukan. Yang lebih penting, sebaiknya kita segera kembali, tidak baik jika membuntuti mereka terus.”
“Benar juga, aku yakin tidak akan ada hal yang terjadi hari ini. Lagipula baru 1 hari sejak mereka menjadi sepasang kekasih, aku yakin mereka berdua tidak akan seberani itu untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi.” (Lysia)
“Kalau begitu, ayo kita kembali. Udaranya juga dingin.”
\=\=\=
Siang hari.
“Hoaaammm.”
“Ari, kau sudah bangun. Bagaimana, apa tidurmu nyenyak?” (Iona)
“Ya, seperti itulah. Aku lebih segar sekarang. Dimana Lucy?”
“Dia sedang pergi keluar, dia juga sudah menyerahkan berkas yang kau minta. Semuanya ada dimeja.”
“Haaaa, sedang keluar bersama Ria, ya. Aku harap dia tidak lalai dengan tugasnya.”
“Kau yang membuat hubungan mereka jadi seperti itu, jadi mau bagaimana lagi.”
“Hmmm, sudahlah. Aku ingin sedikit berolah raga sebentar.”
“Eh? Dokumen itu?”
“Tidak usah dipedulikan, dokumen itu hanya sebuah alasan saja. Kau’kan juga ikut melihat apa yang mereka berdua lakukan.”
“K-kau menyadarinya.”
“Padahal aku membuat waktu untuk mereka berdua, tapi aku tak menyangka kau akan mengatakannya pada yang lain juga.”
“K-kau mendengarnya, ya. M-maaf.”
“Tidak perlu minta maaf, lagipula itu sudah terjadi.”
“Ari, aku ikut.”
“Ayo.”
Tempat yang kami tuju adalah area latihan.
“Sudah lama sekali aku tak datang kemari.”
“Komandan, wakil komandan, ada perlu apa datang kemari?” (Famus)
“Aku hanya ingin melihat-lihat saja. Bagaimana pelatihannya? Apa berjalan dengan lancar?”
“Karena musim dingin, kami membatasi latihan hanya beberapa jam saja agar tubuh tetap dalam keadaan yang stabil.”
“Begitu.”
“Saya ingin melanjutkan latihan dulu.”
“Ya, jangan berlebihan jagalah kesehatan.”
“Terimakasih atas perhatiannya.”
Beberapa saat kemudian.
“Iona, mau jalan ke kota.”
“Eh, kenapa tiba-tiba.”
“Ada sesuatu yang ingin aku beli, yak au bisa anggap ini sebagai kencan.”
“K-kencan.”
“Kau tidak suka?”
“B-baik, aku akan ikut. Asyik, kencan bersama Ari.”
Di kota.
“Ari, lihat itu. Makanan khusus yang hanya dibuat dimusim dingin.”
“Ahh, nona, apa anda mau makanan ini?” (Pedangang)
“Ari…”
“Haaaa, ya sudah. Sekalian juga beli untuk yang lain.”
“Baik.”
Beberapa menit setelah itu.
“Kita sebenarnya mau kemana?”
“Mencari sesuatu. Ahh, kita sudah sampai.” Kami berhenti tepat di depan sebuah toko.
“Toko perhiasan?”
“Ayo.” Kami masuk kedalam.
Di dalam toko perhiasan.
Saat aku masuk kedalam aku sudah melihat apa yang menjadi incaranku. ‘Permata api murni.’ Sebuah permata merah yang berwarna layaknya kobaran api biru yang murni.
“Permata itu indah sekali.”
__ADS_1
“Selain permata itu, apa ada yang kau inginkan?”
“Eh, t-tidak…”
“Hmmm, begitu. Permisi.”
“Wah, tuan pelanggan. Apa yang ingin anda beli hari ini.”
“Aku hanya ingin melihat-lihat, dan tumen tempat ini sepi.”
“Karena musim dingin, kebanyakan orang membutuhkan makanan bukan perhiasan jadinya tempat yang biasaya ramai menjadi sepi seperti ini. Benar juga pesanan yang anda minta sudah sampai.”
“Dilihat dari ekpresimu, sepertinya kau sudah siap untuk menguras habis uangku.”
“Hahahaha, mana mungkin seperti itu. Ya, benda itu sangat sulit ditemukan saya hanya ingin harga yang sepadan saja untuk benda itu.”
“Seperti biasa, arti disetiap perkataan seorang pedagang memang menakutkan.”
“Ari, siapa dia?”
“Maaf atas ketidaksopanan saya, nama saya Tuin seorang pedagang.”
“Ahhh, kau ingat tentang seseorang yang aku bicarakan waktu itu. Beliau adalah orangnya.”
“Siapa? Kau tidak mengatakan apapun padaku.”
“Eh, sepertinya aku hanya mengatakannya pada Lucy. Dia adalah orang yang memberitahuku tentang tempat penjualan anggur yang sangat luar biasa hebat.”
“B-begitu.”
“Anda terlalu berlebihan, itu hanyalah tempat kecil. Saya pikir sayang saja jika tempat yang memiliki kualitas anggur senikmat itu tidak terkenal. Tapi saya tidak meyangka ternyata itu jauh dari apa yang saya perkirakan.”
“Hahaha…”
“Lalu, nona cantik yang bersama anda?”
“M-maaf, namaku Iona. Iona L. Thorwn.”
“T-tuan p-putri!!” Tuin terkejut.
Dia mengatakannya. ‘Haaa, sudahlah. Semuanya sudah terlambat.’ Kami datang kemari dengan menyembunyikan identitas kami, tapi dia malah membocorkannya sendiri.
“L-lalu, anda…”
“Ahh, aku hanya orang biasa yang kebetulan mengenal putri, itu saja. Huh? Iona, ada apa?” Dia tiba-tiba menggenggam tanganku. “Kau kedinginan?”
“M-maaf.”
“Ehhh, tuan Tuin. Apa disini ada tempat untuk menghangatkan diri.”
“Kalau begitu, ikut saya.”
Beberapa saat kemudian.
“Haaa, disini sangat nyaman.” (Iona)
Tempat disini berbeda dari sebelumnya, disini terasa hangat dan nyaman. Kami duduk dan mulai berbicara, tak ada kursi ataupun meja hanyalah ruangan kosong yang ada disini dan juga sebuah penghangat ruangan.
“Penghangat yang ada disini dibuat dari sihir, dan barang yang digunakan untuk mengaktifkannya adalah batu sihir.” (Tuin)
“Heee, ternyata sihir juga bisa digunakan sebagai bisnis.”
“Jika penggunaannya tepat maka sihir bisa digunakan untuk membantu kehidupan manusia.”
“Tapi, ada juga yang menggunakannya untuk melakukan sesuatu yang buruk.”
“Hal seperti itu memang sering terjadi, jika seseorang memiliki kemampuan yang orang lain tidak miliki. Kepribadian asli orang tersebut akan muncul, akan menggunakan dengan baik atau tidak, hal itu yang akan menunjukkan kepribadian aslinya sebagai seorang manusia.”
“Menunjukkan kepribadian asli seorang manusia, ya.”Aku sempat berfikir sejenak. “I-iona.” Iona merebahkan diri dipangkuanku.
“Tempat ini sangat nyaman, aku ingin tidur sebentar.” Setelah mengucapkan itu, dia memejamkan matanya. “Selamat tidur.” Ia tertidur.
“Haaaa, sudahlah.”
“Anda dan juga tuan putri terlihat begitu dekat, hubungan apa yang anda jalin dengannya?”
“Entahlah, untuk saat ini aku tak tau.”
“Saya juga mendengar beberapa kabar tentang putri yang dicium oleh orang yang tak dikenal saat pesta dilangsungkan, saya hanya menduganya tapi apakah itu anda? Dan lagi, bekas ciuman dileher tuan putri. Saya tak pernah mendengar kedekatan antara pangeran Lucy dan juga tuan putri Iona, jadi yang bisa saya pikirknya hanyalah anda. Selain itu, melihat kedekatakan anda dan juga tuan putri sepertinya anda memang memiliki hubungan dengannya, hubungan khusus seperti seorang kekasih.”
“Haaaa, menjadi seorang pedangang enak, ya. Bisa mendapatkan informasi yang berguna dengan mudah.”
“Itu adalah salah satu keuntungan menjadi pedagang. Jadi itu benar, ya.”
“Aku ingin kau merahasiakannya.”
“Masalah derajat dan kedudukan, ya. Saya mengerti.”
“Oh ya, bagaimana dengan benda yang aku pesan itu?”
“Ahhh, saya akan membawakannya. Tunggu sebentar.” Tuin pergi.
“Kau tidur sangat nyenyak.” Wajah Iona yang sedang tidur, entah kenapa keusilanku muncul disaat-saat seperti ini. Aku perlahan membelai rambutnya, melanjutkan dengan menyentuh pipinya yang lembut. “Haaa, sudahlah.” Jika melakukannya lebih jauh, aku takut dia akan bangun.
Beberapa saat kemudian.
Tuin kembali sembari membawakan barang yang aku minta. “Ini dia, permata api murni. Permata yang terlihat seperti api biru yang sangat murni, mendapatkannyapun sulitnya bukan main.”
“Haaa, iya iya. Aku paham.” Aku memberikannya sekantung penuh koin emas. “Itu sudah cukup bukan.”
“Seperti yang saya duga, senang berbisnis dengan anda. Jika ada yang anda inginkan lagi, bisa katakan pada saya. Saya akan berusaha untuk mendapatkannya lagi.”
“Tidak, bahan yang aku cari setelah ini tidak bisa didapatkan dengan mudah.”
“Bahan apa?”
“Kuku naga Ashura.”
“Naga Ashura, naga yang sudah hidup lebih dari 1000 tahun itu. A-apa yang sebenarnya ingin anda lakukan dengan benda seperti itu?”
“Ada sesuatu, terimakasih atas tawaranmu, lalu senang juga berbisnis denganmu.”
“Saya juga.”
“Oh ya, boleh aku meminta 1 hal lagi.”
“Silahkan, apapun untuk pelanggan terbaik.”
Beberapa menit setelah itu.
“Saya sudah membawanya, cincin dan kalung dengan batu sihir seperti yang anda inginkan.”
“Berapa harganya?”
“Untuk dua barang ini, anda tidak perlu membayar.”
“Eh? Serius?”
“Iya, anggap saja ini sebagai hadiah persahabatan dari saya untuk bisnis yang lebih hebat dimasa depan bersama dengan anda.”
“Begitu, kalau begitu terimakasih banyak.”
“Jika ingin memberikannya pada putri, bukankah cincin berlian atau permata akan lebih baik daripada batu sihir.”
“Beberapa batu sihir juga termasuk item langkah, dan batu sihir yang dijadikan sebuah perhiasan termasuk dalam hal itu. Dalam nilai, perhiasan batu sihir tidak kalah bersaing dengan berlian dan juga permata.”
“Ya, itu memang benar. Selain proses pembuatannya yang rumit, bahan yang diperlukan untuk membuat perhiasan dari batu sihir juga cukup sulit untuk ditemukan. Itulah yang membuat harganya tidak beda jauh dengan berlian ataupun permata. Tapi, karena terlihat aneh jadi sangat jarang ada orang yang membelinya, saya masih belum tau kenapa batu sihir dijadikan sebuah perhiasan, pasti ada maksud lain dibalik pembuatan perhiasan dari batu sihir itu.”
“Perhiasan batu sihir itu biasa digunakan oleh orang yang memiliki sihir, tapi tidak bisa mengendalikannya.”
“Tidak bisa mengendalikannya?”
“Seiring berkembangnya seseorang yang memiliki sihir, kemampuan sihirnyapun juga akan ikut berkembang. Itu yang Iona beritahu padaku.”
“Jadi anda memberikan cincin itu demi alasan itu.”
“Selain itu, cincin sihir juga bisa menyimpan energi sihir itu sendiri. Jadi, jika ada keperluan mendesak, seorang penyihir yang sudah kehabisan sihir bisa menggunakan sihir yang tersimpan di batu sihir. Tentu saja, kapasitan penampungan sihir setiap batu sihir berbeda tapi semakin langkah batunya maka sihir yang bisa disimpan juga akan semakin besar.”
“Saya tak menyangka kalau batu sihir memiliki manfaat sebesar itu, lalu kenapa anda memberikannya? Apa tuan putri tidak bisa mengendalikan kekuatan sihir miliknya?”
“Tidak, dia bahkan sangat jarang menggunakannya. Tapi, apa salahnya ini juga termasuk sebagai pencegahan. Jika seseorang kehilangan kendali akan sihirnya, batu sihir itu akan menyerap kekuatan sihir yang berlebih. Sebagai tindakan pencegahan seperti ini sudah cukup, selain itu dia bilang kalau dia ingin belajar dikerajaan lain untuk mendalami tentang sihir. Dengan hadiah ini, mungkin dia bisa sedikit bersemangat lagi untuk mencapai impiannya itu.”
“Saya tak menyangka kalau anda sudah memikirkan hal sampai sejauh itu, aku yakin bahkan orang dewasapun akan kesulitan jika harus berfikir jauh kemasa depan. Anda seperti orang yang dapat melihat masa depan.”
“Hanya masalah terbiasa atau tidak saja, lagipula ini hanya mencegah. Selain itu, aku hanyalah orang biasa, aku tak bisa melihat masa depan, tapi aku bisa menciptakan masa depanku sendiri.”
“Permisi.” (???)
“Oh ada pelanggan, maaf saya akan menemuinya terlebih dahulu.”
“Ya. Sebentar lagi kami juga akan kembali.”
“Kalau begitu, saya izin undur diri.” Tuin pergi.
“Sebisa mungkin aku ingin memberikan ini saat kau bangun, tapi…”
Cukup lama setelah itu.
“Apa anda yakin ingin kembali? Putri masih tertidur, dan udaranya dingin.”
“Ahh, masih ada pekerjaan yang harus segera aku selesaikan. Jika meninggalkannya disini, aku yakin dia akan memaahiku nanti.” Aku menggendong Iona yang sedang tertidur pulas.
“Tapi, tuan putri…”
“Tenang saja, sihir penghangat tubuh sudah aktif.” Aku memperlihatkan cincin yang Iona gunakan, cincin itu sedikit bersinar menandakan kalau mantranya aktif.
“Lalu, bagaimana dengan anda?”
“Aku tidak masalah, terimakasih karena sudah membantu merapalkan matra untuknya. Kalau begitu, kami akan kembali.”
“Y-ya, hati-hati dijalan.”
Dalam perjalanan kembali.
“Hmmm, setelah ini aku harus kemana, ya?” Tidak ada petunjuk lain yang bisa aku dapatkan, keberadaan naga Ashura itu sendiri tidak ada orang yang tau, yang bisa aku lakukan saat ini adalah menunggu datangnya petunjuk dari Dewi. “Jalan buntu.” Tak ada yang bisa aku lakukan saat ini, dan aku hanya harus menunggu.
“A-ri…”
“Iona, kau sudah bangun. Bagaimana? Apa tidurmu nyenyak?”
“Dimana?...”
“Kita sedang dalam perjalanan pulang, sebentar lagi kita sampai di markas.”
__ADS_1
“Begitu. Hangat… Ari, tubuhmu, hangat.”
“Dia tidur lagi, ya.” Aku mempercepat langkahku. ‘Kencan kali ini, mungkin tidak berjalan seuai dengan apa yang aku harapkan, tapi sudahlah. Aku tak peduli.’